Di luar dugaan, aku mengawali dua hari pertama di Surabaya dengan cukup mudah lantaran aku terlalu sibuk untuk meratapi nasib pernikahanku atau merindukan Pandu. Aku sibuk mengurus Ibu yang kalau sakit galaknya minta ampun. Sampai sekarang belum ada yang bertanya apa-apa tentang kepulanganku karena mereka tahunya aku pulang demi Ibu. Tidak ada lagi telepon dari Pandu setelah aku memblokir nomornya, aku hanya merespon pesan dari Kak Vina lantaran dia lebih banyak tanya tentang kabarku dan Ibu, alih-alih membicarakan Pandu. Responnya sendiri terhadap rencana perceraian kami hanya satu kalimat, ‘aku doakan yang terbaik untuk kalian’, tanpa memberi embel-embel nasehat atau seperti sebelum-sebelumnya, berusaha menjadi jembatan antara aku dan Pandu. Bisa dibilang Kak Vina adalah orang yang pali

