OTW Magang

1417 Words
Jam enam pagi. Sinar matahari belum sepenuhnya naik, tapi rumah besar itu sudah terang. Lampu-lampu kristal di langit-langit masih menyala lembut, memantulkan cahaya hangat ke dinding marmer berwarna gading. Di lantai atas, di dalam kamar bernuansa krem dan cokelat muda, Keshara Ayudya Prameswari berdiri di depan cermin besar. Rambut panjang cokelatnya ditata half-up half-down, bagian atas diikat rapi sementara sisanya dibiarkan jatuh bergelombang lembut di punggung. Gelombangnya tidak berlebihan—natural, seolah ia memang terbangun dengan rambut seindah itu. Wajahnya dihias make up tipis ala Korean look: kulit tampak segar, alis rapi, eyeshadow peach samar, dan lip tint warna rose yang membuat bibirnya tampak hidup tanpa terlihat berlebihan. Kesya menatap pantulan dirinya beberapa detik. Bukan untuk memastikan cantik—itu sudah biasa ia dengar. Tapi untuk menenangkan diri. “Hari pertama,” gumamnya pelan. Ia lalu meraih tas Hermès edisi terbatas yang terletak di atas meja. Kulitnya masih tampak baru, aromanya pun masih khas. Lima buah di dunia, dan satu kini berada di tangannya—hadiah dari sang abang yang selalu tahu caranya membuat Kesya tersenyum. “Abang emang tau selera aku,” ucapnya lirih sambil tersenyum kecil, lalu menyampirkan tas itu di lengan. Outfit-nya rapi namun tidak kaku. Kaos putih bersih dilapisi blazer beige dengan potongan klasik dan kerah cokelat tua yang memberi kesan dewasa. Rok mini lipit cokelat membuat penampilannya tetap muda dan segar. Di balik blazer, atasan lengan panjang warna pink muda memberi sentuhan lembut yang hampir tak terlihat, tapi terasa. Elegan. Tenang. Berkelas tanpa berisik. Kesya keluar kamar, menekan tombol lift rumah yang berdesain kaca. Pintu tertutup perlahan, membawa dirinya turun ke lantai bawah. Begitu pintu lift terbuka, aroma masakan langsung menyambutnya. Begitu pintu lift terbuka, aroma masakan langsung menyambutnya. “Nasi goreng,” gumamnya. “Dan… ayam kalasan?” Di ruang makan besar, meja panjang sudah terisi. Mama dan papanya duduk berhadapan, masing-masing memegang cangkir teh hangat. Keduanya langsung menoleh saat melihat Kesya. Ranti tersenyum lebar. “Masya Allah… anak mama cantik sekali pagi ini.” Kesya mendekat, menunduk sedikit, lalu mencium pipi mamanya, disusul tangan papanya. “Mama, papa sudah pulang juga?” “Sudah, sayang,” jawab Ranti lembut. “Tadi malam mama sama papa pulang. Ayo duduk, kita sarapan bareng. Mama masakin nasi goreng kesukaan kamu sama ayam kalasan.” “Wah,” Kesya tersenyum tulus sambil menarik kursi. “Makasih ya, Ma.” Ia duduk, meletakkan tas Hermès itu dengan hati-hati di kursi sebelahnya. Reza memperhatikannya sambil tersenyum kecil. “Anak papa kelihatan beda,” kata Reza sambil menyipitkan mata. “Ada kelas pagi ini?” Kesya mengambil sendok, lalu berhenti sebentar. Ia tersenyum canggung. “Mmm… Kesya lupa bilang sama Mama Papa.” Ranti langsung menoleh. “Lupa bilang apa, sayang?” “Hari ini… hari pertama Kesya magang.” Sendok Ranti berhenti di udara. “Ya ampun,” ucapnya spontan, lalu tersenyum bangga. “Bagus dong kalau gitu.” Reza mengangguk pelan. “Kamu magang di mana, sayang papa?” Kesya menyuapkan nasi goreng sedikit, lalu menjawab, “Di Aurellion Group, Pa.” Reza berhenti mengunyah. Ia menatap Kesya beberapa detik, lalu mengangguk mantap. “Bagus.” Ranti ikut tersenyum. “Perusahaan besar itu ya?” “Iya, Ma.” Reza menyeka mulutnya dengan serbet. “Dengar baik-baik sama papa, ya. Kerjakan apa yang kamu bisa. Kalau tidak tau, jangan malu bertanya. Dan satu lagi—” Kesya mengangkat wajahnya. “Kalau ada yang macem-macem sama kamu,” lanjut Reza dengan suara tenang tapi tegas, “bilang sama papa.” Kesya tersenyum kecil. “Siap, Pa.” Ranti menatap mereka berdua dengan mata hangat. “Kalian ini, baru magang sudah kayak mau perang.” Reza terkekeh kecil. “Namanya juga anak perempuan.” Mereka melanjutkan sarapan dengan suasana ringan. Kesya makan dengan lahap, sesekali mendengarkan cerita singkat papa tentang perjalanan bisnis, dan mama yang mengomentari jadwalnya ke depan. Saat hampir selesai, Kesya baru menyadari sesuatu. “Ma,” katanya sambil melirik sekitar. “Abang kemana kok nggak sarapan bareng?” Ranti tersenyum kecil sambil menggeleng. “Abang kamu tadi malam keluar sama temannya. Pulang subuh. Sekarang pasti masih tidur.” Kesya mendengus pelan. “Pantesan.” Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan hampir setengah tujuh. “Ma, Pa, Kesya berangkat dulu ya.” Reza berdiri lebih dulu. “Sayang, kamu naik Rolls-Royce aja hari ini. Mini Cooper kamu lagi papa servis. Kamu dianter Pak Diman.” Kesya langsung mengerucutkan bibir. “Pa… kenapa sih tiba-tiba mobil Kesya diservis. Papa sama Mama aja yang naik Rolls-Royce. Kesya naik Alphard aja ya.” “Tidak bisa,” jawab Reza cepat. “Mama sama Papa naik Alphard.” “Iya,” sambung Ranti lembut tapi tegas. “Kamu nurut aja. Pak Diman sudah nunggu. Ini hari pertama magang, jangan sampai terlambat.” Kesya menghela napas panjang, lalu mengangguk pasrah. “Iya deh.” Ia berdiri, meraih tasnya. “Kesya pamit ya, Ma, Pa.” Kesya kembali mencium pipi mama dan tangan papa, lalu berjalan menuju pintu depan. Udara pagi menyapa begitu pintu besar terbuka. Rolls-Royce hitam mengilap sudah menunggu di halaman. Pak Diman berdiri di samping pintu, membungkuk hormat. “Selamat pagi, Non Kesya.” “Pagi, Pak Diman.” Ia masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, mobil melaju perlahan meninggalkan rumah besar itu. Kesya menyandarkan punggung ke jok empuk, menatap keluar jendela. Jakarta pagi itu cerah. Panas musim panas mulai terasa, tapi langit biru bersih. Tangannya menyentuh tas Hermès di pangkuannya. “Magang,” gumamnya pelan. “Aurellion Group.” Ia tidak tahu bahwa di tempat yang sama, di gedung tinggi itu, seseorang sedang bersiap menyambut hari—dengan cara yang sangat berbeda. Dan musim panas ini… baru saja dimulai., sayang papa?” Kesya menyuapkan nasi goreng sedikit, lalu menjawab, “Di Aurellion Group, Pa.” Reza berhenti mengunyah. Ia menatap Kesya beberapa detik, lalu mengangguk mantap. "Bagus.” Ranti ikut tersenyum. “Perusahaan besar itu ya?” “Iya, Ma.” Reza menyeka mulutnya dengan serbet. “Dengar baik-baik sama papa, ya. Kerjakan apa yang kamu bisa. Kalau tidak tau, jangan malu bertanya. Dan satu lagi—” Kesya mengangkat wajahnya. “Kalau ada yang macem-macem sama kamu,” lanjut Reza dengan suara tenang tapi tegas, “bilang sama papa.” Kesya tersenyum kecil. “Siap, Pa.” Ranti menatap mereka berdua dengan mata hangat. “Papa ini, baru anaknya mau magang sudah kayak mau perang.” Reza terkekeh kecil. “Namanya juga anak perempuan.” Mereka melanjutkan sarapan dengan suasana ringan. Kesya makan dengan lahap, sesekali mendengarkan cerita singkat papa tentang perjalanan bisnis, dan mama yang mengomentari jadwalnya ke depan. Saat hampir selesai, Kesya baru menyadari sesuatu. “Ma,” katanya sambil melirik sekitar. “Abang kemana kok nggak sarapan bareng?” Ranti tersenyum kecil sambil menggeleng. “Abang kamu tadi malam keluar sama temannya. Pulang subuh. Sekarang pasti masih tidur.” Kesya mendengus pelan. “Pantesan.” Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan hampir setengah tujuh. “Ma, Pa, Kesya berangkat dulu ya.” Reza berdiri lebih dulu. “Sayang, kamu naik Rolls-Royce aja hari ini. Mini Cooper kamu lagi papa servis. Kamu dianter Pak Diman.” Kesya langsung mengerucutkan bibir. “Pa… kenapa sih tiba-tiba mobil Kesya diservis. Papa sama Mama aja yang naik Rolls-Royce. Kesya naik Alphard aja ya.” “Tidak bisa, sayang papa. Lagi pula mobil itu khusus untuk abang dan kamu kalau lagi males nyetir sendiri. ” jawab Reza cepat. “Mama sama Papa naik Alphard.” “Iya,” sambung Ranti lembut tapi tegas. “Kamu nurut aja, sayang. Pak Diman sudah nunggu. Ini hari pertama magang, jangan sampai terlambat.” Kesya menghela napas panjang, lalu mengangguk pasrah. “Iya deh.” Ia berdiri, meraih tasnya. “Kesya pamit ya, Ma, Pa.” Kesya kembali mencium pipi mama dan tangan papa, lalu berjalan menuju pintu depan. Udara pagi menyapa begitu pintu besar terbuka. Rolls-Royce hitam mengilap sudah menunggu di halaman. Pak Diman berdiri di samping pintu, membungkuk hormat. “Selamat pagi, Non Kesya.” “Pagi, Pak Diman.” Ia masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, mobil melaju perlahan meninggalkan rumah besar itu. Kesya menyandarkan punggung ke jok empuk, menatap keluar jendela. Jakarta pagi itu cerah. Panas musim panas mulai terasa, tapi langit biru bersih. Tangannya menyentuh tas Hermès di pangkuannya. “Magang,” gumamnya pelan. “Aurellion Group.” Ia tidak tahu bahwa di tempat yang sama, di gedung tinggi itu, seseorang sedang bersiap menyambut hari dengan cara yang sangat berbeda. Dan musim panas ini… baru saja dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD