Gedung Aurellion Group masih berdiri megah dengan lampu-lampu menyala terang, seolah tak pernah tidur. Di lantai paling atas, sebuah ruangan VIP khusus CEO tampak terisolasi dari hiruk-pikuk kantor. Pintu baja tebal, akses kartu khusus, dan dua bodyguard berdiri tegap di luar tanpa ekspresi, tanpa celah.
Di dalam ruangan itu, suasana sangat berbeda.Lampu redup. Aroma parfum mahal bercampur wangi minuman beralkohol. Sofa kulit hitam memanjang menghadap jendela besar yang menampilkan gemerlap kota.
Kevin Arvando duduk santai di tengah ruangan.CEO muda itu tampak rapi dengan kemeja hitam terbuka satu kancing, jam mahal melingkar di pergelangan tangannya. Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan sorot mata dingin tatapan seseorang yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan.
Di belakangnya, seorang perempuan bergaun merah ketat memijat bahunya perlahan.
“Kurang keras?” tanya wanita itu lembut.
“Segitu aja, Sisi,” jawab Kevin tanpa menoleh.
Di sisi meja bar, perempuan lain menuangkan minuman ke gelas kristal.
“Ini favorit kamu,” ucap Ayu sambil menyodorkan gelas.
Kevin mengambilnya dengan satu tangan. “Taruh sini.”
Sementara itu, seorang perempuan berambut panjang hitam namanya Cinta tertidur setengah sadar dengan kepala bersandar di paha Kevin. Tangannya menggenggam ujung jas Kevin seolah mencari kenyamanan.
Kevin menatap keluar jendela, ekspresinya datar. Tidak ada senyum. Tidak ada emosi. Semua itu hanya latar belakang bagi pikirannya.
Bagi Kevin, semua ini biasa.
Sebagai donatur utama di banyak proyek, pemilik saham terbesar, dan CEO termuda yang duduk di kursi panas itu, dunia terasa sederhana baginya.
Uang berbicara. Dan orang-orang mendengarkan.
Tiba-tiba
Klik.
Pintu utama ruangan VIP terbuka.
Kedua bodyguard di luar langsung menegakkan badan, tapi tak berkata apa pun. Orang yang masuk jelas bukan orang sembarangan.
Kevin melirik sekilas, lalu menghela napas pelan."Kalian semua boleh pulang,” ucapnya singkat.
Sarah menghentikan pijatannya. Ayu meletakkan botol. Cinta membuka mata perlahan."Hah? Sekarang?” tanya Sisi sedikit kecewa.
“Iya,” jawab Kevin dingin. “Hari ini cukup.”
Tak ada yang membantah.
Mereka berdiri satu per satu, merapikan pakaian, mengambil tas masing-masing. Sebelum keluar, ketiganya mendekat dan tersenyum manis ke arah Kevin.
“See you, CEO Kevin,” ucap mereka hampir bersamaan, suara mereka terdengar seperti paduan suara yang sudah terlatih.
“Kita bakal merindukan CEO.”
Kevin hanya mengangguk tipis.
Pintu tertutup kembali. Ruangan itu kini sunyi, hanya tersisa Kevin dan satu orang lain.
Pria yang baru masuk itu melangkah lebih jauh ke dalam ruangan. Jaketnya gelap, rambutnya disisir rapi, wajahnya santai tapi matanya tajam.
Ia menyeringai kecil."Wow,” katanya sambil melirik sofa. “Masih sama aja.”
Kevin meneguk minumannya. “Lo ke sini buat ngobrol atau curhat tentang kegalauan lo?”
Pria itu tertawa pelan lalu duduk di kursi seberang Kevin.“How’s life going on?”
tanyanya santai, bahasa Inggrisnya mengalir alami.
Kevin menyandarkan punggung ke sofa. “Baik lah, bro. Apalagi coba.”
Pria itu menatap Kevin lebih serius sekarang. “Lo masih belum berubah.”
Kevin mengangkat alis. “Dan lo masih sok paling ngerti gue.”
Suasana mendadak hening. Dua pria itu saling menatap, ada sesuatu di udara sesuatu yang tidak akan dibicarakan sembarangan.
Pria itu lalu menyandarkan tubuh, menurunkan suara.“Kita perlu ngobrol.”
Kevin memutar gelasnya pelan. “Tentang apa?”
Pria itu tersenyum tipis."Hal-hal yang… nggak perlu orang lain tau.”
Kevin berhenti memutar gelasnya.
Tatapan matanya berubah.“Lanjut,” ucapnya singkat.
Lampu kota di luar berkedip perlahan, seolah menjadi saksi bisu percakapan yang tidak akan pernah tercatat di mana pun.
Dan malam di Aurellion Group… baru saja benar-benar dimulai.