Pagi ini matahari bersinar cerah, sinarnya masuk lewat jendela besar kamar Kesya dan memantul lembut di lantai kayu. Udara terasa segar, seolah ikut memberi energi untuk memulai hari baru.
Kesya berdiri di depan cermin sambil merapikan rambutnya yang jatuh bergelombang di bahu. Outfit hari ini lebih simpel—blouse putih bersih dengan rok pensil cokelat muda dan heels nude. Di meja sampingnya, beberapa map dokumen sudah tersusun rapi.
Ia menarik napas panjang sambil menatap pantulan dirinya sendiri.
“Semangat, Kesya…” gumamnya pelan.
Tangannya mengepal kecil di depan d**a.
“Harus yakin kalau kerja keras bakal kasih hasil maksimal. Kalau gagal… ya coba lagi.”
Ia tersenyum tipis, lalu mengambil dokumen-dokumen itu dan turun ke bawah.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan gedung Aurellion Group yang menjulang megah. Kesya turun dengan langkah mantap, tas di bahunya dan map di tangannya.
Begitu masuk ke lobi, suasana pagi kantor sudah ramai. Suara langkah sepatu, bunyi lift terbuka-tutup, dan percakapan ringan karyawan bercampur menjadi ritme khas dunia kerja.
Kesya berjalan menuju lift sambil sesekali menatap dokumen di tangannya.
“Ini harus lancar. Jangan sampai ada yang kelewat,” bisiknya pada diri sendiri.
Di lantai 28, Rafi sudah duduk di mejanya sambil menyesap kopi. Begitu melihat Kesya datang dengan map tebal, ia langsung mengangkat alis.
“Buset… lo semalam nggak tidur ya?”
Kesya tertawa kecil sambil meletakkan berkas di meja.
“Tidur juga kok, fi. Cuma ya… kepikiran terus. Jadi sekalian aja diselesaikan.”
Rafi mengangguk kagum.
“Gila sih. Dedikasi level dewa.”
Kesya tersenyum sambil duduk dan membuka laptop.
Baru saja ia hendak mulai mengecek ulang dokumen, pintu ruangan terbuka dan seorang pria berjas rapi masuk.
Jeremi.
Ia melirik sekeliling sebelum suaranya memanggil.
“Kesya.”
Kesya langsung menoleh.“Saya, Pak.”
Jeremi mendekat dengan ekspresi profesional tapi tidak kaku.
“Kamu diminta ke ruangan CEO sekarang.”
Jantung Kesya berdebar sedikit lebih cepat.
“Oh… sekarang ya, Pak?”
“Iya.”
Kesya mengangguk cepat sambil merapikan map di tangannya.“Baik, Pak.”
Rafi menyenggol pelan lengannya.
“Semangat, Kes. Kamu pasti bisa.”
Kesya tersenyum.“Makasih Raffi.”
Perjalanan ke lantai eksekutif terasa lebih sunyi. Karpet tebal meredam langkah kaki, dan suasana di sini jauh lebih tenang dibanding lantai kerja biasa.
Jeremi berhenti di depan pintu besar berwarna gelap.
“Kamu bisa langsung masuk.”
Kesya mengangguk, lalu mengetuk pelan.
“Permisi, Pak.”
Dari dalam terdengar suara dalam yang tenang.
“Silakan masuk, Kesya.”
Ia membuka pintu.
Ruangan itu luas dengan jendela kaca besar menghadap kota. Kevin duduk di belakang meja kerjanya, jas abu-abu gelapnya rapi, kacamata tipis bertengger di hidungnya.
Tatapannya langsung terarah pada Kesya.
“Ada laporan yang kamu bawa?”
Kesya melangkah mendekat, berusaha tetap tenang.“Iya, Pak. Ini revisi detail dari ide pilot project kemarin.”
Ia menyerahkan map itu.
Kevin menerimanya, lalu membuka halaman pertama.
“Coba jelaskan secara garis besar dulu.”
Kesya mengangguk dan berdiri tegak.
“Jadi, Pak… strategi ini fokus pada uji pasar di satu kota besar dulu selama tiga bulan. Targetnya bukan langsung profit, tapi validasi demand dan pola perilaku pelanggan.”
Kevin tidak menyela, matanya mengikuti setiap kata.
Kesya melanjutkan.
“Kalau data menunjukkan respon positif, baru kita scale up ke dua atau tiga kota berikutnya. Dengan begitu, risiko kerugian bisa ditekan karena kita punya data nyata sebagai dasar keputusan.”
Kevin menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kenapa kamu pilih pendekatan bertahap, bukan langsung ekspansi penuh?”
Kesya tersenyum tipis, seperti sudah menyiapkan jawaban itu sejak semalam.
“Karena pasar kita dinamis, Pak. Prediksi tanpa validasi bisa misleading. Dengan pilot project, perusahaan bisa belajar dari pasar dulu sebelum menginvestasikan dana besar.”
Kevin menatapnya beberapa detik tanpa bicara.
Kesya sempat merasa gugup, tapi ia tetap berdiri tenang.
Akhirnya Kevin menunduk lagi membaca dokumen. Halaman demi halaman dibalik perlahan.
Ruangan itu sunyi, hanya suara kertas yang bergerak dan detik jam dinding.
Setelah beberapa menit, Kevin menutup map itu.
“Strukturnya jelas. Analisis risikonya juga cukup tajam.”
Kesya menghembuskan napas pelan.
“Tapi…” lanjut Kevin.
Kesya langsung fokus lagi.
“Kamu perlu tambahkan skenario worst-case yang lebih detail. Termasuk estimasi kerugian maksimum dan exit strategy.”
Kesya mengangguk cepat.“Baik, Pak. Saya revisi bagian itu.”
Kevin menatapnya lagi, kali ini lebih santai.
“Kamu tahu kenapa ide kamu kemarin langsung klik?”
Kesya menggeleng kecil.
“Karena kamu nggak cuma mikir soal growth, tapi juga kontrol risiko. Itu jarang dimiliki orang yang baru mulai.”
Kesya sedikit tersenyum, pipinya memerah tipis.
“Terima kasih, Pak.”
Kevin menyilangkan tangan di meja.
“Kamu kelihatan lebih percaya diri hari ini.”
Kesya tertawa kecil.“Mungkin karena sudah panik lalu untuk menghilangkan rasa panik itu butuh bekerja keras selama semalaman, Pak.”
Kevin ikut tersenyum tipis."Bagus. Rasa gugup itu perlu, tapi jangan sampai menghambat.”
Kesya mengangguk.“Iya, Pak.”
Beberapa detik hening, tapi bukan hening yang canggung—lebih seperti jeda yang nyaman.
Akhirnya Kesya mengambil map kosong dari tangannya.
“Kalau tidak ada lagi, saya izin kembali ke ruangan untuk revisi, Pak.”
Kevin mengangguk pelan.“Silakan. Kirimkan versi final sebelum jam empat sore.”
“Baik, Pak.”
Kesya membungkuk sedikit.
“Terima kasih atas masukannya.”
Ia berbalik menuju pintu.
Sebelum keluar, Kevin sempat berkata, suaranya lebih pelan.
“Kesya.”
Ia menoleh.“Iya, Pak?”
“Good work.”
Kesya tersenyum hangat.“Terima kasih, Pak.”
Ia keluar dari ruangan itu dengan langkah ringan, rasa lega bercampur bangga memenuhi dadanya.
Begitu kembali ke lantai 28, Rafi langsung berdiri dari kursinya.
“Gimana? Interogasi atau pujian?”
Kesya tertawa.“Campur juga fi.”
“Wah berarti aman.”
Kesya duduk sambil membuka laptop.
“Masih ada revisi, tapi overall oke.”
Rafi mengangguk sambil tersenyum.
“Tuh kan, gue bilang juga.”
Kesya menatap layar komputernya, lalu menarik napas panjang dengan senyum kecil.
Hari kedua magangnya baru saja dimulai, tapi untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar berada di jalur yang tepat.
Dan entah kenapa, kata-kata Kevin tadi masih terngiang di kepalanya—
Good work.
Ia menatap dokumen di layar, lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri.
“Oke, kita bikin ini jadi lebih bagus lagi.”
Jarinya kembali menari di atas keyboard, sementara sinar matahari pagi menyinari meja kerjanya, seolah ikut memberi restu untuk langkah kecil yang sedang ia bangun.
Pintu ruang CEO baru saja tertutup setelah Kesya keluar ketika langkah sepatu terdengar mendekat dari koridor.
Bu Ratih muncul dengan map di tangan. Ia sempat melihat punggung Kesya yang menjauh, lalu mengetuk pelan pintu sebelum masuk.
“Permisi, Pak Kevin.”
Kevin yang sedang menatap layar laptop mengangkat wajahnya.
“Masuk, Bu.”
Bu Ratih duduk di kursi depan meja, matanya melirik map di tangan Kevin.
“Itu dokumen dari Kesya ya, Pak?” tanyanya dengan nada santai tapi penasaran.
Kevin menutup map itu perlahan.
“Iya. Dia kerjakan semalaman.”
Nada suaranya datar, tapi ada sedikit nada apresiasi yang sulit disembunyikan.
Bu Ratih tersenyum kecil. “Saya sudah bilang dari awal, anak itu punya cara kerja yang serius. Walaupun penampilannya seperti anak manja… dia membuktikan kalau dia bertanggung jawab.”
Kevin bersandar ke kursinya, ujung bibirnya terangkat tipis.
“Penilaian Ibu jarang meleset.”
Bu Ratih tertawa kecil.
“Bukan soal meleset, Pak. Pengalaman aja. Orang yang benar-benar niat kerja biasanya kelihatan dari hal kecil.”
Kevin mengangguk pelan, tatapannya kembali ke dokumen di meja.
Di sudut ruangan, Cika yang berdiri sambil memegang tablet hanya melirik sekilas. Wajahnya tetap profesional, tapi rahangnya mengeras.
Ia tidak berkata apa-apa, hanya berbalik sedikit dan pura-pura sibuk mengecek jadwal.
Kevin sempat menangkap ekspresi itu, tapi tidak menanggapi.
Waktu berjalan cepat.
Jam makan siang berlalu, dan suasana kantor kembali sibuk seperti biasa. Di lantai 28, Kesya mengetik cepat, fokus pada revisi terakhir yang diminta Kevin.
Rafi yang duduk di sebelahnya sesekali melirik layar.
“Udah mau selesai?”
Kesya mengangguk tanpa berhenti mengetik.
“Ini tinggal cek ulang angka sama skenario risiko.”
Rafi bersiul pelan.“Kalau gue jadi CEO, gue juga bakal puas sih sama kerjaan kamu.”
Kesya tertawa kecil.“Please deh fi”
Beberapa menit kemudian ia menutup laptop, menarik napas panjang.
“Oke. Done.”
Ia merapikan berkas, memasukkannya ke map, lalu berdiri.
“Gue ke atas dulu ya.”
Rafi mengangkat jempol. “Good luck.”
Di lantai eksekutif, suasana sedikit berbeda dari pagi tadi. Lebih santai, tapi tetap terasa eksklusif.
Jeremi berdiri di dekat pintu ruang CEO. Saat melihat Kesya, ia langsung membukakan pintu.
“Silakan masuk.”
Kesya mengangguk. “Terima kasih, Pak.”
Begitu melangkah masuk, langkahnya langsung terhenti setengah detik.
Di dalam ruangan, Kevin berdiri di dekat meja, dan di kedua sisinya ada dua perempuan berpakaian elegan yang bergelayut manja di lengannya.
Salah satunya tertawa kecil, sementara yang lain memainkan ujung dasinya.
Kesya tidak sengaja menahan napas.
“Kesya.”
Suara Kevin memanggilnya, membuat pikirannya yang sempat kosong kembali fokus.
“Iya, Pak… maaf mengganggu,” ucapnya sambil melangkah mendekat.
Ia menyerahkan map dengan kedua tangan.
“Ini hasil revisi yang Bapak minta.”
Kevin melepaskan perlahan lengan para perempuan itu, lalu menerima map tersebut.
Kedua perempuan di sampingnya saling bertukar pandang, jelas tidak senang.
“Siapa dia?” bisik salah satu dengan nada cukup terdengar.
Kesya pura-pura tidak mendengar.
Kevin membuka map dan membaca cepat. Ruangan itu mendadak sunyi, hanya suara halaman kertas yang dibalik.
Kesya berdiri tegak, berusaha tetap profesional meskipun suasana terasa tidak nyaman.
Beberapa detik kemudian Kevin menutup map itu.
“Bagus. Revisi kamu tepat.”
Kesya mengangguk kecil. “Terima kasih, Pak.”
Kevin menatapnya sejenak, lalu berkata dengan nada santai,
“Kamu boleh pulang lebih dulu hari ini. Kerja kamu sudah selesai.”
Kesya sedikit terkejut. “Oh… baik, Pak. Terima kasih.”
Salah satu perempuan mendengus pelan, jelas menunjukkan ketidaksukaan.
Kesya tetap tidak bereaksi.
Ia hanya membungkuk sedikit.
“Kalau begitu saya permisi.”
Kevin mengangguk. “Hati-hati di jalan.”
Kesya berbalik dan berjalan keluar, punggungnya tetap tegak meskipun perasaannya mulai campur aduk.
Sore itu langit cerah. Kesya berjalan menuju parkiran dan membuka pintu Mini Cooper kesayangannya. Begitu duduk di kursi pengemudi, ia meletakkan tas di samping, lalu menatap setir beberapa detik.
Suasana mobil sunyi, hanya suara napasnya sendiri.
Ia menyalakan mesin, tapi tidak langsung jalan.
Pikirannya melayang ke ruangan tadi.
Selama ini, setiap melihat Kevin, yang ia perhatikan hanya ketegasan, karisma, dan wajah tampannya yang sulit diabaikan.
Tapi hari ini… sudut pandangnya berubah.
Ia teringat bagaimana dua perempuan itu tertawa di dekat Kevin, seolah hal itu sesuatu yang biasa.
Kesya tersenyum tipis, tapi senyum itu terasa pahit.
“Ya… mungkin memang begitu dunianya dia,” gumamnya pelan.
Ada rasa perih kecil di d**a yang bahkan ia sendiri tidak mengerti asalnya.
Ia menggeleng pelan, seolah menegur dirinya sendiri.
“Kesya, kamu ke sini buat kerja. Bukan buat mikirin kehidupan pribadi CEO.”
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
“Fokus aja sama tujuan kamu.”
Tangannya menggenggam setir lebih mantap.
Mini Cooper itu akhirnya melaju keluar dari parkiran, menyusuri jalan kota yang mulai padat menjelang sore.
Di balik kaca mobil, wajah Kesya kembali tenang.
Perasaan tadi masih ada, tapi ia memilih menyimpannya rapat-rapat.
Karena satu hal yang ia tahu pasti ia tidak ingin hatinya ikut terseret ke dunia yang bukan miliknya.