Pintu ruang rapat tertutup pelan di belakang Kevin. Suara klik kecil itu terdengar jauh lebih keras dari seharusnya, seolah menandai berakhirnya satu momen yang canggung.
Kesya berdiri diam beberapa detik. Bahunya yang tadi tegang perlahan turun, tapi jantungnya masih berdetak cepat. Ia menatap meja rapat kosong di depannya, mencoba mengumpulkan kembali pikirannya.
Rafi memecah keheningan.
“Kamu nggak apa-apa?” suaranya pelan, hati-hati, seolah takut menyinggung sesuatu.
Kesya tersentak sedikit lalu menoleh. “Hah? Oh… iya. Aku nggak apa-apa.”
Jawaban yang terlalu cepat. Bahkan dia sendiri tahu itu terdengar tidak meyakinkan.
Rafi mengamati wajahnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Kalau kamu nggak nyaman, kita bisa minta waktu sebentar sebelum balik kerja.”
Kesya menggeleng. “Nggak usah. Kita kembali aja. Tugasnya belum selesai.”
Mereka keluar dari ruang rapat berdampingan. Suasana kantor terasa sama seperti sebelumnya—orang-orang masih sibuk, suara keyboard masih terdengar, dan aroma kopi masih samar di udara. Tapi bagi Kesya, rasanya berbeda. Seolah semua orang tiba-tiba tahu apa yang baru saja terjadi.
Padahal tidak ada yang tahu.
Saat mereka kembali ke meja, Rafi menarik kursinya tapi tidak langsung duduk.
“Aku boleh tanya sesuatu?” katanya pelan.
Kesya menatap layar komputernya, tapi matanya tidak benar-benar membaca apa pun. “Tanya apa?”
“Kamu… kenal Pak Kevin dari sebelum ini, ya?”
Kesya diam beberapa detik. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard.
“Iya,” jawabnya akhirnya. “Cuma… kenal sekilas.”
“Sekilas tapi kelihatannya cukup berkesan,” kata Rafi setengah bercanda, mencoba mencairkan suasana.
Kesya tersenyum tipis. “Bisa dibilang begitu.”
Rafi akhirnya duduk. Ia tidak bertanya lagi, seolah tahu batas. Hal itu justru membuat Kesya sedikit lega.
Mereka kembali bekerja, tapi suasana di antara mereka berubah. Ada keheningan yang bukan canggung, tapi penuh pertanyaan yang belum terjawab.
Sekitar lima belas menit kemudian, Rafi tiba-tiba berkata tanpa menoleh, “Kalau suatu hari kamu butuh bantuan… bukan soal kerjaan, maksudku… kamu bisa bilang.”
Kesya menoleh, sedikit terkejut.
“Kenapa kamu bilang begitu?”
Rafi akhirnya menatapnya. Tatapannya hangat tapi ada sesuatu yang sulit dijelaskan seperti rasa bersalah yang disembunyikan.
“Nggak kenapa-kenapa. Cuma… insting aja.”
Kesya mengangguk pelan. “Makasih.”
Mereka kembali fokus. Laporan mulai terbentuk sedikit demi sedikit. Grafik, angka, dan catatan mulai tersusun rapi di layar.
Tapi di dalam kepala Kesya, pikirannya terus berputar.
Tentang Kevin.
Tentang tatapannya tadi.
Tentang nada suaranya yang dingin tapi seolah menyimpan sesuatu.
Menjelang siang, Bu Ratih datang ke meja mereka.
“Bagaimana progresnya?”
“Sudah setengah, Bu,” jawab Rafi.
Kesya mengangguk. “Kami lagi menyusun ringkasannya, bu.”
“Bagus. Kalian cepat juga,” kata Ratih sambil tersenyum. “Oh iya, nanti jam dua ada meeting divisi. Kalian ikut sebagai observasi.”
“Baik, Bu,” jawab mereka bersamaan.
Setelah Ratih pergi, Kesya menghela napas kecil.
“Hari pertama langsung meeting, kita” katanya.
Rafi tersenyum. “iya lumayan juga. Bisa lihat langsung dunia nyata.”
Kesya tertawa kecil. “Kedengarannya menyeramkan.”
“Sedikit,” balas Rafi.
Keheningan kembali, tapi kali ini terasa lebih ringan.
Di lantai paling atas gedung yang sama, di balik pintu kaca besar bertuliskan CEO, Kevin berdiri di depan jendela kantornya.
Tangannya dimasukkan ke saku celana, pandangannya menatap kota yang terbentang luas di bawah sana.
Asistennya berdiri beberapa langkah di belakang. “Pak, rapat dengan investor dimulai tiga puluh menit lagi.”
Kevin tidak langsung menjawab.
Di pikirannya hanya satu wajah.
Kesya.
Ia menghembuskan napas pelan, hampir seperti tawa kecil tanpa suara.
“Menarik,” gumamnya.
“Pak?” tanya asistennya bingung.
“Tidak ada. Siapkan semua dokumen.”
Kevin berbalik, wajahnya kembali dingin dan profesional topeng yang sudah sangat ia kuasai.
Tapi untuk pertama kalinya setelah lama, pikirannya tidak sepenuhnya tentang bisnis.
Kembali di lantai 28, Kesya menatap layar komputernya, tapi refleksi wajahnya di layar membuatnya sadar satu hal.
Musim panas ini baru saja dimulai.
Dan tanpa ia sadari, ia sudah berada di tengah sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar magang.
Rafi memanggilnya pelan, “Kes.”
“Hm?”
“Kita hampir selesai.”
Kesya tersenyum kecil. “Iya. Ayo kita selesaikan.”
Di luar jendela, matahari siang bersinar terang, memantulkan cahaya ke kaca gedung-gedung di sekitarnya.
Hangat.
Terang.
Tapi menyilaukan.
Persis seperti awal cerita yang belum mereka pahami arahnya.
Pagi mulai beranjak siang ketika ruang meeting utama di Aurellion Group sudah terisi hampir penuh. Suasananya rapi, formal, tapi terasa tegang dengan cara yang halus—seperti semua orang tahu keputusan hari ini penting.
Kesya duduk di sisi kanan meja panjang bersama Rafi. Di depannya ada laptop, buku catatan, dan segelas air yang bahkan belum disentuh. Ia menarik napas kecil, mencoba menenangkan diri.
Rafi mencondongkan badan sedikit.
“Deg-degan?” bisiknya.
Kesya tersenyum tipis tanpa menoleh.
“Lumayan. Kamu?”
“Lumayan juga. Ini pertama kalinya aku ikut meeting level begini.”
Di ujung meja, Bu Ratih sedang berbicara pelan dengan seorang pria berkacamata yang rapi—Pak Aldo. Beberapa investor terlihat membuka dokumen, sesekali berbisik satu sama lain.
Lalu pintu utama terbuka.
Suara engsel pintu yang halus itu langsung membuat beberapa kepala menoleh hampir bersamaan.
Kevin masuk.
Langkahnya tenang, ritmenya stabil, aura percaya dirinya terasa tanpa perlu dibuat-buat. Ia mengenakan setelan gelap dengan kacamata khasnya, memberi kesan dingin tapi elegan. Di belakangnya, Jeremi dan Cika mengikuti dengan tablet di tangan. mereka adalah sekretaris nya.
Saat berjalan menuju kursi utama, Kevin sempat melirik ke arah sisi kanan meja.
Tatapan mereka bertemu.
Sepersekian detik saja, tapi cukup membuat waktu terasa melambat di kepala Kesya.
Dia tampan banget… batinnya spontan, lalu langsung menegur dirinya sendiri.
Kevin menangkap ekspresi itu. Sudut bibirnya terangkat sedikit senyum tipis yang hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat Kesya semakin salah tingkah. Ia cepat menunduk, pura-pura merapikan catatan.
Kevin duduk di kursi utama.
“Baik, kita mulai,” ucapnya singkat tapi jelas.
Suara di ruangan langsung mereda. Presentasi dibuka oleh Pak Aldo. Layar besar di depan menampilkan grafik pertumbuhan, strategi ekspansi, dan rencana pengembangan proyek baru.
Mereka membahas rencana ekspansi layanan digital Aurellion ke pasar regional Asia Tenggara dengan model kolaborasi startup lokal. Ide besarnya menjanjikan, tapi detail implementasinya masih kabur.
Investor satu mulai bertanya,
“Bagaimana mitigasi risiko operasional kalau kolaborasi gagal?”
Yang lain menambahkan,
“Timeline-nya terlalu agresif. Apakah tim internal siap?”
Diskusi berjalan, tapi berputar di titik yang sama. Beberapa usulan muncul, namun Kevin beberapa kali menggeleng kecil.
“Kurang konkret,” katanya datar.
“Kita butuh pendekatan yang lebih realistis, bukan sekadar ambisi.”
Ruangan kembali hening. Orang-orang saling pandang, mencari siapa yang akan bicara berikutnya.
Bu Ratih menoleh ke sisi kanan meja.
“Kesya, Rafi. Kalian sebagai observasi, mungkin ada sudut pandang baru?”
Rafi langsung menegakkan badan, tapi pikirannya kosong.“Ehm…” Ia menatap layar, lalu menoleh ke Kesya, jelas berharap bantuan.
Kesya merasakan semua mata mulai tertuju. Jantungnya berdetak cepat, tapi ia menarik napas pelan.
“Kalau saya boleh memberi pendapat, Bu…” suaranya lembut tapi jelas.
Kevin menyandarkan punggung, menatapnya penuh perhatian.
Kesya berdiri sedikit, menunjuk slide di layar.“Menurut saya, masalah utama bukan di idenya, tapi di urutan eksekusinya. Kita langsung bicara ekspansi regional, padahal validasi model bisnis di pasar pilot belum cukup kuat.”
Beberapa orang mulai mengangguk pelan.
Ia melanjutkan, semakin percaya diri,
“Mungkin lebih efektif kalau kita mulai dari satu negara dengan karakter pasar paling mirip. Fokus ke partnership jangka pendek dulu, bukan langsung kontrak jangka panjang. Dari situ kita bisa kumpulkan data operasional real, baru scaling.”
Investor di sisi kiri meja menyela,
“Kenapa partnership pendek?”
“Karena fleksibilitas, Pak. Kalau modelnya belum stabil, kontrak panjang justru berisiko. Dengan periode pendek, kita bisa cepat evaluasi tanpa beban biaya tinggi,” jawab Kesya.
Rafi menatapnya dengan ekspresi campuran kagum dan lega.
Kesya menutup dengan tenang,
“Jadi menurut saya, strategi ekspansi tetap jalan, tapi dimulai dari validasi mikro dulu sebelum masuk ke skala regional penuh.”
Hening sebentar.
Kevin menatapnya tanpa berkedip, lalu mengangguk pelan.“That makes sense.”
Ia menoleh ke seluruh ruangan. “Kita revisi pendekatan sesuai poin itu. Mulai dari pilot market dan partnership jangka pendek. Lebih realistis.”
Beberapa investor langsung mengangguk setuju. Tepuk tangan kecil terdengar, lalu diikuti yang lain sampai ruangan dipenuhi suara apresiasi.
Kesya sedikit terkejut, lalu tersenyum malu. Ia duduk kembali.
Rafi berbisik cepat, “Kes, itu keren banget.”
Kesya menghembuskan napas pelan.
“Aku cuma ngomong apa yang kepikiran.”
Di ujung meja, Cika menatap Kesya dengan senyum tipis yang tidak sampai ke mata. Tangannya menyilangkan tablet ke d**a, ekspresinya jelas tidak senang.
Jeremi melirik sekilas ke arah Cika, lalu kembali fokus ke catatan.
Kevin mengetukkan pena pelan di meja, masih menatap slide tapi pikirannya jelas bukan di sana sepenuhnya.
“Baik, kita lanjut ke penyesuaian timeline,” katanya.
Meeting berlanjut, tapi atmosfernya berubah. Energinya lebih hidup, lebih optimis.
Beberapa menit kemudian, saat diskusi mulai mengalir, Kevin tanpa sadar melirik lagi ke arah Kesya. Kali ini Kesya sedang menulis sesuatu di buku catatannya, alisnya sedikit berkerut fokus.
Senyum tipis kembali muncul di wajah Kevin cepat dan hampir tak terlihat.
Di sisi lain, Cika memperhatikan itu.
Dan ekspresinya semakin dingin.
Ketika meeting akhirnya ditutup, Kevin berdiri.
“Good work, everyone. Kita lanjutkan pembahasan teknis di level tim.”
Orang-orang mulai berdiri, kursi bergeser pelan, suara percakapan kecil memenuhi ruangan.
Rafi menoleh ke Kesya, “Kamu sadar nggak barusan kamu literally nyelametin arah meeting?”
Kesya tertawa kecil, masih setengah tidak percaya.“Aku cuma nggak mau kelihatan bengong doang.”
Di depan, Kevin berbicara sebentar dengan investor, lalu berjalan keluar bersama Jeremi dan Cika. Saat melewati sisi meja, langkahnya sedikit melambat.
Ia menoleh.
“Good insight,” katanya singkat pada Kesya.
Kesya terdiam sepersekian detik.
“Terima kasih, Pak.”
Kevin mengangguk kecil, lalu melanjutkan langkahnya keluar ruangan.
Begitu pintu tertutup, Rafi langsung berbisik,“Oke… itu resmi. Kamu sekarang di radar CEO.”
Kesya menggeleng cepat, berusaha terdengar santai.“Jangan lebay.”
Tapi di dalam hatinya, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Bukan cuma bangga.
Bukan cuma gugup.
Tapi seperti awal sesuatu yang belum ia mengerti.
Dan di ujung ruangan, Cika berdiri diam beberapa detik lebih lama dari yang lain, menatap ke arah Kesya sebelum akhirnya berbalik pergi.
Musim panas itu terasa tiba-tiba lebih panas dari sebelumnya.