Kenyataan

1629 Words

Pagi Jakarta terasa lebih sibuk dari biasanya. Kesya berdiri di depan cermin kamarnya, merapikan blazer abu-abu muda yang dipadukan dengan inner putih. Rambutnya diikat low ponytail, makeup tipis tapi rapi. Wajahnya terlihat segar, tapi kalau diperhatikan lebih lama, ada sesuatu yang ditahannya di dalam. Ia menarik napas panjang. “Back to reality,” gumamnya pelan. Beberapa menit kemudian ia sudah duduk di kursinya di lantai 28. Area divisi corporate strategy masih belum terlalu ramai, hanya terdengar suara keyboard dan mesin kopi dari pantry kecil di sudut ruangan. Kesya menyalakan komputer, membuka file presentasi dan beberapa laporan yang harus ia revisi. Tangannya langsung bergerak cepat, matanya fokus ke layar. Belum ada satu jam, Rafi muncul dari arah pantry sambil membawa sesuat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD