Kevin Curiga

1624 Words

Makan siang sudah lewat cukup lama. Lantai 28 kembali seperti biasanya suara keyboard, dering telepon, dan langkah kaki yang lalu-lalang. Sisa balon kecil dari perayaan tadi masih menempel di sudut pantry, jadi pengingat kalau pagi tadi ada sesuatu yang spesial. Kesya duduk di mejanya dengan headset kecil menggantung di leher. Matanya fokus ke layar laptop, membuka beberapa file sekaligus. “Hmm… kalau growth-nya diproyeksiin kuartal depan harusnya bisa naik 12%… tapi risk factor-nya masih gede,” gumamnya pelan sambil mengetik. Rafi yang duduk dua meja dari sana melirik sekilas. Dia masih terlihat kikuk tiap melihat Kesya, tapi kali ini mencoba bersikap biasa. “Kes… kamu udah masukin data vendor baru belum?” tanyanya hati-hati. Kesya menoleh sebentar, tersenyum sopan. “Udah, Raf. Di f

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD