Terungkap

1990 Words

Lampu ruangan CEO masih menyala meski sebagian besar lantai sudah sepi. Kota di balik jendela tampak berkilau, tapi Kevin sama sekali tidak memperhatikannya. Ia berdiri di dekat meja, satu tangan masuk saku celana, satu lagi memegang map biru yang sejak tadi tak benar-benar ia baca. Pikirannya berputar di tempat yang sama. Bukan soal laporan. Bukan soal proyek. Tapi soal satu hal yang membuatnya tidak nyaman: Kesya terlihat jujur. Dan Kevin jarang salah membaca orang. Ia menarik napas panjang, lalu menekan tombol interkom. “Jeremi, ke ruangan saya sekarang.” Tak sampai satu menit, pintu diketuk pelan. “Masuk.” Jeremi masuk dengan tablet di tangan, langkahnya cepat tapi tetap rapi seperti biasa. “Ada yang bisa saya bantu, Bos?” Kevin berbalik, menatapnya langsung. Tatapannya tena

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD