Chika Di pecat

1039 Words

Pintu ruang HR tertutup pelan di belakang Cika. Suara klik kecil itu terdengar sangat jelas, seperti garis penutup dari semua yang sudah ia bangun selama tiga tahun. Di tangannya ada kotak cokelat berisi barang-barang pribadi—mug putih bertuliskan keep going, beberapa pulpen, buku agenda, dan satu bingkai foto kecil yang sekarang menghadap ke dalam kotak, bukan lagi ke dunia. Cika berdiri sebentar di lorong, menarik napas panjang. Matanya kering, tapi wajahnya pucat. Bukan karena menangis—justru karena ia menahan semuanya terlalu kuat. Di ujung lorong, lift terbuka. Beberapa karyawan yang baru keluar melihatnya duluan. Obrolan mereka langsung berhenti. Bukan heboh, bukan juga kasihan—lebih ke rasa canggung yang tebal. Tatapan itu mulai terasa. Ada yang pura-pura sibuk dengan ponsel.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD