bc

TROUBLE LOVE

book_age12+
303
FOLLOW
1.6K
READ
love-triangle
badboy
badgirl
confident
dare to love and hate
drama
sweet
enimies to lovers
first love
school
like
intro-logo
Blurb

Jesica, cewek manis, imut, tapi nyebelin banget. Dia sering bikin ulah di sekolah, buat onar, jailin temen-temennya.

Lesung pipi yang menghiasi wajahnya melengkapi senyum jailnya yang sering dibuat s*****a ampuh untuk meminta maaf.

Tapi, Jesica bukan tipe cewek yang lemah lembut apalagi centil. Malah cewek yang satu ini sudah dijuluki MISS TROUBLE MAKER. Karena ulahnya selama ini yang suka sekali bikin onar. Beda banget dengan face yang dia miliki, yang seharusnya tampil anggun, elegan, dan menawan. Meski kelakuannya kayak preman, dia itu phobia sama kegelapan. Entah apa penyebabnya cuma dia yang tau.

Teettt.....Teetttt....Teeetttt....

mendengar bel istirahat seluruh siswa berbondong-bondong keluar kelas menuju kantin atau tempat tongkrongan lain kesukaan mereka.

Terlihat langkah kaki Jesica berlari kecil sembari memegangi perut, bukan karena mules atau apa tetapi perutnya sudah demo minta diisi. Gimana nggak lapar, bangun udah siang, dimeja makan hanya ada piring kosong dan secarik kertas kecil tertuliskan memo. Maaf sayang, mama sama papa ada urusan mendadak. Uang saku ada di atas kulkas. Jangan lupa sarapan kalau sudah sampai di sekolah.

Boro-boro sarapan di sekolah, nggak telat masuk aja udah bersyukur banget. “Jes!!???” Seru salah seorang cewek tak jauh dibelakangnya, Jesica nggak mau merespon panggillan itu, dia malah mempercepat langkah kakinya berharap bisa nyampai antrian nomor satu di kantin. “Jesica!” suara itu tiba-tiba menggema di telinga. “Appaa siihh?” sengitnya menoleh tajam pada temennya itu.

chap-preview
Free preview
She is Miss Trouble Maker
Jesica, cewek manis, imut, tapi nyebelin banget. Dia sering bikin ulah di sekolah, buat onar, jailin temen-temennya. Lesung pipi yang menghiasi wajahnya melengkapi senyum jailnya yang sering dibuat s*****a ampuh untuk meminta maaf. Tapi, Jesica bukan tipe cewek yang lemah lembut apalagi centil. Malah cewek yang satu ini sudah dijuluki MISS TROUBLE MAKER. Karena ulahnya selama ini yang suka sekali bikin onar. Beda banget dengan face yang dia miliki, yang seharusnya tampil anggun, elegan, dan menawan. Meski kelakuannya kayak preman, dia itu phobia sama kegelapan. Entah apa penyebabnya cuma dia yang tau. Teettt.....Teetttt....Teeetttt.... mendengar bel istirahat seluruh siswa berbondong-bondong keluar kelas menuju kantin atau tempat tongkrongan lain kesukaan mereka. Terlihat langkah kaki Jesica berlari kecil sembari memegangi perut, bukan karena mules atau apa tetapi perutnya sudah demo minta diisi. Gimana nggak lapar, bangun udah siang, dimeja makan hanya ada piring kosong dan secarik kertas kecil tertuliskan memo. Maaf sayang, mama sama papa ada urusan mendadak. Uang saku ada di atas kulkas. Jangan lupa sarapan kalau sudah sampai di sekolah. Boro-boro sarapan di sekolah, nggak telat masuk aja udah bersyukur banget. “Jes!!???” Seru salah seorang cewek tak jauh dibelakangnya, Jesica nggak mau merespon panggillan itu, dia malah mempercepat langkah kakinya berharap bisa nyampai antrian nomor satu di kantin. “Jesica!” suara itu tiba-tiba menggema di telinga. “Appaa siihh?” sengitnya menoleh tajam pada temennya itu. “Iihh, Lo dipanggil wali kelas tuh! di ruangannya.” Balas sengit Tari yang nggak terima karena sudah berlarian manggil dirinya malah sewot. Bola mata hitam Jesicapun dinaikan keatas besertaan badan yang langsung lunglai lemas. “Apa mungkin gara-gara kemarin lo bawa kodok dalam kelas??” tambah Tari cemas Memang untuk situasi seperti ini Tari-lah orang pertama yang sangat mencemaskan dirinya. Ia sudah mengenal Tari saat pertama kali masuk bangku SMA, sifatnya selalu mudah kawatir dengan dirinya, meski ia sendiri nggak begitu cemas dengan masalahnya. Setiap membuat onar, maka orang pertama yang paling ketakutan adalah Tari. Sementara dia nggak begitu memperdulikan dirinya meskipun berada diambang kehancuran. “Lo tuh udah banyak trouble maker tau nggak, bisa-bisa dikeluarin dari sekolah. Kamu ini ada-ada juga di kelas bawa kodok segala.” Omel Tari tiada henti. “Emang lo tuh nggak ada takut-takutnya apa?!” tambahnya, sedangkan Jesica hanya menghela nafas menahan perih di perutnya yang sudah pada demo nggak karu-karuan. “Gue laper.” Tandas Jesica beranjak pergi, namun bahunya ditahan oleh Tari. “Ello itu di panggil wali kelas sekarang juga!” tekan Tari menajamkan lekuk bibirnya. Bola mata Jesica memutar ke kanan sembari menghela napas mendengar temannya yang berlebihan terhadap dirinya. “Tari” Jesica memegang teguh kedua bahu temennya itu dengan tatapan lurus. “Lo tau. Gue tadi pagi hanya ditinggalin secarik kertas sama nyokab gue, dan lo tau juga gue dateng pas banget sama jam masuk kelas. Dan dari pagi sampai detik ini, perut gue udah berdemo ria. Kalo gue belum juga makan maka perut gue bakalan menciut diremes-remes sama pendemo yang ada didalam perut gue.” Dercak Jesica memberikan penjelasan yang terlalu mendramatisir. “Udah, cepet kesana gih!” seru Tari yang sama sekali tidak memperdulikan keadaan perut Jesica saat ini. “Semakin lo nggak datang-datang, maka lo akan semakin dalam masalah besar, ngerti.” kata Tari menutupi kekawatirannya “Cepetan!” Tari mendorong-dorong tubuh Jesica yang sudah sempoyongan itu. “Hehehe, gue makan bentar aja ya...laper.” cengingisan mengelus-elus perutnya berbalik menuju kantin. “Iiihh, lo ini mau tambah masalah lagi apa?!” cegah Tari “Udah cepet sono! Gue bawain cemilan entar buat lo. Sekarang lo kesana. Dan jangan tambah masalah lagi.” Dorong temannya menuju ruang guru. ****** Tok, tok, tok…..!!! mendengar ketukan pintu itu. Pak Cahyo, Guru matematika itu langsung menoleh keluar diikuti para siswa yang ada di kelas tersebut. “Sudah selesai, Jes?” Tanya pak Cahyo berusaha sedikit sabar menghadapi muridnya ini. “Hehehe…iya, pak. Permisi” Jawabnya lembut dengan cengar-cengir, sedangkan pak Cahyo hanya geleng-geleng kepala menghela napas menghadapi anak didiknya yang satu ini. Belum sampai duduk, ia sudah di lempar pertanyaan bisik-bisik dari Tari. “Eh,eh,tadi gimana? Di marahi nggak? Trus, trus dikasih hukuman, nggak? ayo kasih tau????” tanya Tari menggebu-gebu. Ia melirik lemas tanpa jawaban. Tari tahu bahwa Jesica benar-benar kelaparan “tenang aja, gue udah bawa cemilan buat lo.” Nunjukin cemilan sembunyi-sembunyi dalam tas. “s**l banget gue hari ini.” Keluh Jesica memajukan lima centi bibirnya. “mimpi apa gue semal...” belum sampai kelar ngomongnya, pak Cahyo sudah berada di depan mejanya. ”JESICA!!??” Teriakan itu sangat mengejutkan, sampai Jes kaget keceplosan. “Eee,BUSETT DAH LO!!!??” refleknya langsung menutup bibir rapat-rapat dengan kedua tangannya. Guru itu terlihat garang dan yang lain hanya menahan geli tawa mereka. “Jesica, maju dan kerjakan soal di papan!” kata guru itu masih menahan kegarangaanya dengan menghela nafas. sebelum Jesica ke depan, dia menulis sesuatu di kertas yang kemudian dia tempelkan double tip pada kertasnya, dengan sembunyi-sembunyi dia bawa kertas itu ke depan. Udah datang telat bukannya segera membuka buku malah menanggapi pertanyaan temannya. Begini jadinya nggak bisa menjawab soal di papan, dia hanya bisa garuk-garuk kepala kebingungan memandang goresan hitam di papan putih sembari menggigit bibir bawahnya. Tapi… dewi Fortuna sekarang masih berada dipihaknya, saat dia masih kesusahan menjawab soal didepannya, tiba-tiba pak Cahyo dipanggil oleh seseorang dari luar pintu kelas, dengan sopan pak Cahyo menemui orang tersebut didepan pintu tanpa memperhatikan Jesica. Senyum srumingah pun nampak pada wajahnya, dia langsung membalikkan badannya berniat untuk meminta jawaban pada teman-temannya yang lain, eh ternyata nggak taunya semua sudah memapangkan jawaban didepan muka mereka masing-masing sebelum dia meminta pertolongan hehehe, ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan gesit ia langsung menyalin jawaban temen-temennya ke papan. “Udah, pak!” serunya lega. Pak Cahyo yang masih berbincang-bincang menoleh kearah Jesica melihat sepintas hasil kerja di papan kemudian mengangguk. Sesaat pak Cayo kembali kedalam kelas dan mengoreksi hasil kerja Jesica di papan tulis. “Bagus, kerja yang bagus Jesica” mangguk-mangguk melihat papan sembari mengelus-elus dagunya dan berpikir bahwa Jesica murid yang cukup cerdas. “Terima kasih, pak” cengirnya sambil diam-diam menempelkan selembar kertas ke punggung gurunya sambil terkekeh-kekeh. “Baiklah, materi kita lanjutkan” Semua teman-temannya yang membaca tulisan itu ada yang ikut terkekeh-kekeh menahan geli, tapi ada juga yang memandang sinis Jesica sembari berbisik-bisik. Pak Cahyo yang sedang menulis di papan merasakan sesuatu yang tidak beres, mungkin saja hanya perasaannya. “Lo cari mati apa?!” Delik Tari dengan suara rendah, namun Jesica hanya cengingisan nggak jelas melihat temannya yang cemas setengah mati itu sembari naik turunin alisnya. “Lo baru aja dipanggil wali kelas, lo sekarang mau dipanggil Wakasek?” terlihat keringat dingin keluar dari dahinya sendiri. Sebagian yang menganggap tulisan itu adalah lelucon terus saja cekikikan, dan itu membuat pak Cahyo berhenti menulis lalu berbalik memperhatikan muridnya yang seketika diam tanpa suara. Pak Cahyo pun melanjutkan tulisannya di papan, namun suara cekikikan muridnya terdengar lagi di telinganya. Baru beliau sadari ada yang tidak benar dari dirinya kemudian dia meraba bagian belakang tubuhnya. Dan benar, dia dapati selembar kertas dipunggungnya. HATI-HATI ADA YANG TEGANGAN TINGGI HARAP TENANG!!!!! Tulisan itu membuat pak Cahyo sangat murka, dia remas kertas itu sekuat tenaga hingga benar-benar kusut. “JESSIICCA” seperti petir yang menggelegar, sesaat Jes menghentikan cekikiannya. “KESINI KAMU!!!” dengan patuh Jesica bangkit dari bangkunya kemudian melangkah ke depan. “Apa ini ulah kamu?!” Tanya pak Cahyo garang. “Hehehe.” Lesung pipinya terlihat begitu manis namun tidak membuat emosi pak Cahyo mereda. “Kenapa bapak marah? Entar tegangannya makin tinggi lho…” jawab Jes ringan, sekelas yang mendengarnya menjadi tertawa dan kelas menjadi gaduh. “JESICA!!” suara pak Cahyo membuat suasana menjadi hening seketika. “Aduh…Bapak kok buang-buang tenaga untuk marah sih..apa nggak capek? Kan, di kertas ini nggak ada nama atau foto bapak dan hanya tertulis hati-hati ada yang tegangan tinggi, harap tenang, trus kenapa bapak marah? malahan ini sangat membantu bapak supaya semua murid tenang” ujarnya santai sambil membacakan tulisan itu untuk gurunya “Kan saya juga berniat membantu bapak agar semua murid bisa tenang mengikuti pelajaran bapak, tuh buktinya sudah saya tulis harap tenang” Tambah Jes buat kelas semakin gaduh. Saat emosi guru itu mau meledak, tiba-tiba terdengar ada panggilan para guru dari sound system yang terpasang pada setiap bagian kelas, sehingga pak Cahyo tak bisa melanjutkan kemarahannya itu, karena ia harus pergi dengan terpaksa. “Istirahat ke meja bapak!” tegas pak Cahyo mengatur pernapasannya agar tidak terlalu emosi. Sejenak para murid semua tenang tapi beberapa saat kemudian semuanya pun bersorak riang. ****** Nyam! Nyam! Nyam! Dengan rakusnya Jesica melahap gado-gado itu, belum sampai dia menelan makanannya sudah dia masukkan lagi kedalam mulutnya hingga penuh. Beberapa orang yang berada di kantin melihat cara makan Jesica berpikir bahwa dia sudah tidak makan selama bertahun-tahun. Namun Jesica sendiri tak memperdulikan orang-orang disekitarnya. Biarpun mereka anggap dirinya kayak orang nggak pernah makan asal perutnya kenyang. Dia tak akan menyia-nyiakan jam istirahat kedua ini, dia makan tiga porsi gado-gado, mengingat tadi pagi nggak sarapan, masuk sekolah mepet, istirahat pertama dapat ceramah panjang lebar dari wali kelas, dan istirahat kedua ini meski dapat ceramah lagi dari pak Cahyo, beliau masih menyisakan waktu untuk istirahat, baik juga sebenarnya pak Cahyo. Tari yang tiba-tiba datang menarik lengannya untuk mengajaknya pergi meninggalkan kantin membuat Jesica kesal. “Aduh..lo nggak tau apa,kalo gue lagi makan!” sambar Jes dengan mulut yang penuh makanan. “Ya ampun, Jes! Hasil ujian udah diumumin…lihat yukk!!!” Tari terus menarik-narik tangan Jesica yang memegang sendok. “I,iya,iya!!? Tapi gue makan dulu, laper!” sahut Jes yang akan memakan gado-gadonya. “Perut lo terbuat dari apa sih, lo udah habis dua piring gitu masih bilang laper.” Heran Tari. “Gue habisin yang terkahir ini, sayang kalau nggak dihabisin.” Jesica mulai melahap lagi gado-gadonya yang terakhir, namun belum sampai ke mulutnya Tari malah menarik tangannya kuat-kuat menuju papan pengumuman. Dengan sangat menyesal ia meninggalkan gado-gado terakhir begitu saja. Sayang bangettt pikirnya. Dalam kerumunan, mereka berdua ikut mendesak-desak dengan siswa lainnya untuk melihat hasil ujian kemarin. Tak lama Jes mengedarkan pandangannya di papan pengumuman, dia langsung loncat-loncat kegirangan sambil memeluk Tari karena dia menemukan namanya terpampang dan tak perlu mengikuti ujian lagi. “Yeee!!! Nama gue ada!!! Nama gue ada!!” serunya lompat-lompat kecil. Tari sedikit kesal karena dia belum menemukan namanya terpampang, dia pelototi setiap nama yang terpampang agar tidak ada yang ketinggalan satu namapun di matanya. Dengan serius dia membaca satu per satu nama yang ada. Akhirnya setelah cukup lama mencari namanya, dia melihat namanya berada di urutan nomor tiga dari bawah “Aaaakh!! Nama gue juga ada!!” serunya. Merekapun keluar dari kerumunan tersebut dengan perasaan lega,dengan begitu semangat Jesica langsung memeluk Tari erat-erat. “Gue seneng banget!!” terus memeluk Tari sampai dirinya tidak menyadari sudah berlebihan memberikan pelukan pada Tari. “Iya, iya, iya gue juga seneng, tapi lepasin dulu pelukan lo! Gue ini masih normal, masih butuh cowok pendamping gue, tau!” Jesica cengar-cengir melepaskan pelukannya. “Sorry… abis gue seneng banget sih…” Memang kebiasaan Jesica yang nggak bisa hilang dari dulu adalah memeluk orang seenaknya sendiri kalau dia udah merasa kesenengan, dan itu sulit dihilangkan meski sudah berusaha dengan apapun caranya, kalau sudah terlalu senang dia tak bisa mengontrol diri untuk tidak memeluk orang seenaknya sendiri. Jadi hal ini sudah menjadi rahasia umum bahwa dipeluk Jesica adalah impian para cowok, namun sayangnya tak ada satupun yang buat dia benar-benar merasa senang. Semuanya terlihat biasanya aja bagi dirinya. ****** Pulang sekolah, Jes dan Tari asyik nongkrong dulu di halaman sekolah, mereka tiduran di rerumputan sekolah. Nggak peduli seragam mereka kotor yang penting mereka nyaman dengan posisinya. Melihat Tari sedang termenung bikin penasaran “Eh, mikirin apaan sih??! Lo kan nggak pernah mikir?!” goda Jesica. “Yee! Enak aja lo!!?? gue cuma mikir tentang jodoh gue..? Kira-kira siapa ya? Mungkinkah James Bond, atau Cristian Ronaldo?? Atau…Reonaldo de Caprio? Atau jangan-jangan… SHAHRUKH KHAN?!! Wah…bisa-bisa…” Jesica yang mendengar kata-kata Tari yang nglantur kemana-kemana itu membuatnya mual kemudian berlagak meriksa dahi Tari untuk memastikan panas atau tidak. “Eh, gila. Mana mungkin mereka mau ama lo, mau deket ama lo aja ogah!!??” sahutnya setelah melepas telapak tangan dari dahi temennya ini. “Dasar, resek lo!! Biarin aja, di dunia nggak ada yang nggak mungkin!” yakin Tari. “Iya, nggak ada yang nggak mungkin, noh!tukang siomay langganan lo aja tuh, pasti tuh orang jodoh lo!! HAHAHA!!” sambungnua menunjukkann kearah sebuah gerobak siomay di depan gerbang sekolah. “Apaan sih!!??” Tari menghempaskan jari telunjuk Jesica dengan kesal. “Tapi, tapi jodoh lo siapa, ya? Lo kan Miss Troble Maker?? Selama ini banyak cowok yang deketin lo, eh malah takut sama perilaku lo yang kayak gini. Nggak ada romantis-romantisnya sama cowok” “Emang penting, ya?” Liriknya. “Ya pennting tau!!!” tandas Tari yang membuat Jesica aneh mendengar lanturan Tari yang nggak jelas dari tadi. “Ahh!Gue tau, jangan-jangan jodoh lo…GORRRIILLLA!! HAHAHAHA!!!” balas Tari menggoda dirinya. “Eh, gila lo!! Enak aja, lo aja sono!!” ketusnya. ****** Emang kalau habis mandi itu rasanya dibadan dan pikiran seger banget. Penat penut yang mengidap dibadan serasa hilang entah kemana. Dengan rambut yang masih basah, Jesica menghampiri mamanya di dapur untuk menengok apa yang dimasak mamanya malam ini. “Ma, masak apa?” membuka panci yang didalamnya ternyata tidak ada isinya “kok kos...” ucapannya terputus saat papanya datang memanggilnya. “Jes, ada temen kamu datang.” Sela papanya begitu aja tanpa permisi. Temen. Siapa. “Dion.” Sambung papanya. Dion. “Dion, pa?” Jesica nggak percaya tapi papanya mangguk-mangguk. Ngapain ketua OSIS nyasar kesini, apa dia nyasar terus lupa jalan pulang ke rumah. Atau dia amesia sampai mampir kesini, kenapa nggak ke rumah si Mawar, dia kan pacarnya. “Malah diem.” Kejut mamanya membubarkan lamunannya “ditemui dulu temennya.” Mata mama mengarahkan dirinya untuk ke ruang tamu. “Tapi, ngapain dia...” masih nggak percaya, dia bingung ngapain berada di rumahnya. Dengan ragu ia menemui Dion yang sudah menunggunya di ruang tamu. Memang benar, cowok yang mengenakan T-shirt Abu-abu dengan celana jeans beralaskan sepatu sporty hitam putih terlihat cool itu adalah Dion, ketua OSIS sekolah. “Hei.” Sapa Jesica begitu canggung, ia masih berdiri tak jauh dari Dion duduk. “Hei.” Senyum manis Dion tersirat dari wajahnya, dia berdiri menyambut kedatangan Jesica yang sudah mau menemuinya sekarang. “Duduk.” Jesica mempersilahkan Dion untuk duduk lagi diikuti dirinya yang juga mau duduk. “So? Elo lagi nyasar atau lupa jalan pulang atau...” Begonya dirinya ini, kenapa langsung to the point gini sih. Nggak sopan banget, rasanya kok kayak ngusir gini. Tapi sumpah, ini aneh banget. What’s going on? Dion tersenyum mendengar ucapan Jesica yang blak blakan itu soalnya Dion nyadari karena ini untuk yang pertama kalinya dia datang ke rumah Jesica. “Lo kaget gue datang ke rumah lo.” Tebak Dion menyengir. Idih, pede juga ketua OSIS ini. Gue nggak kaget, cuman shock ada apa ini. Nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba datang, mau nagih tagihan atau apaan. “Aneh aja lo tiba-tiba datang kesini. Ada apa?” sekali lagi to the point. “DN sekolahan nanti, kita butuh elo.” Dion pun juga to the point. What? Why? “Gue nggak salah denger?” meski terkejut tapi Jesica terlihat biasa-biasa aja. Dion mengangguk pasti. “Kita butuh sesuatu yang beda.” Tambahnya. “Tapi lo kan tau, gue paling males ngurus event-event begituan.” Tandas Jesica. “Gue tau lo pasti jawab seperti itu, makanya gue nggak mau ngomogin ini di sekolah jadi gue datang ke rumah lo untuk meminta secara pribadi.” Jelas ketua OSIS ini, meski tidak terlihat seperti orang memohon tetap aja namanya memohon. Apa urusannya ngomong disekolahan sama meminta secara pribadi. Wah ini, cowok nggak bener pasti dia mau cari suasana baru, mungkin dia sudah mulai bosen dengan Mawar terus mau deketin gue. “Gimana Jes?” Dion menanyakan lagi untuk mendapatkan jawaban yang diharapin. Ia melirik Dion dengan alis terangkat penuh tanda tanya besar, why me. “Gue pikir-pikir dulu ya.” Dengan nggak enak hati tetapi ya harus sok jual mahal dulu. Ia ingin tahu apa yang terjadi sekarang sampai dibela-belain datang kesini hanya untuk menanyakan hal ini. “Mmph.” Suara yang tidak bisa ditebak mau ngomong apa namun mangguk-mangguk, kalau dibilang nggak apa-apa raut muka Dion berubah begitu tapi dibilang kenapa-kenapa dia mangguk-mangguk menerimanya. Terjadi keheningan beberapa saat, mungkin karena jawaban Jesica yang kurang memuaskan itu. “Eh, tante.” Mama Jesica datang membawakan minuman dingin. “Maaf tante masih masak tadi. Jesica ajak temennya makan bareng yuk.” Ujar mamanya meletakkan minuman itu diatas meja. “Oh terima kasih tante, saya sudah makan tadi.” Sahut Dion malu. “Serius nih sudah makan.” Mama Jesica memastikan, dan Dion mengangguk ramah. “ya sudah, tante tinggal ya.” Senyum manis mamanya kemudian meninggalkan mereka berdua. “Mama elo lembut juga...” melirik Jesica yang beda banget dengan mamanya, Jesica ikut melirik Dion yang tau apa yang dia pikirkan. “Emangnya nyokab sama anaknya harus sama gitu sifatnya?” skaknya nyeletuk gitu aja yang membuat Dion mringis tak enak hati juga. “Bercanda kali, gitu amat bibirnya dimoncongin.” Goda Dion. “Oke, gue pamit pulang. Gue tunggu jawaban dari elo segera.” Suara Dion terdengar semangat lagi. “Eh, minumnya dihabisin dulu. Buatan nyokab gue itu.” nunjukin minuman diatas meja. “Oh iya.” mengambil minumannya dan dalam seteguk gelas itu sudah kosong, belum sempat mengedipkan mata minuman tuh cowok udah habis. Nih orang baru nguli dimana. “Lo haus banget ya?” terheran-heran memandang Dion. “Lo kan yang nyuruh minuman ini dihabisin.” Sahut Dion mengusap bibirnya. Ia pun tercengir canggung. ******

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.0K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
63.6K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook