Dunia Terasa Terbalik

1520 Words
“Ello nggak lagi nglindur, kan??!!” kejut Tari hingga bangkit dari meja kantin mengagetkan orang-orang yang ada dikantin juga. “Iihh, lo ini.” Tahan Jesica menarik lengan Tari untuk tidak heboh kayak gitu. “Ups” Tersadar Tari pun kembali duduk “Pasti ada udang dibalik rempeyek!” tandasnya ikut penasaran sembari menunjukkan jari telunjuknya didepan muka Jesica. “Ih, apaan sih?!” Jesica meremas jari Tari. “Aakh! Sakit tau.” Mringis Tari mengelus-elus jarinya. Ia tak peduli, malah menyeruput es teh didepannya. “Eh, Jes. Gue pikir-pikir lo harus terima tawaran itu.” ucapan temennya itu membuatnya melirik nyidik dengan bibir yang tetap menempel pada sedotannya. “meski terlihat aneh, karena bukan lo banget. Tapi apa salahnya.” Saran Tari menerawang. “Terus untungnya buat gue...” berdelik, Tari berpikir kembali. “Ya...nggak ada untung-untungnya sih...tapi demi sekolah kita. Demi gue, demi elo, demi seluruh penghuni sekolah ini.” Dercak Tari terlalu mendramatisir. Bola mata Jesica pun berputar seratus delapan puluh derajat mendengar celotehan temannya ini. “Hei Jes.” Sapa Dion yang tiba-tiba nongol didepannya. Mata Jesicapun terangkat dan melihat siapa cowok yang menyapanya. “Hei.” Waduh, sejak kapan cowok ini ada disini. jangan-jangan dia mendengar obrolannya dengan Tari. Tanpa ditawar Dion tersenyum manis duduk dihadapan Jesica dan Tari. Sok manis banget. Tapi memang manis sih sebenarnya. “So? Apa keputusan lo?” tanpa basa-basi Dion langsung keinti permasalahan. Bener-bener cowok yang ambisius. Kalau sudah berkemauan dia tak akan menyerah begitu saja. Ia menyegir mendengar pertanyaan Dion yang langsung begitu saja. “Emmh, gini.” Sesekali melirik Tari yang juga balik melirik dirinya “bukannya gue nggak mau...tapi lo kan udah tau gue...seumur-umur gue sekolah disini, gue hanya terima bersih, nggak pernah ngikut-ngikut beginian...jadi...” mata Tari terbelalak mendengar temennya berkata seperti itu dengan cekatan salah satu kakinya menginjak kaki Jesica berisyarat agar tidak menolak tawaran itu, dengan pandangan bingung melirik Tari. “Emh, Dion. Coba kasih alasan kenapa lo tiba-tiba meminta Jesica untuk gabung sama elo?” celetuk Tari tepat sasaran “sedangkan selama ini elo, gue dan Jesica nggak pernah sekalipun berkontak apapun, baik secara lisan maupun tulisan.” Ngomong apalagi nih anak, pake secara lisan tulisan segala. Niat bantu atau malah bingungin gue sih. Batin Jesica mengrenyitkan keningnya bingung melihat temannya berpidato nggak jelas. “jujur, gue shock elo tiba-tiba ngajak Jesica gabung sama elo. Secara, kita nggak pernah ada hubungan apa-apa.” What? Tari, elo mau ada hubungan apa dengan Dion. Mata Jesica terbelalak mendengar celotehan temannya yang makin nglantur. Jika tidak segera dihentikan bisa-bisa mluber kemana-mana. “Fix. Gue mau.” Singkat jelas dan padat, Dion terbelalak tak percaya, begitu juga Tari yang mau berkomentar mulutnya segera dibungkam oleh kedua telapak tangan Jesica. “Mmmpphh..Mmmpphh” protes Tari tidak jelas. “Elo serius?” Dion memastikan lagi. Dengan senyum lebar Jesica mengangguk-angguk. “oke kalau gitu.” Seru Dion srumingah, tanpa banyak bicara Jesica tetap membungkam temannya sembari angguk-angguk. “pulang sekolah elo bisa gabung langsung ke ruang OSIS.” Tunjuk Dion kegirangan bangkit dari duduknya “gue cabut dulu.” Sembari mringis Jesica terus memandangi Dion berlalu hingga tak terlihat lagi, barulah dia lepaskan bungkamannya itu dan mendapatkan cacian dari Tari. “Lo apa-apaan sih?! Pake bungkam-bungkam gue segala.” Cerca Tari kesal tapi ia hanya cengir memperlihatkan gigi ratanya dan menunjukkan tanda perdamaian “peace...” Tari hanya bisa gregetan melihat temennya yang satu ini “Grrr...” bola matanya hanya bisa dia putar tanpa komentar apapun. “Abis lo sih...mluber kemana-mana kalau ngomong. Jadi gue kepaksa ngiyain deh.” Belanya meredakan emosi temannya yang malah merebut gado-gado miliknya, ia tidak bisa berbuat apa-apa makanannya dilahap temannya begitu saja, tapi apa boleh buat dia ikhlasin daripada dapat cerca lagi. “Gini ya, elo jangan sampai ngecewain gue.” Dengan mulut yang penuh makanan Tari mulai berbicara “elo buat DN tahun ini yang paling AMAZING. Ngerti lo.” Tekan Tari menodongkan sendok kehadapannya yang hanya mengangkat alisnya aneh. “Elo gila apa. Gue nggak bisa apa-apa dalam hal kayak gini. Kecuali kalo mereka nyuruh bikin onar nah...serahkan sama Miss Trouble Maker.” Bangganya. “Helloww... lo lupa.” Tegas Tari menghentikan makannya dan menarik lengan Jesica agar pandangan Miss Trouble Maker ini terfokus padanya “elo bakalan gabung sama orang-orang kaki tangan sekolahan.” Tekan Tari yang membuat Jesica tidak mengerti “gini” Tari meletakkan kedua telapak tangannya ke pipi kanan kiri Jesica “lo sama semua guru di sekolahan ini ibarat musuh, sedangkan OSIS dan seluruh guru disekolahan ini ibarat sahabat.” Jesica dengan bingung menepis kedua tangan Tari yang terus menempel pada kedua pipinya itu. “So?” mengernyitkan kening dalam-dalam menatap temannya penuh rasa penasaran. “So, lo harus bisa temenan sama guru-guru di sekolahan ini. Nggak ada keonaran, nggak ada keributan, nggak ada masalah dengan guru, siapaun itu.” Jesica menganga mendengar temannya berbicara seperti itu “lo harus jaga sikap sama temen-temen lainnya. Nggak ada kejailan.” Ucap Tari menekan nada suaranya. Bukan gue bangettt.“Gue bakalan mati rasa.” Jesica nggak bisa ngebayangin jika dia hanya diam tersenyum begitu saja “kenapa lo nggak bilang siihh.” Protesnya kesal kebingungan. Tari menghela napas sebelum menjelaskannya pada Jesica. “gimana gue bisa kasih tau elo, kalau elo terus bungkam gue kayak gitu tadi.” Protes balik Tari. b**o banget sih, kenapa juga tadi gue bungkam Tari. Tapi habisnya dia mluber gitu, gue mana kepikiran dia mau mluber apa lagi. “gue tadi itu mau mastiin elo. Elo udah siap belum buat bersikap kayak yang gue bilang tadi...” sambung Tari menyidiknya, sementara ia memajukan bibir sembari menggelengkan kepala. Nyesel berat, kenapa gue harus membungkam Tari seperti itu. “Terus gue harus gimana dong...” sesalnya manyun menyangga kepalanya dengan tangan kanannya sedangkan Tari malah menarik tangan kanan Jesica sampai kepalanya seakan jatuh. “Mau gimana lagi, lo harus menghadiri rapat di ruang OSIS.” Tekan Tari dan ia menganga keberatan. ****** Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jesica harus bergabung dengan orang-orang yang istilahnya lebih memikirkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Lebih mengutamakan kepuasan orang banyak ketimbang kepuasannya sendiri. Meski mereka lelah asal mendapatkan hasil yang sempurna menjadi nilai plus sendiri bagi mereka. Huft. Bukan Jesica namanya kalau enggak telat, pasti telatnya. Menyadari dirinya nggak ontime, dia intip dulu keadaan di dalam ruang OSIS. Penuh orang. Mimpi apa semalem sampai-sampai dia masuk ke ruangan yang nggak pernah terlintas dalam pikirannya. Awalnya ia ingin pergi saja mengurungkan niatnya untuk bergabung dengan mereka semua. Badannya segera berbalik dan melangkahkan kaki beranjak pergi. Namun masih satu langkah, ia kurung kembali niat kaburnya. Gue ini Miss Trouble Maker, nggak mungkin gue kabur gini aja. Gue bukan pecundang. Pikirnya. Ia berbalik badan lagi dan kembali mengintip kedalam ruangan tersebut. kumpulin energi keberaniannya, tarik nafas dalam-dalam keluar pelan-pelan, tarik nafas dalam-dalam keluar pelan-pelan. Huft. Dengan mengendap-endap ia mulai memberanikan masuk kedalam ruangan. Meski diam-diam berusaha menjadi penyusup tiba-tiba namanya dipanggil. “Jesica” Deg. “Dia akan membantu kita dalam mensukseskan DN tahun ini.” Suara lantang Dion membuat orang-orang yang ada didalam ruangan itu mengarah padanya yang jalan tertunduk seakan menjadi patung. Terlihat sekali raut mukanya merah hitam tak karuan. Karena Dion sudah memanggil namanya terpaksa ia harus berdiri tegak sambil cangar-cengir tanggung. Serontak keadaan menjadi gaduh melihat dirinya tergabung dalam event ini. Semua terlihat tidak bisa menerima kedatangan Miss Trouble Maker didalam rapat ini, buktinya mereka langsung berbisik-bisik sama teman kanan kiri dengan raut muka ketidaksetujuan mereka. Pasti akan menjadi hari yang berat bagi dirinya, melihat respon semua begitu tidak baik. Ia hanya bisa menghela nafas. Mau gimana lagi, ibaratnya ia sudah terpeleset kedalamnya. Suka nggak suka harus dilakukan. Emangnya gue seneng banget gitu gabung di event ini? Enggak banget. Batinnya ngernyit. Ya beginilah kalau ikut organisasi-organisasi, waktu yang seharusnya sudah dirumah nyantai-nyantai tersita di sekolahan. Pulangnya jadi sore. Capek. Letih. Lunglai. Jesica seakan nggak sanggup membawa tubuhnya itu, jalannya udah sempoyongan menuju tempat parkir. “Jes!” seru Dion dari belakang, dengan lemas ia menoleh kebelakang “hei.” Dion berlari menghampiri dirinya begitu semangat, padahal ia ingin sekali pingsan. Tersenyum tipis pada Dion. “lo tenang aja, temen-temen pasti bisa nerima lo jadi salah satu dari kita.” ujar Dion berniat memberi semangat. Siapa juga yang mau jadi salah satu dari kalian, gue cuman bisa duduk diam tersenyum manis tanpa melakukan apa-apa. Huft, mati rasa. “Kayaknya gue nggak mungkin bisa jadi kayak elo maupun yang lain deh.” Jesica melangkahkan kaki diikuti Dion disampingnya “elo udah tau, semua orang di sekolah ini juga udah tau kalau gue itu Miss Trouble Maker. Mana mungkin bisa bantu elo?” jelasnya tanpa melihat Dion terus berjalan “lo salah orang kalau minta bantuan gue.” melempar pandangannya kepada Dion tiba-tiba. Sekejap suasana hening namun dengan senyuman manis Dion merubah keadaan. “Karena elo Miss Trouble Maker, gue pilih elo.” Singkat padat dan jelas cukup membuat jantungnya terhenti sesaat. Ia tatap Dion yang tersenyum manis berlalu begitu saja meninggalkannya yang masih tertegun. “Gue tunggu elo lagi besok dijam dan tempat yang sama.” Seru Dion dari kejauhan “dont late,ok!” tambahnya. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD