Mulai Bersuara

906 Words
Jesica menguap lebar-lebar mendengar argument-argument para anggota OSIS dan tim sukses lainnya, ia merasa bosan dan mulai mengantuk. Dirinya benar-benar tidak tahu maksud dan arah pembicaraan yang mereka bicarakan. Yang ia tahu hanya satu yaitu DN. That’s it. “Mungkin Jesica punya pendapat lain?” sambar Dion membuat dirinya kaget gelagapan. Kantuk yang tadinya nempel kayak perangko tiba-tiba hilang entah kemana. “Emmph...emmh...menurut gue...emmhh ini ngebosenin. Bikin ngantuk.” Ceplosnya tanpa berpikir panjang membuat orang-orang yang berada didalam forum sedikit terlihat emosi dan dibuat gaduh. Dengan kepala dingin, Dion melipat kedua tangannya bersandar pada meja sembari melihat Miss Trouble Maker yang mulai ngeluarin suara, dia penasaran apa yang dipikirkan Miss Trouble Maker itu. “Terus?” Dion mengendalikan suasana. “Menurut gue...kalian disini otoriter. Kalian puyeng-puyeng mikirin ide seperti apa yang bakalan buat DN ini amazing, tapi kalian takut nantinya kalau ide kalian garing.” Cercanya blak-blakan. “Maksud lo apaan sih?” salah seorang cewek anggota OSIS pun mulai emosi. “Lo semua coba pikir deh, siapa diantara kalian yang mau nyumbangin idenya, terus ternyata setelah dijalanin idenya garing.” Jesica menyidik semua anggota forum itu tanpa basa-basi. Mendengar celotehan Jesica seperti itu membuat forum sesaat hening. “gini ye, bukan gue mau debat disini. gue hanya bisa bantu. Terserah lo semua mau menerima atau enggak.” Tekannya, karena tampang-tampang semua orang saat ini kayaknya pengen makan dirinya mentah-mentah. “oke, gue sadar. Disini gue bukan anggota apa-apa.” Nada suara Jesica merendah. “tapi gue kasihan sama lo semua. Coba lo perhatiin, tiap pulang sekolah, tiap pulang sekolah, kumpuuull melulu tanpa ada solusi yang jelas.” Sebenarnya ini adalah curhatan Jesica yang udah muak karena waktu istirahatnya dirumah tersita gara-garaacara kumpul-kumpul yang nggak ada solusi. “come on, guys! Siswa disini bukan hanya kalian doang.” bangkit dari kursinya. Dion mulai menangkap apa yang ada dipikiran Jesica, dia pun lebih serius memahami apa yang dimaksud cewek pembuat onar ini. “kalian bisa mengambil ide dari semua siswa yang ada disekolah ini. Baik adik kelas ataupun kakak kelas. Siapa aja, yang penting dia siswa sekolah ini.” Tandasnya “dari sini udah keliatan kalau stres kalian berkurang. Kalian cukup mengembangkan ide-ide mereka aja.” terlihat begitu berantusias. “Apa gunanya kejutan kalau kita ambil ide dari mereka semua.” Seru salah seorang anggota protes. “Apa gunanya kejutan kalau nantinya ide yang kalian pilih itu garing?” tantang Jesica melipatkan kedua tangannya mengikuti gaya Dion.Ketua OSIS pun tersenyum tipis pada gaya bicara Jesica. ****** Suasana di meja makan sedikit berbeda, saat ini hanya ada suara piring dan sendok saling beradu. Tidak seperti biasanya. Aneh. "Tumben pada diam?" Jesica membuka obrolan, ia sangat tidak betah kalau suasana di meja makan seperti kayak di kuburan. rasanya seperti hidup di alam lain. Mendengar anaknya berkata seperti itu, mama tersenyum kemudian melihat suaminya yang juga sedang melihatnya. Jesica yang sedang mengunyah makanan dibuat bingung dengan kedua orang tuanya, dia pandang mama dan papa yang juga memandang dirinya. "helloo, pliss speak up. what's going on, now?" meletakkan sendok dan garpu di atas piring dengan penuh rasa penasaran. Papanya menghela napas kemudian meletakkan kedua sikunya diatas meja lalu menempelkan kedua telapak tangan menjadi satu dan mengatakan kalau Papa dan Mama harus memindahkan sekolah Jesica ke tempat yang dekat dengan rumah kakek. Sontak hal tersebut ditolak oleh Jesica namun setelah Papa memberikan pengertian kalau mama terkena penyakit kanker otak stadium tengah, berbagai macam pengobatanpun sudah dilakukan namun belum juga memuai hasil yang diharapkan. Dan sekarang, papa Jesica mengambil keputusan untuk melakukan pengobatan di Singapure. Jesica mengerti benar maksud dan tujuan papa, ia juga tak ingin sesuatu hal buruk menimpa keluarganya, ia belum siap untuk itu. Papa dan mama adalah orang terpenting dalam hidupnya, ia tidak boleh kekeh dengan kemauannya sendiri tanpa memikirkan mama dan papa yang sangat menyayangi dirinya. Menutup kedua matanya sembari menarik napas dalam-dalam, sesaat teringat bahwa ada tanggung jawab yang harus ia selesaikan. "Jesica bisa minta waktu dua minggu?" tawarnya, karena dia pikir tidak mungkin meninggalkan tanggung jawab begitu saja dan pindah sekolah tanpa menyelesaikan tugas itu. Dengan senang hati papa dan mama tersenyum menganggukkan kepala. Meski berat hati, Jesica harus bisa menerima keputusan papanya dengan lapang d**a karena ini semua demi mama tersayang. ****** Di kantin, ketika Jesica berniat nyeruput es teh didepan mejanya, Tari malah menarik bahu Jesica supaya berhadapan "gue serius...Jes. Hari ini lo aneh banget. Dengan lo nggak bikin onar, nggak bikin heboh, nggak bikin jantung gue pengen copot, rasanya gue nggak lengkap." mendengar ucapan temennya ini, Jesica bingung. Nih anak abis makan apaan sih? "Gue tau, gue seharusnya turut bahagia lo bisa jadi lebih baik, tapi gue lebih suka kalau lo jadi seperti Jesica apa adanya." Potong Tari tidak memberikan kesempatan Jesica untuk bicara. "Gue nggak mau kalau...." "Gue bakal pindah sekolah...." potong Jesica dengan suara gemetar. Mata Tari terbelalak hingga mulutnya ternganga. "Lo lagi bercanda kan?" Tari tidak percaya. Jesica tidak menjawab pertanyaannya, malah mata Jesica mulai terlihat berkaca-kaca. Tari belum bisa bicara apa-apa, rasanya suaranya hilang entah kemana. Mungkin terlalu kaget mendengar ucapan Jesica barusan. "Gue bakalan pindah ke rumah kakek gue..." Enggak sadar air mata Tari menetes. Mengusap air mata Tari sambil berkata "lo jangan gini dong, masa lo mau bikin Miss Trouble Maker nangis di kantin?" suara Jesica terdengar serak "lo nggak bakalan kan jatuhin reputasi gue di kantin..." goda Jesica menahan air matanya. "Garing banget sih lo? Mana gue bisa nahan air mata gue?" Tari mengusap air matanya. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD