Semua panitia dan anggota OSIS sudah pada kumpul, kepala Dion masih celingukan mencari sesosok Miss Trouble Maker. Padahal dia sudah ingetin cewek itu untuk tidak datang terlambat, tapi ternyata belum juga nongol-nongol. Terlihat semua kursi sudah penuh, bearti semua sudah datang, kecuali Jesica karena kursinya masih kosong. Kenapa ya tuh anak? batin Dion penasaran. Terpaksa dia harus memulai rapat tanpa cewek itu.
******
Sekolah sudah sepi tapi mang Yayan belum juga datang karena ban mobilnya ada yang bocor jadi harus ditembel dulu. Mau gimana lagi, harus menunggu. Untung saja ada Dion yang baik hati menawarkan diri untuk mengantar pulang. Dengan senang hati Jesica menerimanya daripada menunggu lama mang Yayan.
Jesica dan Dion hanya diam dibawah langit yang mendung dan hembusan angin yang cukup kencang mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
Dug. Aduh. Jesica mengelus-elus jidatnya yang kebentur helm gara-gara Dion ngerem mendadak. "Lo kenapa??" nengok kebelakang "Dari tadi gue panggil nggak nyaut??" tambahnya
Berhenti ngusap jidat "Hah? masa sih?"
"Lo mikir negara atau mikir DN?"
Jesica geleng-geleng kepala. "Ini hujan kayaknya makin deras, kita nepi dulu ya. Entar lo malah sakit lagi.” Ujar Dion nyari tempat teduh sementara Jesica baru sadar kalau dirinya setengah basah karena hujan.
Setelah menemukan teras toko yang tutup, Dion memakirkan motornya lalu mereka sama-sama turun. Ditemani hujan mereka pun saling bercerita dan bertukar pendapat
Sesekali Jesica menyilakan rambut dan mengusap-usap lembut rambutnya. Dion diam-diam melihat Jesica yang sedang sibuk mengusap-usap rambut. "Hhacciiin!" lamunan Dion bubar saat mendengar Jesica bersin "Hhaacciin!" sekali lagi Jesica bersin "Hhaacciin!" dan sekali lagi Jesica bersin.
"Elo nggak apa-apa?" Dion menepuk pelan pundak Jesica.
Belum sempat jawab, Jesica bersin lagi "hhaacciin!" Dion sedikit membungkuk melihat wajah Jesica yang tertunduk tertutup kedua tangannya. "Jes?"
"Gue nggak apa-apa, nggak apa-apa." menaikkan kepala. Dion melepas jaketnya lalu diberikan kepada Jesica "Nih lo pake."
Mengalihkan pandangannya kearah Dion yang nyodorin jaket "Hhaaciin!!" dan sekali lagi. Dion memakaikan jaket ke pundak Jesica. Loh. Jesica menatap Dion, sesaat mereka saling memandang dan akhirnya "Hhacciin" Jesica menutup mulut dan hidung supaya tidak menyembur Dion.
"Lo, lo pake dulu aja. Kayaknya lo kedinginan." ujar Dion yang jadi berubah canggung.
Hujan belum juga reda malah semakin deras. Mereka berdua hanya berdiam diri saling canggung. Apalagi Jesica yang nggak pernah secangung ini.
"Jes, sebaiknya lo telpon mang Yayan biar bisa jemput elo." seru Dion
"Terus lo?"
"Gue harus nunggu hujan reda”
Jesica mendekati air hujan yang jatuh, kemudian mengadahkan kedua tangan "Oh,gitu...kalau gue nggak mau gimana?" menoleh kearah Dion yang juga melihatnya dengan mengangkat kedua bahu.
Jesica tersenyum jahil lalu menyiram Dion dengan air yang sudah ada ditelapak tangannya.
Seketika Dion mengernyit, sedangkan Jesica tertawa lepas lalu memercikkan lagi air hujan itu kearah Dion. Dasar trouble maker. Mereka berdua pun akhirnya perang air sampai tanpa disadari pakaian mereka basah lagi.
"Jes udah. Udah." Dion yang berdiri dibelakang Jesica berusaha menahan kedua tangan cewek pembuat onar itu, tetapi Jesica tidak kunjung menyerah "Jes, kita udah basah lagi" seru Dion mulai menyerah.
Jesica berbalik badan berniat mengahadap Dion, tetapi saat mulai berbalik kakinya terpeleset karena dia menginjak lantai yang licin. Secara resflek tangan kiri Jesica meraih lengan kiri Dion yang belum siap menerima beban sehingga Dion ikut ketarik mengikuti arah jatuh Jesica yang keluar dari teras toko.
Bruukkk!!! Aaauucch!! Dion hampir menubruk tubuh Jesica, untung saja Dion segera menyangga tubuhnya dengan kedua tangan. Kalau tidak, bisa-bisa Jesica gepeng gara-gara Dion.
Dibawah guyuran hujan mereka berdua saling menatap kesakitan. "Sakit ya?" tanya Dion.
"Ya iyalah. Sakit banget tau." ketusnya. Dion segera bangkit dan membantu Jesica bangun.
Saat Jesica mengulurkan tangan kanan dan pelan-pelan ditarik Dion, tiba-tiba Jesica ngeram kesakitan. "Aduh, duh, duh."
"Kenapa Jes?" kaget Dion.
"Sakit banget." ngelus pinggang.
"Kalau gitu, gue angkat aja." berniat mengangkat tubuh Jesica.
"Eh, eh, eh, enggak. Enggak." tolak Jesica
"Terus lo mau disini terus kehujanan gitu?" Sahut Dion tanpa banyak bicara mengangkat tubuh Jesica.
Apa yang bisa diperbuat, Jesica tidak bisa melakukan apa-apa dengan kondisi kesakitan gitu. Saat tubuhnya terangkat, hati Jesica seakan ikut tergugah. Bahkan Jesica tidak mampu memalingkan pandangannya dari ketua OSIS itu.
******