Jesica hanya menghela napas memutar bola mata hitam seratus delapan puluh derajat saat dirinya diajak ke gamefun.
Awalnya Jesica terlihat malas dan nggak tertarik dengan game-game yang disajikan, setiap kali ia diajak main, ia justru memilih duduk dan nonton orang-orang yang sedang asyik dengan kesibukan masing-masing. Huft, untung nggak ada yang liat gue disini. Ia lipat lutut kanan ke lutut kiri lalu siku kanan menompang diatas untuk menyangga kepalanya. Mau berapa lama lagi sih cowok pembuat onar ini main. Ngantuk gue.
Ditengah kebosanannya, tiba-tiba tangan kanannya ditarik oleh Master Trouble Maker itu menuju kepermainan lembar bola basket kedalam ring. "Iihh!!?" maksa nglepasin tangannya "apa-apaan sih lo?!" protesnya namun cowok itu malah tersenyum sok manis dihadapannya.
"Bantu gue main ini. Soalnya kalau yang main dua orang banyak scors yang bisa kecetak, oke." jelas Jonathan. Hadeh. menghela napas menaikan bola mata dan berkata "Males." berbalik berniat pergi tapi Jonathan menahannya.
"Ini yang terakhir, habis itu kalau lo mau pulang, gue antar langsung." Jesica menatap mata cowok dihadapannya ini.
"Awas kalau lo sampe bo'ong." kecamnya lalu meng-iya kan permintaan Master Trouble Maker ini. Terlihat Jonathan seneng banget sementara Jesica lagi-lagi dengan berat hati harus menuruti cowok nggak penting ini.
Lemparan pertama ia masih terlihat malas-malas nggak semangat, lemparan kedua masuk ke ring. Mata Jesica sempat melotot kaget, ternyata meski malas ia masih bisa mencetak skors. No bad. batinnya banggain diri. Lemparan ke tiga bolanya meleset. Yahh, meleset. Hal tersebut malah bikin ia penasaran dan ingin masukin bola ke ring sebanyak mungkin dan mencetak skors. Dan akhirnya, dirinya terhanyut dalam permainan tersebut dengam semangat yang membara. Jonathan yang baru sadar, terdiam sejenak lalu mengimbangi semangat cewek trouble maker ini.
Merekapun akhirnya bermain disetiap game yang ada. Semua permainan dijajalnya, dan nggak ada yang ketinggalan satu pun. “Keren!!” seru Jesica yang udah lupa kalau dirinya tadi begitu malas dan nggak tertarik sama sekali tapi sekarang malah berbalik arah.
Saat menyusuri setiap sudut, Jesica melihat ice skiting di lantai dasar. Waahh, ini baru cool. Kebaca banget kalau Jesica kepengen main ice skiting.
“Gue nggak mau!” Jonathan langsung mematen keputusan dulu sebelum cewek trouble maker ini bicara.
“Mau!” seru Jesica menekan nada suaranya.
“Enggak!!
“Iya!!”
“Kalo gue bilang nggak, ya nggak!”
“Iya! Iya! Iya!” ngototnya.
“NGGAK!!” bentak Jon sampai bikin dirinya tersentak hingga terdiam. Apa hak dia main bentak. “Ok, emang sejak kapan gue harus ngikuti kata-kata lo…siapa lo” gumamnya terdengar ke telinga Jonathan yang menghela nafas dalam-dalam. Entah kenapa sejak bersama cewek trouble maker ini, ia nggak bisa menolak.
“Ok, kita main. Tapi awas sampe lo nertawai gue.” Tekannya.
Ternyata ada sebabnya kenapa Jonathan bertekad bulat nggak mau banget main ice skiting, soalnya dia nggak bisa main ice skiting.
Cowok pembuat onar itu terus nempel ditepi pagar ice skiting, ia terlihat ketakutan dan gemetaran. Sampai kakinya serasa nggak bisa berdiri tegap. Nggak lama Jesicayang berada ditengah area menghampirinya.
“Lo kenapa?” tanya Jesica baru datang.
“Oh, Nggak kenapa-napa.” Jawabnya singkat.
“Lo nggak bisa main…” goda Jes nyenggol lengan cowok itu.
“Emh, emh, bisa. Gue bisa…masa cuma gini aja nggak bisa…" menutupi malu "Gue cuma butuh pemanasan doang, kok.” Cengirnya "Beneran...?" Jesica mastiin padahal Jonathan sama sekali nggak pernah pakai sepatu aneh ini, apalagi langsung turun ke ice skitingnya.Mampus gue.
“Ya udah kalo gitu, gue duluan!” seru Jesica kemudian dengan lempengnya pergi ketengah area tanpa gangguan.
“Mati lo Jon, kenapa tadi gue mau kesini? Dasar b**o! Seharusnya gue enggak nuruti si Miss Trouble Maker itu, coba lo lihat sekarang! Lo nggak bisa ngapa-ngapain.” Kesalnya sendiri. Tiba-tiba beberapa anak kecil datang menghampirinya. “Kak, kenapa kakak cuma disini? Ayo ke tengah!” ajak mereka. Jonathan hanya tersenyum untuk menutupi rasa malu.
“Mhhh, nggak, terima kasih…kakak cuma sedang istirahat saja.” Ucapnya berbohong.
“Kakak enggak bisa, ya?” seru mereka tertawa. “Ssst, sst, ssst, jangan keras-keras.” Ia berusaha nenangin anak-anak iseng ini. Masa Master Trouble Maker nggak bisa main kayak ginian, apalagi kalah sama anak-anak kecil itu. Tapi kenyataannya memang nggak bisa. Malu-maluin aja.
“Gimana kalo kita ajari??” tawar mereka menarik-narik bajunya
“Enggak, makasih, kakak mau…” belum selesai bicara, ia malah ditarik anak-anak kecil itu dan menggelandang ke tengah-tengah area ice. Rasanya jantungnya melayang lepas dari raga ketika ia meluncur ke tengah-tengah area, sementara anak-anak kecil ituterus membawanya berputar-putar.
“Eh, wow! Hati-hati!! Gue nggak bisa! Udah! Udah!?? Stop, bawa kakak ke tepi lagi!???” serunya setengah mati. Mending gue dikroyok sama geng motor daripada diseret kayak gini. Gue nggak bisa ngapa-ngapain. Batinnya setengah mati.
Dan akhirnya GUBRAAK!!!??? Suara yang begitu keras dan terasa sakit menggelegar buat semua orang mengarahkan pandangannya ke sumber suara termasuk Jesica. Cewek itu langsung mendekati TKP.
“Jon???!!” serunya mengerutkan kening saat ia mendapati Master Trouble Maker itu kesusahan bangkit. Ketika Jesica baru menyadari sebenarnya cowok didepannya ini nggak bisa main ice skiting, ia tersenyum cibir. Jonathan bener-bener keliatan malu tingkat maksimal. Mukanya memerah kayak tomat, ia tesenyum sambil garuk-garuk kepala
Jesica ngulurin tangan berniat bantu cowok itu bangkit, dan pelan-pelan Jonathan bangkit meski serasa mau jatuh.“Lumayan sakit juga kalau jatuh.” Desis Jonathan membuat Jesica tersenyum kecil.
Akhirnya, Jesica mengajari main ice skitingpelan-pelan. Saat itulah Jesica merasa cowok didekatnya ini seperti bukan seorang Master Trouble Maker yang selalu buat keonaran, ia tersenyum manis saat lihat raut mukacowok itu polos, lugu, dan bener-bener ketakutan main ice skiting, bener-bener beda tiga ratus delapan puluh derajat dari biasanya.
Berulang kali Jon belajar, berulang kali pula ia terjatuh. Sampai Jesica yang mengajarinya pun ikut-ikutan terjatuh tanpa sengaja. Setelah cukup lama belajar,ia meminta Jesica untuk melepaskan tangannya di tengah-tengah area ice, akhirnya ia dengan lancar berjalan sendiri. Merekapun kompak bermain bersama sampai malam.
******
Esok paginya disekolah, Jonathan sudah dicari-cari teman-temannya. “Jon??!!” seru Roni.
“Eh, kenapa lo kemarin nggak masuk? Temen-temen pada nyari lo tuh.” Sahut Diko.
“Ada apa lo nggak masuk?” sambar Radit.
“Emang kenapa? Ada masalah?” tanya balik Jonathan menatap mereka semua. Lalu teman-temannya menceritakan kalau Jesica berhasil keluar dari gudang dan mereka penasaran siapa yang menolong Jesica keluar dari gudang.
“Ah, sudahlah!!” acuhnyabuat temen-temennyatertegun saling memandang.Lalu tanpa basa-basi malah pergi begitu saja ninggalin teman-temannya itu.
Di kantin, saat jam istirahat. Jesica tengah asyik ngrumpi bareng temen-temennya. Tiba-tiba nggak ada anginnggak ada hujan Mike mendobrak mejanya.
BRAAKK!!!! semua yang duduk di meja tersebut termasuk Jesica sendiri dan teman-teman yang lain berserta penghuni kantin lainnya jadi kaget. Ia nggak terima dengan kejadian ini, dengan pandangan melotot ia berdiri nyolot dan langsung marah tanpa bertanya pelan-pelan.
“APA-APAN NIH!!!?? ENGGAK PUNYA SOPAN SANTUN APA!!?” bentaknya menatap geng pembuat onar ini tanpa adanya Jon.
“Udah Jes…biarin aja mereka, enggak usah diladenin.” Tutur Agnes menenangkan dirinya.
“Kenapa??!! Lo nggak terima!!!? HAH!!!?” seru Amel
“YANG ENAK DONG KALO MAU NGOMONG!! JANGAN ASAL GUBRAK MEJA ORANG” kecamnya begitu kesal.
“Siapa yang bebasin elo, hah!!?”tandas Amel to the point.
“Engak penting tau nggak siapa yang bebasin gue!! Bukan urusan lo lo pada, ngerti!!!” jawab Jesica.
“Berani juga nih cewek!!” ketus Devi.
“Udah lah guys, dia pasti sudah berani bayar mahal siapa aja yang mau bebasin dia…” kata Radit bermaksud menghina.
“Gue nggak mau bahas masalah ini, ngerti!!kalo lo mau buat masalah nggak usah disini!! Asal lo semua tau ya, kalau bukan yang nolong itu…” ucapannya terhenti, ia hampir keceplosan menyebut orang yang menolongnya itu Jonathan sendiri.
“DASAR CEWEK GAMPANGAN!!” seru Radit yang berdiri tepat dihadapannya.
SSRROOOOTTT!!!! Jesica sudah tidak bisa menahan emosi lagi. Minuman yang ada di atas meja diguyurkan pas tepat pada muka cowok tersebut. Semua penghuni yang ada di kantin terbelalak matanya, nggak ada yang berani menengahi masalah ini.
Muka Radit yang basah merasa tidak terima, ia mengepal tangannya berniat mau membalas cewek trouble maker itu. Ketika kepalannya mulai melayang tiba-tiba ada tangan yang menahan.
Mata Radit langsung menoleh keorang yang sudah menahannya. Jonathan. Semua geng-nya terheran-heran.
“Gue paling benci kalo kalian main kasar sama cewek" tekan Jonathan menatap tajam Radit "Loser!!” membuang tangan Radit.
“Jon!!!????” serempak kejut teman-temannya bingung, mereka nggak puas atas perilaku Jonathan yang mencegah Radit seperti itu.
“Kita pergi dari sini!!!” bentaknya
“Tap, tapi Jon, Dia udah nyiram gue! Gue nggak terima kalo dia…” keluh Radit tidak puas.
“Gue lebih enggak terima kalo lo semua bertindak seenak sendiri tanpa sepengetahuan gue!!! Ngerti lo semua!!!” kecamnya sangat tegas. Kemudian ia pergi meninggalkan kantin dan satu per satu diikuti dengan geng-nya.
Adanya masalah yang timbul tadi, Jesica dantemannya yang bermasalah lainnya dipanggil di ruang kepala sekolah. Dengan saksi-saksi yang ada dan barang bukti yang jelas, Jesica terbebas dari hukuman, sedangakan Radit mendapatkan scorsing selama tiga hari.
******