Rasa Bersalah

1810 Words
Karena rasa bersalah, Jonathan memutuskan untuk menemani kakek di rumah sakit malam ini. Kakek yang tidur di sofa panjang terlihat sedang tertidur pulas. Sementara dirinya hanya duduk dikursi dekat ranjang Jesica bersandar tembok. Kantuk yang sebenarnya sudah nggak ketahan ia paksakan untuk duduk. Rasanya kepala pengen banget ditaruk bantal empuk untuk melepas penat. Namun melihat kakek, ia harus menahan kepala dan hanya bisa bersandar. Jesica yang baru sadar, langsung memperhatikan sekelilingnya. Dimana ini. Kakek. Dia mengerutkan keningnya saat ia mendapati kakek tidur di sofa dan Jon tidur dikursi sebelahnya.Jon? Ngapain disini? Tanya-nya dalam hati. Sesaat Jon terbangun dan langsung menyadari Jesica sadarkan diri "lo pingsan pas gue susul di gudang dan..." suara serak basah Jon sudah menjelaskan semua bahwa cowok trouble maker inilah yang menolong dirinya. Meski begitu, tetap Jesica ngelabrak penuh tekanan tanpa mengeluarkan nada tinggi “LO...LO KIRA ITU LUCU, HAH!? UDAH PUAS LO SEKARANG SAMA TEMEN-TEMEN LO!!??? PUAS LO!!!” Lekuk bibirnya terlihat jelas sambil sesekali melihat kakek yang tidur. “Ma-maafin gue…gue...nyesel banget…” balas Jonlembut. “Lo nggak denger gue mohon mati-matian waktu itu!!??? Lo bener-bener keterlaluan!! Gue ketakutan setengah mati!!” bentak Jes terus dengan suara rendah yang menekan. “Denger! Dengerin gue!” tekannya mencengkram kedua lengan cewek itu. “Gue bener-bener nyesel sama perbuatan gue dan gue bener-bener minta maaf atas kelakuan gue, gue-gue nggak tau lo phobiasama gelap.”tetap menjaga suara dengan nada rendah “gue nggaksadar kalo lo takut gelap, gue kira itu hanya...”tambahnya “Omong kosong, gitu maksud lo." potong Jesica kemudian terdiam menenangkan diri, karena selintas ia masih teringat pada kegelapan itu.Memang benar Jonathan yang telah mengurungya di gudang namun dia juga yang menolongnya. Jika bukan cowok trouble maker yang menolongnya. Mau siapa lagi. Tuhan yang sudah mengirimnya. Lalu tersadar tangannya telah dipegang erat oleh Jonathansegera ia menghempaskan. ****** "Jon...Jonathan..." kakek mengguncang kecil tubuhnya yang tertidur dikursi, dengan kaki selonjor dan tangan terlipat. "Jon..." Eh, ya. Terbangun dengan mata berat. Barulah terasa badannya kaku semua tidur di kursi. Haduuh, jadi pegel-pegel nih badan. Ngusap wajah menunggu nyawanya terkumpul semua. "Jon, bangun...nanti kamu terlambat sekolah." kakek mengingatkannya. Dengan keadaan yang belum bangun betul, ia malah ngrenggangin otot-otot yang kaku. Ia lirik Jesica masih terpulas. "Hari ini Jon tidak masuk, kek." suara terdengar serak. "Eh, nggak boleh. Kamu tetep masuk. Nanti orang tua kamu nyari." tutur kakek, "Toh, kalau saya masuk juga bakalan telat. Makanya lebih baik saya disini aja. Orang tua saya juga nggak bakal nyari kok. Kakek tenang aja. Biar saya jaga Jesica dulu." Nguapnya lalu kembali memejamkan mata. Kakek tersenyum sembari geleng-geleng kepala. "Kalau gitu, kakek keluar sebentar. Kalau ada apa-apa segera hubungi kakek." Jonathan mangguk-mangguk merem. Sesaat setelah kakek pergi, ia tersadar kalau ada sofa nganggur. Lumayan. Segera ia bangkit dan menuju ke sofa tersebut lalu melempar tubuhnya keatas. Ini baru enak... Cukup lama Jonathan terpulas, ngorok-ngorok di sofa tiba-tiba "Aaaaaa!!!" suara melengking keras masuk kedalam gendang telinga membuat dirinya kaget, melonjak dari tidur. Sedangkan Jesica yang berada disamping Jonathan terpingkal-pingkal menutup mulut agar tidak terlalu keras. Jonathan yang masih ngantuk berat tidak merespon kejailan Jesica, dia cuma berdecak lalu kembali berbaring membelakangi cewek itu. "Heh, bangun!!" Jesica mengguncang tubuhnya "banguunn. Lo nggak sekolah apa?! Ngapain lo masih disini!! Pulang sono." terus mengguncang. "Aaahh, lo ini apaan sih?!" ambil posisi duduk mengusap muka. "Lo ngapain masih disini? lo nggak sekolah?" "Nggak!" ketusnya buat Jesica lumayan tersentak. "Biasa aja kali jawabnya!" "Abis lo ini sakit masih bisa-bisanya ganggu orang tidur ya. Parah. Kayaknya lo bukan sakit fisik tapi sakit jiwa." ceplosnya, mata Jesica mendelik dan lansung memukul-mukul badannya. "Jaga ya kalo ngomong." terus memukulinya. Sampai nggak lama, suster datang bawa sarapan bubur. "Ada apa ini?" suster menutup pintu kembali. Mereka berdua seketika berhenti melihat suster datang. Tanpa berkata, Jonathan bangkit dari duduk menuju toilet didalam kamar tersebut. Mata Jesica hanya menyidik kesal melancipkan bibirnya melihat cowok itu melangkah pergi. Beberapa saat kemudian, Jonathan keluar dari toilet dengan rambut setengah basah, dan butiran air yang tertinggal disebagian wajah yang membuat berseri-seri. Waow. Jesica yang sedang duduk diatas ranjang menikmati bubur ayam seketika tersihir saat menyadari kegantengan Jonathan setelah cuci muka. Ia berhenti menelan bubur karena terpana memandang cowok yang baru aja keluar dari toilet itu. Cool bangettt. Emang bener-bener ganteng abis nih cowok. Kok bisa sih, ada cowok seganteng gini...?? Apa Dion juga seganteng gini ya kalau abis nyuci muka. "Heh! Mikirin apaan lo?!" membubarkan lamunan Jesica yang langsung manyun lalu mengaduk-aduk buburnya "pasti pikiran lo ngeres." tandas Jonathan asal jiplak. "Heh, jangan asal jiplak ye. Otak lo kali yang ngeres." protesnya nyolot. Setelah kondisi Jesica sudah membaik, dokter membolehkan pulang hari ini. Kakek menghela napas lalu berkata "Kakek harus ke kantor sebentar, jadi nanti kamu ikut kakek ke kantor dulu." ucap kakek "Yahh,kakek. Masa nggak bisa anter Jes pulang dulu sih??" gerutunya "emang harus ke kantor dulu gitu?!" ngedomel memutar mata seratus delapan puluh derajat. "Kan satu arah sama kantor..." "Biar Jon aja yang nganter Jesica." sela Jonathan membuat Jesica ternganga cukup terkejut. Ngapain juga cowok trouble maker ini nebengin gue segala. Pasti ada udang dibalik batu ini, cari muka didepan kakek gue. "Kamu serius? kakek nggak mau ngrepotin kamu terus." "Nggak kok kek. Jonathan senang bisa bantu." bibir Jesica komat kamit ngikuti ucapan cowok trouble maker itu. "Nggak pake." tandas Jesica "Jes naik taksi aja." ketusnya. "Ada orang niat baik itu dihargai sayang..." tutur kakek membuat dirinya diam seribu bahasa dan hanya bisa menghela napas. Dengan berat hati terpaksa Jesica menerima tawaran tersebut. Didalam mobil ia hanya diam dengan hati ngedumel. Ia takut kalau semua ini hanya permainan cowok pembuat onar ini lagi. Awas aja kalau ini lo jadikan barang taruhan lagi. Mentang-mentang lo bisa anter gue pulang lagi. Batinnya. Dalam perjalanan, sesekali Jonathan melirik Jesica dan berkata "Lo bisa turun kalau lo nggak mau gue anter." ujarnya. "Ya udah, kalau gitu lo nepi biar gue bisa turun" sahut Jesica. "Oke kalau gitu, nunggu gue habis mandi." sahutnya tetap merhatiin jalan. Mandi. mengerutkan kening "Maksud lo?". "Gue mandi dulu sebelum anter lo pulang. Gerah banget." jelas cowok itu dengan senyum tipis. "Apa hubungannya sama gue?? Nggak. Gue mau turun sekarang juga!" tekan Jesica. "Iya, kita turun sekarang. Udah nyampe, gue mandi dulu." mobil masuk kedalam gerbang sebuah rumah type minimalis yang berukuran cukup luas. Dan berhenti tepat disamping rumah tersebut. Glek. membuka pintu mobil "Lo mau turun atau nunggu disini. Terserah lo." ucap Jonathan terlihat cuek berlalu masuk kedalam rumah. Aarrrgghhh! Bisa-bisanya kakek percaya sama cowok yang bikin gue sekarat gini. Tau kalau kayak gini, mending ikut kakek. Batinnya begitu nyesel. Mau nggak mau, ia harus turun dan masuk kerumah itu. Tak terasa hujan turun membasahi bumi memberikan kesuburan pada tanah yang haus akan air hujan, bau tanah kering tercium segar membuat pikiran tenang merasakannya. Selagi nungguin cowok pembuat onar mandi, mending keliling, itung-itung ngurangin betè. Ia terus melangkah masuk kedalam melihat setiap sudut ruangan. Sampai ia menemukan suatu ruangan kosong, ia melihat sesuatu terselimut kain putih ditengah ruangan. Apaan itu? masa sofa? atau meja? atau mungkin aja lemari? pikirnya bertanya-tanya mendekati barang tersebut. Dengan rasa penasarannya, ia beraniin diri untuk membuka tirai putih itu. Ternyata piano putih yang sembunyi dibalik tirai. Piano? Siapa yang dulunya mainin piano ini? Emangnya cowok pembuat onar itu bisa main piano?? Pikirnya. Jonathan baru aja keluar dari kamar mandi sembari mengusap-usap kepalanya dengan handuk. Samar-samar ia mendengar suara piano yang nggak jelas iramanya malah bikin telinga sakit, meski begitu, alunan piano buruk itu bikin dirinya cukup tersentak. Ketika Jonanthan mendapati pianonya sudah nggak tertutup lagi, dirinya tertegun memandang Jesica mainin piano itu. Udah lama dirinyanggak melihat piano itu bahkan hampir lupa kalau dirinya pernah memiliki piano. “Hei???!!!” seru Jes yang sudah berdiri tepat dihadapannya dan membubarkan lamunannya. “Lo napa?" tanya Jesica. "Oh ya, napa lo nggak pernah cerita kalau punya piano ini?? Coba lihat, kayaknya masih baru. Sayang banget kalo nggak dipake...” Jesica berhenti bicara saat ia tersadar cowok didepannya hanyamemandangi piano tersebut. “Jon?Jon?" nonyol-nonyol lengan cowok itu."Lo baik-baik aja, kan?” tetap mandangi piano itu. Kenapa ini cowok jadi kayak patung pancoran gini sih? kayak nggak pernah lihat piano aja. “Ya udah, gue minta maaf udah buka barang-barang lo sembarangan. Kalo gitu gue tutup lagi aja deh.” Jesica berbalik badan lalu melangkah menuju ke piano itu berniat menutup kembali. Ketika Jesica merebahkan tirai, tiba-tiba ditahan oleh Jonathan. Mata Jesica langsung mengarah ke cowok trouble maker ini. Mau kenapa lagi nih cowok. Sakit kali ya. Jonathan meminta tirai itu dari tangan Jesica lalu ia gulung-gulung pelan meski nggak rapi lalu ia taruk dilantai. Jesica hanya ngatupin rahang nggak ngerti apa yang ada didalam otak cowok trouble maker ini. Jonathan duduk di kursi yang menghadap tepat didepan piano lalu nepuk-nepuk kursi yang sebagian dia sisakan tempat untuk memberi ruang Jesica duduk "Gue nggak bisa main piano." Ujar Jesica sembari duduk disamping Jonathan. "kasihan pianonya" tambah Jesica membuat cowok trouble maker itu mengerutkan kening. "Kenapa?" tanya Jon dengan nada suara lembut. “Ya, sayang aja. Coba lo lihat, piano sebagus ini nggak ada yang mainin. Seandainya kalo ini piano bisa ngomong pasti dia merasa sedih. Andai aja gue bisa…” ujar Jesica mengusap tepian piano. Mendengar ucapan Jesica, Jonathan letakin jari-jarinya diatas ruas piano seolah tersihirmemainkan piano tersebut begitu indahnya dan menyentuh banget. What? what? what? what's wrong with you?? Jesica ternganga, kaget setengah mati. Master Trouble Maker bisa mainin piano selembut ini?! “Jon?? Lo bisa main piano!!???” kejutnya nggak nyangka. Melihat cowok disampingnya berubah tiga ratus enam puluh derajat bikin dirinya terpesona. Gila abis nih cowok, andai aja lo nggak nyebelin pasti gue udah kesemsem sama lo. Batinnya. Sesekali ia merhatiin jari-jari Jonathan yang menari-nari diatas ruas piano begitu gemulai. Alunan piano ini bener-bener bikin Jesica terhanyut didalamnya. Nggak ada yang tau kalau selama ini Master Trouble Maker bisa semahir ini mainin piano. “Gue nggak nyangka orang kayak lo, bisa terlihat lembut juga. Dasar Master Trouble Maker.” Sindir Jesica. “Lo mau belajar?” tambahnya bertanya dengan semangat Jesica menganggukkan kepala. “Letakin jari-jari lo keatas jari-jari gue, lo tinggal ikuti gerakan jari-jari gue.” jelas cowok itu terdengar lembut dan sabar. Lalu jari-jari Jonathan mulai menari-nari diikuti jari-jari Jesica diatasnya. Setelah puas bermain piano, Jonathan berniat mengajak Jesica hangout “yuk kita cabut, ikut gue!!” ajak Jon maksa. “Kemana??” tanya cewek pembuat onar penasaran. “Udah!! Ikut aja.” tandas Jonathan. "Nggak, gue pengen pulang. Orang baru sakit itu butuh istirahat." tandas Jesica sok kayak dokter. "Lo ini nggak butuh istirahat, tapi butuh refreshing." sahut cowok itu yang malah menonyol jidatnya "mumpung kita sama-sama nggak masuk sekolah." ujarnya, saat Jesica membuka mulut mau ngomong langsung disela sama cowok trouble maker ini "kakek lo udah gue kabarin, lo tenang aja. Gue udah janji bakal jaga lo." sama sekali Jesica nggak diberi peluang untuk bicara, ia hanya melongo memandang Jonathan yang sudah mengatur semuanya. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD