The Dark

780 Words
Baru saja Jon duduk di meja makan, Papa bangkit dari duduk dan masuk kedalam dapur. Dengan penuh penasaran Jon menunggu apa yang akan dibawa papanya. Nggak lama kemudian. Kue Tart. "Ini adalah hari pernikahan papa sama mama, jadi papa special membuat kue tart ini, ya... meski sedikit dibantu sama mama." meletakan kue itu dimeja makan. "Kamu bisa menghabiskan semua kue ini." Melihat kue tart didepannya, ia teringat sesuatu. Kakek Jesica. Saat dirumah Jesica merayakan ulang tahun kakeknya malam itu, sekilas ia tersenyum sendiri mengenangnya. Sampai teringat teriakan Jesica dikunci di gudang tadi siang dan teringat saat pertama kalinya cewek trouble maker itu mencekram lengannya bukan karena dia marah tapi ketakutan saat mereka akan melewati lorong sekolah yang gelap sepulang dari hukuman saat itu. Ia lihat jam tangan. Setengah tujuh. Pasti kakek sudah setengah mati kebingungan cucunya belum pulang-pulang tanpa kabar. "Jon? Jonathan?!" panggil papa membangunkan lamunannya. "Jon harus pergi sekarang pa." ia bangkit dari duduknya. “Mau kemana Jon?” tanya mamanya. “Ada sesuatu yang harus Jon lakukan.” ucapnya tergesa-gesa meninggalkan meja makan, tapi sebelum menghilang dibalik tembok ia menghentikan langkahnya lalu berbalik badan "pa, pasti kuenya Jon habisin" senyum Jon membuat papa dan mama juga ikut tersenyum. Segera ia ambil jaket dan kunci mobil. ****** "Bagaimana bisa kamu pulang tanpa jemput Jesica?!" garang kakek memarahi mang Jaja "sampai jam segini Jesica nggak pulang-pulang, nggak ada kabar! Hapenya nggak bisa dihubungi?! Kalau ada apa-apa sama cucu saya bagaimana?! bagaimana?!!" "Tu, tuan. Jangan terlalu cemas pasti non Jes baik-baik aja. Tuan minum obat dulu" ujar bibi berusaha menenangkan majikannya. Sementara disisi lain, Jonathan baru sampai di sekolah, untung saja pintu gerbangnya belum di kunci oleh penjaga, tanpa permisi ia segera menuju gudang sekolah. Dari depan gudang, baru ingat kuncinya sudahia buang waktu itu. “s**l!!???” kesalnya sendiri. “Jes, lo baik-baik aja??!” menggedor pintunya dari luar tapi tidak ada jawaban. “Jes??!” serunya lagi semakin kawatir. Ia berusaha mendobrak pintunya dengan sekuat tenaga berulang kali, namun belum berhasil. Ditambah lagi nggak ada respon dari Jesica. Dirinya saat ini benar-benar bingung harus berbuat apa, ia sebar pandangan keseluruh ruang lalu melihat martil di sudut dinding, segera ia ambil dan berusaha membuka pintunya dengan martil itu.BRAKK!! Brakk!! Brak!!! Akhirnya, pintu terbuka. “Jes??!!” serunya menyebarkan pandangan kedalam gudang yang samar-samar karena gelap. “Jes??!” carinya berputar-putar badan berharap cewek trouble maker itu baik-baik saja. Jesica yang mendengar suara segera keluar dari lorong meja dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki dan seketika dirinya langsung mendekap Jon dengan sangat erat. “Gue udah disini, longgak perlu takut lagi.” Ia mengusap-usap rambut Jesica berusaha menenangkannya. “Gue takut gelap…gue takut gelap…jangan biarin gue disini sendirian…gue takut gelap…” rintih Jes lemas. Nggak sengaja ia menyentuh dahinya. Bener-bener panas banget. Lalu ia sentuh lehernya. Lebih panas lagi. “Lo demam??” ia membuka jaket lalu memapahnya keluar. Setelah keluar dari gudang, Jesica pingsan. "Jes? Jesica?" panggilnya menggoyah tubuh cewek itu, namun tetap saja Jesica nggak sadarkan diri. Akhirnya ia menggendong dan membawanya ke rumah sakit. ****** Saat telpon berdering, segera bibi angkat. “Ma-maaf tuan besar ada telpon untuk tuan besar.” Ujar bibi menyerahkan gagang telpon. Segera kakek menerima telpon tersebut. “Hallo, kek. Ini Jon. temennya Jesica yang datang ke ulang tahun kakek." tandasnya membuat kakek teringat kembali siapa anak muda yang sedang berbicara sekarang. "Ohh, ya. Kakek ingat sekarang." "Jes bersama saya di rumah sakit…" "Apa?!" kejut kakek membuat mang Jaja dan bibi ikut terkejut. Mereka saling menatap cemas. "kakek nggak perlu kawatir.” tambah Jonathan. “Apa yang terjadi Jon? Ada apa?! ” “Suhu badannya tinggi, dan sekarang masih belum sadar” “Apa yang terjadi?? Apa dia sebelumnya ketakutan.” “Dokter masih menanganinya. Kakek nggak perlu kawatir..” “Kakek segera ke rumah sakit. Tolong jagain dia sampai kakek tiba di rumah sakit…” Setelah beberpa waktu kakek datang "Jon, dimana cucu kakek?" membubarkan lamunannya. Dia cukup terkejut kakek langsung menyambar. Belum sempat dijawab dokter keluar dari ruangan. "Siapa keluarga dari pasien?" tanya dokter ramah. "Gimana keadaan cucu saya, dok?" "Cucu bapak mengalami tekanan yang cukup dalam. Mungkin cucu bapak phobia dengan sesuatu?" kakek mangguk-mangguk "Iya dok, dari kecil cucu saya takut sekali kegelapan." "Itu mungkin salah satu penyebabnya. Dia terlalu lama mendapat tekanan dalam dirinya. Bisa jadi cucu bapak terkunci dimana ada kegelapan disekelilingnya, sehingga dirinya tidak mampu menerima tekanan tersebut." Jelas dokternya membuat Jonathan merasa bersalah. Benar, cewek trouble maker itu phobia sama gelap. Pantes ia sampai sekarat gini. "Boleh saya masuk?" "Pasien masih ganti pakaian, seragam sekolahnyabasah. Setelah suster keluar, silahkan masuk dan biarkan pasien istirahat." ujar dokter tersenyum ramah kemudian berlalu. Basah. Pikir kakek bingung. Bagaimana bisa? ****** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD