Satu tahun kemudian.
Semua murid kelas tiga bersorak riang setelah mengetahui pengumuman kelulusan sekolah. Ditambah semua siswa kelas tiga lulus dengan nilai baik.
Dan aksi Jesica lah yang paling heboh, seragamnya sudah penuh dengan corat-coretan temen-temennya. Begitu pula sebaliknya, hampir semua murid kelas tiga ngerayain kelulusannya dengan corat-coret seragam mereka. Mungkin sudah tradisi.
Tiba-tiba ada yang memanggilnya “Jes, pak Leo nyari lo tuh!” sela temannya yang baru aja datang.
"Ada apa Jes? Lo bikin ulah??" tanya temen disampingnya, Jesica geleng-geleng kepala sembari ingat-ingat kembali apa yang udah ia lakuin. Kayaknya gue nggak bikin onar deh hari ini? Batinnya.
"Malah bengong, elo ditunggu di ruang bahasa sama pak Leo. Lo pasti tau akibatnya apa." tekan temannya itu lalu pergi.
"Coba lo inget-inget lagi deh. Apa lo bikin pak Leo marah?" tanya Agnes.
"Serius, gue nggak bikin onar sama sekali. Plis deh, inikan hari kelulusan kita. Masa gue mau bikin trouble sih??" gigit ujung jari.
“Jes" panggil pak Surya.Menoleh "kamu ditunggu pak Leo diruang bahasa." Lanjut pak Surya bikin Jesica cukup kaget. Bearti ada masalah yang cukup penting sampai-sampai pak Surya disuruh manggil gue juga? pikirnya penasaran.
"Ya udah kalau gitu buruan geh kesana!" perintah temannya.
Ngangkat alis kemudian mulai langkahin kaki menuju ruang bahasa. Dengan langkah berat ia terus berpikir ada apa, ada apa, kenapa tiba-tiba pak Leo manggil. Sampai didepan pintu ruang bahasa yang tertutup ia ambil napas dalam-dalam lalu hembusin pelan-pelan, ia ulangi sampai tiga kali.
Ia pegang ganggang pintu berharap ketika berada dihadapan pak Leo semua baik-baik saja. Ayo, Jes. Lo hari ini nggak lakuin apa-apa, lo hari ini nggak bikin trouble jadi jangan takut nemui pak Leo. Tapi, nggak biasanya gue dipanggil pak Leo setakut ini? segemetar ini? se deg-deg an gini? Huft, ayo Jes hadapi dengan berani apapun itu. Perang batinnya.
Ketika membuka pintu dan masuk satu langkah tiba-tiba BLUUUURRRRRR!!!Sekujur badannya seketika berubah putih karena jebakan tepung yang ditaruk diatas pintu melumuri dirinya lagi. Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak.
Sementara dia hanya menganga tak percaya karena harus mengalami kejadian yang sama. Menghela napas dalam-dalam dan bertanya “Siapa yang lakuin ini??” tanyanya menekan dengan lekuk bibir yang begitu jelas sembari menatap tajam semua orang yang ada didalam kelas, tapi enggak ada yang menjawab, mereka semua masih menahan tawa melihat mukanya yang clemotan.
Kejadian ini benar-benar mengingatkan dirinya dihari pertama kali ia masuk sekolah ini. Dan itulah pertemuan pertamanya dengan Master Trouble Maker. Tapi, setelah cowok pembuat onar itu pergi lalu siapa yang berani-beraninya melakukan ini.
“Gue billaangg, SIAPA YANG LAKUIN INI!!??” bentaknya mulai emosi. Tapi tetap enggak ada satu orang pun yang menjawab malah terus tertawa terbahak-bahak. "GUE BAKAL BUAT PERITUNGAN SAMA LO SEMUA!!” Bentaknya begitu mengguncangkan seisi kelas, emosinya sudah tak terkontrol lagi, tangannya telah mengepal ingin sekali melempar sepatu ke muka mereka semua, napasnya yang kembang kempis dan emosi yang meluap-luap bak larva yang ingin memuntahkan dari dalamperut bumi.
"AYO NGAKU??!!"
“Gue yang nglakuin, kenapa? Apa lo mau lapor kapsek?” terdengar suara cowok yang nggak asing lagi muncul dibalik salah seorang siswa yang duduk dibangku belakang.
Mata Jesica terbelalak lebar nggak percaya Jonathan ada dihadapannya.Sangking kagetnya ia nggak bisa berkata apa-apa lagi, bibirnya yang menganga ia tutupi dengan kedua telapak tangannya. Air mata seketika menetes begitu saja tanpa syarat. Ia terpaku, seperti nggak bisa ngendaliin diri lagi. Sementara Jonathan berjalan menuju kearahnya.
Sampai Jonathan berdiri tepat dihadapannya pun ia masih nggak percaya dan nggak bisa berkata apa-apa lagi. Mata yang berkaca-kaca hanya bisa menatap cowok didepannya ini.
“Hai, Jes” Sapa Jonathan malah bikin ia semakin nggak percaya.
Rasanya entah apa yang ia rasain sekarang. Bahagia, senang, terharu, kangen kayaknya meluap mengaduk jadi satu didalam hati. Jonathan kembali tersenyum tipis lalu naburin tepung yang dia genggam keatas kepala Jesica yang malah tersenyum haru dan lagi-lagi air matapun nggak tertahankan netes basahi pipi.
"Kalau boleh tanya...Apa kebiasan lo meluk orang seenaknya sudah hilang?? Kok, gue nggak dapat pelukan sama sekali." Jesica masih terdiam membisu sembari geleng-geleng kepala. "Oke, kalau gitu, gue yang meluk duluan." Meraih lengan Jesica lalu memeluk erat dan berkata "gue kangen banget sama lo." tambah Jonathan.
"Ciiee, ciiieee!!!" sorak kompak murid-murid yang ada di ruangan tersebut bikin iri para kaum hawa yang lain, malah ada juga yang bersiul kencang. Bikin kelas gaduh. Lalu Jonathan melepas pelukannya "Hukuman apa yang bakal kamu lakuin ke gue?" godanya dengan senyum jail.
Beberapa saat kemudian, pak Leo dengan pak Surya datang. Seketika seisi kelas diam hening tanpa suara. Pak Leo merhatiin sekujur tubuh Jesica yang berlumuran tepung dan kelas yang kotor dan berantakan oleh tepung yang berceceran di lantai.
Melipat kedua tangan lalu berkata "Semua yang ada dikelas sekarang harus bersihkan semuanya." tegur pak Leo sembari melirik Jonathan.
"Emmh, nggak perlu pak. Biar saya sama Jesica aja yang bersihin." Jesica terbelalak kaget menengok kearah Jonathan dan pengen banget protes "siswa yang lain bebas hukuman, biar saya aja sama Jesica yang nerima hukumannya." tambah Jonathan.
"Boleh juga. Saya yakin murid lainnya cuma disuruh sama Jonathan, jadi biar Jonathan aja yang nerima hukuman sama Jesica." ujar pak Surya malah mendukung Jonathan, parahnya lagi Surya malah ngacungin jempol kearah Jonathan. Pasti ada udang dibalik batu.
Mangguk-mangguk "Oke, kalau gitu. Semua bisa keluar kecuali mereka berdua." perintah pak Leo.
Lalu semua murid berbondong-bondong keluar kelas. "Oh ya, setelah selesai bersihin ruangan ini, masih ada toilet utama yang harus dibersihkan juga." ucap pak Leo bikin Jesica melongo sementara Jonathan malah senyam- senyum kesenengan.
Bibir Jesica saat ini kayak kehabisan suara, pengen banget protes karena ia adalah korban dari kejailan tapi malah kena hukuman juga. Enggak adil. Teriaknya dalam hati.
Ketika berusaha protes, ia malah mendapati pak Leo tersenyum jail sembari ngedipin satu mata kearah Jonathan kemudian berlalu pergi bersama pak Surya ninggalin dirinya dan Jonathan.
Set, melirik tajam Jonathan "Apa maksud pak Leo tadi?? Lo main konspirasi dibelakang gue??" todongnya malah bikin cowok itu cengingisan "Heh, gue disini ini korban, malah dapat hukuman!! Not fear!! Gue nggak mau ngerjain, lo aja yang ngerjain sendiri!!" tekannya sementara Jonathan senyam-senyum merhatiin ekspresi kemarahan Miss Trouble Maker ini.
"Gue kangen sama omelan lo." ucap Jonathan bikin ia terdiam dan lupa akan kemarahannya barusan. Seolah-olah emosinya luluh lantah entah kemana dan berubah menjadi tersipu malu dengan wajah kemerahan. "Sekarang lo duduk” Jonathan mengarahkan Jesica untuk duduk“biar gue yang bersihin semuanya." Lanjutnya kemudian berbalik badan berniat ambil sapu.
"Jon." nahan tangan cowok itu. Menoleh. "Maafin gue." lanjutnya. Jonathan tersenyum manis kemudian mengusap pipinya yang berlumuran tepung.
"Enggak perlu ada kata maaf." nyentil hidung Jesica lalu menatap dalam matanya dan menyentuh pipi sembari berkata begitu lembut "Karena trouble love kita sudah berakhir.” Menatap penuh cinta dan berkata“Iam falling in love with you." Mengusap lembut pipi kanan Jesica yang merah merona.
Ungkapan Trouble Love itu ternyata adalah sebuah ujian, ujian untuk mengetahui siapa cinta pertama kamu. Jika kamu yakin pada cinta pertama, maka trouble love pun akan berlalu dan first love datang menyambut kehidupan kamu.