Setelah kelulusan sekolah, kini Jesica tak lagi tinggal bersama kakeknya dan kembali bersama kedua orang tuanya yang sudah pulang berobat dari Singapure. Jadi, mau tidak mau Jesica harus menjalin cinta hubungan jarak jauh dengan Jontahan. Mereka telah berjanji tidak akan terpisahkan dan selalu setia satu sama lain meski jarak yang memisahkan. Sebab Jontahan sendiri sedang menempuh kuliah di Australia.
Tentu awalnya terasa berat dengan rindu yang tak ada obat. Mereka hanya mengandalkan kecanggihan teknologi yang ada.
Sementara Tari dan Dion sudah tak lagi bersama Jessica sebab mereka juga memilih universitas di luar negeri ketimbang didalam negeri. Mungkin hanya Jesica, satu-satunya anak yang meneruskan kuliah didalam negeri.
Hingga tak terasa sudah berjalan dua semester Jesica menjalani kuliah didalam negeri. Dan entah ini kutukan atau apa, setiap berada ditempat baru pasti selalu ada cowok yang menjadi musuhnya. Tentu saja mengingat hubungannya dengan Jonathan awal mula bertemu dulu, dan sekarang ia bertemu dengan seorang cowok bernama Alex. Yang mana dia selalu memancing emosi Jessica dan selalu mencari gara-gara dengannya. Sungguh menyebalkan.
Sepulang dari kampus Jessica nggak henti-hentinya ngomel-ngomel sama tuh cowok bernama Alex di dalam mobil bersama Putri, Agnes dan Sari, teman-teman baru Jessica di kampus. Dia merasa sangat malu saat Alex menariknya sehingga membuat Jessica duduk diatas pangkuan Alex. Sungguh sangat menyebalkan cowok itu.
Di mobil bagian belakang, sambil memandangi pemandangan diluar jendela, dia terus menggerutu, menggumam kesal sendiri tanpa melampiaskannya pada temen-temennya.
Mereka awalnya masih mengkantup buat bertanya pada Jessica, Sari yang sedang menyetir, memperhatikan Jessica dari kaca mobilnya saja, sedangkan Agnes dan Putri saling memandang ragu buat bertanya sesuatu. Dalam kebimbangan mereka, tiba-tiba Jessica berteriak begitu kerasnya. “Aaaaaa!!!!!!” teriaknya sampai matanya terpejam, sementara Sari yang terkejut Jessica berteriak seperti itu, seketika Sari membanting setir ke kiri dan mengeremnya dengan mendadak. Mereka semua cukup terpental oleh gerakan Sari yang seperti itu juga.
“Jessica, lo baik-baik aja kan?” terlihat Putri yang duduk disampingnya jadi sangat kawatir melihatnya kayak gini. Sari dan Agnes langsung memutar pinggangnya mengarah kebelakang melihat Jessica yang tiba-tiba mengejutka itu. “Gue malu banggeetttt!!!” serunya sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Udah deh, nggak usah dipikirin…” tenang Agnes.
“Nggak dipikirin gimana? Lo liat nggak sih pas gue berantem kayak gitu!??”
“Ya…itu…itu…” Putri jadi nggak bisa jawab yang satu ini, karena itu benar-benar memalukan.
“Ya itu…wajar karena lo berdua kangen udah lama banget nggak ketemu!” ceplos Sari yang langsung menutup mulutnya rapat-rapat setelah sadar apa yang barusan dia katakana. Mereka kaget medengar ucapan Sari seperti itu, apalagi Jessica. Dia langsung meledak-ledak mendengarnya.
“Lo itu gimana sih?? Enak aja ngomong kayak gitu!!?? Gue sama sekali enggak kangen sedikitpun sama tuh cowok!! Boro-boro kangen, ingat dia aja nggak!!?? Jangan asal ngomong deh.” Kesal Jessica nggak tau mengarah pada siapa omelan itu.
“Sorryy…” Sari sembari menjulurkan lidahnya, nggak nyangka dia berbicara seperti itu. Sementara Agnes dan Putri hanya bisa gelengin kepala, mereka berpikir sesuatu yang sama. Kok bisa sih Sari mengatakan hal itu?? Padahal jelas-jelas mereka nggak bisa disatuin??? Yang ada hanya rasa benci. Setelah kadaan membaik. Saripun mulai menancapkan gas mobilnya.