Ungkapan Rasa

1420 Words
Selesai rapat, biasanya orang pertama yang keluar ruangan adalah Jesica. Tetapi untuk kali ini, dirinya masih akan mengangkat tas ia sudah mendapat Dion melewati daun pintu, rahangnya terkatup melihat ketua OSIS itu asal cabut. Segera dirinya bergegas menyusul Dion. "Dion." panggilnya berlari menuju cowok itu. Tas yang tergantung di satu bahu menambah kesan cool pada cowok itu, sekilas Jes terpesona saat Dion menoleh padanya. "Ya." sahut Dion menyadarkan Jesica. Matanya langsung berlarian kemana-mana agar tidak terpana "Mau kemana lo?" "Pulang" datarnya kembali melangkahkan kakinya diikuti Jesica. "Tumben pulang cepet." kejar Jesica ingin tahu. "Gue lagi males." tandasnya. Ditengah obrolan mereka berdua tiba-tiba, bruukk! "Aduh!?" badan Tari terpental beberapa langkah karena menabrak tubuh Dion yang masih kokoh berdiri disamping Jesica. "Tari?" kaget Jes melihat Tari mengelus-elus lengannya yang lumayan terasa nyeri nabrak Dion. "Aduh, sakit juga kalau nabrak badan lo?" nyerngitnya membuat Dion tersenyum tipis. "Lo juga ngapain main nubruk aja? Terus, ngapain lo jam segini masih di sekolah? lo mau ikutan jadi panitia juga?" cerocos Jesica. "Gila lo!? Ogah gue ngikutin jejak lo!" tandas Tari, saat dia sadar ada Dion. "Ops! Sorry" Dion tersenyum lebar menunjukkan gigi ratanya. "Gue nggak tau makan apa tadi..." kembali keinti pertanyaan Jesica "Perut gue mules, udah ke WC seribu kali tapi nih perut nggak bisa diajak kompromi sampai gue nggak pulang-pulang. Nah, sekarang perut udah agak mendingan gue pengen cepet-cepet pulang eh malah numbur si Dion." jelasnya panjang lebar. "Sori ya..." senyumnya sembari mengangkat kedua alisnya. "Makanya kalau makan dilihat-lihat dulu, jangan asal masuk lubang hitam aja ditelen." sahut Jesica. "Ya udah, yuk pulang sama gu..." ucapannya terhenti ketika didepan matanya melihat Mawar menggandeng seorang cowok berjalan menuju kearah mereka bertiga, yang pasti ke arah Dion. Saat tepat dihadapan Dion, dengan pede-nya memperkenalkan pacar barunya "Kenalin, ini Tito. Cowok gue." dengan sombongnya dia ngenalin ke Dion padahal baru tadi siang mereka putus. Dion hanya menatap Mawar lalu berjabat tangan dengan cowok itu. Jes dan Tari ingin sekali mencakar muka Mawar yang nggak tahu malu itu. Segitu teganya dia blak-blak'an ngenalin cowok barunya itu. Saat Jes ingin berkomentar tiba-tiba handphone-nya berbunyi terpaksa dia kurung niatnya untuk nglabrak Mawar, ia ambil hp disakunya lalu menjauhkan diri sebelum menerima telpon dari Papa. Sementara Jesica sibuk dengan telponnya, Dion merasa tercabik-cabik dengan sikap Mawar yang seperti itu. "Oh ya, lo beruntung dapetin Mawar." puji Dion, yang pasti Mawar selangit mendengar pujian itu. Tito hanya tersenyum mendengarnya. "Tapi gue lebih beruntung mendapatkan cewek gue yang sekarang ini." tekan Dion sembari memandang Mawar, ia raih tangan disebelahnya tanpa melihat tangan siapa itu. Tari cukup kaget tangannnya ditarik oleh Dion dan meninggalkan mereka, termasuk Jesica yang masih sibuk dengan telponnya. Mawar ternganga, dia lebih shock lagi karena Dion udah jadian sama Tari. What??! Tari yang terus digelandang oleh Dion nggak bisa berkata apa-apa, suaranya serasa hilang entah kemanasampai di parkiran "Stop! Stop! Stoooppp!!" seru Tari memukul kecil gandengan tangan Dion. Mendengar suara itu bukan suara Jesica, ia pun kaget dan lansung menoleh ke belakang "Kok??!" ia regangkan gandengannya, lalu Tari menarik tangannya kemudian mengusap-usap pergelangan tangan yang sakit karena cengkraman Dion begitu kuat. "Lo pikir siapa, hah? Main tarik aja." protesnya namun Dion cuek, ia malah celingukan mencari Jesica. "Terus, Jes mana?" tanyanya. Sementara Jes yang baru selesai mematikan hp dan memasukkannya kedalam kantong, barulah tersadar temen-temennya sudah nggak ada, cuma tinggal Mawar dan cowok barunya itu berdiri nggak jauh darinya. "Ngapain lo berdiri disitu terus?" bingung Jes karena Dion dan Tari hilang begitu saja. "Lo yakin Dion sama temen lo itu jadian?" selidik Mawar penasaran. Mata Jes terbelalak dan alisnya terangkat. Jadian? mereka berdua. "Gue tanya! malah bengong." nada suara Mawar yang ditinggikan itu buat Jes lumayan kaget. "Heh. kalau tanya yang enak dong, jangan bikin jantung orang copot! Kalau mereka jadian terus kenapa? Ada masalah. Lo cemburu." sengit Jesica kemudian berlalu sambil berpikir. Tari sama Dion jadian? tapi kenapa gue nggak dikasih tau ya? Wahh, parah mereka. Diam-diam main dibelakang gue. Padahal mereka main didepan gue, gue nggak masalah. Tapi kenapa mereka nggak ngomong ya sama gue? batinnya penasaran. Dion dan Tari terus berdebat di parkir motor, Tari kekeh untuk larang Dion nyusul Jesica kedalam "Gue mau nyusul Jesica." sahut Dion. Tari geleng-geleng kepala, kedua tangannya memegang masing-masing lengan Dion. "Lo mau nyusul Jes kedalem?" Dion mengangguk. "Lo mau malu-maluin diri lo sendiri, apa?! Disana itu masih ada Mawar sama cowok barunya! Terus lo mau kesana gitu nyusul Jes. Sedangkan lo tadi baru aja nyeret gue dalam masalah lo?!" tekan Tari memperjelas lekuk bibirnya agar Dion sadar apa yang sudah dia lakukan. "Gue nggak bawa lo dalam masalah gue" jawab Dion datar. "Apa?! lo nggak ngrasa. Terus maksud lo seret gue kesini apa? dan bilang sama mantan lo itu kalau‘gue lebih beruntung dapetin cewek gue yang sekarang' gitu" Tari melekuk-lekukkan bibirnya dengan penuh kekesalan "Itu namanya apa kalau nggak nyeret-nyeret gue dalam masalah percintaan lo." omel Tari nggak ada habisnya. Mata Dion sendiri nggak konsen pada ocehan Tari, dan nggak disangka dari kejauhan ia mendapati Mawar jalan dengan Tito dan sedang melihat dirinya juga. Sementara Tari terus aja ngoceh. "Lo ini payah banget kalau urusan cin...." seketika ocehannya terputus saat jantungnya seraya berhenti berdetak sesaat ketika Dion menarik dirinya lalu memeluknya dan berbisik. "Mawar sedang merhatiin kita, balas pelukan gue." bisiknya tapi Tari menolaknya. "Apa lo bilang? lo udah meluk gue seenaknya jidat terus gue suruh meluk lo balik? disekolahan? gila lo? nanti kalau dilihat guru gimana??" Tekannya dengan nada pelan. "Lo jangan bego." sahut Dion pelan membuat Tari menganga kaget dikatain 'b**o' barusan "Ini udah sore. Semua guru udah pada pulang duluan. Sekarang balas pelukan gue. Plisss, Pliiss." mohonya membuat Tari terpaksa harus melakukannya dengan setengah hati "Habis ini selesai gue bakal buat peritungan buat lo" gerutu Tari yang dengan canggung membalas pelukan dari Dion. Nggak jauh dari Mawar berdiri, ada Jesica juga yang nggak sengaja lihat Dion dan Tari berpelukan, ia bener-bener terkejut matanya terbelalak rahangnya terkatup. Mereka bener-bener udah jadian. Batin Jesica merasa kecewa. ****** Sruuppuutt!! Es teh manis memang yang paling seger kalau panas-panas gini. Selain harga terjangkau, es teh juga mampu melepaskam dahaga. Nggak kalah dengan es-es eksklutif lainnya. Jes yang duduk didepan Tari dan Dion memandang penuh selidik, tangannya yang berpangku tangan dimeja seolah-olah seperti seorang detektif. Tari dan Dion saling memandang bingung, Tari mengangkat alisnya sementara Dion membalas dengan mengangkat kedua bahunya, mereka berdua jadi nggak enak sendiri. "Lo tuh sebenarnya kenapa sih liatin kita kayak gitu?" risih Tari menaruk sendoknya dipiring karena mulai nggak tahan dengan tatapan Jesica. "Ada yang salah sama kita?" tambah Dion menyantap gado-gadonya. "Gue mau kejujuran kalian berdua." sidik Jesica, namun mereka berdua malah saling memandang lalu cuek seperti tidak terjadi apa-apa. Mereka berdua kembali menikmati makanannya masing-masing. Sedangkan Jes masih merhatiin gerak-gerik kedua temannya ini. "Lo berdua jadian?!" celetuk Jesica langsung to the point yang nggak sabar menunggu jawaban dari kedua temannya ini. Mendengar ucapan Jesica, mereka berdua kompak kesedak kaget. Segera mereka mengambil minuman masing-masing dan meneguk pelan-pelan. Jesica jadi bingung melihat respon mereka berdua seperti itu. "Wah parah lo Jes." protes Tari yang baru selesai meneguk es teh manisnya. "Siapa yang bilang kalau kita pacaran?" tanya Dion meletakkan gelas minumannya. "Pastinya si Mawar." sahut Tari mengambil sendok dipiringnya lalu melahap lagi makanannya pelan-pelan "Cuman dia sama cowok barunya yang denger Dion itu jadian sama gue." tambahnya dengan suara yang kurang jelas karena mulutnya penuh dengan makanan. Keadaan sesaat hening, Jes melipat kedua tangannya dimeja lalu mengulurkan lehernya kedepan pelan-pelan dan berkata "Tapi gue liat kalian berdua pelukan di parkiran." nada datar dan polos Jes yang menyidik kali ini bener-bener buat Tari kesedak yang kedua kalinya bahkan malah lebih parah lagi. Uhug, uhug, uhug. Jes yang jadi nggak enak sendiri menyodorkan es teh miliknya untuk Tari sedangkan Dion membantu memijit kecil bahunya. "Lo tau kejadian itu?" Dion balik mengintrogasi, dengan polosnya Jes menganggukkan kepala dan bilang "Gue langsung liat kalian berpelukan." Tandasnya "Sebenarnya sih nggak apa-apa kalian jadian toh nggak ada pengaruh-pengaruhnya sama gue. Gue nggak bakal nglarang kok lo jadian." ucap Jes sok bijak. "Eh, non. Kalau ngomong jangan asal jiplak aje ye." Protes Tari "gue sama Dion nggak ada apa-apa. Dianya sendiri yang nyari kesempitan dalam kesempatan." ucapnya sambil mengangkat-angkat sendok kemana-kemana. "Kesempatan dalam kesempitan!" kompak Jes dan Dion membenarkan ucapan Tari barusan. "Iya,iya. Gitu aja pake emosi." gerutu Tari meraih minumannya, lalu meneguk pelan. "Ooohhh" Bibir Jes membentuk huruf O karena dia baru paham maksud Dion memeluk dan mengaku jadian sama Tari "Ngomong kek dari tadi..." "Kan ini lagi kita omongin..." sahut Dion mencubit pipi Jes yang mulus itu. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD