Bintang di langit terlihat cerah ditemani bulan sabit yang menawan menambah kesempurnaan malam Dies Natalies di hall sekolah. Panggung megah dengan lampu warna-warni membuat suasana semakin menakjubkan. Suara musik band yang dibawakan oleh murid-murid begitu mengagumkan.
Sorak ria para penonton sembari loncat-loncat kecil dengan kedua tangan keatas mengikuti irama musik dibawah panggung menambah kemeriahan.
Dion meraih tangan kanan Jesica lalu menggelandangnya pergi dari kerumunan tanpa sepatah katapun. "Eh? Eh? Mau kemana??" bingung Jesica yang ditarik begitu saja oleh ketua OSIS itu.
"Gue ajak lo keatap, pemandangan panggungnya lebih sempurna." tambah Dion membuat bibir Jes berbentuk huruf 'O' sambil mangguk-mangguk lalu mengikuti langkah kaki Dion yang menaiki sebuah tangga kayu yang terlihat kokoh itu menuju atap sekolah yang mengarah pada panggung tersebut.
Dion duduk tersungkur, kedua tangannya melingkar pada kedua lututnya memandang panggung yang menakjubkan itu sembari tersenyum tipis. Ganteng bangeettt. Jesica terpesona. Eh? ia menyadarkan dirinya, apa yang telah ia lakukan. Hampir aja dirinya terpana asmara oleh kegantengan Dion. Tapi nggak boleh. Just a friend. Tekannya sendiri.
Ditengah menikmati alunan musik dan suasana diatas genteng sekolah, Dion membuka obrolan tanpa melihat Jesica "Setelah malam ini kita udah nggak bisa ketemu lagi." ucapnya memandang lurus kedepan. Mata Jesica mengarah pada cowok disampingnya itu tanpa sepatah katapun. "padahal kita baru aja jadi temen." tatapan mata Dion beralik ke cewek trouble maker begitu dalam lalu tersenyum tipis "kenapa nggak dari dulu ya kita temenan?" mereka berdua saling memandang sambil tersenyum. Lalu Jesica menepuk bahu ketua OSIS itu "Tapi gue seneng kok udah pernah jadi temen lo meski cuman sesingkat ini. Lo temen yang perlu dipertimbangin"
"Andai aja kita lebih awal saling kenalnya." meraih tangan Jesica yang baru aja menepuk bahunya, ia tersenyum menatap Jesica begitu pula sebaliknya. Keadaan menjadi hening, saling bertatapan sepasang mata membuat mereka terpaku dalam lamunan sesaat.
"Wooii, kalian ngapain di genteng gitu?!" teriak Tari dari bawah. Dion dan Jes celingukan kebawah mencari-cari dimana Tari berdiri "Cepetan turun!! Kalian ini malem-malem malah naek genteng. Turun!" Perintah Tari dengan kedua tangan dipinggang.
"Iya, iya. Bawel." celetuk Jes sedang mencari-cari celah untuk jalan turun.
******
Canggung. Jes merasa sedikit asing di sekolahnya yang baru. Maklum namanya juga tempat baru. “Aduh…dimana ya kelas gue?Tadi katanya ada di lantai dua atau ruang dua, ya?” pusing menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya nggak gatal, ia menyebarkan pandangan keseluruh ruangan dan berusaha mengingat ruang kelas yang sudah diberi tahu oleh wali kelasnya tadi.
Tak terasa berjalan hampir ke dalam, lalu ia melihat salah satu pintu yang tertutup ada papan segi panjang ukuran tiga puluh kali lima senti di atas pintu tertulis ruang 2.
Saat itu jugaia yakin kalau itu kelasnya. “Mungkin aja ruang 2, bukan lantai 2. Coba masuk aja! kalau salah tempat, tinggal keluar. Gampang” serunya percaya diri melangkahkan kaki menuju pintu tersebut.
Dengan perasaan lega sudah menemukan kelasnya, ia menghela napas berharap mendapat teman yang diharapkan, ketika membuka pintu tiba-tibaBLUUUURRRRR!!!!Tepung dari atas jatuh mengguyur sekujur tubuhnya. Ia begitu sangat shock saat melihat dirinya berlumuran tepung. Bibir ternganga, badannya seketika terpaku. Sedangkan semua orang yang ada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak.
Seumur-umur nggak ada yang berani ngelakuin ini sama gue.Batinnya yang sudah nggak terkontrol emosi, seperti gunung merapi yang akan meletuskan larva begitu kuat, hidungnya yang kembang kempis, dan raut mukanya yang merah hitam. Dia bertanya “Siapa yang lakuin ini???!!!!” bentaknya begitu murka, tapi nggak ada yang memperdulikan. Malah mereka terus tertawa terpingkal-pingkal. “OK!!” ia nggak segan-seganmemunguti sisa tepung-tepung yang berserakan di lantai itu kedalam wadah semula, setelah terkumpul dia berdiri lalu bertanya lagidengan lebih lantang.
“GUE TANYA, SIAPA YANG NGLAKUIN INI??!!! SIAPA!!!???” bentaknya melebihi suara pesawat yang membuat semua jadi terdiam memandang mukanya yang sudah seperti lukisan tiga dimensi setengah jadi. Kemudian ada seorang cowok duduk diatas meja mengeluarkan suaranya yang terdengar sombong.
“Eh, lo keberatan??? Kalo lo keberatan, sini dong! Jangan mewek didepan pintu gitu.” Ejek cowok itu sok jagoan.
Mendengar kata itu, api di dalam tubuhnya meledak selayaknya gunung merapi memuntahkan larva “Oh…jadi lo yang nglakuin ini???” tanyanya masih menahan emosilalu mulai melangkahkan kaki setapak demi setapak kearah cowok itu.
“Emang kenapa?? Hei, guys cewek ini punya nyali juga” tantangnya
“Emang kenapa? Takut? Karena lo udah buat gue kayak gini??!!” serunya dengan nada menekan.
“Hah??! Gue??! Takut sama lo??!! Enggak pennnting.” Sahut cowok itu dengan sok.
Tanpa banyak bicara ia melemparkan segenggam tepung ke wajah cowok itu. Semua melongo melihatnya. “Itu cuma awalnya aja!” bentaknya cukup puas, bikin cowok dihadapannya menganga kaget. Tapi dari arah belakang terdengar suaracowok lagi.
“Gue yang nglakuin, kenapa? Lomau lapor ke kapsek?” Jesica berbalik badan. Cowok keren, body atletis, dan terlihat cool. Lumayan juga. Siapa lagi ini?
Berjalan kearah Jesica dan berkata "Guys, kalo begitu, perhatiin gue, gimana menurut lo dengan ini!??”
Cowok itu meletuskan sebuah kantongplastik yang berisikan air tepat di atas kepala Jesica, lagi-lagi semuamenertawainya.
Tatapan tajam mengarah pada cowok didepannya itu.Lalu bak yang dibawanya langsung saja ia guyur kearah cowok itu tanpa banyak bicara BLUUURRRR!!!! Sekejab semua menjadi terdiam melongonggak ada suara atau gerakan sedikitpun, bisa dibilang kayak ‘kuburan’ semua mata hanya terbelalak tak berkedip sama sekali.
“ITU BALASANNYA, NGERTI!!!” kecamnya kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu tanpa peduli dengan yang lain.
******
Jesica terpaksa menyuruh mang Jaja datang membawakan seragam ganti untuknya.
Nggak tau deh!? Selebar apa bibir-bibir tukang gossip, padahal baru tadi pagi tapi udah di rilist kayak film-film aja! Tapi mending film masih ada jangka waktu untuk di publikasikan, semantara tadi pagi?film bukan? Sinetron bukan?? Dipublikasikannya nggak perlu jangka waktu.Gumam Jesica di toilet.
“Eh temen-temen, tau nggak tadi di kelas gue, ada cewek yang berani-beraninya buat masalah sama Mas…t…” belum selesai bicara, dia melihat Jesica didepan kaca. “It, itu dia ceweknya!" dia tunjuk-tunjuk kearah Jesica yang hanya memandang aneh cewek itu. "Dia berani banget buat masalah sama Master Troble Maker di sekolah ini??!!!!” seru Ria.
“HAH!!!??” Jesica terkejut mendengar kata itu. Ternyata bukan sekolah gue doangyang ada julukan Trouble Maker tapi…disini JUGA ADA!!!? Kagetnya dalam hati.
Sementara Jonathan, yang sudah di juluki Master Trouble Maker itu tidak terima dengan apa yang sudah di lakukan cewek tadi padanya. Dia mencari semua info tentang cewek itu. “Jadi...dia juga Trouble Maker...” gumamnya dengan pandangan sinis. Pantas dia punya nyali juga. Pikirnya penuh rasa balas dendam.
Karena kejadian tepung tadi pagi, Jonathan dan Jesica dihukum oleh pak Leo. Meski bukan Jesica yang memulai tapi semua orang dikelas kompak menyudutkan dirinya sehingga harus dihukum juga.
Mereka pun dihukum membersihkan seluruh ruang kelas tiga, padahal anak-anak kelas tiga baru pulang sekolah pukul empat sore. Meski begitu, ini adalah hukuman teringan yang diberi oleh pak Leo, sebab kalau sudah berurusan sama guru yang satu ini, susah banget untuk nglepasin diri. Jesica sangat tidak terima, karena dia adalah korban tapi malah ikut dihukum gara-gara difitnah.
“Gue nggak habis pikir temen sekelas lo bisa segitu mudahnya menfitnah orang" celetuk Jesica, sedangkan Jonathan bersandar di dinding dengan satu kaki ditekuk ke dinding. Lirikan tajam mata Jesica langsung mengarah ke cowok itu. "Kalau nggak gara-gara lo, gue nggak bakalan disini ampe sore kayak gini!!” kesal Jesica.
“Ngapain lo jadi nyalain gue!?" nyolot Jonathan nggak mau disalahin. "Salah sendiri, siapa suruh masuk kelas gue!” sahut Jonathan enteng.
“Heh! Lo itu…” belum selesai ngomong bel pulang untuk murid kelas tiga berbunyi dan semua berhamburan keluar kelas. Tanpa memperdulikan cowok itu, Jesica segera masuk kelas dan mengambil sapu. Sementara Jonathan masuk ke kelas lain dan mulai membersihkannya.
Hari semakin sore, sekolah sudah terasa sepi sekali tapi mereka belum selesai membersihkan seluruh ruangan kelas tiga. Jesica yang membersihkan kelas sendirian sudah mulai tidak nyaman. Lama-kelamaan sendirian di kelas ngeri juga, apalagi lihat matahari mau tenggelam. “Udah belum lo bersih-bersihnya?!” tanya Jon ketus. Dengan ekspresi yang was-was dan lumayan ketakutan ia hanya mengangguk-angguk. “Kalua gitu kurang dua kelas lagi kita selesai, lo di kelas sebelah sana dan gue yang disana!” ujar Jon sambil menunjukkan kelas.
“Nggak! nggak! nggak!Gue nggak mau…gue nggak mau kalau gue sendirian…” ujar cewek trouble maker itu yang tiba-tiba nyalinya menciut.
Akhirnya mereka menyapu bersama dalam satu kelas. Jonathan tidak tahu apa yang sedang dirasakan Jesica sekarang. Ketakutan setengah mati. Sementara satu per satu lampu sekolah mulai menyala, ini tandanya hari sudah gelap sedangkan mereka kurang satu kelas lagi untuk dibersihkan.“Kita pulang aja yuk!” ajak Jes.
“Apa lo bilang? Pulang? Heh, non kalau gue tahu dari tadi nggak ada yang ngawasi kita, gue udah pulang dari tadi.” Ujarnya lanjut menyapu lagi.
“Emangnya ada ya yang ngawasi kita?" mata Jesica langsung berlarian melihat sekelilingnya. "Tapi napa gue nggak lihat dari tadi? Siapa yang ngawasi kita?” tanya Jes ketakutan.
“Tuh disekitar kita banyak! Apalagi di deket-deket lo” godanya nunjuk hidung menakut-nakuti Jesica.
“Jon! lo jangan bercanda dong! Enggak lucu tau!” sahut Jes kesal melempar jari telunjuk yang diarahkan padanya.
“Terserah lo! Pokoknya ada yang awasi kita!” yakin Jon. Apa boleh buat, daripada hukuman ini berlanjut sampai besok mending diseleseikan hari ini juga.
Setelah sangat lama mereka bersih-bersih akhirnya selesai juga, Jon pun langsung merebahkan tubuhnya dilantai tanpa memperdulikan bajunya“Gila capek banget…” keluhnya.
“Udah gelap, ayo kita pulang…sopir gue udah nunggu di depan nih…” ajak Jesica mengguncang lengan Jonathan.
“Ngapain bilang ama gue? Kalau mau pulang ya pulang aja!” sahutnya. mendengar jawaban Jon seperti itu, Jes mengarahkan pandangannya ke luar, ia melihat kegelapan yang mengerikan di luar sana, jadi nggak mungkin ia keluar sendiri. Kalau menyuruh mang Jaja menyusul entar malah mang Jaja yang hilang sendiri, sekolah inikan gede bangett.
"Gue ambil tas gue dulu!” keinget tasnya masih di kelas.
“Emangnya tas lo dimana?” tanya Jesica
“Ya, dikelas gue lah!” seru Jon.
“Apa?!" menatap kesal cowok itu "Jadi lo tadi nggak sekalian bawa tas lo kesini!!?? Begok banget sih lo!!” kesalnya. Disini udah ketakutan setengah mati, cowok itu malah memperparah keadaan. Tambahnya dalam hati.
“Eh, ngapain lo yang sewot! Itu tas, tas gue! Ya terserah gue dong!!” sahut Jon berlalu.
“Lo??!!!” kesalnya tapi dirinya nggak bisa berbuat apa-apa, ia nggak mungkin kasih tau cowok itu kalau sebenarnya dirinya takut gelap. Bisa-bisa itu akan dibuat alat untuk buli dirinya. Tanpa perdulikan Jesica, Jon keluar dari kelas pergi ke kelasnya.
Saat Jesica sadar ditinggal, ia langsung berlari ngekor Jonathan dan berjalan dibelakangnya "ngapain lo buntutin gue?" tanya Jon begitu blagu. Saat ini Jesica nggak jawab apa-apa ia hanya diam sambil memegang erat tali tasnya untuk mengurangi rasa takut.
Sesampai di kelas, segera diambil tasnya sedangkan Jes terus saja nempel-nempel kayak prangko, hingga tak disangka tiba-tiba lampu kelas mati dan Jes sangat terkejut dan ketakutan, ia pun teriak histeris.
“Eh lo tuh jangan teriak!!?? Dikira gue ngapa-ngapain lo tau!!” sahut Jon dalam kegelapan. “Ini apa-apaan sih!! Lo ngapain sih!!!???” seru Jon yang merasa risih. Beberapa saat kemudian lampu pun menyala kembali, dan ia lumayam dikejutkan oleh Jes yang ternyata mendekap pada dirinya. “Heh!!??” seketika Jonathan menghempaskan tubuhnya menjauh.
Jesica yang sadar segera melepaskan dekapannya itu. Jon hanya menatap aneh cewek trouble maker ini, bener-bener mencurigakan. Ada apa ini. Lalu ia langsung pergi meninggalkan kelas tanpa sepatah katapun, dan lagi-lagi Jes nggak mau jauh-jauh darinya.
Terlihat sekali Jes sangat ketakutan, ia nggak berkutik sama sekali, pandangannya yang menyebar kemana-mana membuat dirinya menjadi sangat ketakutan, sedangkan Jon sangat santai menikmati setiap langkah tanpa tahu kondisi Jesica sebenarnya.
Sampai di jalan utama menuju gerbang ternyata lorong di depan sana terlihat gelap sampai didepan gerbang dekat parkiran, jaraknya cukup jauh dari mereka berdiri sekarang. Seketika ia menghentikan langkahnya dan menahan lengan Jon dengan memandang lorong yang gelap itu.
Menoleh, kaget melihat lengannya ditahan oleh Jes, ia melihat cewek trouble maker ini tidak melihat dirinya tapi malah memandang lorong didepan. Semakin lama Jes memandang lorong itu semakin erat ia mencekram lengan cowok itu.
Jonathan berpikir sejenak sambil memandangi Jesica yang terlihat sangat pucat. "Heh, lo tuh kenapa sih?!" Jonathan jadi penasaran "woi, orang nanya itu dijawab." protesnya "ye...malah diam." cercanya, namun pandangan Jesica tetap mengarah ke gelapan yang ada didepan.
Wajah pucat, keringat dingin mulai menampak pada Jesica. Benar-benar ketakutan. Ditanya tidak jawab, mau nerusin jalan kedepan malah ditahan. Terus maunya gimana. Pikir Jonathan menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya nggak gatal, hanya saja ia bingung harus gimana kalau kayak gini. Entah terlintas dari mana ide ini, akhirnya ia memutuskan untuk melakukan sesuatu.
Merangkul Jesica lalu meraih tangannya yang ternyata basah karena keringat dingin. Cukup mengejutkan penuh tanda tanya, Jonathan melirik cewek itu namun tetap saja tatapan mata Jesica kedepan mengarah pada kegelapan didepan.
Kemudian berlahan-lahan Jon mengajak melangkahkan kaki memapah Jesica. Ketika ditengah lorong gelap Jesica semakin takut nggak karuan, ia pejamin mata dan menahan rasa takut yang udah meledak-ledak dalam dirinya, ia tutup erat mata sembari menggigit bibir bawahnya kuat-kuat dan mendekap erat didada cowok trouble maker itu.
Dan akhirnya sampai pada lorong depan sudah ada cahaya lampu yang terang. Namun Jesica belum lepas dari dekapannya.
Barulah Jonathan menyadari ketika dibawah lampu yang terang itu muka cewek ini pucat abis dan mengeluarkan keringat dingin disekujur tubuhnya. "Lo kenapa?" belum sempat jawab mang Jaja datang lansung membantu Jesica yang sudah lemas tak berdaya menuju mobil.
******