Duduk disebuah kursi merhatiin Jesica yang sedang terlelap dalam mimpi membuathati Jonathan merasa damai. Entah apa yang terjadi, mata Jonathan seakan tersihir ingin terus menatap dan menatap wajah Jesica. Namun ditengah tatapannya ia berpikir. Gimana bisa Jesica terkunci di gudang belakang.
Habis pulang sekolah tadi dia bilang disuruh kumpul sama pak Leo, tapi kenapa dia sampai seperti ini??? Pikirnya.
Ia ambil handphone lalu mencet tombol kontak mencari nama pak Leo dan kemudian mencet tombol call.
“Ya,Jon. ada apa??”
“Maaf ganggu malam-malam gini pak. Saya cuma mau tanya, tadikumpulnya pulang jam berapa, pak???” tanya Jon to the point.
“Kumpul apa, Jon?" tanya balik pak Leo.
“Tadi sepulang sekolah…masa bapak lupa???"
"Sebentar Jon, bukannya bapak lupa. Tapi bapak belum ngerti apa yang kamu omongin ini??"
"Tadi kan bapak yang nyuruh kumpul di dekat gudang belakang?"
“Tapi saya hari ini tidak merasa nyuruh murid-murid kumpul. Apalagi pulang sekolah…malah bapak pulang lebih awal, soalnya ada urusan penting.” Ujar pak Leo dengan jelas. Dengerin penjelasan tersebut membuat Jonathan bertanya-tanya siapa lagi yang sudah menjebak Jesica.
“Oh, begitu ya pak. Kalau gitu terima kasih pak, maaf kalau mengganggu…” lanjutnya kemudian menutup telpon. “Trus siapa yang lakuin semua ini???” tanyanya memandangi Jesica yang terjaga.
******
Setelah kejadin di gudang itu dan mendengar penjelasan Amel tentang taruhan mereka membuat Jesica kecewa dengan Jonathan. Lebih baik menjauh dan seakan-akan nggak pernah kenal sama tuh cowok daripada dijadiin barang taruhan lagi, lagi dan lagi. Pikirnya memutuskan hubungan begitu saja.
Mulai sekarang di sekolah ataupun dimana tempatnya ia terus menghindari Jonathan, setiap kali cowok itu manggil ia pura-pura nggak denger dan bergegas melarikan diri.
“Jes, lo kenapa sih?” Agnesmenepuk pundak Jesica yang dari tadi ngaduk-ngaduk makanannya.
"Eh??" ia celingukan kiri kanan.
“Nah, kayak gini nih yang kata orang tuh lagi patah hati." mata Jesica terbelalak ketika salah seorang temannya berkata seperti itu dan dengan kompak yang lain malah nyorakin dirinya "ciee...ciee...."
“Ah, bearti lo sama Master Trouble Maker itu..." tebak Agnes.
“Lo gila apa!!???” sahut Mila nggak percaya.
“Ya mana gue tau?? Lo harus inget Jesicaitu juga cewek seperti kita, dan cewek itu perlu cinta tau!” sahut Agnes mendramatisir.
******
Meski Jonathan sudah berusaha lakukain apapun, namun Jesica tetap menghindar. Dia masih bersikap dingin dan itu bikin dirinya nggak tenang, ia udah nggak betah diperlakukan gini sama Jesica.
“Sebenarnya salah gue apa?” tanyanya pada diri sendiri di bangku meja "jadi kepikiran terus. Salah apa sih gue ini sampai dia berubah gini??" gumamnya penuh tanda tanya sembaringusap-ngusap rambut dengan kesal. Pusing nih kepala! serunya dalam hati.
Sepuluh menit sebelum jam istirahat, Jonathan kabur dari kelas dengan alasan mau ke toilet. Mules. Padahal ia nggak menuju toilet malah naik ke lantai dua diam-diam.
Pintu kelas Jesica masih tertutup, bearti masih ada harapan bertemu sama cewek trouble maker itu.
Bersandar di dinding dengan satu kaki ditekuk ke dinding, sesekali ngintip jarum jam yang melingkar dipergelangan. Tiga menit lagi. Nggak sabar nunggu bel istirahat bunyi.
Teett, teettt, teeeetttt
Kerumunan murid berhamburan keluar waktu pintu terbuka. Ia turunin kaki yang ditekuk tadi lalu memasang mata siaga biar nggak kehilangan Miss Troubel Maker. Seett. Jesica. Baru aja keluar bareng temen-temen lainnya. Mata terbuka lebar-lebar dalam kerumunan murid lain.Dengan gerakan cepat dan luwes, ia raih tangan cewek itu dan memanggilnya.
“Jes!!?” menoleh lalu kaget pas ngeliat cowok yang nahan tangannya. Berusaha lepasin diri namuntak berdaya.
“Gue nggak bakalan lepasin lo, sebelum lo jelasin napa lo bersikap gini sama gue?” tekan Jonathan malah gelandang dirinya keluar dari kerumunan. Sangking jengkelnya, ia gigit saja tangan cowok itu sekuat mungkin biar tau rasa sampai teriak kesakitan sembari nglepasin cekalan itu.
"Lo mau penjelasan dari gue." ucapnya dingin "Gue bener-bener udah muak sama lo!!” lanjutnyakemudian berlalu begitu saja.
Jonathan masih berdiri tanpa bergerak sama sekali. Ia hanya memandang langkah kaki yang jauhin dirinya tanpa alasan.
******
Langit hitam ditaburi bintang menemani Jonathan yang sedang duduk memandangi piano. Kenangan manis dalam piano ini telah memberikan luka.
Tok! Tok! Tok! Tok! Ketukan pintu berkali-kali dan terdengar katakutan. Ia terbangun dari lamunannya. Siapa itu? tanyanya bangkit dari duduk dan segera menuju pintu, mungkin aja Jesica.
Membuka pintu. “Je…Amel?????” perkiraannya meleset, bukan Jesica yang datang tetapi Amel yang langsung menubruk tubuhnya “Lo kenapa?” bingungnya sambil nahan tubuh Amel yang telihat berantakan dan ngos-ngosan.
“Tad, tadi...ada preman yang ngejer-ngejer gue..gue lihat deket sama rumah lo, jadi gue cepet-cepet lari kesini.” bercucuran keringat.
“Ayo masuk ke dalam” ajak Jonathan tapi Amel menahannya.
“Enggak..enggak..gue disini aja..” suara Amel terdengar lemas.Kemudian ia mendudukkan Amel di sebuah kursi diteras
“Tapi lo enggak apa-apa, kan?” megang pipi, leher, dan bagian kepala lainnya.
“Enggak apa-apa, cuma kelelahan aja.”
“Ya udah, lo tunggu disini. Gue ambilin minum.” Ujarnya masuk ke dalam ambil minum.
Glegek, glegek, glegek. Amel bener-bener kayak abis jalan di padang pasir sampai-sampai satu gelas yang berisi penuh air dalam sekejab udah lenyap.
"Pelan-pelan Mel minumnya."
Aahh, leganya abis minum. "Kenapa lo nggak nelpon gue, biar gue samperin lo kesana." Amel geleng-geleng.
"Gue udah ketakutan banget, gue cuma pengen lari biar gue nggak kejebak disana."
"Ya udah, lo istirahat dulu habis itu gue anter lo pulang."
“Gue pengen pulang sekarang, tapi gue nggak bisa berdiri, kaki gue masih lemes...”
"Gue ambil jaket sama kunci sebentar." saat Jonathan mau berdiri, Amel menahan tangannya. Ia menoleh kearah Amel. "jangan lama-lama, gue takut sendirian..." manja Amel. Jonathan pegang tangan Amel dan berkata "lo aman disini." dengan suara yang bikin hati adem.
Terpaksa Jonathan harus memapah Amel ke mobil, tidak tahunya pas bukain pintu Amel malah mencium pipinya, seketika ia kaget menyentuh pipisembari memandang Amel penuh tanda tanya “Thanks ya Jon” suara manja Amel terdengar begitu mengganjal di hati Jonathan yang hanya menggelengkan kepala. Lalu mereka masuk kedalam mobil.
“Lo kok sampai bisa dikejar preman?” selidik Jon sembari ngendarai mobil.
“Tadi, ban mobil gue bocor...gue minta bantu orang di sekitar situ, eh nggak taunya mereka preman...”
“Lo kan bisa telpon gue dulu atau siapa kek, kenapa juga lo malah minta tolong orang lain apalagi malem-malem gini. Jadi gini kan, untung lo nggak kenapa-napa” tuturnya penuh perhatian.
“Ya ampun...Jon...lo perhatian banget sama gue...” sekejab Amel memeluk dirinyayang lagi nyetir mobil, ia pun jadi kaget dan sempat banting setir namun cepat terkendali.
“Mel, Amel??! Lo apa-apaan sih?! Gue lagi nyetir!” berusaha menepis pelukan cewek ini.
******
Daripada ngeliat Master Trouble Maker mending dikelas aja sendirian. Pikirnya kesel. Jesica berpangku tangan melamun pas dirinya masih habisin waktu bersama cowok trouble maker tapi kalau keinget sama ucapan Amel di gudang. Enggak tau harus berbuat apa?? ia bingung dengan perasaannya.
Menghela napas dalam-dalam, menunduk lesu dan baru ia sadari ada amplop coklat diatas mejanya. Amplop apaan ini?! batinnya. Ambil lalu membolak-balik amplop itu penuh penasaran. Apaan ini...Siapa yang naruk disini??
Sangking penasarannya, ia buka amplop ini. Ia rogoh lalu narik keluar isi amplopnya. Pas ia tau apa isi amplop, detak jantungnya seakan terhenti sejenak, nafasnya seakan sesak didada, tangan kanannya menutup mulutnya yang ternganga. Apa maksud semua ini? kenapa foto Amel dan Jonathan disini??
Seperti guntur yang menggelegar nyambar dirinya, sampai nggakdisadari air matanyamenetes. Ia lihat setiap lembar foto itu, badannya seakan lumpuh dan tak berdaya melihat satu per satu foto ini. Tapi saat ia dengar suara Amel sama geng-nya didepan kelas segera ia usap air mata dan cepat-cepat masukin foto itu.
“Kok bisa hilang sih fotonya???” tanya Amel dengan sengaja meninggikan nada suaranya.
“Sorry, gue lupa” sahut Devi.
“Pasti Jon bakalan marah! Kan dia sendiri yang mau minta foto itu dicetakin…” seru Amel sesekali nglirik Jesica yang lagi pura-pura baca buku.
“Ya udah deh! Lo masih punya file-nya kan? Kalau gitu kita cetak lagi aja.” tambah Amel.
******