Ketika bel pulang bunyi, Jesica segera mengemasi barangnya dan keluar kelas, nggak taunya Jonathan udah nongol di depan kelas.
“Hei, Jon? lo?” tanyanya noleh kanan kiri. Cepet banget nih anak nongolnya“Cepet banget...?”
“Gue lebih on time aja. udah jam empat lebih sepuluh, kita cepet-cepet pulang.” Sambar cowok trouble maker ini begitu perhatian banget.
“Ih, lo apa-apaan sih? Gue belum mau pulang dulu. Gue dipanggil pak Leo, suruh kumpul sama anak-anak.” Jelasnya tengok jam tangan yang ngelingkar di pergelangan.
“Masa sih? Gue kok nggak??” tanya Jonathan ingin tahu.
“Ya nggaklah, inikan acara cewek kata pak Leo…” sahutnya “lo pulang aja dulu, gue bisa telpon mang Jaja kalau udah pulang. Ok” tambahnya dorong tubuh Jonathan menuju tangga.
“Lo beneran enggak apa-apa?” tanya Jonathan.
“Apaan sih? Lagian ada orang banyak juga.” Sahutnya. Setelah turun tangga barulah Jonathan pamit
“Ok, gue pulang dulu" Jesica tersenyum mangguk.
Di gudang belakang terasa sunyi. Kayaknya anak-anak yang lain belum datang deh. Tapi pak Leo mana ya? Kok belum keliatan. Pikirnya sambil celingukan “Kok masih sepi sih?” gumamnya. Mungkin bentar lagi datang semua. pikirnya dalam hati kemudian duduk disebuah kursi panjang.
Cukup lama nunggu tapi belum juga ada yang datang satu pun. Ia lihat jam tangannya yang nunjukin pukul lima kurang lima belas menit. Ampun. “Mana sih orang-orang???” mulai cemas.
Sekarang jam lima tapi belum ada yang datang. Ia rogoh sakunya ambil handphone lalu masuk kedalam kontak mencari nama mang Jaja. Tau kayak gini mending pulang bareng Jon aja. batinnya. "Mang, jemput sekarang ya." singkat padat dan jelas karena batrainya sudah lowbet. Ia putusin buat pergi aja sebelum matahari berubah jadi bulan.
“Mau kemana lo?” cegat Amel bersama kelima temannya.
“Apaan sih lo?! Minggir enggak lo!” sela Jesica tapi malah didorong.
“Napa? Lo takut keburu gelap??” seru Amel melipat kedua tangannya.
“Heh, gue masih bisa sabar ya sama lo, jangan sampai lo mancing emosi gue!” tekannya.
“Oh, lo kira gue takut gitu!" bentak Amel "Dasar cewek murahan.Sukanya godain cowok orang…” cercanya.
PLAAKK!!! Seketika Jesica ngelayangin tamparannya ke pipi Amel.“Gue udah bilang! Jaga tuh mulut!!!” bentaknya.
“Lo tu apa-apaan sih!!??” serang Sari mendorong-dorong tubuhnya.
Amel yang begitu murka menarik kuat-kuat lenganJesica dibantu dengan geng-nya sampai ke pintu gudang. Lalu teman-teman Amel memasukannya kedalam gudang.
Muka Jesica langsung memucat ketakutan. Ia berusaha berontak meski tubuhnya dicekal empat orang. “Lihat muka lo, lihat gini aja udah pucet…” tuding Amel “Guys, kita kunci dia disini!” perintahnya
“Am, Amel, Ja, jangan…jangan…lepasin gue! Amel, Lepasin gue!! Jangan kunci gue disini!! Lepasin gue! Le, lepas!!!” teriak Jesica lebih ketakutan lagi. Gudang yang sekarang ini berbeda dengan gudang sebelumnya. Gudang ini tempatnya paling ujung belakang, bahkan lebih gelap dari perkiraannya. Selain lembab dan bau pengap, gudang ini bener-bener gelap banget.
Ia enggak bisa lepasin diri, kedua lengannya ditahan oleh teman-teman Amel. satu orang nyalain senter untuk penerang sementara. Amel tutup pintu gudang dan sekarang hanya ada mereka didalam gudang ini.
“Lepasin gue…gue takut gelap…gue mohonnn…” Jesica benar-benar ketakutan setengah mati namun semua malah anggap sebagai lelucon.
Dengan begitu kasar, tubuh Jesica yang melemah dilempar kehadapan Amel.
“Lo takut ya sama gelap…” cerca Amel sampai bibirnya monyong-monyong "aduuh...kasian..." mengoper tubuh Jesica ke teman yang lainnya.
“Ih beneran looh, dia gemeteran!! Hahaha,malu-maluin. Miss Trouble Maker takut sama gelap!” ujar temannya kemudian ngoper tubuh Jesica ke teman yang lainnya lagi. Tubuh Jesica seperti bola yang dioper kesana kemari tanpa perlawanan karena sangking takutnya.
Kreekk. Amel robek lengan seragamnya “Ini balasannya karena tamparan lo tadi!”tawanya puas diikuti dengan yang lain"Kasihan…tapi sayangnya gue suka lihat lo kayak gini…coba lo rasain, tangan lo keluar keringat dingin, badan lo gemetaran, hahahahaha…" cerca Amel lalu menekan suaranya dengan nada tinggi dan garang "mana bisa lo nglawan gue!!" dorong tubuh Jesica sampai mundur beberapa langkah "Makanya jangan main-main sama gue…Oh,ya satu lagi…Asal lo tau, ya." nunjuk muka Jesica "Jon itu cowok gue! Nggak ada yang bisa rebut dia dari tangan gue!! Yang seharusnya malu itu lo!! Karena apa? Karena lo yang dibuat bahan taruhan kita semua!!! Ngerti Lo!!!” bentak Amel bikin Jesica tambah terkejut dengan ucapan itu. Apa? Taruhan? Gue dijadiin barang taruhan lagi? shock-nya nggak bisa berkata. Suaranya seakan-akan hilang entah kemana.
“Dia itu cuma pura-pura kasihan sama lo!! Karena apa? Karena dia ingin menangin taruhan ini!!! Jadi jangan harap deh kalau Jon itu suka beneran sama lo!! Apalagi pacaran sama elo!!! Semua itu cuma sandiwaraaja,supaya apa...supaya dia menangin taruhannnya." Amel mengangkat kasar dagunya lalu berkata dengan suara yang lebih menekan"Lagian gue emang udah rencanain ini semua sama Jon dari awal. Mungkin kemarin-kemarin,gue bisa tahan liat lo berduaan terus terusan, tapi sekarang! Dia udah menang taruhan!! Jadi, JAUHIN DIA!!!! NGERTI!!! Dasar cewek kegatelan!!!” buang dagu Jesica.
Ap, apa? Jadi selama ini... gue barang taruhannya...lagi.Bearti semua ini palsu. Selama ini yang udah kita lalui cuman sekedar barang taruhan aja.
Jesica bener-bener shock, rasanya sampai nusuk hati. Pandangannya kosong kedepan, badannya terunglai lemas jatuh ke lantai sementara yang lain malah tertawa ngakak.
“Ayo, guys! Kita cabut!! Udah nggak penting disini” Seru Amel melangkah pergi menuju pintu keluar diikuti temen-temennya.
******
"Saya sudah pernah bilang kan berkali-kali kalau jangan pernah ninggalin Jesica pulang sekolah" marah kakek begitu garang sama mang Jaja yang tertunduk "kamu lihat. Jam berapa ini! Sudah jam tuju Jesica nggak ada kabar. Handphone-nya nggak aktif. Kalau ada apa-apa..." sangking marahnya sampai-sampai kakek merasa sakit di d**a, beliau langsung berusaha menarik napas.
"Tuan..." bibi ngambilin segelas air dan obat yang ada disaku kakek dibantu mang Jaja. Kemudian segera kakek minum obatnya. "Jemput sekarang!" nada suara kakek merendah nahan sakit "jangan pulang sebelum kamu bawa pulang cucu saya." begitu patuh dan ketakutannya mang Jaja kalau benar-benar terjadi sesuatu dengan Jesica. Ia segera pamit pergi.
Sampai detik ini belum ada satu orang pun yang tau posisi Jesica ada di gudang. Sedangkan ia tak sadarkan diri.
Mang Jaja bener-bener bingung, ia sudah menunggu didepan gerbang sekolah namun sudah terlihat sepi "Ya ampun, gusti...ada apa ini sama non Jes. Kok dari tadi hp-nya nggak aktif" cemasnya.
Diwaktu bersamaan tempat berbeda, penjaga sekolah datang ke gudang berniat mengambil sesuatu. Setelah membuka pintu kemudian mendapati seseorang pingsan didalam.
“Ya gusti???!" segera masuk dan melihat kondisi cewek itu"Siapa ini???” karena kondisi gudang yang gelap, ia pun nggak mengenalinya. Lalu ia bawa keluar “Ini kan Jesica???” kaget penjaga sekolah. Kok bisa sampai disini. Pikirnya.
Setelah dibawa ke UKS, ia bingung harus menghubungi siapa.apalagi Jesica belum sadar-sadar. Ia mondar mandir kebingungan, kalau ditinggal takutnya ada apa-apa, kalau nggak ditinggal malah nggak taunya keadaan Jesica parah. Pusing pak penjaga sekolah garuk-garuk kepala. Lalu merogoh tas milik Jesica dan menemukan handphone. "Batreinya habis." ambil cas di meja uks yang biasa tersedia cas handphone. Nyolokin ke listrik lalu menyalakannya. Banyak pesan masuk dan panggilan tidak terjawab muncul di layar handphone yang baru saja dinyalakan. "Pasti semua cemas." berniat menelpon balik, tiba-tiba handphone tersebut berdering.
“Halo,non. Non dimana? Udah malem non? kakek nyemasin non Jesica. Non Jesica ada dimana sekarang biar mang Jaja jemput” ujar mang Jaja dari telpon terdengar kawatir bercampur lega karena handphone-nya sudah bisa diterima.
“Halo, maaf pak. Jesica saya temukan pingsan di gudang sekolah. Bapak bisa ke UKS, dekat ruang guru. Saya penjaga sekolah disini.” Sahutnya dibalik telpon
Tanpa seribu bahasa mang Jaja segera menyusul ke UKS dan bergegas menghubungi kakek.
Kemudian Jesica segera dilarikan ke rumah sakit oleh mang Jaja. Tak lama, kakek datang dengan perasaan cemas setengah mati, segera beliau hampiri mang Jaja yang ditemani denganpenjaga sekolah.
“Gimana keadaannya?” sambar kakek.
“Non Jes masih didalam…” ujar Mang Jaja tertunduk.
“Kok bisa sampai begini bagaimana?” tanya kakek.
“Saya juga kurang tau, saat saya dari gudang saya sudah melihat Jesica tergeletak di lantai gudang.” Sahut penjaga itu.
“Bagaimana dia bisa sampai di gudang??? Apa gudangnya gelap?” tanya kakek terus mengejar.
“Iya.” Ujar penjaga nganggukin kepala.
“Astaga Jesica…kenapa sampai kamu ditempat gelap kayak gitu lagi…???” ucap kakeknya terdengar gemetar.
Ketika dokter keluar dari ruangan, kakek langsung menyambarnya “Bagaimana dok keadaan cucu saya?”
“Bapak tenang saja, cucu anda baik-baik saja. Dia hanya mengalami sedikit shock” ujar dokternya ramah.
“Dia takut gelap, dok” sahut kakek.
Dokter mangguk-mangguk “Ya, jadi dia phobia dengan kegelapan. Itu bisa jadi kemungkinan karena dia terlalu lama dalam ketakutannya, dan itu bisa mengganggu pikiran cucu anda. Dia begitu terlihat sangat lemas dan pucat sekali.” Ujar dokter.
“Boleh saya bertemu cucu saya?” tanya kakek dan dokterpun mengangguk sopan dengan senyum ramah. Segera kakek masuk menemui cucunya yang masih berbaring lemas tak berdaya, kakek duduk disamping lalu mengusap lembut kening cucunya “Apa yang sebenarnya terjadi?? Kamu ini membuat kakek kawatir…kakek begitu cemas mendengar kabar ini…” ucap beliau. Menatap cucunya yang belum juga sadarkan diri, beliau teringat seseorang. “Jon? ya Jon, kakek harus hubungi dia..” ngeluarkan handphone dari saku.
Baru aja kakek selesei bicara dengan Jonathan lewat telepon, berlahan-lahan Jesica mulai siuman dan membuka matanya.
“Kek…” panggil Jes terdengar lemas. Kakek masukin handphone-nya kedalam saku kembali kemudian mendekat pada cucunya.
“Jesica…kamu sudah siuman…” mata Jesica kelayapan memandangi sekelilingnya.
“Jes dimana?” tanyanya.
“Kamu di rumah sakit, penjaga sekolah menemukanmu pingsan di gudang sekolah…" dengerin separuh penjelasan kakek ia teringat sore itu Amel dan temen-temennya ngebuli dirinya lalu ngunci dirinya di gudang. "sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu ada disitu…???” tanya kakek ngintograsidirinya. Kakek nggak perlu tahu. Pikirnya lalu tersenyum tipis memandang kakek.
“Maaf.kek. Jes sepertinya lupa apa yang terjadi…” jawabnya berbohong.
“Ya udah, jangan dipaksa…kamu istirahat aja.” Tutur kakek sembari ngecup keningnya.
******