Setelah cukup lama kemudian, akhirnya sampailah mereka di rumah Jessica. “Bapak, terima kasih sekali sudah mengantar kami. Kalau bukan bapak yang menolong pasti pacar saya tidak akan tertolong karena rumah kami jauh sekali.” Ucap Alex turun dari mobil tersebut.
“Tidak apa-apa, cepat kamu urus pacar kamu, kasihan dia. Saya pulang dulu.” Pria tersebut kemudian menancap gasnya.
“Terima Kasih, pak. Terima kasih banyak!” teriak Alex memperhatikan mobil tersebut sudah menghilang dari pandangan.
“MAKSUD LO APA SIH?! LO NYUMPAHIN GUE SAKIT!! GILA LO YA!!” bentak Jessica seketika memukul lengan Alex.
“Heh, Lo itu kenapa sih?! Seharusnya lo itu berterima kasih sama gue!! Coba kalau gue nggak alasan kayak gitu mana bisa kita kabur dari penjahat itu!!” sahut Alex.
“TAPI CUKUP BILANG SAKIT AJA. ITU UDAH CUKUP. KENAPA LO PAKE YANG BENTOL-BENTOL LAH, MATA SANYU LAH, KERINGATAN LAH. LO INI BENER-BENER…!!” belum sempat selesai bicara pintu rumah terbuka.
“Jessica!!??? Ya ampun, sayang. Mama nyari kamu kemana-mana, semua orang mencari kamu. Mama kawatir sekali. Kamu darimana saja?!! Kamu baik-baik aja kan?” seru mamanya yang begitu lega melihat putrinya sudah pulang, dan membuat Jessica tak bisa meneruskan omelannya pada Alex, malah Alex dapat pujian dari mamanya. “Ya ampun, Alex. Terima kasih ya, udah anter Jessica pulang. Kalau nggak ada kamu, tante nggak tau harus mencari putri tante kemana lagi.” Pujian mama Jessica, membuat Jessica tak habis pikir, padahal anaknya sendiri baru disumpahin sakit sama cowok nyebelin didepannya, kenapa dia malah dapat pujian.
Setelah menenangkan diri dengan minum secangkir teh hangat, barulah mama Alex datang. “Kamu ini kemana saja? Semua orang mencari kalian berdua.” Ucap mama Alex yang ggak kalah kawatirnya dengan mama Jessica. “Handphone dan tas kalian ada di bus, dan kami semua tak tahu kalian dimana?”
“Ma, Alex udah gede. Bisa jaga diri kok.” Sela Alex.
“Untung mama belum pergi ke Bandung, coba bayangin kalau mama hari ini udah di Bandung dan denger kabar kamu hilang. Kamu ini bikin kawatir mama aja.” Ucap mamanya
“Kapan mau ke Bandung?” mama Jessica menyela.
“Besok, ada yang harus diurus disana. Makanya saya kawatir kalau ada apa-apa dengan Alex.”
“Tenang aja, tante. Alex pasti bisa jaga diri kok. Kan dia itu cerdik, taulah apa yang dia lakukan.” Sindir Jessica.
Malam harinya seperti biasa, Jessica menyempatkan waktu untuk menghubungi Jonathan, Pasti Jonathan sangat mengkhawatirkan dirinya karena sudah berhari-hari tidak ada kabar. Dalam benak Jessica bimbang, apakah perlu Jonathan tahu kalau secara tidak sengaja dirinya ciuman dengan Alex. Itu adalah kecelakan. Sungguh.
Jessica menghela napas memutuskan tidak bercerita daripada akan bedampak yang tidak baik. Maafkan aku Jonathan, untuk pertama kalinya Jesiica berbohong kepada Jonathan.
Dan benar, ketika video call menyambung Nampak kecemasan di raut wajah Jonathan. Banyak pertanyaan yang harus Jessica ceritakan, dimulai dari study tour hingga penculikan kecuali tragedy ciuman itu.
Huuft, rasanya sangat bersalah tetapi apa boleh buat. Yang terpenting diriya masih cinta dengan Jonathan. Dan tidak akan berkhianat. Prinsip Jessica didalam hati harus menjaga hati.
************
Keesokan harinya di kampus, berita tentang penculikan Alex dan Jessica heboh. Semua menanyakan bagaiaman mereka bisa kabur dari penculikan tersebut.
“Darimana sih gossip murahan kayak gini?” kesal Jessica.
“Mana kita tahu, itu pandangan mereka, habis lo hilang tanpa kabar, sedangkan barang-barang lo semua ada di bus.” Ujar Sari.
“Kita semua mencari lo udah nggak ada, dan nggak ada yang melihat kalian berdua.” Agnes memastikan.
“Terus, terus apa yang terjadi dengan kalian berdua?” Putri penasaran.
“Udahlah, males gue ngomongin dia. Dia itu…” tanpa sepengetahuan mereka Alex dan teman-temannya ada dibelakang mereka.
“Gue kenapa?” sela Alex tersenyum kecut.
“Sejak kapan lo disitu?!” ketus Jessica.
“Sejak kita diculik.” Goda Alex “rasanya…ada satu hal yang nggak mungkin terlupakan…” genit Alex, membuat mata Jessica terbelalak teringat ketika Alex membuka bungkamannya saat itu.
“Ngomong apaan sih lo!!??” Jessica berusaha menutupinya. Tetapi Alex terus menggodanya sembari memberi kissbye kemudian pergi begitu saja, lalu tertawa mengetos teman-temannya. Teman-teman Jessica jadi bingung, mereka saling bertanya-tanya kemudian dengan seksama menatap Jessica.
“What?” ketus Jessica.
“Apanya what?” Putri menyela
“Apa yang kalian berdua lakukan?” Sari menyidik.
“Apa arti kissbye yang dilakukan Alex barusan?” tekan Agnes.
“Kalian ini apa-apaan sih? Gue nggak ngapa-ngapain tau. Lo semua kayak nggak tau Alex aja, yang nggak terima hidup gue tenang.” Tegas Jessica menutupi semuanya.
“Serius?”
“Lo nggak bohong?”
“Jujur?”
Serbu satu per satu temannya yang begitu penasaran dengan apa yang terjadi diantara mereka.
Sepulang dari kampus, Jessica berjalan sendiri ke tempat parkir, lalu dia melihat Alex yang akan masuk mobilnya. Segera dia berlari menuju kesana sebelum temen-temennya lihat.
Dia tarik lengan baju Alex. “Heh, maksud lo tadi apa?!”
“Maksud apa?” cengir Alex.
“Kenapa lo kasih kissbye-kissbye segala?!” ketus Jessica “asal lo tau ya, yang terjadi malam itu bukan ciuman! Itu kecelakaan. Dan gue nyeselin hal itu kenapa bisa terjadi. Apalagi itu sama lo. Gila lo ya! Gue aja lupa apa yang terjadi malam itu, kenapa lo malah mengumbar semuanya ke semua orang apalagi kesemua temen-temen gue. Mau lo apa sih?!”
“Buat hidup lo menderita.” Jawaban sigkat dari Alex tapi begitu menyebalkan membuat Jessica menganga nggak percaya.
“Gue juga bakal buat hidup lo lebih menderita!” tekan Jessica kemudian pergi begitu saja.
*********
Sehabis makan malam, dia pun menuju kamarnya. Mamanya belum pulang kerja, tadi sudah menghubunginya kalau pulang agak terlambat dan nggak bisa makan malam bersamanya. Tanpa daya dia pun menuju kamarnya. Rumahnya benar-benar seperti rumah yang tak berpenghuni.
Mata Jessica pun sudah terasa berat, dan mengantuk. Sejenak dia tidur tiba-tiba terdengar suara mamanya memanggil-manggil namanya. “Jessica…Jessica…Jessica…bantu mama sebentar.”
“Kenapa ma?” Jessica keluar kamar dengan keadaan yang acak-acakkan rambutnya.
“Sini sebentar, bantu mama.”
Jessica pun menghampiri mamanya yang masih di ruang tamu, lalu dia melihat satu koper hitam. “Punya siapa, ma? Mama mau kemana?” tanya Jessica mengkerutkan keningnya.
“Mama nggak kemana-mana.”
“Nah terus ini?” uap Jessica lebar-lebar kemudian melihat Alex masuk dari pintu rumahnya, seketika matanya terbelalak kaget. Apa dia sedang bermimpi atau itu hanya halusinasi.
“Alex akan tinggal disini sampai mamanya pulang dari Bandung.” Jelas mamanya membuat ngantuk Jessica hilang begitu saja dan membuat Jessica tak percaya mamanya malah bersekutu dengan musuh bebuyutannya.
Oh, No!!!!!! Aaaa!!!!!???
Jessica teriak dalam hati, berteriak ini mimpi terburuknya, tapi ini nyata. Dia melihat raut muka Alex yang terpampang kemenangan diwajahnya. Ini adalah masa kejayaan Alex sekarang. Dia berhasil mendapatkan hati mamanya.
“Ma, siapa yang nyuruh dia untuk tinggal disini!?” tekan Jessica dengan nada rendah.
“Mama, sayang…kasihan dia tinggal di rumah sendiri, jadi mama inisiatif untuk bawa Alex tinggal disini sementara waktu.”
“But, why did not you tell me first?!! jadi ini alasan mama bilang kalau pulang telat. Cuma gara-gara to pick him. Oh, mom come on...” Jessica akan lebih kesal jika mamanya menjawab iya.
“Iya.” Jawab mamanya singkat, padat dan jelas.
WHATTT???!!! Teriaknya dalam hati.
“Kamu nggak say hello dulu sama Alex. Habis itu, kamu siapin kamar buat Alex, mama mandi dulu.” Ucap mamanya.
Karena sangking jengkelnya, dia pun senyum-senyum mendekat pada Alex, lalu secara tiba-tiba dia menginjak keras kaki cowok yang ada dihadapannya, Alex hanya bisa memejamkan matanya, diam menahan sakitnya tanpa suara.
“Jessica??” seru mamanya
“Say hello from me.” Ketusnya kemudian berlalu. Mamanya hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Kalian lagi berantem ya? Ya udah, Jessica kalau lagi marah memang gitu, besok mungkin udah reda, dia bukan tipe orang yang pendendam kok. Kamu ikuti dia aja nunjukin kamar kamu.” Ujar mamanya.
Dengan perasaan yang sangat amat tidak ikhlas, dia harus merapikan kamar buat Alex. “Yang rapi ya, soalnya kalau enggak rapi gue nggak bisa tidur.” Ucap Alex menggoda.
“Heh, biarpun nyokap gue lakukan ini sama gue. Tapi dia nggak bakalan milih lo untuk semena-mena sama gue.” Ketus Jessica yang baru saja menyiapkan tempat tidur untuk Alex. Tanpa banyak bicara Alex langsung meloncat ke tempat tidur, Jessica pun terbelalak, susah payah dia merapikannya, Alex dengan mudah menghancurkannya.
“Lo itu nggak tau diri ya! Gue sudah susah payah ngrapiinnya, enak banget lo brantakinnya! Dawn!” seru Jessica.
“Aneh lo ini, ini kan tempat tidur buat gue. Terus apa masalahnya sama lo.” Alex tak mau tau, dia malah asyik diatas ranjangnya. Jessica bener-benr telah dibuatnya jengkel, dia sudah tak bisa berkata lagi. Dengan hati yang begitu kesal dia pun keluar dengan membanting pintu cukup keras. Sedangkan Alex hanya terkekeh-kekeh.
Keesokan harinya, saat sarapan. Jessica tak mau banyak bicara dan dia tak peduli dengan keadaan disekitarnya apalagi ada Alex.
“Oh,ya Jessica. Kamu nggak bakalan kesepian lagi kalau ada Alex. Kalian bisa berangkat ke kampus bareng.” Mamanya membuka obrolan yang membuat mereka berdua kaget.
“Maksud mama…kita berangkat satu mobil gitu?!” seru Jessica. Lalu mamanya pun mengangguk pasti. “Tapi, ma…”
“Iya, mama ngerti kok. Entar biar Alex yang bawa mobilnya, jadi kunci mobil kamu serahkan sama Alex.” Sela mamanya membuat Jessica tak percaya, dia terbelalak dan mengatupkan rahangnya. Sementara Alex juga nggak menyangka, itu adalah sebuah anugerah terindah baginya diberi wewenang seperti itu. “Wha, what??! Mom?! Please. Its not fear.”
“Iya tante…saya kan jadi nggak enak sama Jessica kalau kunci mobil saya yang bawa…” Alex berlagak nggak enak, padahal dalam hatinya begitu bahagia, mendengar itu Jessica langsung membidik pandangan tidak sukanya.
“Kamu kan cewek, sayang. Kalau ada cowok, why not?” ujar mamanya memperparah keadaan Jessica.
“Ya udah kalau gitu tante, kami berangkat dulu, keburu telat nanti.” Pamit Alex begitu ramah.
“Jessica, give the keys to Alex.” Perintah mamanya, terpaksa Jessica dengan berat hati memberikan kuncinya pada Alex lalu pamit dengan mamanya.
Segera dia masuk ke mobil dengan begitu kesal, sementara Alex dengan bersiul dia menikmati masuk ke mobil. “Ehem!” goda Alex menyindir tapi Jessica tak memperdulikannya, dia hanya melipat tangannya sembari memandang kedepan dengan tatapan penuh kebencian. “Emmmhhh, sepertinya nyokab lo lebih sayang sama gue daripada sama…” Alex tersenyum kecil. Jessica hanya bisa melirik tajam tanpa berkomentar. Kemudian Alex pun menjalankan mobilnya.
Sepanjang jalan Alex begitu menikmatinya, dia terus bersiul senang tanpa henti. Sementara hati Jessica begitu membludak-bludak ingin rasanya mengamuk seperti gorilla, tapi dia bukan gorilla. Dia hanya bisa menahan napasnya yang kembang kempis.