Keesokan harinya, semua mahasiswa sudah siap di dalam bus kecuali Jessica, dia belum datang juga. “Lo tadi udah hubungi dia nggak sih?” Sari kawatir
“Serius. Gue udah ingetin dia, dan udah hubungi dia jangan sampai telat.” Sahut Agnes.
“Jessica nggak angkat-angkat telponnya juga.” Putri terus mencoba menghubunginya.
“Kemana sih anak itu?” cemas Sari yang masih duduk sendiri.
Tak lama kemudian, Sita datang menduduki kursi yang seharusnya diduduki Jessica. “Eh, ngapain lo duduk disini?” sambar Sari tidak terima.
“Hallooo, plis deh. Kursi ini kosong.” Sahut Sita dengan PD
“Enak aja, itu kursinya Jessica tau!!” Sela Putri.
“Ops? Siapa?” Sita berlagak tidak kenal.
“Ok, kursi semua sudah penuh?” seru dosennya sembari memperhatikan semua kursi yang sudah terisi. “Ok, kita berangkat duluan.”
“Tapi bu, Jessica belum datang?!” seru Agnes
“Dia bisa naik bus lainnya.” Jawab dosen tersebut kemudian mengambil tempat duduknya.
Tak lama kemudian, dari kejauhan Jessica terlihat berlari tergoboh-goboh membawa tasnya sampai melambaikan tangannya “hai, wait!?” serunya akan masuk ke dalam bus bersama temen-temennya, lalu salah satu dosen turun dan keluar dari bus.
“Jessica, kamu bisa naik bus yang lain.” Sapa dosennya
“Tapi bu, temen-temen Jessica ada di dalam.” Bela Jessica ngos-ngosan.
“Tapi, bus sudah penuh. Kamu bisa nyari bus yang lain. Itu, masih ada tiga bus lagi.” Tunjuk dosennya dan Jessica memperhatikannya. Dengan perasaan yang kecewa terpaksa Jessica mengikuti perintah dosennya, memang dia yang salah, dia telat.
Bus nomor dua juga sudah penuh, pastinya dia harus menuju bus paling belakang, nomor tiga. Tanpa semangat Jessica masuk, lalu dia mencari kursi yang kosong, dia lihat ada kursi yang belum ada orangnya sama sekali. Sedikit menghibur, semoga saja dia duduk sendiri tanpa ada orang disampingnya jadi kakinya bisa dia naikkan ke atas. Tanpa memperdulikan orang-orang yang sedang rebut bercanda gurau, dia langsung saja duduk dan telpon Sari. “Gue ada di bus 3, gila. Gue sebel banget nggak bisa join ama lo semua.pliss deh, sangat menyebalkan.” Kesal Jessica sembari memandang keluar jendela.
“Lebih nyebelin lagi, gue malah duduk sama Sita.” Bisik Sari di balik telpon, sedangkan Sita masih sibuk berdandan “gila tau nggak sih, satu kampus itu nggak ada yang mau duduk sama dia, gue apes banget sih?!” tambah Sari malah kebalik curhat, seharusnya Jessica yang cerita, tapi malah Jessica yang mendengar keluh kesah Sari.
“Heh, ngapain lo disini?!” sambar Alex yang tiba-tiba datang membawa sebotol minuman. Ketika Jessica menengok ke sumber suara, langsung Jessica kaget setengah mati.
“Halo, Jessica??! Halo??! Kok dimatiin sih, orang belum selesai ngomong juga?!?” kesal Sari.
“Ini kursi gue, pergi nggak lo dari sini!” bentak Alex mengusir Jessica mengambil tasnya.
“Eh, eh, eh, enak aja. Gue kesini udah nggak ada orang disini!! Jadi disini tempat gue!!” seru Jessica nggak mau kalah.
“Oh, ya?! Liat tuh, tas gue udah di atas. Gue pergi ambil minum gue nih!!” sodor Alex memperlihatkan botol minumannya. “Udah, pergi. Cari tempat lain. Jangan sampai gue ene’ liat lo disini.” Sahut Alex mengambil lagi tas Jessica.
“Eh, apa lo bilang!!” Jessica merebut tasnya kembali.
“Pergi dari kursi gue. Ene’ gue liat lo disini.” Pelan tapi Pasti Alex mengusir Jessica.
“Heh, look!! Iam not going to go from here!! Kalau lo ene’ liat gue disini, silahkan pergi dan gue tetap disini karena disini kursi gue!!” tekan Jessica tetep bersi kukuh di kursinya, malah dia menaikan kakinya ke atas sampai semua tempat duduk kemakan kaki Jessica semua.
“Alex, bisa duduk sekarang, kita akan berangkat. Cepat duduk di kursi kamu.” Seru salah seorang dosen.
Dengan terpaksa, Alex harus duduk bersama Jessica. “Singkirin kaki lo nggak!” tekan Alex dengan nada rendah. Tapi Jessica malah menjulurkan lidahnya.
“Alex, kenapa tidak segera duduk. Apa saya harus kesana dan memangku kamu.” Seru dosen itu lagi membuat semuanya tertawa. Tanpa banyak alasan, segera dia duduk begitu saja tak memperdulikan kaki Jessica yang sedang menguasai semua kursi.
“Aow!! Are you crazy!!” Jessica menyingkirkan kakinya.
“Biarin! Makanya kaki itu disekolahin dulu, biar tau dimana tempatnya.” Sindir Alex.
“Apa lo bilang!!?? Bisa nggak sih lo itu sopan dikit sama cewek?!!” tekan Jessica yang mengontrol suaranya agar tidak kedengar semua orang.
“Apa lo bilang? Sopan?” tandas Alex “Heh, gue itu sopan sama semua cewek, enak aja bilang gue nggak sopan. Yang lo harus tau, ya. Gue ragu kalau lo itu cewek benaran!” tekan Alex tak mau kalah dengan tatapan kebencian.
Jessica hanya bisa menganga mendengar Alex mengatakan itu. “Gue bener-bener benci sama lo.” Jessica menatapnya dengan penuh kebencian.
“Dan gue juga bener-bener benci sama lo.” Alex membalas tatapan kebencian itu hingga mereka tak menyadari jarak mereka sudah begitu dekat sekali.
“Kalian ngapain?” tanya Damar dari kursi depan membubarkan pandangan mereka. Jessica yang sadar segera buang muka dan mengarah keluar jendela. Sesaat kemudian Jessica mengancam Alex dengan menunjukkan jari telunjuknya.
“Denger ya. Jangan sampai lo curi-curi kesempatan!! Ngerti!” ancam Jessica kemudian buang muka lagi.
Bus pun sudah mulai berjalan, dan kondisi yang menegang masih merekat antara Alex dan Jessica, mereka tak saling mengobrol, tak saling bicara, tak saling memandang. Alex asyik dengan musiknya dan Jessica asyik memandang pemandangan dari luar bus.
Ketika bus ada goncangan karena jalan rusak, tas Jessica yang di taruk atas pun terjatuh menimpa Alex. “Gila, apa ini!” kaget Alex. Sekilas Jessica menengoknya dan mengambil tas yang baru saja menimpa Alex.
“Ini tas gue!! Awas kalau ada barang gue yang hilang.” Semprot Jessica.
“Heh, tas lo itu yang baru nimpa gue!! Enak aja nuduh gue mau ambil barang lo. Emang ada apanya tas lo itu, paling-paling juga pembalut.” Balas Alex membuat Jessica malu.
“Ih, lo itu maunya apa sih!? Lo nggak malu apa bilang gitu sama cewek!! Dasar cowok jlalatan!! Lo dari dulu nggak ada berubahnya ya!! Suka banget menyengsarakan hidup gue!!” kesal Jessica mencubit Alex kemudian membuang muka.
“Gue nggak bakalan ngebiarin hidup lo bahagia!” balas cubit Alex membuat Jessica semakin kesal.
“Aahh??? Berani-beraninya lo nyubit cewek??? Dasar resek ya!!” Jessica membalas cubitan Alex kemudian Alex pun juga membalas cubitan Jessica dan begitu seterusnya hingga mereka merasakan sakitnya masing-masing.
Setelah cukup lama berjalanan sampailah semuanya di sebuah museum. Satu per satu semua turun dari bus, ingin sekali Jessica bergegas turun dan menjauh dari cowok menyebalkan itu. Tapi, Alex malah dengan santainya duduk begitu saja. “Halloo??? Ini udah sampai. lo tau nggak sih?!! Gue mau leewwaaattt!!.” Ketus Jessica.
“Mau lewat? Ya lewat aja. Ngapain repot??” tandas Alex membuat Jessica tak habis pikir kenapa ada cowok seperti ini.
“Lo bisa mikir nggak sih, gimana gue bisa lewat kalau lo terus duduk manis disitu!!! Idiot.” Emosi Jessica memang terus diuji oleh Alex yang tak hentinya menyengsarakan hidupnya.
“So?” respon Alex begitu acuh.
“Dasar.” Jessica berusaha bangkit untuk pergi dari situasi yang menyebalkan, dia pun berusaha melangkahi Alex tanpa tersentuh sedikitpun.
“Dasar singkong!!” Alex bangkit pada saat Jessica berada tepat di depannya.
“Apa lo bilang!!??”
“Singkong.”
“Kurang ajar banget sih lo!! Gue benci sama lo!! I hate you!! Nyebelin banget lo ini!!” seru Jessica memukul-mukul Alex dan tanpa sadar Alex malah menikmatinya karena Jessica dalam dekapannya.
“Ya…terusin aja…terusin…” ucapnya membuat Jessica sadar dia dalam dekapan Alex.
“Ah, lepasin gue!! Lepas!!!” bentaknya dan Alex dengan senyum-senyum nakal mengangkat tangannya.
“Najis banget!” Jessica membersihkan badannya.
“Kayak seksi-seksi banget aja. Seksi aja enggak. Lagian mana ada cowok yang mau ama lo.”
“A, apa lo bilang? Gue bakal buktiin kalau gue itu seksi!! Dan semua cowok bertekuk lutut sama gue!!” kecam Jessica.
“Gue enggak tuh.” Sela Alex.
“Gue aja juga ogah kalau lo ampe bertekuk lutut ama gue!!” ketus Jessica kemudian membuang muka lalu pergi.
Turun dari bus, segera Jessica berlari menuju teman-temannya, tapi tiba-tiba ada yang memanggilnya.
“Jessica, mau kemana kamu?” panggil dosennya.
“Mau ke…” tangan Jessica mengarah pada bus 1
“Jessica, kamu lupa ya. Kelompok di tentukan sesuai bus nya. Kamu dari bus 3 bearti kelompok kamu bus 3, mengerti.” Jelas dosen tersebut membuat Jessica shock!! “Oh, ya. Jangan lupa ya Jessica. Kerjakan tugas kamu dengan temen sebelah kamu.” Tambah dosennya.
“Apa bu? Tap, tapi kan itu..” Jessica tak bisa bicara lagi saat dia tau bakalan Alex yang akan bekerja sama dengannya. Dia hanya bisa menghela napas dalam-dalam sembari memejamkan matanya.
Ketika sudah terbagi kelompoknya, Jessica datang menghampiri Alex. “Heh, napa lo nggak bilang kalau kelompok sesuai tempat duduknya.” Sambar Jessica
“Semua orang udah tau. Lo kemana aja. Ketauan lo nggak pernah merhatiin dosen. Lagian lo gue usir tapi pengen banget duduk sama gue.” Jelas Alex dengan santainya.
“Gila lo ya. Gue nggak bakalan mungkin pengen deket-deket sama lo!” seru Jessica.
“Nah, ini yang nyamperin gue sekarang siapa? Nenek lampir? Dasar singkong.” Sahut Alex menantang.
“Bisa nggak sih lo nggak manggil gue sing…” belum selesai bicara dosen datang menghampirinya.
“Kenapa kalian masih disini. Cepat masuk. Kita kumpul lagi jam 4 sore. Ngerti. Dan jangan lupa hasil study banding kalian. Jangan pacaran terus.” Ujar dosen tersebut berlalu.
“Pacaran??” mereka terdengar kompak. “Hiii” seru mereka bersamaan kemudian berlalu.
Semua serius dengan tugas mereka, tak ada yang rebut kecuali Alex dan Jessica yang dikit-dikit bertengkar, sebentar-sebentar bertengkar. Ketika Jessica akan minum nggak sengaja Alex menyampar dengan tasnya, hingga sebotol minuman itu tumpah.
“Aaahh? Hei!!!!” kesal Jessica “Lo itu bisa lihat nggak sih!! Tas elo itu bisa lihat nggak sih!” tambahnya membuat Alex tersenyum sengit.
“Kakek-kakek pun tau, kalau tas itu nggak bisa liat. Ini orang ajak berantem terus ya.” Sahut Alex
“Yang ajak berantem itu elo!! Liat minuman gue jatuh gara-gara tas lo itu! Sini minuman lo buat gue!!!” Jessica merebut minuman yang Alex bawa.
“Eh, gila ini cewek. Kembaliin nggak!!” rebut Alex, tapi Jessica tak memperbolehkannya, ketika Alex terus memaksa merebutnya, Jessica malah meminum habis minuman Alex.
“Yah, dihabisin? Yah? Habbis? Lo? Lo bener-bener parah, ya?!” kejut Alex minumannya dihabiskannya seketika, dan Jessica berbangga diri udah habisin minuman Alex.
“Parah lo ya? Minuman bekas gue lo embat semua. Hahhaha. Lo? Hahahaha. Thank’s ya udah dihabisin bekas minuman gue.” Tawa Alex puas karena ulah Jessica sendiri, Jessica jadi malu sendiri.
Jam sudah menunjukan 4 tepat, semua sudah duduk di kursinya masing-masing. Sementara Alex lagi berantem tempat duduk dengan Jessica “Lo kan tadi udah duduk di deket jendela, sekarang giliran gue yang duduk disitu.”
“Enggak!!!”
“Pindah!”
“Enggak ya enggak.” Kecam Jessica tetap duduk di kursinya sedangkan Alex terus menarik tubuh Jessica.
“Lo ini ya, maunya menang sendiri.” Kesal Alex.
“Lo sendiri gimana? Juga sama kan?!” balas Jessica.
Menjelang petang, semua bus berhenti ke sebuah rumah makan. Akhirnya Jessica bisa berkumpul bersama teman-temannya.
“Gila ya, gue duduk sama Alex. Kayak neraka tau nggak!” Jessica melampiaskan emosinya dalam makanan.
“Apa? Kok bisa?!” kejut Putri.
“Nggak ada tempat lagi. Gue harus duduk dimana? Apes banget gue hari ini. Sial.” Keluh Jessica terus melahap makanannya.
“Tapi juga pelan-pelan kali makannya. Entar keselek biar tau rasa.” Tutur Agnes mengambilkan air minum.
“Lo tau sendiri kan, dosen kalau bagi kelompoknya gimana? Gila.” Jessica terus ngomel-ngomel.
“Nah, itu. Gue juga stress kalau gue duduk sama Sita. Yang ada gue bakalan diperes otak sama dia.” Sari juga dalam masalah.
“Gue ngerti kok, Sar.” Agnes membelai rambut Sari.
“Nanti gue bantuin juga deh, tenang aja.” Seru Putri.
“Makasih ya…” Sari tersetuh temannya begitu sayang padanya. Lalu mereka pun menikmati makanannya sembari bercanda gurau.
**********
Bus pun bersiap untuk pulang, ketika Jessica akan naik bus. Dia melihat Alex mengendap-endap seperti sedang mengintai sesuatu. “Lo ngapain sih disini?!” tekan Jessica dengan suara berbisik mengagetkan Alex.
“Lo ini, ngapain juga lo ikut kesini!?” bisik Alex.
“Ye…enak aja. Gue nggak kan biarin lo kabur dan memaksa gue untuk ngerjain tugas ini sendi…” belum selesai bicara Alex membungkamnya tiba-tiba.
“Ssstt…” ucapnya tanpa melihat Jessica yang terkejut, lalu meminta Alex untuk melepaskan tangannya. “Kalau lo mau ikut gue, jangan berisik. Ini seru.” Tambah Alex lagi, kemudian mengikuti segerombolan orang mengenakan jas hitam berjalan masuk kesebuah gedung.
“Heh, kita ngapain sih ikutin mereka. Bus mau jalan. Udah balik aja.” Pinta Jessica.
“Heh, siapa lo?! Kalau lo mau balik, balik aja sono. Toh, gue bukan anak kecil lagi. Gue bisa pulang sendiri. Dasar anak sigkong.” Ejek Alex, lalu Jessica pun menyikutnya.
“Jangan panggil gue singkong!”
“Berisik.” Alex kemudian ikut masuk ke gedung itu.
“Eh, tunggu. Dasar gila. Emangnya gue nggak tau apa akal bulus lo, bilang aja lo mau kabur dari gue.” Omel Jessica dari belakang Alex. Disamping itu, semua bus sudah jalan meninggalkan mereka berdua.
“Aku mau barangnya. Jika kamu tidak berikan, jangan harap kamu bisa keluar dari sini hidup-hidup.” Obrol segrombolan orang-orang itu mengejutkan Alex dan Jessica.
“Lets go, we have to go from here.” Bisik Jessica ketakutan.
“Sebentar lagi. Ini sepertinya…jual beli gelap.”
“Ini bahaya. We should call the police.”
Ketika Jessica ingin melihat apa yang dilihat Alex, seketika Jessica langsung terkejut setengah mati, karena saat dia melihat, saat itulah salah satu dari mereka menusuk rekannya hingga mati. Jessica hampir berteriak tapi sudah di bungkam Alex terlebih dahulu. Jessica ketakutan.
“Tenangin diri lo dulu, ok. Kita akan segera pergi dari sini dan laporin mereka ke polisi.” Ujar Alex, saat mereka akan beranjak pergi tiba-tiba ada yang menepuk punggung mereka berdua lalu orang tersebut menyemprotkan obat bius.
***********
Sementara di dalam bus 3. “Kenapa kursi Alex dan Jessica kosong?” tanya dosennya.
“Tersesat mungkin, bu.” Sahut salah seorang mahasiswa.
“Mungkin ikut bus yang lain.” Sahut teman lainnya. Segera dosen tersebut mencari informasi dimana Alex dan Jessica berada.
Cukup lama mereka berdua pingsan, hingga ketika sadar. Mereka sudah di sekap dan diikat. “Bagaimana tidurnya?” sapa pria setengah baya. “Apa yang kalian lakukan disini? Ouh…apa kalian sedang mencari tempat untuk b******a? Huu…romantis sekali, apalagi ditambah mengintai kami.” Orang itu mendekat pada Jessica yang begitu ketakutan.
“Cantik, mmhh…cantik sekali.” Kata pria itu kemudian melihat Alex yang berusaha melepas ikatannya. “Hohohoho, kamu ingin melepas ikatanmu. Mau saya bantu? Atau kamu mau bicara sesuatu?” pria itu melepas bekapan mulutnya. “Boleh cewek ini untuk saya aja?” tanya pria itu, karena Alex sering bertengkar dengan Jessica, dia pun lupa akan kondisi berbahaya seperti ini.
“Ambil aja, toh dia juga bukan siapa-siapa gue. Lagian siapa juga yang mau dengan dia.” Jelas Alex tak menyadarinya, mata Jessica pun terbelalak mendengar Alex berkata seperti itu.
“Hahahaha, ok. Ambil dia bawa ke ruanganku. Kalian tunggu waktunya.” Perintah pria itu tertawa. Tak perlu susah payah membawa Jessica. Ketika Jessica akan dibawa pergi, barulah Alex sadar apa yang dikatakannya dalam situasi seperti ini salah besar.
“eh, eh, eh. Mau dibawa kemana? Tunggu, tunggu, tunggu. Gue berubah pikiran. Tanpa dirinya, aku nggak bisa berbuat apa-apa.” Ucap Alex, tapi Jessica masih tak percaya dalam situasi denting seperti ini, dia masih saja menyengsarakan Jessica. “Emh, maksud gue. Kalau kalian bawa terus gue mau jailin siapa lagi. Eh, maksud gue siapa yang harus aku cintai lagi.” Tambahnya malah memperumit keadaan.
“Hahahahaha, kamu ini…bawa cewek itu ke ruanganku.”
Jessica pun memberontak tapi apa daya jika dia melawan dua orang laki-laki yang bukan tandingannya. Melihat itu, seketika Alex memberontak untuk menolong Jessica, dia pun membenturkan kepala ke kepala pria itu sampai ambruk, tapi kemudian dia dikroyok oleh anak buahnya. Jessica pun terlepas dan Alex babak belur karena tangannya terikat dan tak bisa membela diri.
Akhirnya, mereka berdua pun dikurung di sebuah ruangan. Alex yang babak belur diikat di bawah meja, sedangkan Jessica terikat tangan dibelakang, dia tak bisa bicara karena lakban hitam yang kuat masih merekat pada bibirnya.
“Kita harus melarikan diri dari sini. Pasti semua orang bingung mencari kita.” Desis Alex menahan rasa sakitnya. Sesaat suasana hening memikirkan untuk melarikan diri, kemudian Alex pun menemukan sebuah ide.
“Gini aja, pertama-tama gue lepasin bungkaman lo.” Saran Alex. Jessica pun mengkerutkan keningnya, dia berpikir dengan apa?
“Gue nggak ada maksud apa-apa, Cuma ingin lepasin sekapan itu, dari pada gue ngomong sendiri nggak ada pendapat lain, lo tahu kan?” jelas Alex. Tapi Jessica masih tak mengerti dia masih bertanya-tanya.
“Lo kesini, karena gue nggak bisa kesana,ok.” Jessica pun dengan patuh mendekat pada Alex. “bagus.” Alex pun lebih mendekat sebisanya pada Jessica, tapi tiba-tiba Jessica mengerti, dia pun menghindar dan ngomel-ngomel dengan bahasa yang tak jelas dengan mata melotot. “Itu jalam satu-satunya, harus pakai apa lagi. Lo mau di jual mereka dan nggak bisa pulang lagi. Ini keadaan emergency. Lo harus tau, nggak ada cara lain lagi.” Jelas Alex supaya Jessica menurutinya. Lalu pelan tapi pasti, Jessica mendekat lagi pada Alex dengan terpaksa.
Pada saat Alex akan membuka lakban itu dengan bibirnya, Jessica malah menjauh-jauh dan tambah jauh hingga Alex tak bisa menjangkaunya.
“Lo gimana sih? Mana bisa gue buka kalau lo jauh seperti itu.” Seru Alex. “Lo mau melarikan diri dari sini nggak?” kesal Alex
Jessica pun menarik nafas dalam-dalam, dengan jalan berlutut Jessica mendekat pada Alex sambil menutup matanya. Kemudian Alex pun merasa gampang-gampang susah berusaha membuka bungkaman itu, sedangkan Jessica tak mau membuka matanya dengan keadaan seperti itu, cukup lama Alex berusaha. Ketika akan berhasil tiba-tiba tubuh Jessica tak seimbang dan membuat Jessica ambruk ke badan Alex yang masih terikat itu. Seketika Jessica terbelalak matanya berharap ini hanya mimpi kerana bibirnya bisa merasakan bibir Alex, begitu pula sebaliknya.
Akhirnya, lakban pun dapat dilepas. Dan Jessica segera bangkit dari tubuh Alex. “Anggap saja kejadian ini nggak pernah terjadi diantara kita, sampai lo bocorin masalah ini sama temen-temen lo, mati lo. Dan jangan anggap yang nggak-nggak tentang apa yang terjadi. Semua hanya kecelakan, ngerti lo.” Ancam Jessica dengan menekan suaranya lirih. Sedangkan Alex hanya tersenyum kecut sembari memandang Jessica. “Ngapain lo senyum-senyum kayak gitu?” Jessica menyesal telah menuruti ide Alex yang konyol itu sehingga terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.
“Lo pikir gue suka, gila. Masih banyak cewek yang mau sama gue dan asal lo tau, banyak bibir yang lebih seksi lagi.” Cengir Alex.
“Apa lo bil…” belum sempat bicara, Alex menyelanya “Lo mau berantem sama gue terus atau melarikan diri dari sini? Kalau lo mau cepet-cepet selamat cepet lepasin ikatan gue di belakang ini.” Jelas Alex membuat Jessica tak bisa berbuat apa-apa.
Jessicapun segera berusaha melepas tali yang terikat di tangan Alex dengan mulutnya. Dengan sekuat tenaga, tak lama kemudian talipun bisa terlepas. Kemudian Alex melepaskan ikatan tangan Jessica. “Sssstt, ikuti gue.” Perintahnya dengan suara pelan hati-hati menuju pintu keluar. Lalu dia dekatkan telinganya ke daun pintu. “Gue nggak tau ada berapa orang diluar sana, dan gue nggak tau mereka bersenjata atau nggak, yang gue tau mereka berbahaya.” Alex terus memutar otak untuk keluar dari tempat bahaya itu. Dia melihat semua sekelilingnya, dia gandeng tangan Jessica, tapi tiba-tiba Jessica menepisnya.
“Dont touch me.” Ketusnya dalam situasi seperti itu. Alex pun menggelengkan kepalanya tak menyangka. Lalu dia melihat sebuah lemari yang tak terlalu besar di pojok ruangan.
“Lo harus masuk ke dalam, gue cari tempat lain.” Ujarnya menyebarkan seluruh pandangannya di ruangan itu.
“Gue nggak mau, gue takut. Gue…gue…gue nggak mau jauh dari lo…lo juga harus bersembunyi disini juga.” ucapnya terpaksa mengatakannya.
“Lo ini, mana cukup lemari segitu buat berdua.” Sahut Alex, tapi Jessica tetap tidak mau. Alex pun menghela napas.
Setelah cukup lama, tiga orang jahat itu masuk kedalam untuk melihat keadaan mereka, ketika membuka pintu mereka sangat terkejut, tawanannya hilang. Segera salah satu dari mereka segera pergi memberi tahukan kabar itu. Dan sisanya memeriksa seluruh ruangan dengan menggunakan s*****a api.
Dengan tempat yang begitu sempit, Alex dan Jessica bertahan untuk bersembunyi, Jessica yang terlindung di tubuh Alex membuat dirinya tau salah satu sifat Alex yang memiliki jiwa pelindung.
“t***l KALIAN SEMUA.” Seketika bos mereka yang baru datang, tiba-tiba ngamuk seperti itu. “GUE GAJI KALIAN NGGAK BUAT UNTUK SENANG-SENANG AJA!! KALAU SAMPAI MEREKA BISA KABUR DARI SINI, KALIAN BAKALAN MATI. NGERTI!!” bentaknya. “SEKARANG CARI MEREKA SAMPAI KETEMU. BILA PERLU BUNUH MEREKA.” Kecamnya, Jessica terkejut, dia bungkam mulutnya dengan kedua tangannya untuk menahan suaranhya yang ketakutan.
Segera mereka mencari Alex dan Jessica. Setelah keadaan sepertinya sudah terdengar sepi. Barulah mereka keluar berlahan-lahan. Terlihat Jessica sangat ketakutan. “Dengerin gue, apapun yang terjadi lo bakal selamat dari sini.ok? trust me.” Yakin Alex membuat Jessica mengangguk-angguk. Lalu Alex menggandeng Jessica menuju ke pintu. Ia buka sedikit pintu itu untuk melihat keadaan. Sepi. Hanya ada tiga penjaga di ujung pintu depan.
Dengan berlahan tapi pasti, Alex mengajak Jessica keluar dengan sangat berhati-hati. Alex mengambil suatu benda yang bisa dia lempar untuk memancing penjaga itu. BRRUUKK
“Suara apa itu?” salah seorang penjaga.
“Gue periksa dulu.” Sahut yang lain.
Tak lama lagi ada suara lagi, dan salah satu penjaga itupun pergi memeriksa, dan sekarang tinggal satu lagi penjaga. Dan Alex pun melempar jauh benda yang dia bawa, sehingga membuat penjaga itu harus mengeceknya.
Setelah penjaga itu satu persatu pergi, barulah Alex dan Jessica berani melangkah untuk meloloskan diri. Ketika pintu terbuka, ternyata dibalik pintu mereka sudah di kepung dengan todongan pistol tepat dihadapan mereka. Seketika mereka terbelalak dan tak bisa berbuat apa-apa. “Mau kemana kalian?” ucap orang yang berdiri tepat di hadapannya.
“POLISIII!!!!!!” Teriak Jessica begitu kencang membuat semua orang terkejut takut, dengan segap Jessica menarik tangan Alex dan kabur pada saat orang-orang tidak memperhatikan mereka berdua.
Mereka pun lari secepat mungkin untuk melarikan diri, segera para penjahat yang menyadarinya mengejar mereka, salah satu dari mereka ingin melecutkan tembakannya, tapi dia cegah oleh bosnya, dia kawatir jika benar ada polisi ataupun orang lain yang melihat.
Cukup jauh mereka berlari hingga Jessica tak sanggup lagi berlari. “Gue nggak kuat lagi.” Ucap Jessica ngos-ngosan membungkukkan tubuhnya.
“Sedikit lagi, kita harus ketempat yang ramai.” Seru Alex.
“Gue udah nggak kuat lagi.” Nyerah Jessica, tapi penjahat itu pasti mengejar mereka sampai tertangkap. Tanpa berpikir panjang, Alex menarik tangan Jessica kemudian menggendong di punggungnya, sontak Jessica kaget dengan apa yang dilakukan Alex.
“Ngapain lo??!” kaget Jessica tapi Alex tak menggubrisnya, dia tetap berlari sambil menggendong Jessica.
Setelah cukup lama berlari, dan nafas Alex mulai terdengar ngos-ngosan, ada sebuah mobil hitam yang lewat, segera mereaka menghentikannya dengan berdiri tepat di depan mobil tersebut sampai berhenti. Pemilik mobil itu pun membuka jendela sembari marah-marah.
“Pak, kami butuh tumpangan. Pacar saya sedang sakit parah pak?! Saya mohon pak, tolong kami.” Bujuk Alex membuat Jessica terbelalak matanya, dia pun diam-diam mencubit Alex.
“Mau dibawa kemana?” pria tersebut kasihan melihat mereka. “Ke rumahnya aja, pak.”
“Ya sudah, cepat masuk.” Ucap pria tersebut mempersilahkan mereka.
Selama perjalanan Jessica terus berpura-pura sakit. “Sakit apa pacar kamu itu?” tanya pria tersebut.
“Badannya panas, banyak bentolan merah di tangan dan kakinya, terus ditambah lagi matanya juga layu, pandangannya seperti tidak fokus, dia juga mengeluarkan keringat terus, dan juga dia…” belum selesai bicara Jessica menyubit Alex yang bicara nglantur kemana-mana mendoakan Jessica itu bener-bener terjadi. Barulah Alex sadar dan dia hanya cengar-cengir. “Kalian ini darimana?”
“Kami dari rumah temen, pak. Saat kami mau pulang mobil kami mogok, dan tiba-tiba penyakitnya kambuh.” Ujar Alex lagi melantur membuat Jessica begitu kesal dan mencubit Alex lagi.
“Kamu pacar yang perhatian sekali, ya.” Ucap pria tersebut membuat Alex besar kepala, sementara Jessica komat-komit kesal pada Alex.
*********