Dalam perjalan pulang, Jesica hanya bisa menangis di dalam mobil tanpa sepatah katapun, ia hanya menatap ke luar jendela.
“Jesica, kakek percaya kamu tidak mungkin melakukan perbuatan itu, pasti ada jalan keluarnya." membelai rambut cucunya. "Sudah jangan menangis lagi. Semua akan baik-baik saja.” Tutur beliau, tetapi Jesica tidak mendengarkannya, ia tetap saja menangis.
Hingga sampai rumah, mobil belum sempat berhenti sepenuhnya, ia sudah membuka pintudan beranjak turun tanpa hati-hati “Semua nggak akan baik-baik aja!!" membanting pintu mobil "Kalau semua baik-baik aja, seharusnya Jes masih diperbolehkan sekolah!!! Tapi ini enggak!!!” Teriaknya sambil berlari ke dalam rumah menuju kamarnya dan membanting daun pintu lalu menguncinya. Ia pun menangis dibalik pintu kamarnya. Terlungkup.
“Sayang...kamu jangan seperti ini..kakek sedih melihatnya.” Ucap kakek di luar pintu “biarkan kakek masuk.”
“Jesica nggak melakukannya kek...itu bukan punya Jesica..” isak tangisnya “Bahkan Jes nggak tau dapat dari mana barang itu!! Jesica nggak mau ke pengadilan...Jesica nggak mau ke kantor polisi...Jesica nggak mau di penjara kek... Jesica enggak mau... Jesica enggak bersalah...” isak tangisnya semakin histeris.
“Kakek tahu, sayang...kakek tahu...kakek tidak akan membiarkan itu terjadi sama cucu kakek...sekarang kamu buka pintu ini buat kakek ya...” ujar kakeknya lembut.
Tak lama kemudian, pintu pun terbuka dan ia peluk kakek erat-erat.
******
Sepulang sekolah, Jonathan menyempatkan diri ke rumah Jesica. Ia ingin tahu kondisinya setelahkejadian itu, sebab berita tersebut begitu menggemparkan sekolah.
Tok, tok, tok. Suara ketukan pintu kamar Jesica "Non, ada yang nyari." seru bibi dibalik pintu.
"Suruh pulang aja bi." suara serak Jesica
"Gue nggak akan pulang sebelum ketemu sama elo!" sahut Jonathan bikin Jesica tertegun "gue bakal nunggu lo sampai lo mau buka pintu." tekan Jonathan.
Beberapa saat barulah Jesica buka pintu. Muka lebam dan mata berkantung menandakan kalau Jesica terus-terusan menangis "Jes." Sapa Jonathan lembut.
Tatapan mata Jonathan yang dalam membuat mata Jesicaberkaca-kaca, menggigit bibir bawah menahan derai air mata yang hampir nggak terbendung. Entah darimana rasa itu, tiba-tiba Jonathan tarik lengan Jesicalalu memeluk erat. Dan tangis Jesica pun pecah dalam pelukan cowok trouble maker ini.
"Gue percaya, kalau itu bukan milik elo." Ucap Jonathan berusaha menghibur Jesica yang angguk-angguk kepala ditengah tangisnya "gue bakal cari tahu siapa yang ngejebak elo. Gue janji."
"Gue...gue...malu...gue malu Jon..." Isaknya.
"Jesica." panggil Dion yang baru datang bersama Tari. Jonathan lumayan kaget dengan kedatangan mereka. Ia lepas dekapannya dan ngebiarin Jesica hampiri mereka.
Tari memeluknya erat "Lo tenang aja. Semua pasti baik-baik aja." tutur Tari kemudian melepas pelukannya. Dion menatapnya penuh iba, ia genggam erat tangan Jesica lalu mengusap air matanya kemudian pelan-pelan memeluknya.
"Gue kenal lo. Pasti bukan lo. Gue percaya" Dion melepas dekapan lalu memegang kedua pipi Jesica sembari sesekali ngusap air matanya. Ia pun mangguk-mangguk.
******
“Ini uang yang gue janjiin sama lo. Good Job.” Radit memberikan sebuah amplop coklat pada Roni di toilet kemudian lekas pergi meninggalkan Roni.
Dari luar toiletia berpapasan dengan Jonathan, ia hanya nepuk pundak Jonathan sembari tersenyum tipis, tanpa membalas senyuman itu Jonathan masuk ke dalam toilet dan ia mendapati Roni sedang menghitung lembaran tebal uang lima puluh ribuan. “Gila lo, man. Kaya lo sekarang?” sapanya meninju kecil lengan Roni.
“Biasa...baru dapet job...” serunya terus asyik menghitung lembaran-lembaran tersebut.
“Job apaan sampai banyak gitu...lo semalem mangkal di jembatan mana? Hahaha?” godanya sembari masuk ke kamar kecil.
“Gila lo, lo pikir gue rempong apa?” kesal Roni “Najis tau, cin...” nadanya menirukan suara banci “Udah ah, gue cabut dulu. Ini yang baru namanya kerja enak...cuma naruk udah dapet duwit...” cerocosnya berlalu tanpa sadar apa yang baru saja ia katakan.
Jon yang awalnya ikut ketawa di dalam kamar kecil, sejenak jadi terdiam dan berfikir tentang ucapan Roni barusan.
.
******
Sepanjang pelajaran hingga pulang, Jonathan terus memikirkan ucapan Roni di toilet itu. Rasanya itu tidak mungkin, Roni tidak mungkin melakukannya. Tapi, Job apa yang baru dia lakukan.
Sepulang sekolah segera Jonathan ke rumah Jesica. “Mas, non Jes baru nerima surat dari kepolisian untuk menghadiri pengadilan.” Ucap bibi yang baru membukakan pintu untuk Jonathan.
Mata Jon cukup terbelalak “Serius bi?!!” kagetnya setengah mati, dan rasanya jantungnya berdetak tak karuan mendengarnya. Bibi pun nganggukin kepala sedih.
“Tuan besar sekarang sedang dikamar non Jes, nenangin non Jes yang terus menangis.” Ujar bibi sembari mempersilahkan masuk kemudian mengantarnya ke kamar Jesica.
Terlihat ia menangis tersedu-sedu dalam pelukan kakek dengan menggenggam selembar kertas di tangan kanan. Air matanya tak bisa berhenti bercucuran “Jes nggak bersalah kek...Jes...Jes... nggak bersalah, Jes nggak mau ke pengadilan...Jes takutt...kek...Jes takutt...” histerisnya.
“Gue bakal buktiin kalau lo nggak bersalah. Gue percaya, lo nggak mungkin lakuin itu.” Yakin Jonathan berdiri di depan pintu mengalihkan perhatian kakek dan Jesica yang masih terisak-isak.
******