Terik matahari siang ini benar-benar panas. Keringat bercucuran disekujur tubuh luar dalam. Ampun, mang Jaja kemana sih ngak nongol-nongol. Dongkol Jesica didepan sekolah mondar- mandir. "Kakek..." keluhnya sudah bosan harus menunggu "lama-lama mending gue naek angkot aja kali daripada kayak gini terus. Ngejengkelin." Gumamnya sendiri.
Jonathan yang memperhatikan Jesica berniat menghampirinya. Tapi baru aja ngegas motor, Radit tiba-tiba datang menghampiri Jesica duluan dan cukup membuat Jonathan mengkerutkan kening.
“Hai, Jes. Nunggu jemputan, ya?” tanya Radit sok care diatas motornya. Meski sebenarnya Jesica sendiri merasa aneh dengan sikap Radit yang tiba-tiba nyapa dirinya begitu ramah habis diskrongsing, ia tetap merespon cowok dihadapannya ini dengan nganggukin kepala sekali "Gimana kalau lo gue anter pulang?" tawar Radit bikin Jesica tambah bingung. Anak ini baru makan apaan kok tiba-tiba sok care gini sama gue. Pikirnya. "daripada nunggu lama.” tambah Radit.
“Enggak usah makasih, mungkin jemputan gue sebentar lagi datang.” Sahutnya.
“Ayo, nggak apa-apa kok.”
“Enggak usah Radit, gue nggak enak. Entar lo malah kerepotan.”
“Udah, yuk!” paksa Radit.
Jonathan merasa ada gelagat aneh dari Radit, apalagi Radit sepertinya sedikit memaksakan diri untuk mengantar Jesica pulang. Lalu ia mutusin untuk nyamperin mereka, tetapi nggak lama jemputan Jesica sudah datang.
“Sorry ya, Radit. Mungkin lain kali aja.” serunyamasuk kedalam mobil. Jesica merasa sedikit aneh setelah melihat perubahan Radit yang begitu ramah dengannya.
Dan sekarang Radit benar-benar berubah. Beberapa hari ini, Radit begitu perhatian dengan Jesica. Ia sendiri juga kurang mengerti kenapa Radit berubah baik padanya. Sebenarnya nggak ada masalah sih orang bisa berubah baik. Ini tandanya nggak ada kebencian dan dendam lagi dalam dirinya.
Namun berbeda dengan Jonathan, ia merasa ada yang mengganjal pada perubahan Radit, ia kenal betul siapa teman-temannya. Gimana sifat temen-temennya yang nggak mudah maafin orang begitu aja. Jadi, kalau Radit berubah seratus delapan puluh derajat dan perhatian dengan Jesica itu bener-bener aneh.
Apalagi kalo mereka berdua sedang bercanda gurau bersama, bagi Jonathan itu nggak mungkin banget. Jesica adalah orang yang bikin Radit diskorsing. Dan sekarang Radit malah...? pikirnya penuh tanda tanya. Apa yang direncanain Radit.
******
Baru aja Jesica sampai di gerbang sekolah, nggak lama mang Jaja datang. Tumben. Bergegas masuk kedalam mobil. "Gini dong mang..." serunya sambil nyari posisi duduk pewe. Mang Jaja hanya bisa tersenyum sopan.
Diwaktu bersamaan tempat berbeda, Radit yang baru aja keluar kelas dibalik tembok tiba-tiba disergap Jonathan “Sebenarnya mau lo apa,hah?!” sambarnya.
“Maksud lo apa-apaan nih?”
“Nggak usah sok polos deh lo!" menarik kerah Radit. "Gue kenal siapa lo, lo nggak semudah itu maafin orang.” mendorong Radit sampai mundur beberapa langkah.
“Heh!! Gue nggak mau punya masalah sama lo! Lo itu temen gue!” sahut Radit meninggi.
“Ngaku nggak lo, kalo lo punya rencana buruk sama Jes!!” teriaknya yang udah terlihat nggak bisa mengontrol emosi.
Jesica yang masih dalam perjalan pulang teringat sesuatu. Kayak ada yang kurang. Batinnya geledah isi tasnya. Buku matematika gue? Tuh kan, ketinggalan. Haduh...Bisa berabe kalau nggak diambil. Besokkan ujian. “Mang, balik ke sekolah dulu ya, ada yang ketinggalan.” Serunya. Mang jaja kemudian memutar balik mobil dan kembali ke sekolah.
Sementara Jonathan masih debat, ia masih menahan Radit. “Apa mau lo sebenarnya deketin Jes,hah!!?” bentaknya dengan raut muka yang mulai merah hitam.
“Apa-apaan sih lo Jon, suka-suka gue lah. Apa urusannya sama lo!!?” balas Radit mulai ngelawan.
“Heh,dengar gue baik-baik!! Mulai sekarang lo jauhi Jes!!! Kalau nggak, gue nggak pandang lo sebagai temen gue!!” ancamnya.
“Apa hubungan lo sama dia,hah!!!?” teriak Radit berani mendorong dirinya.
“s****n LO!!” Jonathan tambah emosi banget. Berani-beraninya Radit dorong dirinya. Tanpa basa-basi ia nonjok muka Radit sampai terpanting. Radit tidak terima, ia juga terbakar emosi sampai-sampai nggak sadar berani membalas hantaman Master Trouble Maker itu. Karena Jonathan sudah biasa kelahi, ia pun begitu mudahnya ngeles lalu menambah tonjokan ke muka Radit lagi. Nggak ada yang tahu mereka berkelahi.
Mobil Jesica baru aja berhenti didepan gerbang sekolah. “Mang Jaja tunggu bentar, aku ambil buku dulu kedalam.” Serunya keluar dari mobil kemudian bergegas masuk ke sekolah menuju kelas ambil buku dilaci mejanya.
Sesampai dari kelas segera ia rogoh laci dan ambil buku tersebut. Nah, ini dia. Masukin kedalam tas. Lalu ninggalin kelas.
Nggak jauh dari kelasnya ia mendengar sesuatu seperti suara ribut. Suara apa ya. Pengen tahu, ia pun mutusin buat ngintip sebentar. Daripada penasaran sampai besok. Ia pun berbalik arah melangkah menuju sumber suara.
Keadaan Jonathan dan Radit sama-sama babak belur tapi yang paling parah pastilah Radit. Mukanya memar dimana-mana sampai hidungnya mimisan sedangkan Jonathan cuman dibagian bibir pojok kanan.Meski Radit sudah babak belur, Jonathan terus aja aja mukulin dia tanpa ampun.
“JONNNNN!!!!!?????” teriak Jesica hentiin Jonathan yang mau nonjok muka Radit lagi, ia menoleh. Jesica. Kejutnya.
Jesica berlari menuju mereka. “Kalian ini apa-apaan!!!!?????” serunya berdiri diantara mereka. Bukannya merespon pertanyaan Jesica, ia malah mukul keras perut Radit sampai terbungkuk. Mata Jesica terbelalak “JONN, STOP!" menahan tangan Jonathan lalu membuangnya dengan tatapan penuh kekecewaan. “Lo tuh apa-apaan!!!??? Lo gila apa!!!???” bentaknya "Radit itu temen lo!" teriaknya sementara Jonathan hanya diam memandanginya.
Radit nggak kuat berdiri, badannya tergopoh-gopoh mencari tempat duduk. “Ra, Radit? Radit?” seru Jesica menyusul untuk membantu menahan tubuhnya, kemudian ia papah ke sebuah kursi panjang dengan hati-hati. Ia tengok Jonathan yang masih bersandar di tembok ngelus-ngelus memarnya. "Bentar ya...lo tunggu disini." berlalu hampiri Master Trouble Maker itu.
“Jelasin sama gue!!! Napa lo buat gini sama Radit, hah!!??" cercanya ngos-ngosan "Lo kira lo tuh jagoan!!! Lo, lo bener-bener nggak punya hati!!! Dia itu temen lo. Sahabat lo." makinya terus-terusan tapi Jonathan malah nggak gubris, ia cuman ngelus lukanya.
Radit yang masih istirahat di kursi, menengok kearah Jesica yang masih mencaci maki Jonathan. Senyum kecut keluar diraut mukanya yang babak belur. Lalu ia menguatkan diri untuk berdiri.
Jesica memutar bola mata seratus delapam puluh derajat bersamaan dengan hela napas. Nggak tega juga lihat nih anak kesakitan. Merogoh tasnya bermaksud ambil tisu kemudian langsung ia usap luka Jonathan “Aow…Aow…Aow…” desisnya kesakitan.
“Sebenarnya apa masalah lo sama Radit? Sampai lo buat babak belur dia??? Gue nggak suka lo main seenaknya, lo pikir lo bisa gantiin nyawa mereka kalau ada apa-apa. Radit orangnya baik. Lo harus minta maaf sama Radit.” cetusnya kemudian pergi begitu saja ninggalin cowok trouble maker itu sendirian.
“s**l” ninju tembok karena merasa kesal.
******
“Pak, ijin mau ke toilet.” Jonathan angkat tangan kanan meminta ijin. Dia pun keluar kelas buru-buru menuju toilet, ditengah jalan dia bertemu Roni yang baru saja turun dari lantai dua. “Ngapain lo dari atas?” Sidiknya penasaran.
“Oh, enggak apa-apa, gue barusan nyari pak Hendra. Ternyata nggak ada.” Jawab Roni terlihat bingung “Ok, gue cabut dulu.” Tepuk Roni ke pundaknya kemudian berlalu.
Sesaat Jonathan diam terpaku sembari memandang kepergian Roni, namun ia tersadar saat perutnya merasa mules. Segera berlari ke toilet.
Rasanya pelajaran olah raga hari ini begitunguras keringat. Pertandingan basket yang begitu sengit membuat Jesica hampir kewalahan dengan skors yang seimbang. Tapi dengan rasa yang penuh semangat dan percaya diri ia tidak mau kalah, setidaknya bisa lebih unggul satu angka dari tim lawannya.
Ketika ia mendapatkan bola, dan akan melakukan gerakan lay up shoot, tiba-tiba pak Eko selaku guru olah raga memanggil dirinya ditemani pak Leo yang ada disebelah beliau. Ia terpaksa menghentikan gerakan tersebut lalu memberikan bola pada temannya dan berlari menuju pak Eko. “Ya, pak?” Serunya dengan ngos-ngosan.
Pak Leo menghela napas, lalu dia pandang Jesica “Ikut saya ke kantor.” Ucap pak Leo.
“Ada apa, pak?” tanyanya sedikit terkejut karena hari ini ia merasa belum buat ulah sama sekali tetapi kenapa harus dipanggil.
“Sekarang, ikut saya ke kantor.” Tegas pak Leo sekali lagi, dan mau nggak mau ia ikut bersama pak Leo sembari mengangkat bahunya.
Ketika sampai di ruang kantor, banyak guru sudah berkumpul di ruangan dan ada tiga polisi di ruangan tersebut, dengan wajah bingungnya Jesica terus mengikuti pak Leo dari belakang sembari bertanya-tanya dalam hati sebenarnya apa yang telah terjadi. “Masuk, Jesica.” Perintah pak Leo. Ia tambah bingung lagi kenapa sampai dirinya harus masuk ke ruangan Kapsek.
“Pak, sebenarnya ada apa ini?” bisiknya ingin tahu, tapi tak ada satu guru pun yang memberi tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Lalu duduk di depan meja Kapsek.
“Jesica, kamu tahu. Kenapa kamu di panggil ke ruangan saya?” tanya Kapsek, tetapi dengan polos ia hanya menggelengkan kepala. “Kamu sudah benar-benar melampui batas Jesica. Wali kamu sudah bapak panggil untuk datang ke sekolah.” Tegas Kapsek membuatnya semakinenggak mengerti.
“Maksud bapak apa? Salah Jes apa pak?” belanya mulai tidak tenang karena Kapsek memanggil kakeknya untuk ke sekolah. Pasti ada sesuatu hal yang sangat buruk sampai-sampai kakek disuruh kesini, tapi apa?
“Kamu masih belum sadar apa kesalahan kamu.” Garang Kapsek tersebut, dan mata Jesica mulai berkaca-kaca.
“Saya tidak melakukan tindakan jahat apapun, pak...” belanya lagi menahan air matanya.
“Memang benar kamu tidak melakukan tindakan apapun, tapi kamu telah membawa obat terlarang di sekolah ini.” Bentak Kapsek meletakkan tas milik Jesica diatas meja kemudian pelan-pelan Jesica membuka isi tas yang terdapat plastik klip ukuran kecil yang berisi obat-obatan yang sama sekali tidak dia kenal.
Bibir Jesica terbuka lebar-lebar, matanya terbelalak nggak percaya apa yang ia dapati didalam tas. Air mata pun terjatuh basahi pipi. “Kamu telah mencoreng nama baik sekolah kita!!” tambah Kapsek itu sangat garang.
“Pak, saya sama sekali tidak pernah menyentuh barang seperti itu, saya berani bersumpah!Pak...saya tidak tahu tentang barang itu.” tekannya tak sanggup menahan air matanya lagi.
“Lalu bagaimana itu bisa di dalam tas kamu?” Sambar salah seorang polisi.
“Bapak...itu bukan milik saya, saya berani bersumpah pak... itu bukan milik saya...” rintihnya suara terdengar gemetar berusaha memastikan bahwa barang tersebut bukanlah miliknya.
“Jesica...” suara kakek terdengar gemetar.
“Kakek...” langsung bangkit dari duduk mendekat dan memeluk erat beliau “Kakek, bilang pada semuanya kalau barang itu bukan punya Jes...” air mata tak bisa dibendung lagi. Ia terisak-isak nggak tahu harus bilang apa lagi kalau semua orang nggak percaya.
“Pak, cucu saya tidak mungkin menyimpan barang haram itu.” Bela kakeknya.
“Tapi, bukti yang bicara. Barang ini ada di tas cucu bapak. Jadi kita tidak bisa berbuat apa-apa.” Sela Kapsek tersebut.
Kabar tentang obat terlarang itu pun cepat tersebar menghebohkan sekolah dan terdengar ke semua siswa termasuk Jonathan.“Serius lo?!” kagetnya
“Eh, yaelaaah...masa tampang gue lagi bercanda apa?! s****n lo.” Kesal Roni.
“Gila tuh cewek, punya nyali juga dia bawa n*****a di sekolah. Tau gitu gue pesen sama dia aja kemarin-kemarin." Cerocos Mike.
“Gila lo!” Jonathan memukul lenganMike.Ia terdiam sejenak lalu beranjak pergi “Awas lo ngomong yang nggak nggak lagi, gue hajar beneran.” Kecamnya nunjuk semua temannya.
“Take easy, man...” sahut Mike megangkat kedua tangannya diikuti yang lain.
Diam-diam Jonathan masuk ke ruang guru, dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Jonathan, apa yang kamu lakukan disini? Cepat keluar.” Tegur seorang guru.
“Tapi bu...saya...”
“Ibu bilang keluar, ini masalah serius Jonathan.” Tegas guru tersebut, lalu dengan patuh ia harus keluar ruangan dan terpaksa menguping di luar ruang guru.
“Pak, saya yakin cucu saya tidak melakukan hal tersebut. Pasti ada yang menjebak cucu saya.” Bela kakek.
“Bapak, kita sudah memberi banyak, banyak sekali toleransi kepada cucu bapak. Jesica sering sekali membuat masalah, selalu saja bikin ulah. Kami masih bisa bertoleransi, tapi untuk kali ini...maaf, kami tidak bisa” kecam Kapsek.
“Tapi itu bukan milik Jesica,pak..Jesica berani bersumpah.” bela Jesica tiada henti.
“Jesica, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hukum yang memutuskan.” Ucap Kapsek membuatnya berderai air mata.
“Kakek...Jestidak bersalah...itu bukan punya Jes...kakek harus percaya sama Jes...” isak tangisnya sama sekali tidak bisa meluluhkan semuanya, hukum tetaplah hukum tak memandang bulu ataupun status. Kakek hanya bisa memeluk dan mengusap air matanya.
“Barang bukti ini akan dibawa ke kantor polisi. Dan untuk sementara waktu, Jesica tidak diperkenankan masuk sekolah sampai keputusan pengadilan.” Jelas Kapsek mempertegas.
Jesica benar-benar shock dengan kejadian ini, ia hanya bisa menangis di pelukan kakek. Ia tidak menyangka ada orang yang telah menjebaknya seperti ini.
Jonathan yang ada di luar ruangan tersebut hanya memandang iba Jesica yang menangis seperti itu “Jes...” panggil Jon dengan nada lembut. Wajah Jesica yangsudah lebam, air mata yang sudah membasahi pipinya, dan isakan tangis yang belum bisa berhenti hanya bisa memandang Jonathan sembari menggelengkan kepalanya tanpa sepatah katapun. “Kakek...Jonakan bantu mencari pelaku yang sudah menjebak Jesica.” Ucap Jonathan meyakinkan "Saya janji."
******