←4

1691 Words
Bagian 4 DIKHIANATI “Saat tatapan mata kami bertemu, bayangan masa lalu tiba-tiba terlintas dalam benakku.” - Raline Anjani - “Hoek … hoek ….” Raline seperti mendengar suara seseorang yang sedang muntah. Suara itu terus terdengar dan membuatnya penasaran. Setelah diperhatikan, sepertinya itu berasal dari kamar Lita yang ada di sebelah kamarnya. Raline keluar dan mengetuk pintu kamar Lita beberapa kali. “Lita, kamu sakit? Bisa buka pintunya?” ucap gadis itu sambil mengetuk pintu. Tak lama, Lita membuka pintu kamarnya. Wajahnya tampak pucat dengan rambut yang agak berantakan. Belum sempat Lita berbicara, dia kembali berlari menuju kamar mandi. “Hoek ….” Dia kembali muntah dan hanya cairan yang keluar. Raline menemani Lita di kamar mandi sambil memijat tengkuknya. Tanpa sengaja dia melihat ada sebuah benda kecil berbentuk pipih dan panjang di atas kloset duduk. Raline memegang benda itu dengan tangan gemetar sambil membelalakkan matanya. “Lita hamil?!” pikirnya. Raline merasa ini pasti ada kesalahan. Bagaimana mungkin Lita hamil sedangkan dia belum menikah. Gadis itu mencoba untuk tenang dan kembali membantu sahabatnya. Setelah Lita sudah tidak ingin muntah, Raline memapahnya keluar dari kamar mandi. Kemudian dia memberikan segelas air putih hangat agar perut Lita merasa lebih baik. “Kamu sakit, Ta?” tanyanya. “Cuma masuk angin aja kayaknya, Lin,” jawab Lita sedikit gugup. Raline berusaha untuk tidak memercayai apa yang dilihatnya tadi, tapi rasanya juga tidak mungkin itu hasil test packorang lain karena setiap kamar kos ini mempunyai kamar mandi masing-masing. “Tadinya setelah pulang ngajar nanti, aku mau minta antar ke percetakan untuk lihat contoh undangan, Ta. Tapi, sebaiknya kamu istirahat aja!” Raline mengusap punggung Lita dengan lembut. “Kamu jadi nikah sama Ivan?” tanya Lita. “Iya. Rencananya besok dia yang mau ngurus pendaftarannya ke KUA. Sekarang apa ada yang bisa dibantu sebelum aku berangkat?” “Hmm, makasih, Raline. Aku mau istirahat aja.” Wajah Lita tampak pucat dan sedih. Sebenarnya Raline tidak tega meninggalkannya sendiri di kamar, karena penghuni kos lain juga sudah pergi bekerja. “Baiklah. Aku pergi dulu ya, kalau kamu butuh sesuatu nanti telepon aku aja!” ucap Raline seraya beranjak dari duduknya. Setelah memastikan Lita beristirahat, Raline keluar dari kamar itu dan pergi ke sekolah untuk mengajar. Sepanjang perjalanan dia masih terus memikirkan test packyang ada di kamar mandi Lita. Rasanya dia benar-benar tidak bisa percaya jika sahabatnya itu hamil, apalagi hamil di luar nikah. Lita merupakan sahabat terdekat Raline. Dulu mereka kuliah di perguruan tinggi yang sama, tapi berbeda jurusan. Raline mengambil jurusan PGSD, sedangkan Lita mengambil jurusan Akuntansi. Saat di kampus, mereka hanya sekedar kenal nama saja karena pernah satu kali mengikuti kegiatan kampus secara bersamaan. Keduanya mulai kenal dekat dan bersahabat sekitar beberapa tahun belakangan ini setelah Lita pindah ke kamar kos di sebelah kamar Raline. Baginya, Lita itu adalah sahabat yang baik. Mereka sering berdiskusi dan melakukan banyak hal bersama. *** Setelah pulang mengajar, rencana Raline untuk pergi ke percetakan terpaksa dibatalkan. Gadis itu menghubungi Ivan, lelaki yang menjadi calon suaminya, untuk bertemu di sebuah kedai kopi. Ivan adalah satu-satunya lelaki yang dekat dengan Raline karena dia sangat membatasi diri untuk bergaul dengan lawan jenis. Mereka pun sudah saling mengenal sejak zaman kuliah dan awalnya hanya berteman saja. Setelah lama tidak bertemu, tiba-tiba Ivan kembali hadir dan meminta Raline untuk menjadi pacarnya. Namun, gadis itu menolak karena tidak mau berpacaran. Oleh karena itu, Ivan mengajak Raline untuk menikah dengannya. “Udah lama nunggu ya?” Suara Ivan muncul dari arah belakang gadis itu. Raline sempat terkejut. “Gak, sih. Paling sekitar sepuluh menit,” jawabnya. Ivan duduk berseberangan dengan Raline. Dia adalah seseorang yang selalu rapi dan menyenangkan ketika diajak mengobrol. Mungkin itu yang membuat Raline merasa nyaman dengannya. Sering kali Ivan ingin menyentuhnya, tapi dia berusaha untuk menghindar karena tidak ingin ada fitnah. “Kamu udah bawa semua kelengkapannya, Lin?” tanya Ivan. “Sudah, semuanya ada di dalam map,” sahutnya. “Oke. Aku ke toilet dulu sebentar ya, baru nanti aku periksa,” Ivan bangkit dari duduknya dan meletakkan tas serta ponselnya di atas meja. Tak lama, ada panggilan telepon masuk pada nomor Ivan. Raline membiarkan ponsel itu terus berdering tanpa melihat nama yang muncul pada layar. Selang beberapa menit kemudian, ponsel itu berdering kembali dengan semakin nyaring. Saat hendak mematikan suaranya, tanpa sengaja Raline melihat nama kontak yang menelepon itu. Kontak yang diberi nama TUKANG MARAH tersebut membuat Raline penasaran. Namun, dia mencoba mengalihkan rasa penasaran dengan menyedot milkshakevanila yang sudah dipesannya. Kali ini orang itu kembali menelepon Ivan melalui aplikasi obrolan. Raline seperti mengenal foto profil kontak itu. Karena merasa benar-benar penasaran, akhirnya gadis itu menggeser tombol hijau untuk mengangkat telepon itu tanpa bersuara. "Ivan, aku hamil!” kata seseorang di seberang panggilan telepon itu. Isakan tangisnya terdengar pilu. “Kamu harus tanggung jawab! Kenapa dari tadi teleponnya baru diangkat sih?” sambungnya. Raline terperangah, dia tidak mungkin salah dengar. “Ivan, kok kamu diam aja? Pokoknya kamu harus tanggung jawab, kamu harus batalin pernikahan kamu sama Raline!” Rasanya bagaikan ada petir yang menyambar setelah mendengar ucapan perempuan itu. Raline langsung membuka ponselnya dan memastikan pemilik foto profil itu karena sepertinya gambar itu sering dia lihat. “Ini Lita!” “Ada apa Raline?” tanya Ivan yang tiba-tiba sudah duduk di hadapannya. “Lita, Van!” “Lita kenapa?” “Dia hamil!" “Ah, masa! Masuk angin kali!” Raline terus memperhatikan gerak-gerik Ivan yang tampak salah tingkah. Kemudian lelaki itu mengambil berkas-berkas yang dibawa oleh Raline. Matanya lebih sering berkedip dan telunjuk jari kirinya mengetuk-ngetuk meja. Dia memeriksa berkas persyaratan itu dengan asal saja. Hati Raline mulai dipenuhi oleh rasa curiga. Dia tidak bisa membayangkan sebenarnya apa hubungan Ivan dengan sahabatnya itu. Ponsel Ivan kembali berdering. Raline hanya melirik sedikit sambil menikmati sisa milkshake-nya. Ivan menolak panggilan itu, lalu menyeruput kopi yang baru saja diantar oleh pramusaji. “Kenapa gak diangkat?” “Gak kenal nomornya,” jawab Ivan singkat dan kembali memeriksa berkas itu. “Oh, gitu! Kalau yang namanya TUKANG MARAH itu siapa?” Ivan langsung menatap Raline, kemudian dia menggerakkan bola matanya ke kanan seperti sedang berpikir. "Nomor Ibu,” sahutnya lalu tertawa memaksa. "Ibu ‘kan sering marah-marah jadi nomornya aku kasih nama Tukang Marah,” lanjut Ivan lagi. Raline tahu Ivan sedang berbohong. Pun Lita yang tadi pagi membohonginya. Mengingat test packyang ada di atas kloset serta telepon dari nomor Lita membuat Raline menarik sebuah kesimpulan bahwa sahabatnya itu dihamili oleh Ivan. “Besok kamu mau ikut ke KUA?” tanya Ivan. “Enggak! Kita gak jadi nikah!” tegas Raline sambil merebut kembali berkas-berkas dari tangan Ivan. Gadis itu langsung berdiri dan hendak meninggalkan Ivan. Bagaimana mungkin dia mau menikah dengan lelaki yang sejak awal sudah membohonginya. Ivan menarik tangan Raline, tetapi segera ditepis olehnya. “Raline, kenapa tiba-tiba kamu kayak gini?” “Aku gak mau nikah sama seorang pembohong!” “Bohong apa? Kayaknya kamu salah paham, Raline!” “Ayo, kita temui Lita sekarang juga!” Ivan terdiam mendengar tantangan itu. Raline sadar kalau orang-orang yang ada di kedai kopi itu memperhatikan mereka. Dia membuka ponselnya dan menelepon Lita. Dengan sengaja dia mengeraskan suaranya agar Ivan juga mendengar percakapan mereka. “Ya, Raline, ada apa?” tanya Lita saat dia menerima panggilan telepon darinya. “Lita, bisakah kamu datang ke Andalas Coffee? Ada temanku yang mau ketemu,” ujar Raline sedikit berbohong. “Temanmu siapa, Raline?” Lita penasaran. “Aku tunggu sekarang. Kamu pasti senang ketemu sama dia.” Tanpa menunggu jawaban dari Lita, Raline langsung menutup teleponnya. Gadis itu terpaksa kembali duduk untuk menunggu sahabatnya datang. Tidak ada pembicaraan lagi antara dirinya dan Ivan. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali Raline melirik ke arahnya, terlihat sekali kalau lelaki dengan gaya rambut rapi itu sangat gugup. Sekitar tiga puluh menit berlalu. Lita datang dan menghampiri Raline yang melambaikan tangan ke arahnya. Sebenarnya dia merasa bersalah karena memaksa sahabatnya datang sedangkan dari cara berjalannya saja terlihat lemah. “Raline, siapa yang …. Eh, ada Ivan ternyata,” kata Lita yang terlihat kaget saat melihat Ivan yang duduk membelakanginya. “Duduk dulu, Ta! Kamu masih muntah-muntah?” Raline menggeser bangku yang ada di sampingnya. “Enggak, udah mendingan kok!” Ivan dan Lita sama-sama terlihat canggung. Raline mengambil ponsel Ivan yang tergeletak di atas meja dengan cepat dan menelepon ke si Tukang Marah itu. Sedetik kemudian, terdengar ada suara ponsel yang berdering. Lita melihat layar ponselnya, lalu menolak panggilan itu. Dia yang duduk di sebelah Raline tampak mengubah pengaturan ponselnya ke mode getar. “Kenapa gak diangkat teleponnya, Lita?” Wajah gadis itu terlihat pias. “Apa bukti ini cukup menjadi alasan untuk membatalkan pernikahan kita?" Raline menatap Ivan dan Lita bergantian, tetapi mereka hanya diam. “Ivan, apa bisa kamu ngasih penjelasan tentang hubungan kalian?” tanya Raline dengan tegas tanpa ingin terlihat lemah di depan lelaki itu. Lagi-lagi Ivan tidak berani menatapnya. “Kamu tuh ngomong apa sih?” Ivan berusaha menghindar. “Sudahlah, Van. Jangan ditutupi lagi!” sahut Lita pasrah. Ivan merasa semakin terpojok. “Hmm … Maaf, Raline. Aku khilaf.” Lita tersentak. “Khilaf?! Setelah kita ngelakuin itu berkali-kali kamu bilang khilaf?” Raline menutup mulut dengan telapak tangannya. Dia sangat terkejut mendengar ucapan Lita. Ternyata mereka sudah berkali-kali melakukan hubungan terlarang itu bahkan hingga Lita hamil. Air mata yang sejak tadi berusaha keras dia tahan akhirnya luruh. “Kenapa kamu tega, Ivan?” tanyanya lirih. “Ini semua karena kamu terlalu sok suci!” Begitu teganya Ivan mencela gadis itu. Raline langsung berdiri dan menyiram wajah Ivan dengan sisa kopi yang ada di cangkirnya. Dia marah atas penghinaan terhadap prinsip yang dipegangnya. Plak! Sebuah tamparan dari Lita mendarat di pipi Ivan. “Jadi selama ini aku cuma jadi pelampiasan karena kamu gak bisa berbuat macam-macam sama Raline? Ivan kamu benar-benar …." Raline merasa muak dan segera pergi meninggalkan mereka berdua. Dia tidak peduli lagi dengan tatapan orang-orang yang sejak tadi memperhatikan mereka. Namun, ketika akan melewati salah satu meja, gadis itu seperti melihat seseorang yang dia kenal sedang duduk sendiri. Seseorang itu mengingatkan dia pada masa lalunya. “Pak Arya?!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD