Pagi datang tanpa membawa kelegaan.
Cahaya matahari menembus tirai tipis kamar Valeria, ia berdiri di depan meja riasnya.
Udara terasa segar, tenang—kontras dengan isi kepalanya yang tidak pernah benar-benar sunyi.
Valeria berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya dengan gerakan otomatis.
Wajahnya terlihat sama seperti kemarin, tenang, terkendali, tidak terbaca. Namun, tidak ada yang mengetahui sebenarnya apa isi hatinya.
Ketika tangannya bergerak untuk mengambil penjepit rambut, matanya tak sengaja menangkap kilauan kecil di jari manisnya.
Cincin itu.
Ia terdiam.
Perlahan, tangannya terangkat.
Ia menatap cincin berlian itu dengan serius, seolah benda kecil itu menyimpan jawaban atas pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan keras-keras.
“Apa ini jalan yang terbaik?” gumamnya pelan.
Ia menunduk, kedua tangannya bertumpu di meja rias dengan nafasnya yang terasa berat.
“Kenapa… kenapa semuanya menjadi rumit?”
Sejak kapan hidupnya berubah menjadi serangkaian keputusan yang tidak pernah benar-benar ia buat sendiri?
Ting!
Suara notifikasi memecah keheningan.
Valeria menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak di meja, ada pesan masuk dari nomor yang tidak disimpan. Ia mengernyit, lalu membukanya.
Selamat pagi, Valeria.
Aku Alex, ayah Maxim. Kau mengenalku, bukan?
Aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku benar-benar mengetahui seperti apa karakter Maxim.
Maka sebelum semuanya terlambat, kau harus menjauhinya.
Maxim bukan pria yang baik, walaupun dia baik padamu.
Aku mengatakan ini karena kau gadis yang baik, kau tidak pantas untuknya.
Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu.
Jantung Valeria berdetak lebih cepat, dengan tangannya yang terasa dingin.
Seketika, sesuatu yang aneh merayap di dalam dirinya bukan hanya takut, tapi juga kebingungan.
Mengapa ayah Maxim mengirim pesan seperti ini? Mengapa ia terdengar begitu mendesak?
Valeria menatap layar ponselnya lama.
Jarinya pun sempat bergerak hendak membalas,
namun ada sesuatu yang menahannya.
Bukan karena ia tidak ingin tahu, justru karena ia ingin tahu terlalu banyak.
Jika ia membalas, apa yang akan terjadi?
Tok! Tok!
“Valeria?”
Ketukan di pintu membuatnya tersentak, ponselnya hampir terlepas dari tangan.
“Valeria!” suara Vivian terdengar lebih keras kali ini.
Valeria buru-buru mengunci layar ponselnya dan berjalan ke pintu lalu membukanya.
“Mom?”
“Mommy sudah memanggilmu beberapa kali, kau tidak dengar?” tanya Vivian, alisnya terangkat tipis.
“Maafkan aku, Mom. Aku sedang mendengarkan musik,” jawab Valeria cepat.
Sebuah kebohongan yang terasa canggung di lidahnya.
Vivian menyipitkan mata. “Sejak kapan kau punya kebiasaan mendengar musik? Ditambah sepagi ini?”
Valeria terdiam.
Ia tidak punya jawaban.
“Sudahlah,” ucap Vivian akhirnya, seolah tidak ingin membuang waktu.
“Itu tidak penting, Maxim menunggumu cepatlah.”
Valeria membeku.
“Maxim?”
“Ya, ada apa? Bukankah kalian sudah membuat janji? Maxim mengatakan begitu.”
Lagi.
Kata itu lagi.
Janji.
Valeria tidak pernah membuat janji apa pun pagi ini, kenapa Maxim selalu mengatakan sesuatu seolah sudah menjadi kesepakatan bersama?
“Valeria,” nada suara Vivian berubah sedikit ketus.
“Cepatlah, Mommy sudah menyiapkan sarapan untukmu, kau bisa makan di mobil Maxim, tidak enak jika dia menunggumu terlalu lama.”
“Ya, Mom.” jawab Valeria pelan.
Setelah Vivian pergi, Valeria berdiri diam beberapa detik. Lalu ia mengambil tasnya, memastikan ponselnya tersimpan rapi dan turun ke lantai bawah.
Seperti yang dikatakan Vivian, Maxim sudah duduk di ruang tamu bersama Dax dan Vivian. Ketiganya tampak akrab, tertawa pelan dan berbicara ringan.
Tatapan Maxim terangkat ketika melihatnya, senyum tipis terukir di wajahnya.
“Kau sudah siap?” tanyanya lembut.
Valeria mengangguk.
“Baiklah, ayo berangkat.”
Vivian berdiri dan menyerahkan kotak bekal serta botol minum pada Valeria.
“Kau harus menghabiskannya, ini makanan sehat yang Mommy siapkan.”
“Ya, Mom.”
Mereka berempat keluar rumah.
Dax dan Vivian berdiri di teras, memperhatikan Maxim membukakan pintu mobil untuk Valeria.
Mobil itu perlahan menjauh dari halaman luas rumah Louis.
Vivian menyilangkan tangannya. “Sampai kapan kita menutup rahasia itu?”
Dax menatap lurus ke depan. “Sampai target satu-satunya musnah, dan itu bukan sekarang.”
Vivian mengangguk pelan.
Di dalam mobil, suasana terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Maxim menyetir dengan tenang, sesekali ia melirik ke arah Valeria.
“Aku senang kau masih memakai cincin yang kuberikan,” ucapnya.
Valeria tidak menjawab.
Tatapannya lurus ke depan, pikirannya masih terjebak pada pesan pagi tadi.
Maxim mengubah topik.
“Makanlah... kau belum sarapan, bukan?”
“Aku bisa memakannya setelah sampai,” jawab Valeria.
Maxim mengangguk. “Baiklah.”
Beberapa menit berlalu dalam diam.
Namun kali ini, Valeria tidak ingin diam.
“Kenapa kau selalu memutuskan sesuatu secara sepihak?” tanyanya tiba-tiba.
Maxim meliriknya. “Tentang?”
“Kemarin kau mengatakan kepada orang tuaku bahwa kita sudah berjanji makan malam,”
“Hari ini juga kau bilang kita berangkat bersama karena sudah sepakat, padahal itu keputusanmu sendiri dan aku tidak pernah mengetahuinya.”
Mobil tetap melaju, tapi suasana berubah.
Maxim menarik napas pelan. “Maafkan aku,” ucapnya akhirnya.
“Aku tahu itu membuatmu tidak nyaman,” lanjut Maxim.
“Tapi aku hanya ingin kita lebih dekat, aku takut jika aku mengatakannya terlebih dahulu padamu, kau akan menolak.”
Ia tersenyum kecil, seolah mengakui kesalahan dengan ringan.
“Itu sebabnya aku mengatakan pada orang tuamu bahwa kita sudah berjanji, aku tahu kau akan mematuhi mereka.”
Kalimat itu membuat d**a Valeria terasa sesak.
“Tapi bukan berarti aku memanfaatkan itu,” tambah Maxim cepat.
“Aku hanya menggunakan kesempatan yang ada, untuk membuktikan bahwa aku benar-benar ingin bersamamu.”
Valeria menatapnya.
“Apa pun alasanmu,” ucapnya pelan namun tegas, “tindakanmu tidak bisa dibenarkan.”
Maxim mengangguk. “Aku salah dan aku benar-benar minta maaf,”
“Mulai sekarang... aku akan mengatakannya langsung padamu, aku tidak akan membuatmu merasa tidak nyaman lagi.”
Valeria tidak menjawab.
Ia hanya kembali menatap ke depan.
“Karena kau diam,” lanjut Maxim dengan nada ringan, “aku akan menganggap kau memaafkanku, terima kasih.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun di kepala Valeria, sesuatu terasa janggal.
Ia tidak pernah mengatakan ia memaafkan dan ia tidak pernah setuju.
Namun entah bagaimana, keheningannya selalu diterjemahkan sebagai persetujuan.
Mobil terus melaju menuju fakultas. Sementara Maxim, ia merasa semuanya berjalan baik-baik saja.
Tapi, di dalam pikiran Valeria hanya ada satu hal yang terus berulang yaitu pesan dari Alex.
Maxim bukan pria yang baik, walaupun dia baik padamu.
Valeria menggenggam ponselnya di dalam tas.
Untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Apakah cincin di jarinya adalah simbol perlindungan?
Atau peringatan yang terlambat ia sadari?