Pukul 09.00.
Vivian sudah berbaring di ranjang, selimut ditarik rapi hingga ke d**a, lampu kamar diredupkan, menyisakan cahaya temaram yang membuat segalanya tampak tenang.
Sementara Dax, ia baru saja turun ke bawah untuk mengambil minum.
Drtt! Drtt!
Ponsel Vivian bergetar di nakas, Vivian melirik ponselnya, nama di layar membuat alis Vivian berkerut.
Alexander Halston.
Ia menyergit kecil.
“Apa yang terjadi?” gumam Vivian.
Tidak biasanya Alex menghubunginya, terlebih di malam seperti ini.
Selama ini, jika ada urusan, Alex selalu menghubungi Dax.
Vivian mengangkat telepon dengan ekspresi waspada.
“Ya?” ucapnya singkat.
“Apakah kau bersama Dax?” tanya Alex dari seberang, suaranya terdengar serius.
“Tentu saja tapi dia sedang turun ke bawah, ada apa?” jawab Vivian.
Alex terdiam sejenak, seolah menimbang kata-kata yang akan ia ucapkan.
“Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu, sebelum semuanya terlambat.”
Nada itu membuat jantung Vivian berdetak sedikit lebih cepat.
“Ada apa?” tanyanya, kini lebih waspada.
“Tolong jauhkan Valeria dari Maxim,” ucap Alex akhirnya.
“Maxim berbahaya, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada putrimu.”
Wajah Vivian mengeras.
“Apa maksudmu?” balasnya dingin. “Apakah kau sedang menjelek-jelekkan putramu sendiri?”
“Aku tidak menjelek-jelekkannya,” jawab Alex cepat. “Aku berbicara fakta, kehadiran Maxim di kehidupan Valeria sangat berbahaya.”
“Alex, cukup,” potong Vivian. “Aku tidak ingin memutuskan apa pun, apalagi mereka saling tertarik satu sama lain.”
“Kau tahu dari mana?” suara Alex meninggi sedikit. “Kau menyimpulkan seolah kau benar-benar tahu perasaan mereka.”
“Tentu saja aku tahu,” balas Vivian tajam. “Jika tidak, putramu tidak akan menyampaikan niat tulusnya,”
“Dan Valeria tidak akan langsung menyetujuinya, apa itu tidak cukup sebagai bukti untukmu?”
Alex terdiam.
Keheningan di seberang telepon terasa berat, tapi Vivian tidak peduli.
“Sudahlah, Alex,” ucapnya akhirnya. “Jika kau hanya ingin membicarakan omong kosong, tidak ada gunanya bagiku,”
“Aku ingin istirahat, selamat malam.”
Tanpa menunggu jawaban, Vivian mematikan sambungan telepon.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka. Dax masuk sambil membawa segelas air.
“Siapa yang menghubungimu?” tanyanya sambil meletakkan gelas di meja.
Vivian bangkit sedikit, lalu mendekat ke arah Dax.
“Alex.”
Dax mengernyit. “Ada apa?”
“Aku rasa dia ancaman bagi rencana kita,” jawab Vivian pelan.
“Dia memintaku menjauhkan Valeria dari Maxim.”
Dax berdecih sinis. “Dia juga mengatakan hal yang sama padaku.”
Vivian menatap suaminya. “Apakah kita harus melakukan sesuatu padanya?”
Dax menggeleng pelan.
“Tidak untuk sekarang,” jawab Dax tenang. “Tapi jika dia bertindak terlalu jauh… kita harus memberinya pelajaran.”
Vivian mengangguk pelan. Di matanya, tidak ada keraguan.
Sementara itu, di sebuah restoran bintang lima bergaya klasik, waktu seolah berhenti.
Langit-langit tinggi, dengan ukiran tua memantulkan cahaya lampu gantung yang lembut.
Musik klasik mengalun pelan, biola dan piano berpadu menciptakan suasana nostalgia yang seharusnya romantis.
Namun tidak bagi Valeria.
Ia duduk tegak di kursinya, kedua tangan terlipat di pangkuan.
Gaun yang ia kenakan terasa seperti kulit kedua yang bukan miliknya. Bunga mawar di tengah meja tampak indah, tapi tidak menyentuh apa pun di dalam dirinya.
Makanan di hadapannya tetap utuh, lampu temaram tidak membuatnya tenang, musik tidak membuatnya nyaman.
Semua yang ada di ruangan itu terasa seperti dekorasi untuk sebuah perasaan yang tidak ia miliki.
Semuanya terasa kosong.
“Valeria?” panggil Maxim lembut.
Valeria mengangkat wajahnya, menatap pria di hadapannya. Maxim duduk dengan sikap santai, satu tangan bersandar di meja, dengan ekspresi yang tenang.
“Aku tahu kau masih memikirkan perkataanku di mobil,” ucap Maxim.
“Tenang saja, aku tidak memaksamu untuk percaya tapi beri aku kesempatan untuk membuatmu percaya.”
Valeria menghela napas pelan.
“Aku tidak tahu,” ucapnya akhirnya.
Tiga kata itu keluar dengan suara lirih, hampir seperti pengakuan.
Maxim tersenyum tipis, bukan senyum puas, melainkan senyum seseorang yang mengerti posisi lawannya.
“Aku akan memberimu waktu,” katanya. “Ralat, aku tidak akan membatasi kapan pun itu karena kau berhak memutuskan.”
Valeria menatapnya tanpa ekspresi.
“Aku tahu kau pribadi yang sangat tertutup,” lanjut Maxim.
“Aku tahu rasanya sangat menyiksa, kau ingin percaya tapi kau tidak tahu bagaimana caranya membiarkan orang baru masuk.”
Jari Valeria mengeras di pangkuannya.
“Jika kau masih ragu,” kata Maxim pelan, “mulailah dariku.”
Kata-kata itu terdengar sederhana tapi bagi Valeria, rasanya seperti sebuah pintu yang perlahan ditutup dari belakang.
Keheningan kembali hadir.
Maxim lalu menggerakkan tangannya ke dalam saku jasnya. Gerakannya tenang, tidak terburu-buru. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah.
Valeria menegang.
Kotak itu diletakkan di atas meja. Perlahan, Maxim membukanya.
Di dalamnya, sebuah cincin berlian berkilau lembut di bawah cahaya lampu. Potongannya elegan, sederhana, tapi jelas mahal—terlalu mahal untuk sekadar simbol.
Valeria membeku.
“Aku melamarmu malam ini,” ucap Maxim.
Dunia seolah berhenti bergerak.
“Aku tidak mengharapkan jawabanmu sekarang,” lanjutnya cepat, sebelum Valeria sempat berkata apa pun.
“Aku hanya ingin kau mengenakan cincin ini.”
Valeria menatap cincin itu, lalu menatap Maxim.
Deg! Deg! Deg!
Jantungnya berdegup keras.
“Jika suatu hari kau tidak menerimaku,” ucap Maxim, suaranya tenang hampir lembut.
“kau bisa melepaskannya tapi kau harus menyimpannya, aku tidak akan memaksamu.”
Namun Valeria tahu, ini bukan tentang cincin melainkan sebuah tanda.
Tentang sesuatu yang terlihat kecil tapi bermakna besar, tentang sebuah ikatan yang belum resmi tapi sudah cukup untuk mengubah cara orang-orang memandangnya.
Tentang sebuah langkah yang jika ia ambil, akan sulit untuk mundur tanpa luka.
“Kenapa sekarang?” tanya Valeria akhirnya, suaranya hampir bergetar.
“Karena aku tidak ingin menunggumu sampai kau kelelahan,” jawab Maxim jujur. “Dan aku tidak ingin kau merasa sendirian saat semua orang menekanmu.”
Kalimat itu menusuk tepat di tempat yang paling rapuh.
Valeria menatap cincin itu lama. Akhirnya, dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengulurkan jarinya ke hadapan Maxim.
Maxim mengambil cincin itu dan menyematkannya perlahan di jari Valeria.
Sentuhannya lembut.
Namun ketika cincin itu terpasang, Valeria merasakan sesuatu mengikat lebih dari sekadar jarinya.
Ia merasakan dadanya yang terasa sesak.
Maxim tersenyum tipis.
“Aku tidak akan mengecewakanmu,” ucapnya.
Valeria tidak menjawab.
Ia hanya menatap cincin di jarinya, menyadari satu hal dengan jelas....
Bahwa ini mungkin memang takdirnya, namun ia tidak tahu seperti apa takdir yang akan ia jalani nantinya.