Ungkapan Maxim

1018 Words
Malam datang terlalu cepat. Valeria duduk di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang terasa asing. Gaun yang dipilih Vivian membalut tubuhnya dengan sempurna—potongannya elegan, warnanya lembut, kainnya mahal. Semuanya tepat. Dan justru karena itu, semuanya salah. Ia terlihat seperti seseorang yang siap dijemput. Bukan seseorang yang mengharapkannya. Melainkan seseorang yang tahu, di luar sana, ada tangan yang ingin menggenggamnya terlalu erat. Bukan untuk melindungi—melainkan untuk memastikan ia tidak pergi ke mana pun, dan kesadaran itu terasa berat. Terlalu berat untuk d**a yang sudah lama belajar menahan. Ketika bel pintu berbunyi, jantung Valeria berdegup lebih keras dari biasanya. Pantulan wajahnya di cermin tidak menunjukkan keterkejutan—hanya kelelahan yang tenang, seperti seseorang yang sudah tahu akhir cerita, tapi tetap harus membacanya sampai selesai. Vivian muncul di ambang pintu kamar dengan senyum sempurna. “Dia datang.” Dua kata. Tidak ada pertanyaan, tidak ada pilihan. Valeria berdiri. Langkah pertamanya terasa ragu, langkah berikutnya terasa kosong. Setiap anak tangga yang ia turuni seperti membawa dirinya menjauh, dari sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia miliki—kebebasan. Dan di depan pintu, Maxim menunggu. Setelan jas hitam membingkai tubuhnya dengan rapi. Rambutnya tersisir sempurna. Wajahnya tenang, terlalu tenang, seperti seseorang yang sudah memegang kendali bahkan sebelum permainan dimulai. Tatapan itu jatuh pada Valeria. Stabil, menilai dan penuh keyakinan seolah ia yakin—Valeria tidak akan ke mana-mana. “Max, tolong jaga Valeria,” ucap Vivian sambil tersenyum, nada suaranya ringan, seolah Valeria adalah barang rapuh yang mudah jatuh. “Jangan biarkan dia ke mana pun.” Valeria menegang. “Tentu saja, Aunty,” jawab Maxim tanpa ragu. “Aku tidak akan membiarkan sedikit pun pandanganku teralih darinya, sejak Valeria menyetujui niat keseriusanku, dia adalah tanggung jawabku.” Kata tanggung jawab menggema aneh di kepala Valeria. Sejak kapan ia menjadi sesuatu yang harus dijaga, bukan seseorang yang bisa menjaga diri sendiri? “Aku mempercayakan Valeria padamu, Max,” ucap Dax akhirnya. “Tentu, Uncle.” “Aku bisa tidur nyenyak jika kau yang menjaganya,” tambah Vivian, senyumnya hangat—terlalu hangat untuk sebuah keputusan yang dingin. Maxim mengangguk pelan, lalu mengulurkan lengannya ke arah Valeria. Gestur itu terlihat sopan. Bahkan romantis, bagi siapa pun yang melihat dari luar. Namun Valeria membeku. Ia menatap lengan itu, lalu menatap wajah Maxim. Tatapan mereka bertemu, tidak ada desakan di sana dan justru itulah yang membuatnya sulit menolak. Maxim tidak memaksanya, ia hanya menunggu. Deheman Vivian terdengar di belakang mereka. Valeria menghela napas pelan, lalu meraih lengan Maxim. Sentuhan itu membuat dadanya terasa sempit. Mereka berjalan menuju mobil. Maxim membukakan pintu dengan sikap gentleman. Valeria masuk, duduk tegak, tangan kembali terlipat di pangkuannya. Maxim menyusul masuk dan menutup pintu. Mobil melaju pelan. Lampu-lampu jalan menciptakan bayangan bergerak di wajah Valeria. Ia menatap lurus ke depan, seolah kaca depan adalah satu-satunya tempat aman untuk matanya berlabuh. “Kau sangat cantik,” ucap Maxim akhirnya. Valeria tidak menjawab. Ia tidak menyukai pujian. Terlebih pujian yang terdengar seperti kewajiban, bukan kekaguman. Ia tahu—ini hanya kata-kata yang seharusnya diucapkan di situasi seperti ini. Melihat keterdiamannya, Maxim tidak mengulang pujian itu, i justru mengubah nada. “Baiklah,” katanya lebih serius. “Aku tahu kau bukan tipe orang yang mudah percaya pada siapa pun.” Valeria sedikit menoleh. “Aku akan jujur padamu,” lanjut Maxim. “Aku benar-benar tertarik padamu.” Valeria menatapnya, sorot matanya datar, hampir tidak percaya. “I know,” Maxim tersenyum tipis. “Kau pasti berpikir ini tidak masuk akal dan mungkin memang begitu, tapi perasaan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan logikanya.” Mobil terus melaju, tapi bagi Valeria, dunia terasa melambat. “Aku menginginkanmu sejak pertama kali aku melihatmu malam itu,” ungkap Maxim, suaranya tenang, nyaris lembut. “Dan aku tidak akan menyangkalnya.” “Kau terobsesi,” ucap Valeria akhirnya. Nada suaranya dingin, namun jujur. Maxim tertawa kecil, bukan mengejek—lebih seperti seseorang yang sudah memprediksi jawaban itu. “Tidak,” gelengnya. “Jika aku terobsesi, aku tidak akan datang melalui orang tuamu,” “Aku tidak akan meminta izin, aku akan mengambilmu secara paksa.” Jari Valeria mengeras. “Tapi aku tidak melakukannya,” lanjut Maxim. “Karena aku menginginkanmu dengan cara yang benar.” Cara yang benar, kalimat itu terdengar ironis. Valeria kembali diam. “Oke,” ucap Maxim setelah beberapa saat. “Aku mengerti, tidak mudah bagimu menerimaku dan mungkin bahkan mustahil.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Aku tahu apa yang membuatmu seperti ini.” Tubuh Valeria menegang. “Aku tahu tentang saudaramu,” ucap Maxim pelan. “Sejak kepergiannya, kau tidak punya tempat untuk bercerita,” “Orang tuamu terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka.” Dunia Valeria terasa bergetar. Sorot matanya berubah, bibirnya bergetar tipis, namun ia tetap diam. “Aku tahu perasaan itu,” lanjut Maxim. “Aku juga pernah kehilangan orang yang sangat penting bagiku, bukan sekali tapi dua kali.” Nada suaranya kini terdengar tulus, terlalu tulus. “Karena itu,” katanya, “aku ingin menjadi tempatmu, aku ingin kita saling melengkapi.” Mobil berhenti di lampu merah, cahaya merah memantul di mata Valeria. “Aku akan memberimu waktu,” ucap Maxim. “Waktu untuk mempercayaiku.” Valeria menatap ke depan lagi. Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa semakin berat. Kata-kata Maxim tidak kasar, tidak memaksa, bahkan terdengar pengertian. Dan justru itu yang menakutkan. Karena tanpa ia sadari, Maxim sedang berdiri di tempat yang seharusnya tidak pernah ia izinkan siapa pun masuk. “Aku tidak memaksamu untuk bicara,” tambah Maxim lembut. Keheningan kembali menyelimuti mereka. Namun kali ini, keheningan itu bukan kosong. Tapi penuh dengan kata-kata yang berperang di pikiran Valeria. Di kediaman Louis, Dax dan Vivian duduk berdampingan di ruang keluarga. Vivian bersandar di d**a Dax, wajahnya terlihat puas. “Ini yang kuharapkan,” ucap Vivian pelan. “Aku tidak menyangka rencana kita berjalan selancar ini.” Dax mengusap bahu Vivian. “Aku juga tidak menyangka Maxim tertarik pada Valeria.” “Biarkan saja,” jawab Vivian. “Awalnya memang tidak mulus tapi sekarang, semuanya mengarah ke tujuan kita.” Ia tersenyum tipis. “Satu langkah lagi,” lanjutnya. “Dan semuanya akan resmi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD