Ruang Tanpa Pintu

950 Words
Tidak terasa bagi Maxim, namun sangat terasa bagi Valeria. Perjalanan itu sunyi, terlalu sunyi. Mesin mobil berdengung halus, nyaris seperti bisikan yang disengaja agar tidak mengganggu, tapi justru itulah yang membuat Valeria merasa tercekik. Maxim menyetir dengan kecepatan stabil—tidak terburu-buru, tidak lambat—seolah ia sedang mengukur jarak, waktu, bahkan napas Valeria. Valeria menatap lurus ke depan. Tangannya bertumpu di paha, jemarinya saling mengunci erat. Setiap detik di dalam mobil itu terasa panjang, seperti ditarik paksa agar ia benar-benar merasakan keberadaannya di sana—bersama Maxim. Tidak ada percakapan lagi, tidak ada musik, tidak ada pertanyaan basa-basi. Dan Valeria sadar, itu bukan karena Maxim kehabisan topik. Itu adalah pilihan. Valeria juga tidak berharap sama sekali, tapi dengan Maxim diam yang seperti ini, membuat Valeria merasa bahwa Maxim bukan tertarik, melainkan sebuah jebakan. Tapi alasannya apa? Valeria sebelumnya sama sekali tidak mengenal Maxim. Bahkan sejak awal ia tidak bernah bergaul dengan siapa pun. Ketika mobil akhirnya memasuki halaman kediaman Louis, Valeria hampir menghela napas lega. Namun rasa lega itu hanya berlangsung sepersekian detik. Ia meraih gagang pintu. Tidak terbuka. Klik. Terkunci. Valeria menoleh perlahan ke arah Maxim. Wajah pria itu tetap menghadap ke depan, ekspresinya tenang, terlalu tenang. Seolah mengunci pintu adalah tindakan paling wajar di dunia. “Aku ingin keluar,” ucap Valeria, datar, tapi suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya. “Aku akan membukakan pintu untukmu,” balas Maxim. Bukan sekarang, bukan langsung. Ia mematikan mesin mobil terlebih dahulu, melepas sabuk pengaman, membuka pintunya sendiri. Langkahnya mantap saat ia memutari mobil, berhenti tepat di sisi Valeria, lalu membuka pintu seakan-akan ia sedang melakukan sebuah kehormatan. Gerakan itu terlalu sempurna, terlalu terencana, terlalu spesial untuk orang yang terbiasa melakukan apa-apa sendiri. Valeria turun tanpa menatapnya. Dari teras rumah, Vivian menyaksikan semuanya sambil memegang cangkir teh. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang tidak pernah benar-benar menyentuh mata. Ia menyukai apa yang ia lihat—seorang pria yang tahu caranya memimpin, dan seorang anak perempuan yang tahu caranya diam. Maxim dan Valeria berjalan mendekat. Vivian berdiri. “Aunty pikir kau akan membawa Valeria jalan-jalan sebentar,” ucap Vivian ringan. “Agar kalian bisa lebih dekat.” “Tidak, Aunty,” jawab Maxim tenang. “Valeria terlihat lelah, tapi malam ini kami sudah punya rencana, kami akan makan malam bersama.” Valeria menoleh cepat ke arahnya. Mereka tidak pernah membicarakan itu. Tidak pernah. Namun Maxim berbicara seolah keputusan itu adalah hasil kesepakatan, seolah Valeria ikut menandatangani sesuatu yang bahkan tidak pernah ia baca. “Oh?” Vivian tampak senang. “Benarkah, Valeria?” Valeria tahu tatapan itu, tatapan yang tidak memberi ruang untuk jawaban lain. “Iya,” jawabnya akhirnya. Satu kata, pendek, patah. Vivian tersenyum lebih lebar. “Maxim, kau tahu? Kau pria pertama yang bisa membuat Valeria merespons,” “Biasanya dia dingin dan tidak peduli, jika dia tidak menolakmu... itu artinya dia tertarik.” Jari Valeria mengepal di sisi tubuhnya. Ia ingin berkata bahwa diam bukan berarti setuju, bahwa patuh bukan berarti rela. Namun tidak ada yang ingin mendengarnya. “Kalau begitu,” ucap Maxim sambil menoleh ke arah Valeria, tatapannya gelap dan menekan, “kita bisa segera menikah.” Valeria menatap balik. Wajahnya tetap datar, tapi di balik itu, dadanya terasa sesak. Kata menikah terdengar seperti vonis yang tidak bisa dibantah lagi, bukan janji. “Tentu saja bisa,” jawab Vivian tanpa ragu. “Semakin cepat, semakin baik.” “Aku akan mengurus semuanya,” lanjut Maxim. “Aku tidak sabar menjadikan Valeria milikku.” Kata itu—milikku—jatuh berat di telinga Valeria. Bukan karena nada Maxim meninggi, justru karena ia mengucapkannya dengan keyakinan penuh, seolah kepemilikan itu sudah sah. Setelah percakapan singkat itu, Maxim pamit. Ia pergi tanpa menoleh lagi pada Valeria, seolah kehadirannya tidak lagi diperlukan untuk memastikan apa pun. Begitu mobil Maxim menghilang dari halaman, senyum Vivian ikut lenyap. Wajahnya kembali datar. “Kita masuk,” ucapnya singkat. Valeria mengikuti dari belakang. Langkah Vivian mantap, suaranya kembali dingin, seperti saklar yang dimatikan. “Persiapkan dirimu. Malam ini Maxim akan menjemputmu, kalian sudah berjanji, bukan?” “Mom,” panggil Valeria. Langkah Vivian terhenti. Ia berbalik perlahan. Itu membuat Valeria semakin kecil. “Apakah aku… tidak punya kesempatan untuk memutuskan?” tanya Valeria pelan. Pertanyaan itu keluar begitu saja, rapuh, hampir seperti bisikan. Ini pertama kalinya Valeria mencoba menolak—bukan dengan perlawanan, tapi dengan harapan. “Memutuskan apa?” tanya Vivian. “Aku tidak ingin bersama Maxim.” Udara seolah membeku. Tatapan Vivian menajam, bukan marah, tapi dingin dan penuh perhitungan. “Tidak bisa,” ucapnya singkat. “Keputusan sudah dibuat, dan sejak awal kau juga menerima.” “Jika sejak awal aku menolak,” tanya Valeria lagi, suaranya sedikit bergetar, “apakah jawabannya akan tetap sama?” “Tentu saja,” jawab Vivian tanpa ragu. “Kau harus menerima takdirmu, kau anak kami, kau harus patuh.” Vivian melangkah mendekat, jarak mereka tinggal satu langkah. “Kami tahu apa yang terbaik untukmu.” Valeria menunduk. “Tidak perlu banyak bicara,” lanjut Vivian. “Kau hanya perlu mengikuti, bukankah itu yang selalu kau lakukan?” Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada tamparan. “Sekarang, istirahatlah,” tutup Vivian. “Dan bersiap, Maxim akan datang malam ini.” Ia pergi, meninggalkan Valeria sendirian di ruang besar itu. Sunyi. Valeria berdiri kaku beberapa detik sebelum akhirnya berjalan ke lantai atas, menuju kamarnya. Ia menutup pintu, bersandar di sana, lalu perlahan meluncur turun hingga duduk di lantai. Dadanya naik turun cepat. Ia menutup mata. Di dalam pikirannya, suara-suara bercampur. Suara ibunya, suara Maxim, suara masa lalu. Ia bukan tidak berani, ia hanya tidak pernah diberi ruang untuk memilih. Seolah yakin, Valeria tidak akan ke mana-mana. Karena ia memang tidak punya pintu untuk keluar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD