Peringatan Alexander

1062 Words
Kepergian Valeria bersama Maxim menjadi pemandangan yang tidak luput dari perhatian siapa pun yang berada di sekitar kampus sore itu. Beberapa pasang mata mengikuti langkah mereka, sebagian berbisik, sebagian hanya terdiam—terlalu terkejut untuk bereaksi. Siapa yang tidak mengenal Maxim Dark Halston? Penerus keluarga Halston. Pria yang namanya selalu muncul di halaman bisnis, bukan gosip. Dingin, tidak tersentuh, dan nyaris tidak pernah terlihat bersama wanita mana pun. Orang-orang menjulukinya workaholic, pria gila kerja yang hidupnya hanya dihabiskan di ruang rapat dan gedung pencakar langit. Dan sekarang— ia berjalan berdampingan dengan Valeria Greta Louis. Mahasiswi pendiam, cantik, cerdas, namun tertutup. Ia tidak suka bergaul, tidak pernah terlihat dekat dengan siapa pun. Dua sosok yang terasa tidak mungkin berada dalam satu bingkai, kini melangkah bersama menuju mobil hitam mengilap yang terparkir di depan. Sebagian besar orang sepakat pada satu kesimpulan yang sama: jika pun mereka memiliki hubungan, pasti itu hanya soal kerja sama. Bisnis, relasi, dan tidak mungkin lebih dari itu. Valeria masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata. Maxim menyusul, menutup pintu dengan tenang, lalu duduk di kursi pengemudi. Mesin menyala, mobil melaju perlahan meninggalkan area kampus. Keheningan langsung memenuhi kabin. Maxim menyetir dengan santai, satu tangan di kemudi, satu tangan lainnya bertumpu di dekat tuas persneling. Namun sorot matanya terlalu sering berpindah—bukan ke jalan, melainkan ke arah Valeria. Valeria merasakan itu. Rasa tidak nyaman merambat perlahan, menekan dadanya. Ia menatap lurus ke depan beberapa detik sebelum akhirnya berbicara. “Bisa kah Anda fokus menatap ke depan?” ucapnya dingin. Maxim tertawa pelan. Bukan tawa mengejek—lebih seperti terhibur. “Bicaramu terlalu formal,” katanya santai. “Aku tidak nyaman dengan itu.” “Tidak perlu mengurusi apa yang keluar dari mulutku,” balas Valeria tanpa menoleh. Tawa Maxim kembali terdengar. Kali ini lebih rendah. “Justru itu yang membuatku tertarik padamu.” Valeria menoleh tajam. “Kau tegas dengan keputusanmu,” lanjut Maxim, matanya tetap ke depan. “Namun sayang… kau lemah terhadap keputusan orang tuamu.” Tangan Valeria mengepal di atas pahanya. “Apa alasanmu sebenarnya?” tanyanya akhirnya. “Kenapa kau meminta orang tuaku dengan permintaan konyol seperti itu?” Maxim meliriknya sekilas. “Permintaan konyol?” “Apa menurutmu wajar, meminta seseorang yang bahkan belum kau kenal… untuk hubungan serius?” suara Valeria terkendali, tapi nadanya dingin. “Aku tidak bercanda,” jawab Maxim datar. “Aku serius.” Ia menghentikan mobil di lampu merah, lalu menoleh penuh ke arah Valeria. “Aku ingin mengenalmu bahkan lebih dari itu, aku tertarik karena aku menyukai wanita persis sepertimu.” Valeria terkekeh pendek—tanpa senyum. “Ada jutaan wanita di muka bumi ini, dan alasanmu terdengar tidak masuk akal.” “Tidak masuk akal?” Maxim menyeringai tipis. “Aku yang mengenal diriku, Valeria. Aku yang tertarik, bukan kau yang berhak memutuskan tentang perasaanku.” “Perasaanmu dan perasaanku berbeda,” balas Valeria cepat. “Jadi aku berhak memutuskan juga.” “Berhak?” Maxim tertawa pelan. Lampu hijau menyala, mobil kembali melaju. “Apakah pasrah termasuk berhak dalam kamus mu?” Valeria terdiam. “Buktinya,” lanjut Maxim tanpa ragu, “kau langsung menerima keputusan orang tuamu tanpa membantah satu kalimat pun, apakah itu yang kau sebut hak?” Sunyi. Valeria menatap ke luar jendela. Rahangnya mengeras. Kata-kata Maxim menusuk terlalu tepat—dan ia membencinya. “Valeria,” ucap Maxim lebih pelan, namun tekanannya justru lebih terasa. “Dengarkan aku, aku tidak bercanda dengan permintaanku.” Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan tenang, seolah membicarakan hal lumrah tanpa beban. “Jika perlu… kita bisa menikah sekarang juga.” Valeria menoleh cepat. “Kau pikir itu mudah?” “Tentu saja,” jawab Maxim tanpa ragu. “Aku bisa memutuskan apa pun hanya dengan hentikan jari saja.” Ia tersenyum miring. “Kau mau coba?” Valeria kembali terdiam. “Aku bisa mengatakan itu pada orang tuamu saat ini juga,” lanjut Maxim. “Tapi aku menghargai mu, meski begitu—aku tetap ingin secepatnya.” Ia menoleh padanya. “Dan bersiaplah.” Sementara itu, di kediaman Halston, Alexander Halston berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Ponsel menempel di telinga, wajahnya tegang. “Aku mengenalmu, dan kau mengenalku, Dax,” ucap Alex dengan suara rendah namun tegas. “Aku memperingatkan mu, jangan pernah memberikan Valeria kepada Maxim.” Helaan napas terdengar dari seberang. “Alex,” jawab Dax akhirnya, “kita tidak berhak mengatur perasaan anak-anak kita, mereka yang menjalani masa depan.” “Aku tidak bicara soal perasaan,” potong Alex. “Aku bicara soal bahaya.” “Aku mempercayakan Valeria kepada Maxim,” balas Dax. “Lagipula, kenapa kau begitu bersikeras memisahkan mereka bahkan sebelum mereka bersatu?” “Justru karena itu,” suara Alex meninggi. “Sebelum mereka terlanjur bersatu... jauhkan mereka, Maxim sangat berbahaya.” “Kau mengatakan itu seolah Maxim bukan anakmu,” Dax menahan emosi. “Aku mengenal Maxim sejak kecil, aku menganggapnya seperti anakku sendiri.” “Kau tidak tahu apa yang sebenarnya,” desis Alex. “Itu sebabnya kau selalu membelanya.” “Alex, cukup,” suara Dax mengeras. “Aku tidak mau hubungan pertemanan kita berubah jadi permusuhan.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada dingin. “Jika kau menganggap Maxim buruk, lalu bagaimana denganmu?” Alex membeku. “Kau mengkhianati istrimu,” lanjut Dax tanpa ragu. “Hingga dia berakhir tidak bernyawa, kau bahkan mengenalkan anak hasil hubungan gelap mu dengan kekasih anakmu sendiri,” “Apakah itu tidak kejam bagimu?” Urat di leher Alex menegang. “Aku yakin,” lanjut Dax, “itulah sebabnya sikap Maxim berubah padamu, bukan karena dia jahat—tapi karena batinnya terluka,” “Dan kau tidak pernah sadar.” Keheningan panjang. “Sudah cukup,” ucap Dax akhirnya. “Aku tidak ingin berbicara lama-lama, aku tidak mau hubungan kita hancur.” Sambungan terputus. Alex menurunkan ponsel perlahan. Rahangnya mengeras, napasnya berat. Ia menatap pantulan dirinya di kaca—wajah seorang pria yang menyadari bahwa semua ini… adalah kesalahannya sendiri. Hubungannya dengan kekasih Maxim di masa lalu. Anak yang lahir dari pengkhianatan itu. Semua telah terlambat untuk diperbaiki. Dan kini, masa lalu itu kembali—melalui Maxim. Sementara itu, di dalam mobil yang melaju tenang, Valeria menatap jalanan tanpa fokus. Ia tidak tahu satu hal penting: Dua pria yang seharusnya melindunginya sedang beradu ego di belakang layar. Dan Maxim— tidak berniat mundur selangkah pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD