Pertemuan

872 Words
Terik matahari sore terasa menyengat, seolah tidak peduli bahwa jam telah menunjukkan pukul tiga. Cahaya keemasan menabrak aspal dan kaca gedung tanpa ampun, memantul, membakar kulit, dan membuat udara terasa berat untuk dihirup. Valeria melangkah keluar dari gedung fakultas dengan langkah tenang. Kelasnya telah usai sejak satu jam lalu dan seperti biasa, ia tidak langsung pulang. Rumah bukan tempat istirahat—hanya tempat kembali. Maka ia memilih tujuan yang selalu sama setiap kali ingin menghilang dari dunia, perpustakaan. Ia tahu, menjelang sore, tempat itu hampir selalu kosong. Benar saja. Begitu pintu kaca perpustakaan terbuka, hawa sejuk menyambutnya, menelan panas yang menempel di kulitnya. Ruangan luas itu sunyi, hanya terdengar bunyi pendingin ruangan dan sesekali gesekan halaman buku. Lima orang. Tidak lebih. Duduk terpencar, tenggelam dalam dunia masing-masing. Valeria melangkah ke arah tangga, naik ke lantai dua—bagian yang jarang disentuh siapa pun. Ia memilih kursi paling belakang, tepat di sudut yang setengah tersembunyi oleh rak tinggi. Tempat favoritnya, tempat aman. Ia duduk, membuka tas, lalu mengeluarkan laptop. Layar menyala. Jarinya bergerak cepat membuka folder tugas. Rutinitas itu menenangkan—memberinya ilusi kendali. Namun gerakannya mendadak terhenti. Di sudut layar, sebuah folder kecil menarik perhatiannya. VV. Valeria membeku. Itu bukan folder biasa, itu adalah sebuah album. Album yang tidak pernah ia buka dengan sengaja—hanya tersisa sebagai jejak yang belum sanggup ia hapus, dan mungkin tidak akan pernah ia hapus. Tangannya sedikit bergetar saat kursor mendekat, lalu mengklik. Foto pertama muncul. Dua gadis kecil berusia sepuluh tahun, duduk di ayunan taman belakang rumah. Rambut mereka sama, senyum mereka sama, mata mereka berbinar dengan cara yang tidak pernah Valeria rasakan lagi. Ia dan Vinica. Mereka tertawa di foto itu. Bebas, bahagia, tidak peduli bahwa orang tua mereka jarang ada, tidak peduli bahwa kasih sayang sering digantikan oleh hadiah mahal. Selama mereka masih bersama, dunia terasa cukup. Valeria menatap foto itu terlalu lama. Dadanya mengencang, napasnya menipis. Ia segera menutup album itu, seolah takut kesedihan akan meluap dan menghancurkan dinding rapuh yang selama ini ia bangun. Ia menunduk, menarik napas dalam-dalam. Tidak sekarang dan tidak di sini. “Valeria?” Suara itu muncul tiba-tiba. Valeria mendongak perlahan. Seorang pria berdiri di hadapannya—tinggi, berwajah ramah, dengan senyum canggung yang tampak dipaksakan. Valeria menatapnya sekilas, ia tidak menjawab. Lalu kembali menunduk menatap layar laptopnya, seolah pria itu tidak ada. Pria itu menggeser berat badannya, kikuk. “Ah… Valeria?” ulangnya. “Kita satu kelas, aku sudah lama memperhatikanmu.” Valeria tidak bereaksi. “Maksudku—memperhatikan karena aku kagum,” lanjutnya cepat, seperti takut tidak sempat menyelesaikan kalimat. “Kau mandiri, kau selalu berhasil tanpa bantuan siapa pun, bisakah kita berteman?” Kalimatnya panjang, terlalu panjang. “Aku tidak suka diganggu,” jawab Valeria singkat, tanpa menatapnya. Pria itu tersenyum kaku. “Tenang saja, aku hanya ingin berteman, tidak lebih dari apa pun.” Valeria mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya datar, dingin, tanpa emosi. “Apakah kau tidak mengerti bahasa manusia?” tanyanya tenang. Pria itu terdiam. Wajahnya memucat, lalu memerah. “Oh… maafkan aku, maaf sudah membuatmu merasa tidak nyaman.” gumamnya. Ia mundur satu langkah, lalu pergi dengan langkah canggung, seolah membawa rasa malu yang terlalu besar. Valeria kembali ke laptopnya. Sunyi kembali menguasai sudut itu. Beberapa menit berlalu, mungkin lebih. Waktu selalu terasa aneh baginya—kadang terlalu cepat, kadang terlalu lambat. Terkadang, Valeria selalu berpikir. Kenapa mengulang waktu itu bisa mustahil? Apakah tidak ada kesempatan manusia untuk mengubah takdir? Drttt! Drttt! Getaran ponsel memecah keheningan. Valeria melirik layar. Mom. Ia mengangkat panggilan itu tanpa ragu. “Ya, Mom?” “Maxim akan menjemputmu,” suara Vivian terdengar tenang, seolah itu hal paling wajar di dunia. “Dia akan tiba sekitar sepuluh menit lagi.” Valeria mengerjap. “Secepat itu?” “Tentu saja, karena kau sudah setuju,” jawab Vivian. “Dan Maxim sangat senang mendengar kabar itu, itu sebabnya ia ingin segera bertemu denganmu.” Valeria terdiam sejenak. “Baik, Mom.” “Bagus,” Vivian tersenyum di seberang sana—Valeria bisa mendengarnya. “Kau memang penurut, Mommy yakin kau akan menyukainya, Maxim sangat tampan.” Sambungan terputus. Valeria menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama sebelum meletakkannya. Tidak ada rasa senang, tidak ada rasa gugup, tidak ada penolakan, tidak ada alasan. Hanya… kosong. Ia merapikan barang-barangnya, memasukkan laptop ke dalam tas, lalu berdiri. Langkahnya tenang saat menuruni tangga, keluar dari perpustakaan, kembali ke panas yang belum juga surut. Begitu pintu terbuka, udara terasa berubah. Seorang pria berdiri beberapa meter dari pintu perpustakaan. Setelan jas hitamnya jatuh sempurna di tubuh tinggi dan tegap. Rambutnya rapi, wajahnya tegas, nyaris tanpa ekspresi. Namun bukan itu saja yang membuat orang-orang meliriknya—melainkan auranya. Dominan. Menekan. Gelap. Seolah ruang di sekitarnya tunduk pada keberadaannya. Beberapa mahasiswa memperlambat langkah, beberapa lainnya menoleh tanpa sadar. Pria itu tidak melakukan apa pun—hanya berdiri. Namun kehadirannya sudah cukup untuk menguasai tempat itu. Valeria melirik sekilas, lalu memalingkan wajah. Ia memilih tidak peduli dan melanjutkan langkahnya. Namun langkah itu terhenti. “Valeria Greta Louis?” Suara itu rendah, tenang—namun mengandung tekanan aneh yang membuat jantung Valeria seakan lupa berdetak. Ia berbalik perlahan. “Anda siapa?” tanyanya. Pria itu menatapnya langsung. Tidak tersenyum, tidak berkedip. “Maxim Dark Halston.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD