Delapan

1369 Words
“Ini Dito,” ucap Irsyad. Runa memperhatikan lelaki yang berdiri di samping suaminya. Lelaki dengan kemeja garis-garis biru itu tersenyum ke arah Runa, Runa membalas senyuman itu dengan ramah. “Ayo masuk, To,” ajak Irsyad.   “Mas Dito mau minum apa?” tanya Runa setelah suami dan tamunya duduk di sofa ruang tamu. “Apa aja, Mbak,” jawab lelaki yang tak memiliki rambut itu. “Di sini enggak ada jenis minum apa aja, kamu mau minum dingin atau hangat atau mau air mendidih?” tanya Irsyad sarkas. Runa menepuk bahu suaminya. Benar-benar lelaki ini tak ada sopan-sopannya mmenyambut tamu. Dito yang sudah terbiasa dengan sikap Irsyad hanya tertawa, Runa tak sengaja melihat cara Dito tertawa, lelaki bertubuh atletis itu tertawa dengan pelan dan menutupi mulutnya yang terbuka, seperti wanita, batin Runa. Akh, tapi oppa-oppa korea juga ada yang menutupi mulutnya dengan tangan kalau tertawa. “Yang dingin aja deh Mbak, soalnya cuacanya panas banget,” jawab Dito. Runa mengangguk lalu pergi membuatkan minuman. Irsyad sedang berbincang dengan Dito saat Runa kembali dengan dua gelas berisi cairan berwarna hijau, di letakkanya gelas-gelas yang dipenuhi embun itu diatas meja dengan hati-hati takut kertas-kertas yang ada di sana terkena tetesan embun dari gelas. Runa juga meletakkan toples berisi wafer didekat gelas, sepertinya kedua lelaki itu sedang membahas pekerjaan mereka. Runa memilih untuk masuk ke bagian dalam rumah dan menjaga Akia di ruang keluarga daripada disana ia hanya menggangu suaminya. “Mas, udah lama nikahnya?” tanya Dito tiba-tiba. Irsyad yang sedang mengamati kertas di tangannya memandang Dito dari balik kacamatanya. “Belum,” jawab Irsyad lalu kembali mengamati kertasnya. “Oh, Mas Irsyad pinter ya cari istri masih muda, cantik lagi,” oceh Dito. Irsyad  melempar kertas di tangannya ke atas meja, tatapannya berubah garang begitu mendengar ucapan Dito, Ia menurunkan kacamatanya, Dito yang paham situasi hati Irsyad berubah memburuk tak berani menatap atasannya itu. “El udah hubungin kamu belum? Kenapa dia belum sampai juga?” tanya Irsyad. “Biar saya hubungin lagi, Mas,” ucap Dito, ia merogoh saku celananya mengeluarkan handphone dari sana lalu pergi ke luar rumah sambil menempelkan benda pipih itu di telinganya. *** “Ayo, Mas Dito dicicipi makanannya,” ucap Runa mempersilahkan. Dito yang sudah duduk di seberangnya memperhatikan deretan piring berisi makanan yang Runa masak. “Mbak Runa masak sendiri?” tanyanya sambil membalik piringnya. “Iya, masak sendiri, soalnya belum dapat orang buat bantuin urus rumah,” jawab Runa. “Mau saya bantu cariin, Mbak? Kebetulan tante saya penyedia jasa  asisten rumah tangga,” ucap Dito menawarkan. Runa melirik Irsyad. Lelaki yang sejak tadi memilih melahap makanannya itu akhirnya membuka suara. “Enggak usah, To. Nanti saya cari sendiri aja,” jawab Irsyad. Runa beralih ke Dito lalu melemparkan senyum tipis.” Iya, Mas Dito… enggak usah nanti malah ngerepotin,” ucap Runa. Dito yang memahami situasi, akhirnya hanya menganggukkan kepala. Ia lalu mengambil makanan yang sudah dihidangkan oleh Runa. Irsyad memperhatikan setiap gerak-gerik Dito yang sedang berbincang dengan Runa. “Kalian kerjanya berdua aja? Bukannya kata kamu bertiga ya, Yah?”tanya Runa. “Iya, Helena enggak jadi datang, karena Ibunya sakit jadi harus cepat pulang,” jawab Irsyad. Runa hanya manggut-manggut mendengar jawaban Irsyad, keduanya kembali melahap makanannya masing-masing tanpa banyak berbicara lagi. Runa menjadi orang pertama yang menyelesaikan makannya karena suara tangis Akia yang baru bangun tidur, perempuan itu bergegas menyusul anaknya di kamar. Sepeninggalan Runa, Irsyad yang baru meneguk air putih di gelasnya membuka suara. “Kamu udah punya pacar, To?” tanya Irsyad Dito tersedak air yang baru masuk mulutnya, “Kenapa, Mas?” tanyanya setelah menepuk-nepuk dadanya beberapa kali. “Nanya aja, siapa tau belum, mau saya jodohin sama anak kantor yang jomlo,” ucap Irsyad asal. “Hahahaha,” tawa renyah lelaki yang masih mengenakan kemeja rapi itu terdengar. “Mau di jodohin sama siapa dulu nih, Mas?” tanya Dito. “Ya kamu single atau double?” tanya Irsyad lagi. “Sayangnya saya udah double, Mas,” jawab Dito, tangannya mengusap belakang leher dengan wajah dibuat kecewa. “Udah mau nikah?” tanya Irsyad. Ia perlu mencari tahu tentang anak buahnya yang satu ini, karena melihat tindak tanduknya saat bertemu Runa untuk pertama kalinya yang sedikit mencurigakan. Ia perlu waspada pada ancaman-ancaman yang mungkin mengelilinginya. “Belum sih, Mas, ada sedikit masalah antara saya sama dia yang bikin kami susah ngurus pernikahan,” jawab Dito. “Kenapa memangnya?” tanya Irsyad lagi. Dito hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Irsyad. “Sorry, To, saya enggak bermaksud ikut campur urusan pribadi kamu,” ucap Irsyad yang tak enak hati terlalu jauh mengorek informasi pribadi Dito. “Enggak masalah, Mas,” jawab Dito.     *** “Mas Dito udah pulang, Yah?” tanya Runa saat keluar kamar dan mendapati ruang tamu sudah kosong. Sudah tak ada lagi kertas-kertas yang berserakan di meja serta laptop yang menyala. Ruangan itu sudah rapi, begitu juga dengan meja makan, piring-piring bekas makan sudah tidak ada lagi di atas meja. “Udah, lima belas menit yang lalu,” jawab Irsyad yang sedang mencuci piring. “Kamu ngapain?” tanya Runa yang mendekati Irsyad. “Sini, aku aja yang nyuci, kamu istirahat aja,” ucap Runa saat mengetahui apa yang sedang di lakukan suaminya itu. “Enggak apa-apa, Kakak udah tidur lagi, Run?” tanya Irsyad yang mulai membilas piring-piring. “Udah, tapi pasti nanti malam bangun sampai pagi, pola tidurnya belum benar, masih kayak kelelawar,” jawab Runa yang membantu Irsyad, di keringkannya piring-piring yang sudah di bilas oleh Irsyad dengan kain bersih lalu di tata di atas rak. “Tapi enggak masalah ‘kan kata dokter?” tanya Irsyad. “Enggak apa-apa katanya emang pola tidur anak bayi kayak gitu karena masih dalam proses pertumbuhan, nanti lama-lama juga teratur, ini juga enggak separah dulu, dulu ‘kan kita sama sekali enggak tidur kalau malam,” jawab Runa. “Oh, iya… kamu ingatkan aku ya nanti, Kakak belum di imunisasi polio, hari minggu kamu bisa antar ke rumah sakit enggak?” tanya Runa “Libur,” jawab Irsyad yang akhirnya menyelesaikan bilasan piring terakhir. “Bukannya Kakak udah dapat polio tetes ya, Run?” tanyanya. “Udah yang di tetes, tapi yang di suntik belum, kata Dokter Amin, sekarang ada polio yang disuntikkan namanya apa ya… kemarin aku di kasih tau, tapi lupa,” sahut Runa diikuti cengirannya. Runa menerima piring terakhir dan mengeringkannya. “Eh, si nyonya gimana sih, kok bisa lupa,” ucap Irsyad, tangannya yang sudah di keringkan mengacak-acak rambut Runa. “Ya udah nanti hari minggu kita ke rumah sakit,” ucap Irsyad. “Oke,” sahut Runa senang. “Sekalian  jalan-jalan ‘kan, Yah?” tanya Runa penuh harap. Kapan lagi Irsyad punya waktu luang. Peluang ini harus di manfaatkan sebaik mungkin oleh Runa. “Siap, mau jalan-jalan kemana emang, hemh?” tanya Irsyad  yang merapatkan dirinya ke tubuh Runa. Di diselipkannya helaian rambut Runa di belakang telinga saat istrinya sedang memikirkan kemana mereka akan pergi. “Kemana ya?” tanya Runa meminta pendapat. “Terserah kamu,” jawab Irsyad. “Ya udah, lihat kondisi Akia nanti aja ya, takutnya dia rewel habis imunisasi,” ucap Runa memutuskan. “Oke,” jawab Irsyad sambil melingkarkan tangannya di pinggang Runa.  “Hari minggu Kakak disuntik ‘kan… gimana kalau malam ini, Bundanya Akia dulu yang di suntik,” ucap Irsyad yang semakin mengetatkan pelukannya, mengantisipasi kaburnya Runa dari dekapannya. “Kamu kok genit banget sih,” ucap Runa disela tawanya. “Enggak apa-apa, genit sama istri sendiri, enggak dosa kok,” jawab Irsyad. Lelaki itu tak ingin membuang banyak waktunya, tanpa berbasa-basi lagi, Irsyad mengangkat tubuh Runa, mendudukkannya di atas meja  pantry, wajah kaget Runa semakin menjadi saat suaminya langsung melumat bibirnya. Malam ini keduanya cukup lama menghabiskan waktu di dapur, saling berbagi kehangatan dan memuaskan hasrat yang keduanya simpan cukup lama.  Irsyad lebih banyak mendominasi permainan mereka benar-benar membuat Runa kehilangan napas, semakin lama pagutan keduanya semakin liar tak terkendali, erangan yang tertahan membuat Runa sedikit tersiksa, tubuhnya bergerak ikut menggoda Irsyad berharap suaminya segera menuntaskan permainan ini. Benar saja, tak lama setelah Runa menggoda pusat Irsyad, lelaki itu langsung membawa istrinya ke kamar dan menuntaskan permainan mereka hingga beberapa kali pelepasan.     bersambunggg
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD