Tujuh

2216 Words
Sudah dua minggu Irsyad selalu pulang larut malam, Runa yang sebelumnya selalu menginap di rumah mertuanya memutuskan untuk kembali ke rumahnya sendiri. Ia tak bisa terus menerus tinggal disana, seminggu dirasanya sudah cukup. Ia harus membiasakan diri jika hal seperti ini terulang. Ia perlu membangun rasa percaya diri dan keberaniannya lagi. Dulu ia bahkan bisa tinggal sendiri di kos-kosan kecil yang sebenarnya lebih rawan kejahatan di bandingkan kompleks rumahnya yang memiliki penjagaan yang cukup ketat. Selama seminggu ini ia berhasil membangkitkan keberaniannya lagi. Walaupun dengan perasaan was-was, jika hari sudah mulai petang Runa akan langsung mengecek semua jendela dan pintu lalu duduk bersama Akia di ruang tamu sambil mengamati keadaan di luar rumah dari balik jendela. Atau  jika banyak ibu-ibu yang berkumpul bersama anaknya di luar ia ikut bergabung dan kembali ke rumah sebelum azan magrib berkumandang. Seperti sekarang Runa dan Akia berkeliling taman bersama Rania dan anaknya Gio. Jarak rumah mereka berdekatan hanya dipisahkan oleh dua rumah. Runa dan Rania yang seumuran dan sama-sama baru memiliki satu anak itu sering berbagi informasi yang berhubungan dengan parenting. “Gi, Akia pintar tuh, makannya banyak, nanti kamu kalah besar lho sama Akia,” ucap Rania yang tengah membujuk anaknya untuk makan. Umur Gio hanya beda dua bulan dengan Akia, anak lelaki itu mulai diberikan MPASI oleh sang ibu, namun napsu makan Gi -sapaan Gio- akhir-akhir ini berkurang. Rania menyodorkan sendok berisi potongan puding tepat di depan mulut Gi, berharap anaknya itu mau membuka mulut dan melahap makanannya namun sayang,  Gi malah menjauhkan wajahnya dari sendok. “Ck! Nanti Mami diomelin Papi kamu Gi, makan dong ganteng,” bujuk Rania yang hampur putus asa menyuapi Gi. Runa yang berada disamping Rania tertawa melihat temannya itu kesusahan merayu Gi. Runa yang berjongkok di depan stroller Akia berhenti menyuapi anaknya, ia bergeser sedikit menghadap Gi dan mengusap rambut Gio dengan lembut. “Abang Gi mau coba makanan Akia enggak? Enak lho, warnanya kuning rasanya manis, Kia suka banget sama ini, Abang mau coba?” rayu Runa sambil menyodorkan pure ubi kuning ke depan mulut Gi. Gi melirik sebentar lalu membuang wajahnya. “Ah, Bang Gi enggak suka Kak, buat Kakak Ki aja ya,”ucap Runa, ia menggerakkan sendok ke arah Akia. “Ngengggggggg,” suara Runa yang menirukan suara mobil menarik perhatian Gi. “Tinnn tinn, mobilnya mau masuk Ka, aaaa,” ucap Runa. Ketika Akia membuka mulutnya sendok berisi makanan itu langsung masuk. Wajah Akia yang berseri-seri sambil mengunyah mengundang perhatian Gio. Ia memperhatikan wajah Akia yang masih melumat makanan di mulutnya “Horeee, ih Kakak Kia pintar banget,” puji Rania. Gio mengalihkan pandangannya, kini ia menatap Runa, Runa yang menyadarinya tertawa karena merasa berhasil membuat bocah lelaki itu berminat pada makanan.  Runa menyenggol lengan Rania, mengisyaratkan ibu muda itu untuk mencoba caranya tadi. “Ngeeeeenggggg, mobil Gi baru datang bang, ngeeenggg,”ucap Rania mencoba, ia menggerakkan sendok kesana kemari tak langsung ke depan Gio untuk menarik perhatian Gio. Berhasil, Gio memperhatikan ibunya. “tinnnnn tinnnn, mobil datang bersiap untuk masuk,” ucap Rania, ia pikir Gi akan membuka mulutnya namun anak itu malah melengos dan kembali menatap Runa. “Gi, aaaaa sayangkuuu,” bujuk Rania. Namun tak dipedulikan oleh Gio. Runa memperhatikan Gio, anak lelaki itu balas menatap Runa. Akh, tidak. Bukan Runa yang dilihat tapi mangkuk berisi makanan berwarna kuning di tangan Runa yang sejak tadi dipandangi oleh Gio. Iseng, Runa mengangkat sendok berisi pure itu, ia menggerakkan sendok ke kanan dan kiri dan benar dugaannya. Gio mengikuti arah perginya si sendok. “Abang Gi mau?”tanya Runa. Gio semakin lekat menatap Runa. “Aaaaaa,” pinta Runa. Gio mengikuti permintaan Runa. Anak lelaki itu membuka mulutnya dan melahap pure ubi kuning milik Akia. Setelahnya Gio tersenyum hingga matanya menyipit dan itu menular ke Akia. Anak perempuan Runa itu terlihat girang sampai memukul-mukul udara sambil tertawa. Runa dan Rania saling bertatapan, tawa keduanya terdengar begitu memahami apa yang terjadi di sana. Rania mengusap kepala botak anaknya. “Abang bisaan deh, genit ih, maunya sesendok sama Akia,” ledek Rania.    *** “Kakak senang enggak main sama abang Gi?” tanya Runa sambil menutup pintu rumah. Keduanya baru tiba dirumah setelah berjalan-jalan di taman. Akia yang berada di gendongannya tertawa sambil menepuk-nepukkan tangannya ke wajah Runa. “Senang ya? Kakak ganjen deh, kalau ketemu Bang Gi senyum mulu, lagi tebar pesona ya, Ka?” ledek Runa. Dijawilnya dagu Akia  yang membuat anaknya itu semakin melebarkan senyumnya. Mata bayi enam bulan itu terlihat bersinar saat tertawa menularkan bahagia ke sang Bunda. Pintu utama sudah Runa kunci, ia masuk ke dalam rumah menuju dapur, diletakkannya mangkuk kecil bekas makan Akia. Sebotol air dingin dikeluarkannya dari kulkas, Runa bergerak ke arah kabinet tempat gelas-gelas berjejer. Di ambilnya satu gelas dan di letakkannya di atas meja makan. Suara air yang beradu dengan permukaan gelas terdengar di rumah yang sepi itu. Sisi gelas yang tadinya bening kini berubah menjadi buram tertutup embun dari air es. Runa menenguk cairan bening itu hingga tandas, Akia yang masih di gendongnya menatap Runa dengan mulut sedikit terbuka. Sepertinya anak itu terperangah melihat Bundanya kehausan. Runa terkekeh. “Kakak mau?” tanyanya sambil mengarahkan gelas kosongnya ke depan wajah Akia. “Enggak boleh,” lanjut Runa. Ditempelkannya gelas yang masih terasa dingin itu ke pipi Akia, kaget, Akia menunjukkan wajah lucunya saat menerima dingin di pipinya dan langsung menyembunyikan wajah di d**a Runa. Runa tertawa begitu melihat tingkah anaknya. Ia meletakkan gelasnya dan mengusap kepala Akia lembut sambil berjalan menuju ruang televisi. Runa melepaskan gendongannya dan meletakkan Akia di atas karpet tebal yang lembut. Ia lalu ikut duduk disamping Akia, anak itu sudah bisa tengkurap dan bergerak tak tentu arah. Kadang Akia hanya berputar-putar saja, tapi kadang anak itu bisa sampai berguling. “Kak, Ayah telepon nih,” ucap Runa saat melihat ponselnya yang berdering menunjukkan nama Irsyad di layar ponsel. Runa mengusap layar ponselnya. Wajah Irsyad muncul di layar ponsel, Runa mengarahkan ponselnya ke wajah Akia agar suaminya bisa melihat si kecil. “Assalamualaikum, anaknya Ayah,” sapa Irsyad yang tampak lelah. “Waalaikumsalam, Ayah,” jawab Runa yang menirukan suara anak kecil. “Lagi apa, Kak?” tanya Irsyad. Akia yang melihat wajah ayahnya menggumamkan suara-suara tak jelas yang hanya dimengerti oleh anak-anak seusianya. Bayi bermata bulat itu mendekati ponsel dan menggapai-gapai ponsel ditangan Runa. Irsyad dan Runa tertawa melihat tingkah anaknya itu. “Ini nih, ngobrol sama Ayah, sini,” ucap Runa, diletakkannya ponsel diatas karpet. Akia langsung mendekati dan mengusap-usap permukaan benda persegi panjang itu, seperti sedang mengusap wajah Irsyad. Runa meninggalkan Akia, memberikan kesempatan pada anaknya untuk mengobrol dengan sang ayah. Ia berjalan menuju kamar untuk mengambil baju ganti untuk Akia yang sudah basah oleh keringat. “Ki, kenalin nih, ini tante Helena, temannya Ayah, sapa dulu tantenya,” ucap Irsyad. Layar handphone menampilkan wajah perempuan cantik yang tengah tersenyum ke arah Akia. “Hay, Akia,” sapa Helena sambil melambaikan tangannya di depan layar. Akia memekik kencang sambil memukul-mukul layar ponsel, membuat Irsyad dan Helena tertawa bersama. “Kayaknya dia suka kamu, El,” ucap Irsyad. “Bagus dong,” sahut Helena. “Kia, tante kerja dulu ya, dah,” ucap Helena, selesai melambaikan tangan Helena pergi meninggalkan Ayah dan anak itu. Akia masih mengoceh tak jelas dengan ayahnya, sesekali terdengar suara Irsyad yang tertawa karena tak mengerti apa yang dibicarakan anaknya. “Ngobrol apa sih, Ka?” tanya Runa yang sudah kembali ke ruang televisi. “Habis curhat ya, Kak,” sahut Irsyad sambil tertawa. “Curhatin apa, Kak? Ceritain Abang Gi ya, Kak?” ledek Runa yang ikut bergabung pada sambungan video call itu. “Abang Gi?” tanya Irsyad bingung. “Oh, ayah belum kenal Abang Gi, Kak, Ayah sibuk mulu sih ya, Kak,” sindir Runa. “Itu siapa, Run? Kamu selingkuh sama abang-abang siomay yang sering lewat depan rumah?” tanya Irsyad penuh selidik. “Sembarangan kamu, itu mah Ginanjar, ini beda lagi, Gio namanya,” jawab Runa “Kamu udah kenalan sama abang siomay? Hapal amat namanya. Terus Gio yang jualan apa lagi? Tahu bulat? Keren banget namanya,” cecar Irsyad dengan pandangan kesal. “Ya kali tahu bulat lewat kompleks sini, Yah, bisa diomelin ibu-ibu saking berisiknya,” sahut Runa. “Iya terus itu abang-abang apaan? Kamu selama aku lembur kenalan sama banyak laki-laki ya, Run?” tuduh Irsyad. Runa berdesis , ingin rasanya ia mencungkil mata Irsyad yang menatapnya penuh curiga. “Aku kenalan sama lelaki? Bukannya kamu yang lembur ditemani sama perempuan, sampai mau suap-suapan,” sindir Runa kasar. Tadinya ia tak ingin mengangkat topik ini, ia bahkan berusaha mengubur keinginannya bertanya seputar perempuan bernama El itu. Tapi karena Irsyad yang memulai duluan, apa boleh buat, mungkin ini kesempatan emasnya untuk menanyakan hubungan Irsyad dengan perempuan bernama El itu. Irsyad terdiam tak menanggapi ucapan istrinya. “Udah sana. Urusin kerjaan kamu, atau lanjutin mesra-mesra sama partner lembur kamu itu,” usir Runa yang langsung mematikan sambungan diantara keduanya. “Ayah kamu nyebelin, Kak,” adu Runa pada anaknya. *** Suara bel rumah membuat Runa terjaga dari tidur lelapnya. Ia beringsut, dan duduk sebentar di sisi ranjang, mengumpulkan seluruh nyawanya. Suara bel kembali terdengar saat Runa mengucek matanya. “Iya, sebentar,” sahutnya. Runa turun dari tempat tidur. Ia meringis saat kakinya menyentuh lantai putih yang cukup dingin. Dengan langkah gontai ia keluar kamar tidur untuk melihat siapa yang memencet bel rumahnya malam-malam seperti ini. Melewati ruang tamu, mata Runa melirik ke dinding tempat jam menempel. Pukul satu dini hari, ia membuang napasnya kasar saat bel dirumahnya kembali berbunyi. “Iya, iya sebentar,” ucap Runa. Runa mengintip lewat jendela rumahnya, memastikan dugaannya bahwa diluar sana adalah Irsyad. Di putarnya kunci yang tergantung di lubang pintu. Pintu utama terbuka menampilkan suaminya yang masih berpenampilan rapi. “Udah tidur ya, Run?” tanya Irsyad setelah mengecup puncak kepala istrinya. “Iya,” jawab Runa. Irsyad menutup pintu dan menguncinya kembali. “Kamu enggak bawa kunci?” tanya Runa. “Lupa,” sahut Irsyad sambil terkekeh. “Tidur lagi sana,” perintah Irsyad yang menggiring Runa ke kamar. Runa kembali ke ranjangnya, ia langsung terlelap lagi begitu merebahkan tubuh. Irsyad mendekati istrinya perlahan, mengusap lembut kepala Runa. “Capek banget ya, Run?” tanyanya yang jelas-jelas tak akan dijawab. Ia memandangi wajah Runa cukup lama, menikmati wajah Runa yang begitu damai dalam tidurnya. Napas Runa yang teratur menandakan tidur perempuan itu memang sudah begitu nyenyak. Irsyad mendekatkan wajahnya ke wajah Runa, satu kecupan yang cukup lama mendarat di kening ibu satu anak itu. Irsyad melepaskan kecupan itu dan kembali mengusap rambut pendek Runa. Ia tersenyum sebentar lalu meninggalkan Runa, beralih ke box bayi yang tak jauh dari ranjang. “Ayah pulang, Kak,” ucap Irsyad, tangannya bergerak mengusap pipi Akia. “Besok kita jalan-jalan ya,” ajak Irsyad. “Sekarang Ayah mandi dulu,” ucap Irsyad setelah lama memandangi anaknya. “Ganti baju aja, terus langsung tidur, besok pagi aja mandinya biar enggak masuk angin,” ucap Runa dengan suara parau. Irsyad tersenyum mengetahui istrinya belum benar-benar terlelap. “Iya,” jawab Irsyad singkat. Irsyad menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya, ia lalu menuju ke lemari pakaian dan mengganti baju, segera ia bergabung dengan sang istri yang sudah kembali memejamkan mata. Lelaki itu merapatkan tubuhnya dan menaikkan selimut sebatas bahu Runa. Tangannya melingkar di pinggang Runa memberikan rasa hangat untuk istrinya. Rasanya sudah lama Irsyad tak seperti ini, beberapa hari belakangan sepulang kerja ia langsung tidur saking lelahnya. Tak pernah dirinya mengucapkan selamat tidur pada anak dan istrinya, tak ada kecupan yang ia berikan, ia benar-benar langsung menarik selimut menutupi tubuhnya yang seharian kelelahan. Mata Irsyad hampir terpejam saat dering ponselnya memenuhi kamar tidur, tak ingin membuat gaduh dan membangunkan anak serta istrinya, ia buru-buru menyambar ponsel yang diletakkannya di atas nakas. “Halo, El,” sapa Irsyad. Runa yang kehilangan dekapan suaminya membuka matanya sedikit, begitu mendengar nama El disebut. “Iya enggak apa-apa, kenapa El?” tanya Irsyad. Dan mengalirlah obrolan di antara dua orang itu. Runa memejamkan matanya sambil mencuri dengar pembicaraan sang suami dengan perempuan bernama El itu. “Lho, bukannya kemarin mereka udah oke sama rancangannya?” suara Irsyad berubah menjadi panik. Lelaki itu terduduk di ranjang sambil mengacak rambutnya begitu mendengar jawaban dari seberang. “…” “Terus salahnya dimana? Kemarin mereka udah oke, kenapa tiba-tiba minta perubahan, enggak bisa begitu El, rancangan itu sudah sesuai, perhitungannya juga sudah tepat,” ucap Irsyad dengan nada geram. “…” “Hanya karena itu? Ya Tuhan, terus mereka maunya seperti apa? Kalau enggak suka kenapa tendernya dikasih ke kita,” ucap Irsyad emosi. “…” “Ya udah, besok aku coba bertemu mereka dan bahas masalah ini,” ucap Irsyad. Tak lama panggilan itu berakhir. Irsyad kembali merebahkan tubuhnya disamping Runa. Matanya menatap langit-langit kamar, mata yang sebelumnya hampir terpejam kini malah terbuka semakin lebar, rasa kantuknya hilang, pikirannya kembali pada pekerjaan yang mengalami kendala. Tangan kecil merambat di perutnya, bergerak kearah pinggangnya. Irsyad mengalihkan pandangannya, tangan putih istrinya sudah memeluk tubuhnya itu. Tangan Irsyad mengusap tangan Runa dengan begitu lembut. Runa yang tak membuka matanya itu mendekatkan diri ke tubuh Irsyad, ia harap suaminya bisa lebih tenang menghadapi masalah yang sebenarnya tak Runa ketahui. “Jalan-jalan sama Kakak ditunda dulu aja, selesaikan dulu kerjaan kamu,” ucap Runa dengan suara lembut dan mata terpejamnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD