Enam

1972 Words
Cahaya dari lampu memancar terang di ruang  tidur sepanjang malam, terlalu asik meninabobokan anaknya membuat Runa ikut terlena dan berakhir ikut terlelap tanpa mematikan penerangan yang ada. Runa menggeliat di samping Akia, namun gerakannya tertahan saat di sadarinya ada sebuah lengan melingkari pinggangnya. Tersentak kaget, Runa menepis tangan itu hingga si empunya terbangun. “Pagi, Bundanya Akia,” sapaan parau yang tak asing di telinga Runa menambah rasa tak percaya pada apa yang ia lihat disebelahnya. “Kamu? Kok ada disini?” tanya Runa. Lipatan dikeningnya muncul menghiasi parasnya yang baru bangun tidur. Runa duduk  diatas ranjang dengan bagian bawah tubuh tertutup selimut. “Ini ‘kan kamar aku,” jawab Irsyad singkat. Lelaki itu tak berniat bangun dari tempatnya, ia malah memperbaiki posisi tidurnya dan meraih pergelangan Runa, menariknya agar kembali  tidur bersamanya  di bawah selimut. “Udah pagi, aku mau bantuin Bu Warti dan Mama di dapur,” ucap Runa yang menahan tubuhnya agar tak kembali berbaring seperti yang diinginkan suaminya. “Enggak usah, sini aja. Ngapain sih ramai-ramai di dapur kayak mau demo aja,” ucap Irsyad yang kini sudah terduduk dan menarik bahu Runa agar berbaring di sampingnya. “Kamu enggak mau sarapan?” tanya Runa. “Sarapanku udah ada di depan mata,” jawab Irsyad dengan sebelah mata yang mengedip menggoda Runa. Pukulan ringan bersarang di d**a Irsyad, kekehan Irsyad membuat Runa semakin malu dan menyembunyikan wajahnya di d**a bidang milik Irsyad. “Kenapa enggak bilang kalau menginap disini?” tanya Irsyad dengan tangan yang bermain di surai hitam Runa. “Kamu tahu darimana aku disini?” bukannya menjawab, perempuan itu malah balik bertanya. “Semalam aku pulang kalian enggak ada dirumah, aku khawatir kalian kenapa-kenapa, untung aku telepon Mama sebelum telepon polisi,” jawab Irsyad. Tangannya beralih ke punggung Runa, mengusap pelan permukaan kulit yang masih terlapisi pakaian tidur. “Kamu langsung kesini?” tanya Runa yang memainkan kerah polo yang dikenakan suaminya. “Enggak,” jawab Irsyad diiringi kekehan. “Tadi subuh aku baru sampai sini, lihat istri cantik tidurnya pulas banget bikin aku mau ikut tidur,” lanjut Irsyad yang kembali mengusap rambut pendek Runa. “Katanya khawatir tapi enggak langsung nyusul, khawatir macam apa itu,” protes Runa dengan bibir mencebik. “Semalam udah lelah banget, Run. Jadi aku rebahan sebentar,” ucap Irsyad membela diri . Baru saja lengan Irsyad ingin mendekap tubuh istrinya, Runa bangun dan langsung duduk disamping tubuh Irsyad. Gerakan Runa yang tiba-tiba itu membuat Irsyad merasa kehilangan. Ia hanya mampu menggapai lengan Runa agar tak pergi jauh darinya. “Memang pulang jam berapa?” tanya Runa dengan tatapan menyelidik. “Jam satuan,” jawab Irsyad. Dengusan kesal terdengar, Runa melihat Irsyad dari ekor matanya. Kini isi kepalanya itu memikirkan berbagai hal-hal yang sebenarnya juga tak ia sukai. Pemikiran yang condong ke hal negatif itu ingin Runa enyahkan dari otaknya, namun sayang tak bisa. “Aku mau ke dapur dulu,” ucap Runa bergerak meninggalkan Irsyad dan Akia di ranjang. Irsyad hanya menatap kepergian Runa lalu bergeser mendekati anaknya. Irsyad yang tak menyadari kekesalan dalam hati Runa kembali merebahkan tubuhnya di samping gadis kecilnya. Di peluknya Akia dengan hati-hati untuk melepas rindunya pada sang anak. *** Suara alas kaki yang beradu dengan lantai terdengar memenuhi kediaman Tama. Dini dan Warti yang berada di dapur langsung mengalihkan perhatian ke sumber suara. Dilihatnya Runa berjalan dengan wajah cemberut menuruni anak tangga, kening Dini berkerut, niatnya menyapa Runa diurungkan, matanya  melirik ke Warti, mempertanyakan apa yang terjadi dengan menantunya. Namun, sama halnya dengan Dini, Warti pun tidak tahu apa yang terjadi dengan Runa sampai wajahnya tertekuk seperti itu. “Masak apa, Ma?” tanya Runa yang baru sampai di anak tangga terakhir. “Ayam goreng, sini bantuin Mama,” ajak Dini, tangannya memerintahkan Runa untuk mendekat. Runa berjalan mendekati dua wanita yang sibuk dengan alat perangnya masing-masing. Dini dengan ulekan ditangan sedangkan Warti dengan pisaunya. Runa melihat bahan-bahan yang tergeletak, matanya menemukan ada kembang kol, wortel, dan jamur kancing, ia lalu mengedarkan pandangan ke arah Warti yang sedang memotong daging ayam dan membersihkannya di bawah air mengalir. “Mau masak capcay ya, Bu?” tanya Runa dengan antusias. “Iya, Mbak,” jawab Warti singkat, senyum tipisnya tersungging ke arah majikannya itu. “Runa bantuin potongin sayurannya ya,” ucap Runa menawarkan diri. Warti hanya mengganguk sambil tersenyum. “Bu, Ina apa kabar?” tanya Runa tiba-tiba saja dirinya teringat gadis itu. Sudah lama ia tak bertemu dengan Ina, ia rindu akan celotehan Ina yang menjadi teman saat Irsyad memperlakukannya dengan kejam. “Baik Mbak, dia suka nanyain Mbak Runa kalau teleponan sama saya,” sahut Warti. “Ajak main kesini, War,” ucap Dini yang baru akan mengulek bumbu untuk daging ayam. Suara ulekan yang beradu dengan cobek batu itu memenuhi dapur, dengan sedikit bertenaga Dini menumbuk bumbu-bumbu yang ada disana, menghancurkan dan membuatnya menjadi sangat halus. “Iya bu, diajak main kesini biar Kakak ketemu sama Ina,” timpal Runa. “Nanti saya ngomong dulu sama anaknya,” sahut Warti. “Benar ya, Bu?,” tanya Runa meminta kepastian. “Iya Mbak, tapi enggak janji ya Ina mau,” jawab  Warti “Kalau enggak mau, biar aku yang ngomong ke dia,” sahut Runa sambil menaikkan lengan bajunya layaknya preman pasar. “Bun, Kakak haus kayaknya,” ucap Irsyad yang tiba-tiba muncul bersama Akia di gendongannya. Lelaki itu menginterupsi percakapan tiga wanita yang tengah tertawa melihat gaya Runa bak preman pasar itu. “Iya iya,” sahut Runa. “Ma, Runa tinggal ya, enggak jadi bantuin masaknya,” lanjutnya dengan wajah bersalah. Dini tersenyum sambil mengangguk, tangannya bergerak mengusir Runa agar segera pergi menyusui anaknya. of:yes'> dan langsung duduk disamping tubuh Irsyad. Gerakan Runa yang tiba-tiba itu membuat Irsyad merasa kehilangan. Ia hanya mampu menggapai lengan Runa agar tak pergi jauh darinya. “Memang pulang jam berapa?” tanya Runa dengan tatapan menyelidik. “Jam satuan,” jawab Irsyad. Dengusan kesal terdengar, Runa melihat Irsyad dari ekor matanya. Kini isi kepalanya itu memikirkan berbagai hal-hal yang sebenarnya juga tak ia sukai. Pemikiran yang condong ke hal negatif itu ingin Runa enyahkan dari otaknya, namun sayang tak bisa. “Aku mau ke dapur dulu,” ucap Runa bergerak meninggalkan Irsyad dan Akia di ranjang. Irsyad hanya menatap kepergian Runa lalu bergeser mendekati anaknya. Irsyad yang tak menyadari kekesalan dalam hati Runa kembali merebahkan tubuhnya di samping gadis kecilnya. Di peluknya Akia dengan hati-hati untuk melepas rindunya pada sang anak. *** “Ngobrol apa sama Mama?” tanya Irsyad yang duduk di sisi ranjang berhadapan dengan Runa yang duduk di sofa. “Ngobrolin mau masak apa hari ini,” jawab Runa yang fokus melihat Akia menyusu. Irsyad mengangguk-angguk. Ia kembali mengarahkan perhatiannya pada si kecil yang tertutup kain bermotif bunga berwarna-warni. “Kasihan Kakak, napasnya engap itu di dalam,” ucap Irsyad. “Enggak kok, ‘kan ini juga enggak ke tutup semua,” sahut Runa. Irsyad menarik napas dalam. “Kenapa harus ditutupin begitu sih, Run, ini di dalam kamar loh,” protes Irsyad yang tak mengerti dengan tingkah Runa, istrinya seperti menyiksa anaknya sendiri dengan kain penutup itu. “Ya udah sana keluar dulu, kalau aku lagi menyusui jangan ikut-ikutan nimbrung,” sahut Runa santai. “Emang kenapa kalau nimbrung, masih malu? Kita udah melakukamnya beberapa kali, tapi kamu masih malu? Aneh,” omel Irsyad. “Biarin,” jawab Runa singkat. Kesal mendengar jawaban Runa, Irsyad bangun dan mendekati Runa, dengan cepat ia menarik kain penutup hingga lepas dan memperlihatkan aktivitas Akia yang begitu semangat menyedot ASI, pipinya bahkan sampai mengempot karena hisapannya yang  begitu kuat. Irsyad tak mempedulikan wajah malu sekaligus kesal yang Runa tujukan padanya, ia hanya fokus pada Akia, hatinya begitu senang melihat anaknya begitu semangat memenuhi kebutuhan nutrisinya. Matanya hanya fokus ke arah Akia. Senyumnya terbit, hatinya menghangat. Berbeda dengan Runa hatinya bukan lagi menghangat tapi sudah membara, pipinya merah padam tangannya berusaha menggapai kain penutup yang Irsyad sembunyikan di balik tubuhnya. “Ini mau aku buang,” ucap Irsyad. “Aku bisa beli lagi,” sahut Runa dengan dagu terangkat. “Aku bakar kalau kamu beli lagi,” balas Irsyad sambil terkekeh. Runa memajukan bibirnya, ia benar-benar kesal dengan tingkah suaminya yang tak paham bahwa ia masih merasa malu jika mengekspos bagian tubuhnya. Jangan samakan jika mereka sedang melakukan olahraga ranjang. Dalam hal itu, dirinya jelas di lingkupi napsu dan akalnya hilang, urat malunya juga seolah putus, jika dalam keadaan sadar seperti sekarang ia benar-benar malu memperlihatkan  bagian tubuhnya itu. “Aku mandi dulu,” ucap Irsyad yang mengacak rambut Runa sebelum pergi meninggalkan anak dan istrinya. Irsyad menyadari wajah Runa yang memerah, ia tak mau semakin lama di sana dan menyiksa Runa, padahal sama sekali bukan maksudnya untuk mengambil kesempatan untuk melihat bagian-bagian tubuh istrinya itu. Ia benar-benar ingin melihat anaknya menyusu dengan nyaman tanpa perlu ditutupi kain sialan itu. Dirinya tak melarang Runa menutupi asetnya, tapi jika di dalam rumah, apalagi di kamar mereka  untuk apa? Itu hanya menyiksa anaknya saja. “Kamu mau berangkat kerja?” tanya Runa saat Irsyad mengambil handuk di lemari. Beberapa pakaian dan barang-barang Irsyad memang masih ada di rumah Dini. Di kamarnya tersimpan beberapa helai baju, jadi jika ia dan Runa menginap tak perlu banyak membawa pakaian dari rumah. “Iya, kerjaan aku lagi banyak—“ “Lembur lagi?” sela Runa. Irsyad mengalihkan pandangannya ke Runa begitu mendengar nada suara Runa yang berbeda dari biasanya. Ia bisa menangkap ada kesan tak suka dari Runa jika dirinya lembur bekerja. “Iya, kamu menginap di sini lagi enggak apa-apa ‘kan?” tanya Irsyad. Mata Runa berputar, ia tak suka dengan jawaban Irsyad. Ia begitu mengharapkan jawaban lain. “Memang berapa orang yang lembur?” tanya Runa. “Bertiga,” jawab Irsyad singkat sambil menyiapkan pakaian yang akan ia gunakan. Runa diam. Ia ingin bertanya lebih lanjut namun malu, Irsyad pasti akan mengiranya cemburu jika Runa langsung menanyakan siapa itu El.  Bisa besar kepala lelaki itu.  Tapi jika tidak bertanya tentu rasa penasarannya akan semakin memuncak. “Siapa aja?” tanya Runa akhirnya. “Aku, Dito dan Helena,” jawab Irsyad. “Tumben kamu nanya sedetail itu,” lanjut Irsyad dengan sebelah alis yang terangkat. “Enggak apa-apa, aku mau tau aja,” sahut Runa. “Siapa tahu kamu bohong, bilang lembur taunya enggak lembur,” lanjut Runa yang kembali memusatkan perhatian pada Akia. Irsyad terdiam di tempat, menatap sang istri yang baru saja mengatupkan bibir. Butuh beberapa detik untuknya agar bisa mencerna ucapan Runa hingga akhirnya ia tersenyum dan berjalan mendekati sang istri. “Jadi ceritanya ada yang cemburu nih?” ledek Irsyad yang berlutut di depan Runa sambil menatap mata Runa. “Apaan sih,” elak Runa. “Ngaku aja, Bun,” goda Irsyad. “Dih, kamu tuh kepedean. Ngapain juga cemburu sama kalian, bodo amat. Kalian mau suap-suapan juga bodo amat, enggak peduli,” ucap Runa dengan nada bicara yang semakin meninggi. Irsyad tertawa begitu melihat emosi Runa. Sekeras apapun usaha Runa menutupi rasa cemburunya, jelas Irsyad tahu apa yang dirasakan istrinya itu. “Jadi boleh suap-suapan nih?” goda Irsyad. “Terserah!” bentak Runa yang langsung bangun dari sofa dan pergi keluar kamar membawa Akia yang masih menyusu. Irsyad masih tertawa di dalam kamar, baginya kecemburuan Runa benar- benar menyenangkan. Tanpa ia sadari, ada hati yang benar- benar terbakar di balik pintu sana. Bagi Runa hal ini bukan sekedar lelucon, ia juga tak paham kenapa hatinya begitu kesal mendengar ucapan Irsyad padahal ia tahu itu hanya ledekan, Irsyad hanya menggodanya. Atau mungkin… dirinya yang salah, bisa saja itu bukan hanya sekedar menggodanya, bisa saja itu memang keinginan Irsyad yang disampaikannya secara tidak langsung. Ia sadar rumah tangganya dibangun bukan di atas pondasi yang kuat, bukan karena keduanya saling mencintai dan ingin membangun sebuah rumah, keduanya membangun rumah hanya karena tak sengaja melakukan kesalahan. Sebuah pondasi bernama keterpaksaan. Yang kekuatannya masih diragukan.  bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD