Lima

2017 Words
Pukul sebelas siang kediaman Irsyad terasa begitu sepi, lelaki  yang menginjak usia tiga puluh satu tahun itu belum pulang dari kantornya, rumah itu seperti biasa hanya dihuni oleh istri dan anaknya saja. Usai menyelesaikan pekerjaan rumah tangga Runa bermain bersama anaknya di ruang keluarga. Keduanya berbaring bersama diatas karpet lebar  bergambar kepala hello kitty, suara tawa Runa  memenuhi rumah dua lantai itu. “Ayah lagi apa?” tanya Runa pada lelaki yang wajahnya terpampang di layar ponsel. “Baru selesai ketemu klien, udah makan, Bun?” tanya Irsyad. “Udah, tadi aku masak cumi-cumi,” jawab Runa. “Kamu mau makan siang dimana?” tanya Runa. Perempuan itu mengubah posisi, yang semula berbaring kini tengkurap. Diarahkannya layar ponsel ke wajah anaknya. Ia sengaja menggunakan wajah Akia untuk menarik perhatian suaminya agar lekas pulang, dan triknya itu selalu berhasil. Irsyad yang melihat wajah lucu anaknya selalu tak sabar untuk menggendong tubuh mungil anak perempuannya itu. “Kakak,” panggil Irsyad begitu melihat Akia. ”Kamu lagi apa, Sayang?” tanya Irsyad pada bayi enam bulan yang asik dengan dunianya sendiri. “Lagi main, Ayah. Ayah enggak mau ikut main?” jawab Runa dengan suara anak kecil yang di buat-buat. Ia biasa mewakilkan Akia menjawab pertanyaan Irsyad atau orang-orang sekitar. “Kakak main sama Bunda dulu ya, hari ini Ayah pulang malam,” ucap Irsyad dengan suara lembut.   “Pulang malam?” Runa memfokuskan kamera ke arah wajahnya. Dengan bibir yang sedikit dimajukan, ia menatap Irsyad di layar. Irsyad di seberang sana hanya bisa meringis merasa bersalah pada istrinya karena tak bisa pulang cepat seperti biasanya. “Ada kerjaan penting, Bun. Aku enggak bisa kerjain di rumah, aku harus diskusi sama tim,” jawab Irsyad. Ia harap Runa bisa memahami penjelasannya. “Tapi biasanya juga kamu kerjain di rumah kalau enggak sempat di kantor,” sahut Runa dengan sedikit emosi. “Iya sayang, tapi ini beda... aku harus diskusi sama anggota tim, enggak bisa aku kerjain sendirian,” jawab Irsyad. “Jaman sekarang udah canggih , Syad, kalian ‘kan bisa diskusi lewat video call atau skype,” protes Runa. “Enggak bisa, Sayang,” ucap Irsyad dengan penuh kesabaran. “Enggak tahu ah, suka-suka kamu aja,” ucap Runa yang langsung mematikan sambungan video call tanpa menunggu Irsyad berbicara lagi. “Kalau mau lembur tuh bilang dong dari pagi, jangan tiba-tiba bilang mau pulang malam, ngeselin banget jadi laki, apa dia enggak khawatir ninggalin anak sama istri di rumah,” omel Runa pada layar ponsel yang sudah berubah menjadi gelap. “Kak, kita ke rumah Nenek aja ya, Bunda enggak berani di rumah kalau enggak ada Ayah,” ucap Runa pada Akia. Akia yang tak mengerti apa yang Bundanya ucapkan hanya tertawa sambil menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Runa tersenyum melihat tingkah Akia, ia  mendekatkan wajahnya ke arah perut  gadis mungilnya itu, menggerakkan kepalanya tepat diatas perut Akia, menggoda anaknya hingga Akia tertawa geli mendapatkan perlakuan dari Runa. “Kita beresin baju ya, Ka. Nanti langsung pergi ke rumah Nenek,” ajak Runa lagi sambil mengangkat tubuh Akia. Keduanya masuk ke dalam kamar tidur. Runa meletakkan Akia di dalam box bayi. Akia yang berada dalam posisi tengkurap itu bergerak mundur membuat Runa tertawa melihatnya. “Kakak diam disini dulu ya, Bunda beresin baju dulu,” ucap Runa, ia berjalan ke arah lemari dan mengambil tas bayi dan mengisinya dengan pakaian Akia, dan beberapa kebutuhan Akia lainnya, tak ketinggalan tissue basah dan hand sanitizer. Ia lalu mengambil pakaian miliknya sendiri dan memasukkannya ke dalam tas ransel. Selesai mengemasi pakaian, Runa kembali mengangkat tubuh Akia, di pindahkannya Akia ke atas ranjang, mengganti pakaian anaknya dengan yang lebih tebal serta memasang topi dan jaket di tubuh Akia. “Let’s go baby,” ucap Runa, ia keluar kamar dan mengunci kamarnya. Mencabut kabel-kabel yang masih tercolok di stopkontak dan menyalakan lampu di ruang tengah. Setelah yakin keadaan rumahnya aman untuk di tinggalkan ia bergegas menuju luar rumah dan mengunci pintu. “Bu Runa, mau kemana?” tanya Pak Budi,  satpam komplek yang kebetulan sedang berkeliling. Runa yang sedang kesusahan untuk mengunci pagar cukup kaget dengan teguran lelaki berkumis tebal itu. “Ya ampun si Bapak ngagetin deh,” ucap Runa sambil memegangi d**a. “Saya mau ke rumah Mama,” ucap Runa menjawab pertanyaan Pak Budi. “Sini Bu saya bantuin mengunci pagarnya,” ucap Pak Budi menawarkan bantuan, Runa yang  kerepotan langsung senang mendengar tawaran tersebut, dengan cepat diserahkannya kunci pagar ke tangan Pak Budi “Makasih ya, Pak,”ucap Runa saat kunci pagarnya di kembalikan oleh Pak Budi. “Sama-sama, Bu. Ibu pergi berduaan aja?” tanya Pak Budi, matanya memperhatikan Runa yang membawa dua tas, satu ransel yang berada di punggungnya dan satu tas bayi yang menggantung di bahunya, serta bayi yang berada dalam gendongan. Pemandangan didepannyan itu membuat Pak Budi menggelengkan kepalanya. “Iya berdua aja, Pak. Suami saya belum pulang,” jawab Runa. Sambil membenarkan tali tas di bahunya. “Naik apa, Bu?” tanya Pak Budi. “Tadi udah pesan taksi online kok, Pak, sebentar lagi juga datang,” ucap Runa yang diangguki oleh Pak Budi. “Nah ini kayaknya mobilnya,” ucap Runa saat sebuah mobil honda brio mendekat ke arah rumahnya. “Mbak Runa, ya?” ucap pengemudi mobil yang turun dari mobil hitam itu. “Iya, Mas,” ucap Runa. Supir taksi online itu lalu memperkenalkan dirinya dan membantu Runa memasukkan tas berisi perlengkapan bayinya ke dalam mobil. Setelah berpamitan pada Pak Budi, Runa segera naik ke dalam mobil. Supir taksi online itu lelaki yang Runa tebak umurnya tak berbeda jauh dengan dirinya. Kalau tidak salah namanya Gilang, lelaki berkacamata itu sangat ramah, sejak awal ia juga menunjukkan sikap sopan pada Runa. “Mas Gilang masih kuliah?” tanya Runa “Iya, Mbak. Saya masih kuliah, sambil nyambi jadi supir, lumayan buat nambahin uang jajan,” jawab Gilang. Obrolan-obrolan mengalir sepanjang perjalanan, Runa cukup nyaman dengan sifat Gilang yang ramah, berkomunikasi sewajarnya dan menggunakan kata-kata sopan. Kurang lebih setengah jam akhirnya Runa sampai di kediaman mertuanya. “Makasih ya, Mas,” ucap Runa, setelah melakukan pembayaran Runa bergegas turun dan masuk ke dalam rumah. Pak Asep membukakan pintu gerbang dengan terburu-buru. Ia kaget melihat menantu majikannya itu datang hanya berdua dengan anaknya. “Kok sendirian, Mbak?” tanya Pak Asep heran. “Ayahnya Akia masih kerja, Pak, Mama ada di rumah?” tanya Runa yang berjalan memasuki pekarangan rumah. “Tadi pagi pergi, Mbak, sebentar lagi mungkin pulang,” jawab Pak Asep. “Tapi Ibu Warti ada ‘kan, Pak?” tanya Runa lagi. “Ada, Mbak,” jawab Pak Asep yang berjalan beriringan dengan Runa sambil membawa tas milik Akia.    *** “Kenapa enggak telepon Mama, Run.  Biar bisa dijemput Pak Asep,” ucap Dini. Wanita berusia lima puluh tahun itu duduk disamping Runa sambil memangku Akia. “Nanti ngerepotin, Ma,” sahut Runa. Diletakkannya cangkir teh yang baru ia minum ke atas meja yang ada di depannya. “Ya enggak lah. Kamu udah bilang sama Irsyad kalau mau menginap disini, Run?” tanya Dini. Runa menggeleng. “Kamu gimana sih, bilang dulu sana, nanti kalau dia pulang kalian enggak ada di rumah dia bisa panik,” saran Dini yang sudah berhenti bermain dengan Akia dan menatap Runa. “Iya, Ma,” ucap Runa. “Ya udah sana telepon Irsyad dulu,” perintah Dini. Runa bangun dari duduknya mengambil tas yang ia simpan di sofa lainnya. Tangannya merogoh ke dalam tas mencari-cari benda persegi yang tak juga ia temukan. “handphone Runa ketinggalan, Ma,” ucap Runa. “Kamu gimana sih,” ucap Dini yang kembali menghentikkan kegiatannya bermain dengan Akia. Runa meringis malu, sepertinya ia lupa memasukkan handphone ke dalam tas setelah memesan taksi dan meninggalkannya di kamar. “Ini pakai handphone Mama dulu,” ucap Dini sambil menyerahkan handphone miliknya ke sang menantu. Runa menerima ponsel itu dan pergi menuju taman belakang sambil menempelkan handphone ke telinganya dan menunggu panggilan tersambung. Cukup lama panggilannya tak diangkat, membuat Runa kesal sendiri. Sambungan terputus, membuat Runa kembali menekan tombol hijau untuk menghubungi Irsyad lagi. Sampai ketiga kalinya panggilannya baru diangkat oleh sang suami. “Halo Ma,” sapa Irsyad “Mas, makan dulu, kamu belum makan siang ‘kan?” Runa terdiam mendengarkan suara yang tak ia kenali di seberang sana. “Sebentar El.” Runa tahu itu suara Irsyad, tapi ia tak mengenali suara perempuan yang sedang berbicara dengan suaminya sampai memanggil dengan sebutan “Mas” itu.  Siapa itu El? Halo Ma, ada apa?” tanya Irsyad di ujung telepon. Runa masih terdiam, memikirkan siapa perempuan yang begitu memperhatikan suaminya itu. “Ma.” Panggilan dari seberang telepon kembali terdengar. “Ini udah aku pesankan makanan, Mas, mau aku suapin juga?”  Kembali suara perempuan tadi terdengar di telinga Runa. Seperti di sengat lebah hati Runa mendengar ucapan perempuan bersuara lembut itu. Runa menunggu penolakan dari suaminya tapi yang terdengar adalah suara tawa renyah yang Runa ketahui salah satunya adalah tawa sang suami. “Ma, Irsyad lagi sibuk banget, nanti Irsyad telepon Mama lagi ya,” ucap Irsyad yang langsung memutuskan sambungan. Handphone masih menempel di telinga Runa. Ia mematung , suara lembut dari seorang perempuan yang tak ia kenali itu masih terngiang. Ia memang tak mengetahui siapa saja teman kerja Irsyad. Tak menutup kemungkinan jika perempuan itu salah satu temannya, tapi apa harus seperhatian itu pada suaminya. Sibuk katanya? Sibuk apa? Sibuk suap-suapan. Runa membalikkan tubuhnya, berjalan dengan kening berkerut menuju ke ruang keluarga tempat Dini dan Akia berada. Tiba disana Runa langsung mengambil tempat di sebelah Dini. Ia duduk dengan pikiran yang masih menerawang. Tama yang baru tiba di rumah menatap menantunya dengan khawatir. “Kamu kenapa, Run?” tanya Tama. Diam tak ada sahutan. “Runa,” panggil Dini sambil menepuk lembut paha Runa. “Eh... iya, Ma,” sahut Runa kaget. “Kamu kenapa?” tanya Dini “Enggak apa-apa kok, Ma,” jawab Runa dengan senyum di paksakan. “Udah telepon Irsyad?” tanya Dini “Udah, Ma,” jawab Runa. “Ma, Runa nyusuin Akia dulu ya,” ucap Runa yang langsung mengambil Akia dari pangkuan Dini. Ia lalu pergi manaiki anak tangga menuju lantai dua tempat dimana kamar milik  suaminya dulu berada. *** “Halo, Ma,” sapa Irsyad. “Halo,” jawab Dini sambil mengucek matanya. Samar-samar Dini melihat jam yang menepel di dinding kamarnya. Pukul setengah satu pagi, ia membuang napas kasar, kesal tidur nyenyaknya di ganggu oleh suara anak lelakinya. “Ma, ada Runa enggak disana?” tanya Irsyad dengan nada panik. “Iya ada, tadi ‘kan dia udah bilang sama kamu kalau dia sama Akia menginap disini, gimana sih kamu, Syad,” omel Dini yang kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul. “Runa enggak bilang apa-apa sama Irsyad, Ma,” ucap Irsyad dari seberang sana. Dini berdecak. “Kamu aja yang pikun, udah ah, Mama ngantuk,” omel  Dini dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Di tempat lain, Irsyad sedang terdiam mematung mendengar ucapan Dini. Ia baru tiba di rumah lima menit lalu dan tak menemukan istri serta anaknya, seluruh ruangan di rumah pun gelap hanya ruang televisi yang di terangi cahaya. Ia begitu panik mencari Runa dan Akia, Irsyad teringat kejadian saat Runa dilecehkan dirumah orang tuanya dulu, ia takut hal serupa terulang lagi. Irsyad  yang sudah mencari ke semua ruangan dirumahnya tak juga menemukan Runa dan Akia. Ia lalu menelepon Dini berharap istri dan anaknya ada di rumah orang tuanya itu. Beruntung Dini memberikan kabar baik, ia lega mendengar Runa dan Akia menginap di sana, hanya saja ia bingung karena Runa tak pernah menghubunginya setelah video call mereka berakhir, apalagi memberitahu bahwa dirinya menginap di rumah Dini seperti yang Mamanya bilang. Irsyad mengurut pangkal hidungnya, lelaki yang sekarang duduk di sofa ruang tamu itu terlihat begitu berantakkan. Ia tak menyangka Runa akan marah padanya hanya karena dirinya yang lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Rasa kecewa menyelimuti Irsyad, ia bangkit menuju kamar dan merebahkan tubuhnya yang masih lengkap dengan setelan kantornya ke atas ranjang. Dirinya tak butuh waktu lama untuk tidur dengan nyenyak tanpa tahu bahwa di tempat lain, istrinya Runa tengah terjaga memikirkan dirinya    bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD