Dia Disini

1467 Words

LANGIT siang di kampus terasa terlalu terang untuk kepala yang belum pulih dan mata yang masih dibayangi malam-malam panjang. Akari duduk bersama Cindy di kantin kampus, membiarkan sendoknya berputar di dalam gelas es teh yang sudah hampir cair seluruhnya. Suara ramai mahasiswa, derai tawa, dan denting sendok dari meja-meja sekitar terdengar seperti gema dari dunia lain. Ramai, tapi tak menyentuh dirinya. “Lo yakin nggak mau makan?” tanya Cindy mengangkat alis, menatapnya dengan wajah tak sabar. “Cuma kentang goreng doang nih, Kar. Lo kok nggak seseneng biasanya lihat makanan, sumpah.” Akari mencoba tersenyum, tapi bibirnya terasa kaku. “Aku cuma belum lapar.” Cindy mendesah panjang, menyeruput minumannya sambil menatap tajam. “Akhir-akhir ini lo kayak... kosong, Kar. Gue ngoceh sejam

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD