PAGI itu, cahaya matahari menerobos tirai kamar, mengenai pipi Akari yang pucat. Dia terbangun dengan kepala berat, berdeham kecil begitu merasakan tenggorokannya kering, dan tubuh yang nyeri seolah baru saja berlari jauh dalam mimpi. Tangan kanannya terasa pegal ketika dia mencoba mengangkatnya. “Ini...” terkejutnya, melihat ada bekas samar di sana. Memar kebiruan di lengannya, dan di bawah tulang leher, tampak guratan merah tipis seperti bekas tekanan jari. Dia menatapnya lama, seolah berharap bekas itu akan hilang hanya dengan menatap. Napasnya bergetar, “Ini... kapan terjadi?” bisiknya pelan, jemari menyusuri kulit yang terasa perih. Dia menatap cermin di depan meja rias. Mata sembab, kantung hitam menggantung di bawahnya, dan kulitnya tampak lebih pucat dari biasanya. Ada bayangan
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


