Pelarian Pertama

1504 Words

“HATI-hati, kayunya licin.” Akari mengangguk kecil mendengar peringatan itu. Tangga kayu sempit itu berderit pelan ketika Akari naik dengan bantuan tangan kasar pria tua itu. Rumah panggung berdiri di atas tiang-tiang kayu ulin, menatap ke arah sungai yang airnya kecokelatan, berkilau samar diterpa cahaya bulan. Dari sela papan, suara arus deras terdengar menubruk tiang, sepertinya suara itu akan selalu ada, seperti detak jantung. Pintu depan terbuka, dan dari dalam muncul seorang wanita paruh baya. Tubuhnya kecil, wajahnya tirus, kerudung lusuh menutupi rambutnya yang sebagian sudah memutih. Tatapannya membesar ketika melihat sosok Akari yang terlihat lusuh, kotor, basah, dengan gaun compang-camping yang menempel di tubuh kurusnya. “Ya Allah... Musa, siapa ini?” Suaranya tercekat, ke

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD