“MARI, Mbak. Biar saya antar.” Ridwan sempat terdiam sejenak, lalu menarik kembali tangannya. Dia menunduk dalam, memberi salam singkat tanpa menyentuh. Akari terkejut, tapi juga kagum. Ada rasa hormat yang begitu kental dari keluarga ini, meski jelas sekali ada ketakutan yang mereka sembunyikan. Dia hanya membalas dengan anggukan kecil dengan suara lirih, “Terima kasih.” Jalan setapak dari rumah panggung itu berakhir di tanah berlumpur yang masih basah oleh embun pagi. Akari melangkah perlahan, dibantu Ridwan yang sesekali menoleh untuk memastikan langkahnya tidak goyah. Motor tuanya sudah siap, terparkir di bawah pohon besar yang akarnya menjulur ke permukaan tanah. “Pegangan yang kuat, Mbak,” ucap Ridwan singkat. Dia menyalakan mesin motor, raungannya kasar tapi stabil. Akari menga

