“EUNG...” Akari melenguh pelan, bangun dari tidurnya. Dia membuka mata dengan tubuh yang terasa berat, seolah semalam hanya tidur setengah sadar. Kepalanya pening, bekas luka di kakinya masih berdenyut, dan tubuhnya terasa remuk. Pagi ini, cahaya matahari masuk dari celah gorden kamar Akari, membentuk garis tipis di dindingnya yang putih. “Ini memang kamarku,” gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur. Ini memang kamarnya, namun semua terasa asing. Tidak ada rasa nyaman dan aman dirasakannya. Bahkan Akari masih merasa setengah percaya dia bisa kembali ke rumah. “Aku sedang tidak bermimpi bukan?” Akari mencubit pelan tangannya yang terasa sakit, “Aku tidak bermimpi.” Senyum kecil terlihat di bibir Akari yang pucat. “Hari apa ini?” gumam Akari mencoba meraba nakas, namun dia baru sa

