Hutan Mematikan

1571 Words
GELAP malam berembus dengan dingin, menyapa Akari yang terduduk diam di tepi ranjang. Jendela besar kamarnya dibiarkan terbuka, tirai tipis berwarna putih menari ditiup angin, menimbulkan suara gesekan halus yang menusuk telinga. Rambut hitamnya ikut tergerai, berayun pelan mengikuti irama angin. Sesaat, pemandangan itu tampak seperti bagian dari kehidupan normal, seakan dia hanya seorang gadis yang menikmati malam dari kamar mewah. Namun kenyataan justru sebaliknya, yang hadir hanya lah rasa mencekik. Kamar indah ini tak pernah terasa sebagai ruang hidup, melainkan jeruji yang membelit rapat. “Mau sampai kapan aku di sini?” bisiknya, hampir tanpa suara. Matanya menatap jendela. Sesekali muncul bayangan liar. Melompat, menghancurkan segala ketidakberdayaan. Tapi logika segera menamparnya, di luar sana hutan lebat menunggu. Tak mungkin dia selamat. Tak ada yang bisa mendengarnya jika dia berteriak. Dan jika melompat, dia hanya akan kembali tertangkap dengan lebih mudah. Yang tampak hanya lah pepohonan menjulang tanpa ujung. Kabut tipis berlapis-lapis, suara serangga dan burung malam bersahutan, seakan mengolok-olok dirinya yang meringkuk di ranjang besar itu. Bukannya rasa hangat, selimut empuk yang membungkus tubuhnya justru membuat sesak. Ini bukan kamar, ini sangkar emas yang indah, mewah, dan penuh kenyamanan. Namun ini tetaplah sangkar. Dia merasa bukan hanya dikurung, melainkan dihapus dari dunia. Barang-barangnya hilang tanpa jejak, tak ada petunjuk lokasi, tak ada pintu keluar. Napasnya tercekat saat bayangan lorong penjara kembali melintas di kepala. Jeritan, darah, cengkeraman kasar. Jantungnya berpacu cepat, membuatnya terlonjak membuka mata lebar-lebar. Ketukan halus memecah keheningan. Akari menegang, duduk tegak. Pintu berderit, menyingkap sosok Julia yang mendorong troli makanan. Wajah perempuan tua itu tetap datar, nyaris tanpa jiwa. “Tuan ingin anda makan. Kalau tidak, beliau akan marah,” ucapnya dingin. Makanan itu baru muncul menjelang malam, padahal Adrian sudah memerintahkan sejak pagi. Akari menyentuh perutnya yang perih, antara lapar dan mual. Dia tidak tahu, apakah Julia sengaja menunda, atau itu memang bagian dari perintah sang tuan. Aroma sup daging menyeruak. Seharusnya gurih, hangat, dan mengundang. Namun begitu matanya jatuh pada kuah merah pekat, tubuhnya langsung membeku. Cairan itu tampak segar seperti cipratan darah pelayan yang tewas di ruang makan. Dadanya sesak, bau kaldu berubah jadi bau besi. Tangannya turun, tubuhnya gemetar. “Aku... tidak bisa,” bisiknya nyaris putus. Julia meraih sendok, mencoba menyuapi langsung. Akari panik, menutup mulut rapat, mendorong nampan agar menjauh. Namun Julia tetap datar, seolah sudah kehilangan kemampuan untuk berdebat atau merasakan iba. “Lebih baik Anda menuruti perkataan tuan,” katanya singkat. Dengan gemetar, Akari mencoba menuruti. Satu sendok berhasil masuk. Namun bahkan sebelum sempat ditelan, tubuhnya memberontak. Dia muntah seketika, isi perut kosongnya bercampur kuah sup tumpah ke lantai marmer. Julia tetap tidak bereaksi, hanya menunduk dan keluar tanpa sepatah kata. Meninggalkan Akari sendirian bersama mangkuk sup yang kini lebih menyeramkan daripada kelaparan. “Tu-tunggu!” panggil Akari panik. Ketakutannya semakin menjadi saat pintu terbuka lagi dengan kasar. Adrian masuk. Langkahnya tenang, berat, menggema di lantai. Dia duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Julia. Begitu ruangan hanya menyisakan mereka berdua, udara terasa lebih sesak. Akari meringkuk, tangannya menggenggam erat roknya. Tak berani menatap. “Kenapa tidak dimakan?” Suaranya berat, datar, berembus dingin. “Sa-saya tidak bisa.” Akari menunduk makin dalam. Adrian mengaduk sup perlahan. Uap hangat mengepul, tapi tatapannya tetap menusuk. Tangan besarnya lalu meraih dagu Akari, mencengkeram keras hingga wajah mungil itu mendongak paksa. Bibirnya terbuka, dan sendok sup panas dipaksa masuk. Akari tersedak, hampir memuntahkan lagi, tapi genggaman itu terlalu kuat. Air mata bercucuran saat dia memaksa untuk menelan. Baru setelah habis, rahangnya dilepas. Adrian menyuap dirinya sendiri dengan sendok yang sama. “Lihat? Tidak sulit.” Senyumnya samar, penuh kuasa. Tatapannya bergeser ke jendela. Dia berdiri, menutup jendela kamar dengan tatapan tajam pada kegelapan di luar. “Hutan ini lebih kejam dariku. Satu langkah saja salah, harimau merobekmu bahkan sebelum sempat menjerit. Jadi pikirkan baik-baik sebelum bermimpi kabur.” Akari pucat, tubuhnya gemetar. Tidak ada tempat aman. Di luar ada binatang buas, di dalam justru pria berbahaya yang menjeratnya. Adrian kembali menatapnya, puas dengan ketakutan itu. “Kau lebih aman di sini. Karena aku yang menjagamu. Bukan mereka.” Dia melangkah mendekat. “Habiskan makananmu.” Lalu berbisik dingin di telinganya, “Kalau kau mati kelaparan, siapa yang akan aku lihat menangis nanti?” Air mata Akari jatuh deras. Tak ada pilihan selain menurut. Sendok demi sendok masuk, terasa seperti menelan batu. Ketakutannya lebih besar daripada mual yang mencekik. Hingga akhirnya mangkuk kosong. Adrian mengusap kepalanya pelan, “Gadis pintar.” Dia berdiri, membetulkan kerah, menatap dari atas. “Kau bisa belajar patuh, ternyata.” Bibirnya melengkung tipis. “Sekarang mandi.” Akari tersentak. Sendok yang masih digenggamnya terlepas, jatuh berdering di lantai. Tubuhnya menegang, ingatan tentang mandi paksa di ruangan besar itu menyeruak tanpa permisi. “S-saya bisa sendiri,” suaranya gagap, hampir tak terdengar. Adrian menoleh, tatapannya dingin. Dia melangkah menuju kamar mandi kecil yang menyatu dengan kamar Akari, lalu membuka pintunya lebar-lebar. Suara engsel berderit memecah keheningan. “Masuk.” Akari menunduk, mencoba menyatu dengan tempatnya, enggan bergerak. Tanpa menunggu jawaban, Adrian menggenggam pergelangan tangannya dan menarik paksa. Langkahnya mantap, tak memberi ruang untuk melawan. Begitu masuk, udara lembap langsung menyergap. Sebuah ruangan kecil dengan ubin putih mengilap, wastafel bersih, serta pancuran mandi di sudut. Adrian mendorongnya ke dalam. “Bersihkan tubuhmu.” Akari melangkah ragu ke bilik mandi, memeluk tubuhnya sendiri. Berdiri kaku di bawah pancuran yang masih kering, tangannya menggenggam ujung rok pendek. Perlahan dia menoleh ke belakang. Adrian bersandar di kusen pintu, tangan bersilang di d**a. Tatapannya tak pernah lepas dari sosok rapuh yang meringkuk di hadapannya. “Tuan... bisakah Anda menunggu di luar?” lirih Akari, nyaris bergetar. Alis tebal Adrian terangkat. Dia hanya terdiam, menikmati keterdiaman yang menekan itu. Hingga akhirnya bibirnya bergerak, suaranya santai tapi menyesakkan. “Kau tidak akan mengajakku mandi bersama juga, kan?” “Tapi...” Adrian tidak bergeser sedikit pun. “Aku sedang tidak bernafsu. Jadi lakukan cepat, sebelum aku memandikanmu lagi.” Akari tercekat, tak mampu membantah. Dengan tangan gemetar, dia membuka keran. Suara air mengalir memenuhi ruang sempit itu. Dia menunduk, menyadari bahkan tempat sekecil ini tak bisa memberinya kebebasan. Air hangat membasahi bajunya perlahan. Karena yang dipakainya kebetulan berwarna putih, sedangkan roknya biru, tubuhnya kembali tercetak jelas. Akari sadar, sepertinya Adrian sengaja memberi baju ini sebelumnya. Adrian berkomentar sinis, “Kau pikir begitu bisa menyembunyikan dirimu dariku?” Tubuh Akari membeku, gemetar hebat meski air hangat sudah menyentuh kulit. Dia melirik pantulan tubuh Adrian di cermin wastafel di sisi kanannya, merasakan tatapan itu menelanjangi setiap gerakan kecilnya. Dengan tangan gemetar, dia melepaskan kancing baju dan roknya. Hanya tinggal pakaian dalam yang menempel di tubuhnya. Tangannya segera menutup bagian depan, merasa malu. “Kita tidak sedang di pantai, Akari.” Adrian berujar santai namun menusuk. Air matanya menetes deras di balik pancuran. Lagi-lagi dia tidak bisa membantah. Akhirnya dia melepas semua. Dia tidak berani melirik ke arah Adrian, maupun menatap ke cermin yang menangkap tatapan itu. Dia mencoba menyembunyikan d**a dengan tangan, tapi tetap sadar ada tatapan di belakang. Berusaha merapat pada dinding, hingga hanya punggungnya yang terlihat, meski sisi kanannya tetap tertangkap pantulan cermin. Adrian bergumam rendah, sedikit berdesis. “Bersihkan tubuhmu dengan baik, Akari. Kau terlalu rapuh untuk dunia ini. Hanya aku yang bisa menjagamu.” Ucapan itu menusuk, seakan air yang mengalir pun berubah menjadi belenggu. Begitu selesai, Akari segera memakai handuk dan melilitkannya di tubuh. Hanya ada satu, sehingga dia tidak bisa mengeringkan rambutnya sekarang. Adrian menyambutnya dan mengusap rambut basahnya, menghirupnya pelan. “Bagus,” ujarnya lirih, matanya terpejam sesaat. “Patuh dan bersih.” Akari menunduk, menggigit bibirnya agar tidak menangis lagi. Adrian menggiring Akari ke depan meja rias dan menyuruhnya duduk, menatapnya seperti barang koleksi. Dia menyentuh rambut basah Akari yang menetes hingga ke punggung polos dan pucat, seputih porselen. Dia menyentuh titik air itu dan mengusapnya, membuat Akari merinding, namun tidak berani berontak. Tangannya bergerak sensual, hingga berakhir memegang pundaknya dengan keras. Wajahnya mendekat di sisi wajah Akari dan menatap bayangan mereka di cermin. Napas Akari tertahan, dia berusaha sekuat tenaga menahan gemetar di tubuhnya. Dagunya terangkat dengan paksa, hingga tatapan mereka bertemu di cermin. Matanya gemetar, berusaha menahan tatapan itu tapi tak mampu. Adrian menatapnya lekat. Bayangan mereka terpantul jelas. Pria berwibawa dengan sorot mata dingin, dan gadis rapuh dengan tubuh gemetar bagai porselen hidup. Air mata jatuh dari sudut mata Akari, membasahi pipi pucatnya. Bibirnya bergetar, berusaha menahan isak, tapi justru terlihat seperti senyum getir yang setengah terbentuk. Adrian membeku sejenak. Lalu tersenyum tipis, “Menarik,” batinnya. Ketakutan itu murni, jelas. Namun, di balik gemetar, wajah Akari menampakkan kilatan berbeda. Bukan lega, bukan keberanian, melainkan semacam keterkejutan yang anehnya indah. Seakan tubuhnya sendiri tidak sadar sedang menari antara perlawanan dan penyerahan. Adrian mendekatkan wajahnya, berbisik di telinga Akari. “Lihat dirimu, Akari. Tubuhmu sendiri tidak tahu harus lari atau menikmatinya.” Akari menundukkan wajahnya. Suaranya bergetar, memberanikan diri dalam ketakutan. “Aku tidak mengerti maksud Tuan apa,” “Menangis, ketakutan... tapi tetap cantik.” Mata abu-abu kebiruan itu menelusuri pantulan air mata, napas terengah, hingga leher putih yang merona. “Tidak ada yang bisa memberiku ekspresi seperti ini,” gumamnya serak. Jemarinya menyapu sisa air mata, lalu menekan dagu gadis itu lebih keras, menahan ekspresi itu agar tidak pergi. “Ketakutanmu... terlalu indah untuk dilepaskan. Itu candu. Dan aku satu-satunya yang bisa melihatmu seperti ini.” Akari tidak tahu, wajah yang dia benci—wajah penuh ketakutan—justru menjadi candu baru di mata pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD