ADRIAN menyentuh dagunya tanpa mengendurkan tatapan, mengangkat wajah Akari hingga matanya tak bisa lagi menghindar dari abu-abu kebiruan yang menusuk. “Dengan apa kau akan menggantinya?” suaranya datar, nyaris tanpa intonasi, namun membuat napasnya tersentak.
Akari bergetar. “Ka-kalau Tuan memberitahunya... saya... saya akan menggantinya.” Suara itu tercekat di antara isak.
Suara angin yang masuk di kamar itu tak mampu menelan suara isakannya. Kenangan yang membuat mual malam tadi tiba-tiba menari di kepalanya. Siluet hitam, pisau, hingga heels berlumuran darah. Tangan Akari menempel di mulut, seolah hendak menutup teriakan yang terus pecah dari dadanya.
Adrian menunduk, ibu jarinya menyapu pipi yang basah. Dia mengangkat air mata itu ke bibir dan menjilatnya. Melumat perlahan seolah menandai setiap rasa. “Asin,” gumamnya. “Bagaimana dengan bagian lain?”
Permintaan kecil itu membuat tubuh Akari kaku. Dia mencoba menepis tangan pria itu, namun genggaman pada pergelangan terasa seperti borgol. “Saya mohon, jangan lakukan itu.”
Sekejap, sorot Adrian berubah dingin. Dia mencengkeram tangan Akari lebih kuat. “Kenapa?” Suaranya turun menjadi ancaman yang membunuh. “Apa kau baru saja menolakku?”
“T-tidak...” Akari menggeleng cepat, tetapi penyangkalan itu tidak melonggarkan genggaman. Sekali tarikan, tubuhnya terentak ke d**a pria itu. Aroma maskulin menguasai indranya, hingga napasnya tercekik. Pergelangan tangan yang diremas kuat membuatnya meringis.
“Bukankah kau yang mengatakan kalau kau mengaku bersalah? Dan harus membayarnya?” bisik Adrian, suaranya terasa panas dan bibirnya nyaris menyentuh telinga.
Hidungnya menyentuh helaian rambut hitam itu dan menghirup dalam. Memejamkan mata sesaat, seolah mencandu aroma yang hanya dimiliki Akari.
“Ingin rasanya aku menikmatimu sekarang, tapi tidak akan menyenangkan kalau hanya dihidangkan tanpa ada garnish yang membuatnya menarik.” Adrian kembali menghirup aroma Akari, tarikan nafasnya panjang, matanya bergetar hingga menatap langit-langit.
“Haa….” Hembusan nafas yang penuh kenikmatan terdengar begitu jelas di telinga Akari. Seluruh tubuh Akari menegang, nafasnya tertahan, selama beberapa detik Akari merasa seluruh dunia terhenti.
Adrian menarik tubuhnya, namun matanya tak lepas untuk melihat raut wajah Akari. Dia tidak ingin melewatkan sedikit pun perubahan pada wajah yang sedang dia jadikan kupu-kupu kesayangannya. Saat itu, momen yang dia tunggu terlihat, ada kedutan di bibir Akari yang tertangkap mata liar Adrian.
Mata mereka bertemu, genangan air di kelopak mata Akari tidak bisa lagi tertahan, tangis Akari meledak lagi, pecah menjadi rintihan yang tak beraturan. Dia hanya bisa menangis, seakan air mata satu-satunya jalan untuk bertahan.
Adrian menatapnya tanpa kata, menikmati setiap perubahan ungkapan di wajahnya. Saat Adrian meremas pergelangan Akari lagi, ekspresi takut bercampur sakit muncul. Dan mata Adrian berkilat puas.
Akari mencoba menutup mata, berharap gelap bisa menelannya. Tapi Adrian condong mendekat, suaranya serak, nyaris mendesah. “Jangan tidur dulu... aku masih ingin melihatmu.”
Pelan, Akari membuka mata. Pandangannya goyah, tapi tetap tak berani menantang tatapan abu-abu kebiruan itu.
Adrian justru tertawa kecil, suara itu terdengar bagai cambuk di telinga Akari.
“Hah...” Adrian mendesah panjang, seakan menikmati tiap detik kepanikan. Dia membisikkan kata-kata dingin yang menusuk seperti pisau. “Tidak perlu takut. Aku akan membuatmu terbiasa dengan caraku.”
Sebelum bangkit, dia menunduk, menempelkan bibirnya ke pipi basah Akari. Sentuhan dingin penuh klaim.
Begitu tubuh Akari terlepas, dia buru-buru mengusap pipinya dengan kasar, seperti hendak menghapus noda yang menempel.
Adrian tertawa, suara itu pecah di udara mewah. “Ah... kau benar-benar menggemaskan, Akari.”
Tubuh Akari kaku.
Adrian bangkit, merapikan lengan bajunya dengan gerakan tenang. “Bangun. Ikut aku.” Perintahnya pendek, tak memberi ruang untuk perdebatan.
Genggaman di pergelangan tak memberi kesempatan. Tak ada ruang untuk menolak.
Dengan langkah tertatih, Akari mengikutinya. Kakinya terasa lemas, karena sejak dikurung di penjara itu, Akari kesulitan untuk menelan makanan yang diberikan.
Koridor rumah itu panjang. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya pada lukisan-lukisan yang bergaris emas. Lantai marmer memantulkan cahaya dan patung-patuh dewi menambah kesunyian yang berat. Dari jendela besar tampak pepohonan rimbun yang membingkai rumah itu seperti sangkar berdaun dan berduri.
Tatapan penuh perhatian mengiringinya. Tak ada yang bicara, namun tatapan para pekerja di sini seakan menembus dirinya. Wajah mereka yang datar, sulit dibaca. Meskipun hanya Adrian yang ada di sini, pekerja di sini cukup banyak menyebar di sekitar rumah.
Dan orang-orang yang ada di sana, selalu menunduk patuh terhadang pria asing yang begitu fasih berbahasa Indonesia ini.
Setiap langkah yang tertatih dan terseret, terasa seperti sedang berjalan menuju ujung jurang. Akari tidak tahu, apa yang menunggunya di ujung.
Daripada itu, mungkin lebih tepat kalau tempat ini adalah sebuah sangkar emas yang indah dan dihiasi berlian yang sulit dihancurkan. Bukan jurang kematian, namun sebuah kurungan.
Mereka masuk ke ruang makan besar. Meja panjang dari kayu jati penuh ukiran berdiri di tengah, dengan lilin menyala tenang di atasnya. Di dinding terpajang kepala rusa dan perisai kuno.
Adrian menyeret kursi, menunjuk tempat untuk Akari. “Duduk.”
Akari menggigit bibir, ragu. Dia tetap berdiri sambil memegang gaun sutra dengan erat. “Tuan... s-saya—”
“Duduk.”
Adrian mendorong kursi dan menuntutnya duduk. Dia menekan bahunya sampai dia terhuyung ke kursi, tangan pria itu masih menjepit sebagai peringatan bahwa dia harus patuh.
“Begitu lebih baik,” ucapnya datar, lalu duduk di seberang Akari.
Julia masuk mendorong troli makanan berisi berbagai macam hidangan, diiringi pelayan lain yang lebih muda untuk menata di meja. Semua gerak mereka terlatih sampai tak ada empati. Aroma sup menguar, mereka menaruh ke meja dengan hati-hati. Sup daging, roti hangat, segelas anggur merah terletak di depan Akari.
Ini bukanlah makanan yang biasanya dia makan, namun dia tidak bisa protes. Dia menelan ludah, perutnya kosong tapi tangannya yang gemetar ingin menolak.
Tidak ada yang tahu, apakah ada racun di sana.
“Silakan makan,” suara Adrian terdengar tenang, tapi sarat ancaman.
“Saya... tidak lapar,” bisik Akari.
Sendok yang Adrian genggam, terentak di meja. Membuat Akari terjengit, namun para pelayan di sini tidak ada respons apa pun. Entah itu karena sudah terbiasa, atau sudah terlatih. Ekspresi wajah mereka tetap sama.
“Aku tidak sedang bertanya, Akari,” desis Adrian menatap Akari tajam.
“Tapi sa—”
Suasana penuh ketegangan itu segera pecah ketika sebuah pisau terbang menancap ke leher salah satu pelayan. Salah satu pelayan tiba-tiba roboh, darah memercik. Akari menjerit, telinganya penuh denting panik.
“Apa kau akan berselera jika ada banyak darah yang berceceran di sini?”
Akari menggeleng panik. “Tidak, jangan!”
Adrian menatap tanpa bergeming, lalu memotong makanannya perlahan, dan menyuap seolah adegan itu tak ada hubungannya dengan kenyataan yang rapuh di seberangnya. “Kalau begitu, makanlah,” ucapnya enteng.
Julia memindahkan nampan untuk Akari tanpa ekspresi. Akari menutup mulut, rasa mual memuncak. Dia tidak bisa membayangkan memakan makanan di antara percikan darah itu di dekat mereka.
Ketegangan hanya berganti panik sejenak, lalu hening lagi. Darah yang berceceran sudah tak bisa disembunyikan, namun para pelayan tetap diam. Tidak ada satu pun dari mereka membereskannya atau berekspresi ketakutan.
“Kau ingin muntah?”
Akari tidak menjawab. Perutnya terasa berputar-putar.
“Padahal aku belum menyentuhmu, namun kau sudah mual?” decak Adrian, lalu mengangkat tangannya. “Bawa makanan ini ke kamarnya. Sepertinya untuk saat ini dia sudah kenyang dengan kematian pelayan itu.”
“Baik, Tuan,” sahut Julia.
Adrian berdiri sambil melap mulutnya dengan perlak. “Bangun.”
Akari segera berdiri, dia ingin segera ke kamar mandi. Dia mengikuti langkah Adrian, hingga begitu sampai di kamar mandi. Perutnya terasa perih dan kepalanya menjadi pusing. Di kamar mandi, kaca besar memantulkan tubuhnya yang lelah. Dia memuntahkan sisa isi lambung. Adrian berdiri di ambang, mengawasi.
Isakan kecil keluar. Apa yang harus Akari lakukan sekarang? Bahkan dia tidak tahu ada di mana dia sekarang.
Adrian mendekat, membuat Akari beringsut mundur. Tatapannya jatuh pada d**a Akari dan ingin menyentuhnya.
Akari segera mundur dan menyilangkan tangannya.
Tatapan datar menusuk, “Kau harus mandi.”
Lagi-lagi sebuah tarikan paksa. Akari tidak bisa protes dan mengikuti langkah lebar itu lagi, hingga mereka masuk ke dalam salah satu ruangan seperti ruang spa pribadi atau sebuah kamar mandi yang luas. Di tengahnya, ada bak besar hampir seperti kolam kecil dengan marmer putih. Cukup besar untuk menampung tiga orang sekaligus. Uap memenuhi udara, lampu tersembunyi membuat permukaan air berkilau seperti cermin. Di ujungnya ada pancuran kecil.
Di situ Adrian menghentikan langkahnya. “Lepas pakaianmu,” perintahnya singkat, lalu mengunci pintu.
Akari membeku.
Adrian berbalik, “Apa kau juga tidak bisa melepas pakaianmu sendiri?” Matanya menatap Akari datar, lalu dia berjalan perlahan mendekati Akari yang terus berusaha menghindarinya.
Akhirnya Akari terjerembap ke dalam bak pemandian itu. Untungnya kepalanya tidak terbentur marmer.
Gaun tidurnya basah, merekat pada tubuhnya. Membuat gaunnya menjadi tembus pandang
Adrian tersenyum miring, “Ternyata begini caramu menggoda pria, ya?”
Dia mulai menarik kaos polo yang dipakainya dan melemparkannya begitu saja. Tertampak d**a yang bidang dan kekar di tubuhnya. “Dengan cara polos dan bertingkah rapuh seperti itu.” Dia masuk perlahan ke kolam, air menyelimuti mereka dalam uap. Berdiri di dekatnya dengan tenang, dan dominan.
Akari segera terduduk dan memeluk tubuhnya sendiri.
“Jangan menatapku seperti itu.”
Dia ikut berendam dan mulai mendekati Akari. Tangannya terulur menyentuh ujung gaun tidur yang tampak tipis begitu terkena air. Lalu tangan itu menyentuh ujung jari kaki Akari, merayap perlahan menyisiri kaki Akari yang begitu mulus. Tangannya terus bergerak hingga mencapai paha Akari, senyum tipis yang tidak bisa Adrian sembunyikan terlihat oleh mata Akari yang sudah menegang.
“Kau terlalu rapuh untuk dunia ini. Itu sebabnya kau harus jadi milikku.” Dia meraih pinggang Akari, mendekat sampai napas mereka bertaut. “Sekali kau masuk ke duniaku, Akari...” Tatapannya menusuk, senyumnya samar. “Tak ada jalan untuk keluar.”
Kata-kata itu menancap bagai belenggu baru.
Aman?
Tidak ada kata aman jika yang mengatakannya adalah sang pemilik sangkar emas itu sendiri. Di saat itulah ada akar berduri sudah melilit kakinya.