GELAP menyelimuti ruangan, hanya tersisa cahaya redup dari layar komputer yang berjejer di dinding. Dengung mesin layar proyektor terdengar pelan, berpadu dengan bunyi pergantian rekaman yang terus berputar secara berulang. Bau asap rokok yang sudah lama padam menempel pekat di udara.
Di layar, kamera tersembunyi menyorot setiap sudut penjara. Segenggam cahaya itu memantulkan wajah seorang pria dengan rahang tegas dan sorot mata grayish blue yang tajam. Tatapan dinginnya menusuk layar, hanya tertuju pada sosok di balik jeruji besi.
Raut wajah ketakutan yang semakin menggebu membuat Adrian terpikat. Setiap tarikan napas panik, setiap rintihan, setiap jeritan dan ekspresi. Semuanya ditangkap jelas. Dan di hadapan layar itu, bibir Adrian perlahan terangkat membentuk senyum miring. Senyum yang bukan sekadar puas, tapi candu.
“Matikan videonya.”
Suaranya rendah, namun cukup membuat udara di ruangan semakin berat.
Orang-orang yang berdiri di belakangnya langsung menunduk, tak ada yang berani protes.
Layar-layar itu meredup, tapi kamera masih tetap merekam. Sosok Akari masih tampak jelas, tubuhnya gemetar, tangannya meremas jeruji seakan sedang melawan kegelapan.
Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, jemari panjangnya menyentuh bibirnya sendiri, lalu menjilatnya pelan. “Sepertinya... dia menginginkannya lagi.” Suaranya seperti desisan ular, seakan baru saja menemukan zat adiktifnya.
Keheningan menggantung beberapa detik. Hingga akhirnya Adrian berdiri perlahan, mengambil sebuah topeng putih dari meja. Topeng yang sama persis dengan yang selalu muncul pada layar rekaman.
Atau lebih tepatnya, dialah sosok pria di balik semua penyiksaan yang terputar pada layar yang menggantung.
Tangannya meraih sebilah pisau dari meja, lalu menyeretnya sepanjang dinding semen. Bunyi gesekan logam melukai udara, ngilu, memekakkan telinga hingga membuat lorong itu terasa lebih sempit daripada sebelumnya.
“Cepat.” Suaranya datar, tapi sarat perintah. “Nampaknya dia tidak tahan lagi.”
Anak buahnya di belakang segera menyeret pria terikat, menyeret rantai yang beradu dengan lantai, mengikuti langkah sang tuan.
Di ujung lorong, Akari tampak jelas di balik jeruji. Akhirnya dia bisa melihat Akari secara langsung setelah malam hujan deras hari itu. Wajah pucat itu, tubuh gemetar, dan sorot mata ketakutan. Semuanya bagai candu yang membuat Adrian lupa diri.
Pisau di tangannya terus berayun tanpa pandang buluh, mengiris udara, diiringi jeritan korban yang disiksa tepat di hadapan Akari. Suara itu menusuk telinga, tapi Adrian tak mendengarnya. Baginya, hanya satu musik yang layak didengar.
Jeritan Akari sendiri.
Seperti nyanyian seriosa yang merdu dan penuh emosi, membuatnya semakin mabuk.
Hingga akhirnya, pisau itu terlepas dari genggaman Adrian. Terlempar ke lantai semen, menimbulkan suara decang! yang menggema panjang.
Akari tersentak, tubuhnya bergetar semakin hebat.
Adrian segera melangkah cepat, menghantamkan kedua tangannya ke jeruji besi, mencengkeramnya erat. Napasnya memburu, namun senyumnya merekah puas di balik topeng. Inilah momen yang dia tunggu.
“Seharusnya kau memperlihatkannya sejak awal,” suaranya rendah, namun penuh penegasan, seakan menegur.
Lalu dengan gerakan lambat, dia melepas topeng putih yang kini sudah berganti merah. Tatapannya lurus ke wajah Akari dengan datar dan dingin. Kemudian sebuah senyum yang sangat samar muncul, tak pernah sampai ke mata.
“Akhirnya... aku menemukanmu.”
Tangannya yang berlumuran darah bergetar, lalu terulur melewati jeruji. Jemarinya menyentuh pipi Akari, mengusap lembut namun menjijikkan hingga meninggalkan noda merah di kulit pucat itu.
Dia mendekat, napasnya nyaris menempel di wajah gadis itu. Bisikannya lirih, namun jelas menembus hingga ke tulang. “Ah... kau milikku.”
Dan seketika, tubuh Akari ambruk. Dia kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Sesuai isyarat dari Adrian, anak buahnya segera membuka kunci jeruji besi. Namun, begitu mereka hendak mengangkat tubuh Akari yang terkulai, suara sentakan Adrian membelah udara.
“Sentuh sedikit saja tubuhnya, maka saat itu juga tangan kalian menjadi cacat!”
Akari adalah miliknya. Tak ada satu pun orang boleh memegang miliknya.
Semua langsung membeku.
Dengan satu gerakan penuh kuasa, Adrian sendiri meraih Akari. Tubuh mungil itu terangkat ke pelukannya hanya dengan satu tangan, sementara tangan satunya kembali menggenggam pisau yang masih berlumur darah.
Keduanya kini sama-sama diselimuti darah dengan bau besi yang menyengat. Langkah Adrian begitu ringan, meski melewati lorong panjang, lalu keluar ke hamparan hutan yang basah dan gelap. Malam menyambut dengan suara bising serangga. Sementara angin dingin menerpa kulit, tapi tak satu pun mengganggu dirinya.
Hingga akhirnya, sebuah rumah besar berdiri di tengah hutan. Megah, tua, namun kokoh, berbanding terbalik dengan suasana liar di sekitarnya.
Seorang wanita tua sudah menunggu di ambang pintu. Tubuhnya bungkuk, rambut peraknya tersanggul rapi, wajahnya kaku seperti patung.
“Julia,” suara Adrian berat dan datar. Dia menurunkan Akari ke ranjang empuk dengan seprai putih bersih di salah satu kamar yang penuh warna cerah dan mewah. Sangat berlawanan dengan eksterior suram rumah itu. “Bersihkan tubuhnya. Dan jangan sampai dia terbangun.”
Julia menunduk dalam, “Baik, Tuan. Perlu saya siapkan makan malam?”
Adrian terdiam sejenak, menatap tubuh Akari yang lemah di atas ranjang. Senyum samar muncul di bibirnya. “Tidak perlu. Aku sudah kenyang.”
Tatapannya tetap terkunci pada wajah gadis itu, sebelum gumam lirih lolos dari bibirnya, nyaris tak terdengar. “Apa... aku saja?”
“Ya, Tuan?” Julia menoleh, ragu.
Adrian menggeleng cepat, lalu melambaikan tangan. “Cukup beritahu aku kalau dia terbangun besok.”
“Baik, Tuan.” Julia menunduk sekali lagi, lalu beranjak pergi.
— ✦ ✦ ✦ —
Pagi menjelang. Matahari menembus sela-sela dedaunan tinggi yang menari ditiup angin, menyelusupkan cahaya lembut ke halaman rumah tua itu. Udara hutan yang dingin membuat kediaman itu menjadi sejuk dan teduh.
Di dalam kamar, Akari meringis. Perlahan, kelopak matanya terbuka. Pandangannya langsung disambut tirai putih tipis yang bergoyang pelan, menari oleh embusan angin dari jendela yang terbuka.
Bukannya menikmati pemandangan yang sejuk itu, Akari justru terperanjat. Tubuhnya tersentak bangun dengan gemetar, seakan dingin menembus tulangnya. Napasnya memburu saat matanya menelusuri kamar asing itu. Dengan nuansa cerah dan anggun yang anehnya mirip kamarnya sendiri, tapi jelas bukan.
“Ini bukan kamarku.” Suara itu serak, hampir tenggelam oleh degup jantungnya sendiri. Akari beringsut hingga punggungnya menempel pada kepala ranjang, memeluk tubuhnya sendiri.
“Ini di mana?”
Dia menunduk, menatap pakaian yang melekat di tubuhnya. Bukan lagi blus putih dan celana jeans yang dikenakannya semalam. Kini, sebuah gaun tidur sutra putih, lembut dan bersih. Bahkan luka-luka kecil di tangannya sudah terbalut perban yang rapi.
Bukan rasa lega yang datang, melainkan kepanikan yang makin mencekik. Ingatan penyiksaan itu masih menempel di kepalanya seperti noda darah yang tak bisa hilang. Bau yang sudah melekat di hidungnya, seolah tak mau hilang. Sunyi kamar ini justru membuatnya kian terpojok, menunggu sesuatu yang mendatangi dirinya.
Spontan Akari menarik selimut tebal dan menyembunyikan diri di dalamnya. Tubuh mungilnya meringkuk, seolah gulungan kain itu bisa melindunginya dari dunia luar.
“Aku ingin pulang,” gumamnya lirih, nyaris tertelan oleh suara napasnya sendiri.
Tiba-tiba suara pintu berderit terbuka. Tubuhnya menegang, hingga detak jantungnya melonjak liar.
Namun tak lama, pintu itu tertutup kembali, lebih cepat daripada saat terbuka. Hening lagi. Tidak ada langkah kaki, tidak ada bayangan.
Dengan tangan gemetar, Akari mengintip dari balik selimut. Kosong. Hanya pintu yang kini rapat tertutup, dan jendela yang terbuka lebar.
Akari mencoba menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Namun dia segera mengurungkannya.
Di saat itu, suara langkah kaki terdengar mendekati pintu. Berat, perlahan, berirama seperti detak jantung yang ingin pecah.
Akari kembali menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Berharap selimut ini bisa melindunginya dari apapun yang mengancam di luar sana. Akari tahu, ini bukanlah sebuah mimpi, tapi dia berharap kebenaran yang dia ketahui menjadi sebuah ilusi. Alam bawah sadarnya bertarung, mencoba membohongi dirinya saat ini. Membuat skenario sederhana yang memperlihatkan ibunya sedang bersiap untuk menceramahinya, karena kabur dari pesta.
Tapi, tubuhnya tahu semua pikiran itu tidaklah benar. Reaksi getaran dari tubuhnya memperlihatkan sebuah kebenaran. Udara di balik selimut semakin sesak, menekan dadanya hingga sulit bernapas.
Pintu berderit. Adrian masuk.
Bukan lagi sosok intimidasi dengan kemeja hitam yang penuh darah semalam. Kali ini, dia mengenakan kaus polo sederhana. Pakaian santai, tapi entah bagaimana membuatnya terlihat lebih berkuasa. Tubuhnya tegak, tatapan tajam dengan langkah yang tenang. Ada wangi maskulin segar yang menempel di udara, menutupi bayangan brutal yang semalam dipenuhi aroma besi.
Dia hanya diam, berdiri di ujung ranjang, menatap gundukan selimut yang memiliki nyawa itu sedang bergerak gelisah. Tatapannya menusuk, seakan tembus ke dalam kain, menelanjangi kepanikan di baliknya.
Keheningan itu terlalu panjang. Akari tahu, di luar kain tipis ini, ada seekor pemangsa yang sedang menunggu dengan sabar.
Adrian akhirnya bergerak. Dia mendekat, duduk di sisi ranjang. Satu tangannya terulur, menyibak selimut dengan sekali hempasan. Akari tidak sempat menahan, wajahnya langsung terbuka pada tatapan yang dingin.
Adrian tersenyum samar. Tak lebar, tapi menusuk. “Jangan bersembunyi,” suaranya rendah, berat, nyaris seperti bisikan. “Kau lebih indah saat aku bisa melihat ketakutanmu.”
Di balik selimut yang sudah tersingkap, manik hitam Akari bergetar, penuh ketakutan. Tatapannya kabur, bibirnya kering, kulitnya pucat. Anehnya, pemandangan itu sama sekali tidak mengganggu Adrian.
Selama ini, wanita yang mendekatinya selalu tampak sempurna—tidak berdosa—dan pada akhirnya hanya jadi objek yang dia kuasai. Namun gadis di depannya ini berbeda. Ada aroma tipis yang melekat, bukan citra yang sempurna, bukan keanggunan seorang wanita. Lebih seperti sesuatu yang alami, mentah, murni... entah kenapa, justru itu yang membuatnya ingin mendekat lebih dekat lagi. Yang tidak bisa membohongi penglihatannya.
“Ini sungguh berbeda,” gumamnya, suara rendahnya pecah di udara. Tatapannya menyapu turun, meneliti tubuh Akari yang merapat ke kepala ranjang.
Akari menyatukan kedua telapak tangan, seperti orang bersujud. Suaranya pecah, tubuhnya gemetar. “S-saya mohon, jangan bunuh saya, Tuan... saya bersalah.”
Adrian memiringkan kepalanya, senyumnya samar. Dia mencondongkan tubuh, jarak wajah mereka tinggal sejengkal. “Apa salahmu?”
Akari makin terpojok, napasnya tersengal. “Sa-saya tidak tahu, Tuan. Kalau saya tanpa sengaja menyinggung Anda, saya... saya akan menggantinya.”
Adrian terkekeh pendek, tapi tatapannya tetap dingin. “Apa kau yakin tidak tahu kesalahanmu?”
Suara itu menusuk, seakan menguliti lapisan terakhir keberanian Akari. Tangannya meremas gaun tidur putihnya, tubuhnya kaku. Ingatan-ingatan mengerikan berkelebat. Darah, jeritan, pisau, proyektor, lorong gelap.
Dia tidak sanggup menjawab.