Jeruji Besi

1568 Words
PERLAHAN, mata itu terbuka. Buram berganti samar, samar berganti jelas. Bukan cahaya terang yang menyambut, melainkan redup yang menyiksa. Tidak seperti cahaya neon yang ada di club. Namun sebuah garis tipis cahaya yang menembus dari sela-sela ventilasi di dinding tinggi, membawa serta debu yang melayang-layang. Napas Akari memburu. Aroma karat dan besi menusuk hidung, bercampur dengan bau lembap yang menempel pekat di udara. Tidak pernah dia temui bau yang begitu pekat hingga menusuk hidungnya. Dia mencoba bangkit, tapi kepalanya terasa berat dan pelipisnya terasa berdenyut. Badannya juga terasa lemas, seperti orang yang tidur seharian tanpa sempat makan. Meski begitu, dia tetap memaksa duduk dan yang paling penting Akari harus tahu di mana dia sekarang. Cahaya tipis dari ventilasi itu hanya satu, jauh di sisi kiri. Bahkan kalau dia berjinjit sekalipun, cahaya itu tetap akan berada di luar genggamannya. “Sekarang aku di mana?” Akari menyentuh lehernya, “Ekhm!” Tenggorokannya terasa kering, membuat suaranya menjadi parau dan keluar dengan rasa perih. Dia mencoba meneliti sekitar, mencoba peruntungan. Namun tidak ada sesuatu yang bisa digunakannya untuk minum. Sekitarnya hanya kegelapan. Lantai semen dingin berdebu, dinding lembap, dan deretan pagar besi yang berjejer rapi, persis seperti kandang penjara. Di tengah, ada lorong sempit yang tampaknya memang disediakan untuk orang berjalan, mengintip isi dari balik jeruji. Dengan langkah gemetar, Akari beringsut mendekat, menempelkan wajah pada pagar besi. Pandangannya menelusuri ke kiri dan kanan. Barisan kandang lain terbentang, tapi semuanya kosong. Kosong. Hanya dirinya seorang. Jantungnya berdegup tidak karuan. “Di mana ini?” bisiknya panik, hampir tidak terdengar oleh telinganya sendiri. Akari mencoba meyakinkan diri, meski tidak ada logika yang menolong. “Ini nggak mungkin kantor polisi, kan?” gumamnya lagi. Tapi suara itu hanya menggema hampa, dipantulkan oleh dinding basah dan udara lembab. Tangannya meremas jeruji, karat menempel di kulit. Gemetar halus di tangannya saat menyentuh logam, membuat bulu kuduknya berdiri. Di sini sangat gelap dan sunyi. Terlalu sunyi, sampai suara napasnya sendiri terdengar seperti gema, namun ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang menyeramkan mengintai di balik kegelapan itu. “Halo? Ada orang di sini?” teriak Akari, tapi suaranya bergema hampa. Air mata mulai menggenang di pelupuk, menambah kabur penglihatannya. Telinganya menangkap suara samar. tik... tik... seperti air menetes dari langit-langit. Setiap tetes bergema, menegaskan betapa sepinya tempat itu. Akari mengusap lengannya yang terus membuatnya merinding. Dingin besi di sekitarnya juga membuat tubuhnya makin kaku. Tiba-tiba... Terdengar lentingan listrik dari atas langit-langit, disusul dengan dengungan mesin. Cahaya menyembur dari sebuah proyektor besar yang menempel di sudut ruangan. Akari mendongakkan kepalanya, dia menatap dengan heran karena keberadaan proyektor yang tidak dia sadari sebelumnya. Biasan cahaya membuat matanya perlahan beradaptasi dengan ruangan gelap. Lalu cahaya lain ikut menyala dari sisi berlawanan. Dalam sekejap, dinding-dinding lembap penjara itu berubah menjadi layar hidup. Akari terkejut, tubuhnya refleks mundur, tapi ke mana pun dia menoleh, bayangan itu tetap mengikuti. Proyektor menyorot dari berbagai sisi, membuat rekaman itu mengisi seluruh ruang. Di saat itu Akari baru sadar, ternyata tempat ini seperti penjara. Tidak hanya ruang di jeruji besi miliknya, tetapi ada jeruji besi lain yang juga diisi oleh bayangan misterius. Sehingga tidak ada jalan kabur dan tidak bisa menutup mata, karena Akari tetap merasakan cahaya yang menyusup dari sela kelopak matanya. Di sana terlihat seorang pria bertopeng berdiri tenang. Rasa penasaran mulai muncul saat Akari mulai memperhatikan sosok itu, namun tak berselang lama, kilasan ingatan muncul di kepalanya. Bayangan yang dia kira hanya sebuah halusinasi, seolah mematahkan keyakinannya selama ini. Sebuah siluet yang sama persis dengan kejadian malam itu. Aku sudah tertengkap, pikirnya. Tubuhnya tinggi, gerakannya terlihat tenang saat berjalan mendekati seorang korban yang diikat pada kursi besi. Kamera melakukan perluasan secara tiba-tiba, mengungkapkan ruangan yang gelap dan terlihat begitu lembap, mirip seperti sel tempat Akari terkurung sekarang. Suara rantai bergerincing dari korban. Jeritan pertama meledak, menggema keluar dari pengeras suara yang tersembunyi. Suara itu begitu nyata, menusuk, membuat telinga Akari panas dan jantungnya berdegup tidak karuan. Dia menutup mulut dengan kedua tangannya yang bergemetar, air mata langsung jatuh tanpa bisa dicegah. Namun cahaya itu terus menyorot ke wajahnya, memaksa dia menatap, dan memaksa dia menjadi saksi. Di layar, pria bertopeng itu menyiksa dengan tempo lambat, seperti menikmati setiap detik penderitaan. Tidak ada jeda, tidak ada belas kasihan. Seakan menikmati waktu untuk memasak di dapur. Begitulah pria itu menikmati waktunya melakukan penyiksaan. Korban di layar meronta, tubuhnya dipukul, disayat, hingga darah mengalir ke lantai. Suara teriakan itu semakin memekak telinga, dan Akari tidak tahan lagi dengan itu. Akari memalingkan wajah ke dinding samping, tapi rekaman yang sama menunggu di sana. Dia mencoba menunduk, namun lantai pun terciprat oleh cahaya bayangan yang memantul. Seakan-akan seluruh ruang telah bersekongkol untuk memaksa matanya terbuka. Dia menutup kedua telinganya sambil memejamkan mata, “Tidak... jangan... hentikan!” suaranya pecah, parau, tapi sia-sia. Rekaman itu terus berjalan. Suaranya tenggelam dalam jeritan yang diputar ulang. Akari masih tidak mampu menghalau suara itu masuk ke pendengarannya. Jeritannya berubah menjadi rintihan, lalu akhirnya sunyi. Kening Akari mengerut, secara perlahan matanya terbuka. Semua layar dipenuhi dengan satu warna yang mencolok. Membuat perutnya terasa melilit. Akari muntah dengan hebat, hingga hampir menguras isi perutnya yang kosong selama dikurung di sini. Dalam rekaman itu, ada banyak darah menodai lantai, jeritan makin lemah, hingga akhirnya korban terkulai tak bernyawa. Dengan tubuhnya yang sudah tidak utuh. Ada organ bagian dalam tubuh yang terlihat, membuat Akari tidak berdaya. Dan ketika video itu usai, proyektor meredup perlahan. Ruangan kembali gulita, menyisakan dengungan mesin dan degup jantung Akari yang kacau. Akari terhuyung, tubuhnya gemetar hebat. Tangannya menekan dadanya sendiri, berusaha menahan napas yang memburu. Dia seperti dipaksa menjadi saksi, tanpa ada pilihan untuk menutup mata yang sia-sia. Dan yang lebih menyeramkan, monitor itu tidak hanya sekali menyala. Akari tahu ini bukan akhir. Hari demi hari, rekaman serupa muncul. Pagi, siang, malam. Tidak ada waktu nyata di sana, hanya teror yang berulang. Besok, atau lusa, cahaya itu akan kembali menyala. Membawanya pada penyiksaan yang tidak berhenti, seakan dirinyalah yang sebenarnya disiksa. Akari tidak tahu waktu dan sudah berapa lama dia berada di tempat ini. Selama ini dia hanya merasa dipaksa menonton layar itu lagi dan lagi. Hingga tidak ada keseharian dan tidak ada pikiran lain untuk mengetahui apakah ada matahari yang muncul, atau justru bulan. Makan dan minum selalu muncul sudah berulang kali. Akari bahkan tidak pernah menyadari kapan baki itu tiba-tiba muncul. Awalnya dia tidak bernafsu makan, mengingat penyiksaan yang dilihatnya. Hingga batas kewarasannya sudah hilang dan melawan lapar yang menggunung. Akari tidak hanya kehilangan waktu dan indra pengecap yang sudah tumpul. Matanya berat meski tubuhnya segar, atau sebaliknya. Ia tak tahu lagi kapan harus tidur. Waktu berhenti, kecuali untuk video itu. Hingga di suatu hari, proyektor menyala tanpa memperlihatkan video apa pun. Hanya layar putih. “Apa dia sudah kehabisan video?” gumam Akari, tertawa hambar lalu terdiam. Dia memilih merebahkan tubuhnya di lantai semen yang dingin. Dengan tatapan kosong menatap semburan cahaya proyektor yang masih dengan penampilan yang sama cukup lama. Hingga tiba-tiba proyektor itu mati. Akari terkejut, dia segera duduk dengan perasaan tidak tenang. “Ini... nggak mungkin mati begitu saja.” Dengan penuh ketakutan, dia memeluk tubuhnya sendiri. Melawan rasa takut yang menggigil, lebih dari suhu udara tempat ini. Sunyi terlalu panjang. Akari hampir berharap ini hanya kegagalan listrik. Hingga suara langkah itu mematahkan harapannya. Berat, teratur, dan mendekat. Siluet pria bertopeng muncul di balik bayangan. Akari menahan napas. Tubuhnya kaku. Apakah kali ini, adalah gilirannya? Langkahnya tenang, bergema seirama dengan detak jantung Akari yang semakin kacau. Adrian. Akari tidak bisa lagi terkejut saat melihat sosoknya, meski wajahnya tertutup topeng hitam dingin, tatapannya menusuk seakan bisa menembus tubuh Akari. Di belakangnya, dua pria bertubuh besar menyeret seseorang yang terikat. Kursi besi sudah disiapkan tepat di tengah lorong, di hadapan sel Akari. “Tidak... tidak! Jangan di sini!” suara Akari pecah, nyaris tidak terdengar. Seakan tuli, dua pria itu tetap melakukan tugasnya dengan tenang. “Aku bilang! Jangan di sini!” teriak Akari lagi mencoba menggoyang jeruji besi di tangannya. Korban itu dipaksa duduk, dirantai, mulutnya disumpal kain. Matanya melotot ketakutan, sama persis seperti mereka-mereka yang Akari lihat di video. Bedanya, kali ini nyata. Bahkan tatapan korban tepat ada di hadapannya, dan itu semakin membuat Akari menjerit tak terkendali. Mereka seperti bertatapan, satu sama lain. “Jangan menatapku!” Adrian berdiri di samping kursi itu, gerakannya lambat, penuh kendali. Tangannya menyentuh bahu korban, lalu menoleh ke arah Akari. Seolah setiap yang akan dia lakukan hanya lah sebuah pertunjukan, dan Akari adalah satu-satunya penonton. Pisau itu diangkat. Satu sayatan, berirama dengan jeritan membelah ruangan. Darah menetes ke lantai semen, menyusuri celah-celah retakan. Akari menjerit, tubuhnya gemetar hebat, namun matanya tetap terbuka. Dia mencoba berpaling, tapi proyektor kini menyala kembali dan menyorot langsung wajah korban, memperbesar setiap detail penyiksaan. Ke mana pun dia menoleh, proses kematian itu selalu menunggunya. Adrian tidak melewatkan satu pun ekspresi Akari. Ketakutan, air mata, dan keputusasaan. Semua dia nikmati. Dan ketika akhirnya korban terkulai lemas, ruangan hening kecuali suara napas tersengal Akari. Adrian berhenti tepat di depan jeruji, menatapnya dalam-dalam meski wajahnya tersembunyi. Dia tidak berkata apa-apa, hanya diam. Lalu perlahan, bahunya berguncang kecil. Senyum. Senyum kepuasan yang bisa dirasakan bahkan dari balik topeng. Tangannya terulur, menggenggam jeruji besi di antara mereka dengan sekali sentakan, hingga membuat Akari ketakutan. Mencondongkan tubuh ke depan. Suaranya rendah, berat, namun jelas terdengar.”Niatku menghancurkan sayapmu sirna, karena kau lebih indah dari itu.” Napasnya nyaris menyentuh. “Kau... milikku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD