Kau Milikku

1650 Words
“DI mana, sih?” Akari berbisik gelisah, menoleh ke kanan-kiri setelah berhasil melarikan diri dari ballroom. Dia sudah memastikan kedua orang tuanya sibuk bercengkerama dan tidak menyadari kepergiannya. Lorong hotel itu sepi, lampu gantung memantulkan bayangan panjang di dinding. Tiba-tiba sebuah tangan menutup mulutnya dari belakang, menyeretnya ke sisi lorong. Mata Akari membelalak. Dia berontak panik, jantungnya berdegup kencang. Begitu berbalik, wajahnya sontak pucat— “Cindy!” teriaknya lega sekaligus kesal. Temannya itu langsung tertawa puas, menepuk-nepuk bahu Akari. “Sorry, sorry! Tapi ekspresi lo barusan priceless banget.” Akari mendengus, lalu matanya tertuju pada pakaian Cindy. “Cindy... ini—” Dia menunjuk atasan hijau muda ketat bertali serut di depan, memperlihatkan lekuk tubuh temannya. “Bagaimana kalau talinya lepas?” “Ya tinggal kencengin lagi lah.” Cindy mengedikkan bahu santai, bahkan membetulkan posisi dadanya tanpa canggung. “Astaga!” Akari spontan menutup mata dengan telapak tangannya. Cindy mendengus sambil berdecak. “Nggak usah sok suci. Lo udah gede, nanti juga bakal telanjang di depan cowok lo.” “Cindy!” wajah Akari langsung merah padam. “Iya, iya.” Cindy mengangkat kedua tangan tanda menyerah, lalu balik meneliti sahabatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tangannya terlipat di d**a, bibirnya menyeringai. “Benar-benar dibikin kayak boneka,” ujarnya, antara kagum dan sinis. “Aku kayak boneka?” Akari justru berputar pelan, memperlihatkan gaun lilac mudanya. Senyumnya tipis, seolah menganggap itu pujian. “Terserah lo, deh. Ayok!” Cindy langsung meraih tangan Akari. “Tunggu!” “Apalagi sih?” “Ya masa aku pakai gaun ini ke sana?” Akari menatap gaunnya, lalu melirik outfit Cindy. “Oh iya, gue lupa.” Cindy mengangguk cepat. “Ya udah, ganti aja. Bisa-bisa gue keliatan kayak penjahat kalau berdiri di samping lo sekarang.” “Ayo ke kamarku,” ajak Akari menuju kamar tempatnya menginap di hotel ini. Beberapa menit kemudian, Akari keluar dengan pakaian baru. Atasan blus putih berlengan panjang dengan kerah besar, dilapisi bustier hitam ketat ber-resleting di depan, berhenti tepat di atas pinggang. Paduan itu menonjolkan siluet rampingnya. Bagian bawah memakai jeans biru muda high-waist sederhana, tapi pas membingkai pinggulnya. Cindy mengangguk mantap. “Walaupun lo polos, soal style lo emang pinter. Gue udah ekspek lo bakal keluar pakai dress princess lagi kayak tadi.” Akari tersipu malu. “Itu kan pilihan Mama, jadi aku ikut aja.” “Yah, nggak usah diperjelas. Gue udah tahu kok.” Cindy menyeringai lebar. “Ayok, kita menggatal hari ini!” serunya sambil menarik tangan Akari. Akari terkekeh, menuruti langkah Cindy. “Menggatal? Bahasa apa lagi itu?” Begitu sampai di lokasi, Cindy langsung berubah jadi lebih agresif dan liar. Matanya berbinar-binar melihat kerumunan, lampu neon yang menari di udara, dan dentuman bass yang mengguncang d**a. “OH MY GOD, AKARI!” Cindy hampir berteriak tepat di telinga sahabatnya, suaranya tertelan musik keras. Tangannya menepuk-nepuk lengan Akari tanpa henti, seakan butuh media untuk melampiaskan kegembiraan. Dengan tangan bebasnya, Cindy melambai-lambai ke udara, ikut hanyut dalam alunan beat, bibirnya tak berhenti berteriak mengikuti crowd. “LIAT! ITU DIA!” Cindy menunjuk ke arah panggung dengan mata berbinar, seperti sedang melihat dewa turun ke bumi. DJ idolanya muncul di balik turntable, lampu sorot memantul di kacamata hitamnya. Sementara Akari hanya bisa menatap, kagum dan sedikit terhuyung oleh dorongan massa. Tangannya masih digenggam Cindy erat, seolah kalau dilepaskan, dia akan tenggelam di lautan manusia. Cindy sama sekali tidak peduli, baginya ini adalah surga. Dia melompat-lompat mengikuti irama, memaksa Akari ikut meloncat meski awalnya ragu. Bagi Akari, club bukan lagi dunia asing. Dia sudah sering ikut Cindy dan Doni masuk ke dalamnya. Bedanya, dulu dia selalu punya pagar pengaman. Yaitu dua sahabatnya itu yang melindungi dari pandangan liar dan tangan usil. Tapi malam ini Doni tidak ada, dan Cindy mulai terlihat terlalu mabuk. Tiba-tiba Akari mendadak merasa sendirian, meski tubuh-tubuh di sekitarnya menempel rapat. Dentuman musik mengguncang, Cindy melompat-lompat penuh gairah. Dia menarik tangan Akari, memaksa ikut dalam pusaran. Dan seperti biasa, Akari menurut. Ada bagian dirinya yang selalu ingin larut mencari kebebasan, mencari cinta yang tidak pernah dia dapatkan dari rumah. Dan pada akhirnya, tawa mereka pecah bersama dentuman musik, seolah dunia di luar gedung itu tidak pernah ada. Begitu kembali ke meja bundar, Akari terengah, dadanya naik-turun. Nafasnya masih berkejaran dengan alunan beat yang terus bergema di kepalanya. Cindy datang dengan dua gelas minuman di tangan, wajahnya berbinar penuh kemenangan. “Nih, nggak afdol kalau kita nggak minum malam ini!” Tangan Akari hampir meraih, tapi seketika kaku. Bayangan ketika dia pernah mabuk total muncul begitu saja. Sejak itu dia takut untuk alkohol lagi. “Kenapa?” Cindy menyipitkan mata, menyadari gelagat temannya. “Aku lagi... kesulitan tidur. Jadi nanti harus minum obat dulu,” jawab Akari cepat memberi alasan, meskipun itu tidak sepenuhnya berbohong. Karena setelah hari itu Akari tidak pernah tidur nyenyak. Cindy menatapnya lama, lalu tersenyum nakal. “Yah, kalau gitu gue aja yang minum.” Dia langsung menghabiskan gelas Akari dalam sekali teguk. Akari menatapnya cemas. “Kalau kamu mabuk, kita pulang gimana?” Cindy hanya tertawa, bibirnya sudah bercampur dengan alkohol. “Santai aja, gue nggak bakal semabuk itu kok.” Tapi itu tidak membuat Akari lebih tenang. “Ayo kita ke sana lagi,” ajak Cindy ikut menari di tengah orang-orang berkumpul. “Tapi DJ itu kan udah nggak ada.” “Sekalian aja, kita joget!” Dentuman lagu berikutnya meledak. Cindy langsung kembali ke tengah crowd. Tubuhnya meliuk liar, sensual, seperti biasa. Para pria langsung merapat. Akari ikut menari, tapi ritmenya berbeda. Terasa canggung, lembut, tapi justru itu yang membuatnya mencolok. Beberapa pria melirik, sebagian mendekat. Pria asing mulai mendekat. Cindy yang setengah mabuk, sudah merangkul satu di antara mereka, bahkan menempelkan bibirnya pada bibir lelaki itu. Akari memundurkan langkah, canggung. Tapi sesosok pria lain justru maju, merangkul pinggangnya dari belakang. Akari menegang, panik ingin melepaskan diri. Dia mencoba menyingkir, tapi ruang begitu sempit. Napasnya tercekat, jantungnya berdetak tidak karuan. Biasanya di saat seperti ini, Cindy atau Doni akan segera menarik tangannya, menjauhkan orang-orang asing itu. Malam ini, Cindy justru sibuk berciuman dengan pria tidak dikenal. Dan Akari tahu... untuk pertama kalinya, dia harus menjaga dirinya sendiri. “Bi-bisa lepaskan tanganmu?” suaranya bergetar nyaris tenggelam oleh musik. Tak ada respons. Tangan itu tetap melekat. Dapat dirasakannya, tangannya dingin dan membuat bulu kuduknya merinding begitu menyentuh kulit perutnya. Akari akhirnya menoleh cepat, menatap wajah pria itu. Pandangan mereka bertemu intens, ada ketegangan di antara mereka yang berlangsung lama. Orang itu tidak menjawab, hanya menunduk sedikit. Tatapannya menusuk, terlalu tenang untuk sekadar pria mabuk di club. Ada wangi parfum maskulin yang familier, tapi Akari tak bisa mengingat di mana pernah mencium bau itu dan melihat rupa di hadapannya. “Please... move your hand,” bisiknya dengan suara tegas namun gemetar. Pria itu hanya menekuk bibir tipis, lalu perlahan melepaskannya. Segera Akari melangkah mundur, nafasnya mulai terengah, berusaha keluar dari kerumunan. Begitu menoleh lagi. Pria itu sudah hilang ditelan keramaian. Meski tubuhnya sudah bebas, rasanya jemari asing itu masih menempel di kulitnya, dingin dan membekas. Bulu kuduknya berdiri. “Sepertinya di sini banyak orang asing,” gumamnya. Lalu dia sadar sesuatu. “Cindy! Di mana dia?” Namun Akari tidak tahu, sepasang mata gelap sudah menunggu di sudut ruangan Yang tidak pernah lepas dari Akari. Adrian berdiri di tepi bar, tubuhnya menyatu dengan bayangan. Musik mengentak, lampu neon berkelebat, tapi dia hanya fokus pada satu hal. Gadis dengan jeans biru muda dan senyum malu-malu di antara crowd. Baginya, Akari bukan sekadar gadis polos. Dia adalah kontras yang sempurna. Cahaya di tengah kegelapan. Tawa lembut di tengah jeritan bass. Kupu-kupu kecil yang menari di antara bunga plastik dunia malam. Adrian mengamati bagaimana Akari tertawa mengikuti Cindy, meski canggung. Bagaimana dia terhuyung namun tetap mencoba ikut dalam alunan crowd. Semua itu terlihat indah... dan rapuh. Tangannya yang tadi sempat melingkar di pinggang gadis itu masih terasa di kulitnya sendiri. Sensasi itu menempel seperti racun manis. “Kupu-kupu tidak dibiarkan bebas,” gumamnya lirih, suaranya tenggelam oleh musik. “Dia harus ada dalam genggamanku... hingga sayapnya hancur.” — ✦ ✦ ✦ — Malam semakin larut. Gerimis turun, menyelimuti jalan dengan aroma aspal basah. Akari melangkah keluar dari club, karena Cindy sangat sulit dihubungi dan menghilang begitu saja di tengah keramaian. Ini bukan pertama kalinya, karena terkadang dia berujung pulang hanya dengan Doni. Karena esok harinya mereka pasti bertemu dan mendengarkan cerita malam panasnya bersama orang asing lagi. Akari memutuskan pulang sendiri, menembus udara dingin. Di ujung jalan, sebuah mobil hitam mewah berhenti. Lampunya temaram menembus kabut hujan. Jendela perlahan terbuka, memperlihatkan seorang pria dengan topi hitam menatapnya dari dalam. Senyumnya samar, suaranya rendah dan menenangkan. “Halo, permisi. Bisa tunjukkan jalan menuju tol?” Akari tertegun. Entah kenapa, suaranya membuat bulu kuduknya merinding. Namun, sopan santun yang ditanamkan sejak kecil menahannya untuk kabur begitu saja. “Ah iya, lurus, lalu belok kanan,” jawabnya, agak ragu. Pria itu tidak langsung pergi. Tatapannya menetap, terlalu lama, terlalu dalam. “Namamu siapa?” “Eh? Akari.” Senyum itu berubah, nyaris seperti kepuasan. “Akari...” Dia mengulang pelan, seakan mengecap rasa setiap suku kata. “Indah. Cahaya kupu-kupu yang berpencar di malam.” Nafas Akari tercekat. Dia melangkah mundur. Namun pria itu membuka pintu, keluar dengan payung hitam di tangannya. Gerakannya tenang, terukur. Setiap langkah membuat jantung Akari berdegup lebih keras. Dia berhenti tepat di depannya, terlalu dekat. Tangannya yang bebas mengulur, hampir menyentuh helai rambut Akari yang basah karena hujan, tapi dia tahan di udara. “Aku tidak membunuhmu malam itu.” Suaranya lirih, menusuk, membuat darah di tubuh Akari terasa dingin. Mata mereka bertemu. Adrian tersenyum samar, tatapannya penuh klaim. “Karena kau bukan saksi...” Dia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya hampir seperti bisikan di telinga Akari. “Kau adalah milikku.” Tubuh Akari membeku. Suara hujan seakan lenyap. Lalu segalanya menjadi hitam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD