Tiga

2220 Words
Gitar yang sejak tadi dipetik diletakkan kembali ke tempat semula. Meski suara merdu tercipta karena petikan dan sentuhan jemarinya, cowok bertubuh tinggi yang memiliki banyak penggemar di sekolahnya itu menghela napas pendek. Matanya menatap halaman rumah Kinan yang tiba-tiba saja mengingatkannya pada kejadian bodoh beberapa hari yang lalu. Lagi-lagi ia menghela napas pendek, matanya bahkan sempat terpejam mengingatnya. Ia yakin baik Raka mau pun Kinan pasti menganggapnya sinting saat itu. Sore itu jalanan komplek perumahan sudah ramai dengan anak-anak kecil yang bermain. Lembut hembusan angin menerpa wajah rupawannya, membawa gelenyar aneh yang entah sejak kapan ia tepis sejauh mungkin, namun tidak berhasil. Matanya beralih menatap balkon kamar Kinan yang entah disengaja atau kebetulan bersebelahan dengan kamarnya. Rafa tahu apa yang dilakukan Kinan setiap malam di balkon. Sehingga Kinan kerap kali datang terlambat ke sekolah. Sehingga Kinan seringkali tertidur dengan nyenyak saat jam pelajaran sedang berlangsung. Rafa juga tahu betul alasan mengapa Kinan selalu memilih untuk mengerjakan semua tugas-tugas sekolah sendirian. Bahkan saat harus berkelompok pun, Kinan memilih untuk menerima satu tugas yang paling sulit dan mengerjakannya sendiri di rumah. Lalu, begitu waktu pengumpulan tugas Kinan tinggal menyerahkan pekerjaannya pada ketua kelompok. Segala tanya tentang Kinan yang bahkan dunia di luar sana tidak tahu jawabannya, Rafa mengetahuinya tanpa Kinan harus mengatakannya. Bahkan tentang perasaan saat ini pada temannya sejak kecil itu. Rafa tahu betul, namun terlalu canggung untuk mengungkapkan segalanya. Namun, tetap saja sebanyak apa pun Rafa melihat. Ada satu hal yang Rafa tidak pernah tahu adalah apa yang sedang Kinan pikirkan. Namun, satu hal yang pasti menyakitkan. Setiap malam pula, tanpa Kinan ketahui Rafa duduk bersebelahan dengan kamarnya. Bersembunyi dalam gelap untuk menjadi bayangan Kinan. Sesekali Rafa ingin datang mendekati Kinan, duduk berdua mendengarkan tangis Kinan tanpa harus bertanya 'kenapa?'. Karena beberapa orang yang terluka lebih suka memendamnya sendiri dan menunjukkannya lewat air mata. Lebih dari itu Rafa mengenal Kinan sangat jauh. Delapan belas tahun ia menjadi satu-satunya teman bermain Kinan yang dulu sangat garang. Meski ia seorang cowok, tapi tidak sekali dua kali Rafa pulang sambil menangis karena ulah Kinan. Mendadak seseorang yang sejak tadi berada dalam angannya muncul dari balik pintu kaca. Kinan berdiri di sana, di atas balkonnya tanpa menyadari Rafa di sana. Gadis berambut sebahu itu memejamkan matanya memegangi teralis besi. Sebelah tangannya menopang dagu. Menghirup angin sore yang menenangkan agar sesak di d**a sedikit berkurang. Hidungnya kembang kempis bergerak tidak teratur. "Ngapain lo senyum-senyum?" Celetukkan dari mulut Kinan kontan membuat Rafa tersadar dari lamunan. Cowok berpostur tinggi itu bahkan tidak menyadari jika dirinya sendiri tengah tersenyum menatap Kinan. Sampai-sampai gadis yang sejak tadi menjadi objek pandangannya balik menatap Rafa, cowok itu pun masih belum menyadari. "Eng..., suka-suka gue, lah, mau ngapain," jawab Rafa sewot. Kinan mencebikkan bibir menatap Rafa yang berjalan ke ujung balkon sehingga membuat jarak keduanya tidak terlalu jauh. Kinan menatap Rafa dari tempatnya. Cowok yang belakangan ini kerap membuatnya naik darah karena kesal. Entah kenapa tiba-tiba Rafa seperti seseorang yang memiliki kepribadian ganda. "Lo, kok bisa?" Rafa berucap ambigu. Sedangkan Kinan cuma menakutkan alis bingung. "Bisa apa?" Kinan masih mengercutkan dahi bingung. "Kalo nanya yang bener." "Pulang bareng dia." "Mas Raka maksud lo?" ucap Kinan. Anggukan dari Rafa membuat Kinan ikut mengangguk. Ingatannya terlempar pada kejadian beberapa hari yang lalu. "Kebetulan dia lewat sekolahan, terus ketemu sama gue. Dia ngajakin bareng yaudah," cerita Kinan dengan singkat. "Emang kenapa?" Kinan balik bertanya menatap Rafa. Rafa enggan membalas. Membiarkan Kinan menatapnya penuh tanda tanya sementara Rafa dengan begitu santai memperhatikan Kinan yang masih menunggu jawaban darinya. "Kalau ditanya itu jawab! Lagian lo ngapain, sih, ngeliatin gue sampai kayak gitu?"Kinan berucap jengkel "Jangan-jangan lo suka sama gue?" sambung Kinan mendadak. "Iya," balas Rafa singkat "HA?!" "Bercanda b**o! Ngarep banget lo, gue taksir." balas Rafa santai. Ia menikmati ekspresi bodoh Kinan yang masih seolah tak percaya. "Gue naksir sama lo? Kayak nggak ada cewek cantik aja di Jakarta." Kinan berdecak menatap Rafa yang menjulurkan lidah padanya. Gadis itu masuk ke kamarnya lalu keluar dari sana dengan membawa sebuah kemonceng. Ia sudah bersiap untuk melemparkan kemonceng bulu ayam itu pada Rafa, tapi sialnya Rafa sudah terlanjur melesat memasuki kamarnya sendiri. Bukan hal yang aneh ketika keduanya bertemu tanpa terjadi adu mulut. Detik berikutnya Kinan duduk bersandar pada jendela kaca, tanpa mempedulikan Rafa yang kembali muncul dari kamarnya, masih tersenyum seperti orang sinting. "Kinan?" Rafa mendadak menlongokkan kepalanya menatap Kinan. "Hmm?" sahut Kinan menoleh. Ia tatap Rafa yang juga tengah menatapnya. Cukup lama keduanya saling lempar pandang. "Nggak jadi." Kinan mengernyit kesal menatap Rafa yang kembali masuk ke kamarnya. Kebiasaan Rafa yang tiba-tiba memanggil Kinan, tapi tidak ada alasan. Membuat Kinan terkadang malas menanggapi Rafa yang belakangan menjadi seseorang yang asing untuknya. “Kinan?” panggil Rafa kembali muncul dari kamarnya. “Apaan, sih!?” Kinan menyahut dengan nada super kesal. "Jam tujuh gue ke sana.” Lagi-lagi dahi Kinan mengernyit bingung menatap cowok aneh tersebut. "Ngapain?" Sebuah buku paket fisika berada dalam genggaman Rafa, pada sampulnya tertulis nama Kinan di sana. Ah! Kinan ingat minggu lalu Rafa meminjam bukunya untuk mengerjakan tugas dari bu Endang. Sebab pada saat pelajaran tersebut, Rafa tengah mengikuti turnamen basket antar sekolah. Dan lagi, jumlah buku paket di sekolah masih terbatas, jadi tak jarang satu buku digunakan oleh dua orang. Kinan masih terpaku menatap Rafa yang sudah kembali menghilang. Pikirannya kacau. Terbagi menjadi kepingan-kepingan puzzle yang rumit di dalam kepala. Ia tertunduk mengacak rambut yang sebenarnya tidak membantu sama sekali. *** Dalam kamar bernuansa abu-abu putih yang hanya diterangi lampu belajar, Kinan sibuk memilah-milah buku. Bahkan beberapa buku dan alat tulisnya sudah berserakan di depan pintu balkon kamar. Gadis itu menyelipkan bolpoin berwarna hitam ke telinga. Lalu kembali sibuk mencari keberadaan buku tugas fisika yang mendadak raib entah kemana. Kaca mata bulat yang bertengger di atas hidung mancungnya membuat Kinan terlihat semakin lucu dengan mata yang selalu terlihat sayu. Mendadak kesunyian kamarnya sirna ketika Kian masuk tanpa mengetuk dan permisi. Gadis kelas sembilan yang tingginya hampir sama dengan Kinan itu menatap Kinan dengan wajah tidak bersahabat. "Bisa nggak ketuk pintu dulu kalau mau masuk?" ucap Kinan yang semula menatap Kian kembali sibuk memilah buku. "Tadi, Kakak bilang apa sama teman-temanku?" tanya Kian. Kinan menautkan kedua alisnya tampak berpikir. Lantas mengingat sekelompok anak seusia Kian yang datang seusai magrib dan mencari adiknya tersebut. Berhubung Kian sedang sibuk berkutat di kamar mandi, Kinan mengatakan bahwa Kian tidak bisa ikut karena belum sembuh total. "Bukan apa-apa. Cuma bilang kalau jangan dulu ngajak kamu main ke luar malam-malam. Kamu, kan, belum sehat beneran." Gadis berusia lima belas tahun itu memutar kedua bola matanya malas. Kedua tangan yang berada di sisi tubuh mengepal kuat. "Sampai kapan, sih, Kakak mau kayak gini?" Kinan tidak menggubris, membuat Kian semakin kesal. Gadis itu menghentak-hentakkan kaki ke lantai, hingga membuat perhatian Kinan kembali padanya. "Kakak, tuh nyebelin tahu nggak? Aku udah dewasa Kak, masa mau main, aja, dibatas-batasin kayak gini?!" Mendengar perkataan Kian, Kinan menyilangkan kedua tangan di depan d**a. Ia pandangi wajah cantik Kian yang begitu mirip dengan ayah. Membuat perasaan marah itu semakin menjadi. "Terus, kamu maunya aku gimana? Diam aja, membebaskan kamu main malam-malam pulang tengah malam. Gitu?" tanya Kinan pelan. "Kalau asma kamu kambuh, yakin teman-teman kamu bisa bantu? Atau kamu bisa urus diri sendiri?" Kinan kembali melanjutkan pertanyaan retorisnya. Kian diam membisu. Namun, matanya terlihat begitu marah pada Kinan. "Kamu selalu bilang kalau kamu udah dewasa, tapi kenapa masih nggak bisa ngerti, sih? Mana yang baik dan nggak baik buat kamu, Ki..., Lagian ya, kamu itu udah tiga hari nggak masuk sekolah. Terus mau keluyuran gitu, aja? Kerjain tugasnya, Kian. Atau seenggaknya di Rumah, aja, angin malam itu nggak baik buat pernapasan kamu," jelas Kinan panjang lebar. Dalam kamar yang temaram itu, Kinan bisa melihat dengan jelas bahwa Kian menangis. Pipinya sudah basah, bahkan berkali-kali tangannya mengusap air mata yang meleleh turun hingga ke dagu. "Bukannya aku mau membatasi pergaulan kamu. Tapi, kesehatan kamu itu nomor satu, Ki. Ngerti, kan, maksudku?" suara Kinan melembut. Tangannya terulur untuk mengusap surai panjang hitam milik Kian, tetapi belum sempat jemarinya menyentuh rambut Kian. Gadis itu menepisnya, menatap Kinan tidak terima dengan perasaan yang masih belum juga memahami pemikiran Kinan yang selalu mengekangnya. "Kakak bukan Mama – "Aku tahu, aku bukan Mama kamu, tapi aku berhak atas apa yang kamu lakuin karena cuma aku satu-satunya wali yang kamu punya!" "Suka nggak suka, mau nggak mau. Itu semua nggak akan merubah status saudara kita jadi orang asing, ngerti kamu?!" Kinan hampir saja mengucapkan kalimatnya sambil berteriak. "Aku benci sama Kakak!" Kian berteriak kemudian pergi meninggalkan Kinan yang masih terdiam di tempat. Sedetik kemudian yang terdengar adalah suara bantingan pintu kamar yang bedebum keras. Dengan segala kesabarannya, Kinan mencoba tenang meskipun kenyataannya di dalam sana ada ribuan gemuruh yang siap meledak kapan saja. Kinan mengepalkan tangan erat sehingga ia merasakan sakit karenanya sendiri, seolah melepaskan emosinya dari sana. "Gue lebih benci lo dari apa pun," ucap Kinan pelan. Tentu saja ia mengatakan hal tersebut tidak dari hatinya. Hanya sekelebat emosi yang selalu hadir setiap kejadian seperti ini terjadi. Saat Kian protes padanya, tanpa melihat pengorbanan Kinan selama ini. Tanpa memandang Kinan sebagai kakak yang harus berperan ganda hanya untuk dirinya. "Kalau boleh milih, aku juga nggak mau terlalu ngurusin kamu, Ki. Sama sekali nggak berminat." Kinan kembali bergumam lirih. Ia lepaskan kaca matanya lalu meletakkannya di meja belajar. Langkah lamban Kinan berjalan mendekati balkon. Duduk di pojokan sambil memeluk lututnya seperti biasa. Merasakan dinginnya lantai keramik yang seolah membekukan. Hingga tiba-tiba ia terisak untuk yang kesekian kalinya. Dalam gelap Kinan bersembunyi dan menyembunyikan tangisnya sendirian. Sungguh Kinan tidak ingin bangun lebih awal demi menyiapkan sarapan untuk Kian. Menyetrika pakaian juga mengurus pekerjaan rumah yang lainnya. Kinan tidak ingin dan memang tidak akan pernah bisa menggantikan posisi mama, namun keadaan memaksa Kinan melakukan kewajibannya sebagai satu-satunya wali yang Kian miliki. Gadis itu terisak cukup keras. Dadanya sesak, sementara ucapan dari Kian selalu saja menyakitinya. Seolah apa yang dilakukannya selama ini tidak pernah bernilai. Seakan tidak satu, pun, orang yang peduli padanya juga rasa sakitnya. Sementara itu, seseorang yang sejak tadi duduk di antara pertengahan anak tangga, yang sudah bersandar di balkon kamar Kinan ikut terdiam. Matanya menatap buku paket fisika dan membolak-balikkannya dengan bingung. Haruskan Rafa naik ke atas dan menemui Kinan yang masih menangis? Atau mungkin Rafa harus pulang saja? Berpura-pura untuk buta dan tuli atas kejadian barusan. Cowok itu menghela napas pendek seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pada akhirnya ia melanjutkan untuk naik ke atas menemui Kinan. "Woy! Kinan, lo tidur ya?!" Sengaja Rafa berteriak untuk memberi sinyal kedatangannya pada Kinan. Supaya Kinan bersiap untuk menghapus sendiri jejak luka di wajahnya jika Rafa tidak diijinkan untuk tahu. Kaki panjangnya dengan mudah melompati pagar besi tersebut lalu mendarat sempurna di balkon kamar Kinan. Benar saja, gadis itu tidak mengindahkan kedatangan Rafa. "Nih," Rafa mengulurkan buku fisika milik Kinan, dan segera diterima oleh pemiliknya. "Gue ketokin pintu sampai jari gue mau patah, kenapa nggak di bukain, sih? Harus banget ya, gue manjat-manjat kayak maling begini?" Rafa masih berdialog sendiri. Ia duduk di sebelah Kinan, namun menghadap ke arah balkon dengan menopang kedua tangan ke belakang. "Sorry," balas Kinan singkat. Tanpa menatap lawan bicaranya, Kinan sibuk membuka buku yang baru saja dikembalikan oleh Rafa. Sedetik kemudian Kinan sibuk lagi mengumpulkan buku yang berserakan di sekitarnya sambil mencari sesuatu. "Nyari apaan?" Rafa bertanya heran. "Bolpoin gue hilang," balas Kinan parau. Rafa ikut mengamati lantai barang kali menemukan benda yang dicari Kinan. Hingga tanpa sengaja matanya menemukan bolpoin milik Kinan terselip di telinga. Ia mengambilnya lalu menyerahkan benda tersebut pada Kinan. "Begonya nggak ilang-ilang! Lo nggak akan nemuin apa yang lo cari, ketika hati sama pikiran lo ada di tempat yang berbeda." ucap Rata sembari menyentil pelipis Kinan pelan. Bolpoin yang ia cari masih mengambang di udara, berada di tangan Rafa yang masih setia menunggu untuk ia raih. Hingga kemudian ia lakukan juga. "Suara lo serak gitu, nggak lagi pilek, 'kan?" Rafa bertanya tanpa menatap Kinan yang terdiam mematung. "Lanjutin aja, nggak perlu lo sembunyiin dari gue. Lagian gue juga nggak akan bilang ke siapa, pun, kalau lo nangis malam-malam karena bolpoin lo ilang," sambung Rafa diiringi senyum tipis di bibirnya. Detik itu Kinan termangu. Kemudian ia tatap Rafa yang tengah menatap lurus ke depan. Tanpa sadar seulas senyum menghiasi bibir Kinan. "Kenapa ngelihatin gue begitu? Gue emang ganteng, sih!" Senyum di bibir Kinan semakin merekah. Inilah Rafa yang sebenarnya. Yang sejak tujuh belas tahun lalu menjadi teman terbaiknya. Rafa yang lembut dan selalu memiliki cara tersendiri untuk membuatnya tertawa, meski sementara. Tangannya mulai bergerak mencoret selembar kertas putih dengan tinta hitam. Menorehkan lukanya di sana, untuk ia baca dan nikmati sendiri rasa sakitnya. Kepada Langit Malam. Aku terkurung dalam lingkaran takdir yang kelam. Bersembunyi di balik bayangan rapuh. Tertawa di balik raga yang fana. Kemudian menghilang perlahan saat matahari datang. Kusampaikan pada bintang paling terang. Aku jatuh dalam belenggu takdir Tuhan. Dikelilingi dinding raksasa yang menelanku dalam gelap. Bersama sejuta sembilu yang perlahan menyayat. Aku terluka, hanya disaksikan air mata. Aku terjatuh, dalam kehidupan yang fana. Aku mati, bersama harapan-harapan yang hancur dibakar api. Aku bersama luka yang tidak abadi. Menangis dan menari. Tertawa dan terluka. Dan, bertahan meski kecewa. Aku, akan baik-baik saja. Kinanti Azraina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD