Putri masih terkesima dengan apa yang ia lihat pagi itu. Ia meletakkan tasnya dengan hati-hati di atas bangku disusul tubuhnya yang mendarat di sana. Cewek itu memiringkan kepalanya hingga menempel pada meja mengamati Kinan yang nyenyak dengan wajah yang tersembunyi karena kepalanya dibalut tudung jaket.
Putri tertawa kecil, masih nggak percaya dengan apa yang ia lihat pagi ini. Kepala Kinan menempel pada tas di atas meja dengan tangan yang melingkari tas tersebut. Teman sebangkunya itu memang tukang tidur di kelas, tapi datang pagi-pagi hanya untuk tidur lebih lama di kelas adalah hal konyol baginya. Putri membenarkan tudung jaket yang menutupi wajah Kinan, sehingga sedikit terbuka.
"Niat banget sih lo, Kinan." Putri masih geleng-geleng kepala.
Dikeluarkannya buku tulis fisika untuk melanjutkan tugas yang semalam belum benar-benar terselesaikan. Mendadak Putri menoleh lagi pada Kinan. Ia letakkan tangannya di bahu Kinan sambil berbisik.
"Tugas fisika...."
"Udah di laci. " Kinan sudah menyahut lebih dulu dengan pelafalan yang jika bukan Putri lawan bicaranya pasti tidak akan mengerti.
Putri memundurkan tubuhnya sedikit, lalu mengambil buku tulis yang dimaksud oleh Kinan untuk memastikan apakah temannya itu benar-benar sudah menyelesaikan tugasnya. Sedetik kemudian cewek itu tersenyum setelah mengembalikan buku tugas Kinan ke laci meja.
***
Sore itu gelak tawa bocah kecil yang asik bermain bersama orang tuanya di taman mengantarkan Kinan pada masa lalu. Gadis itu tersenyum samar menatap dari kejauhan, seorang ayah yang mencuri mainan putrinya. Yang mendapatkan tinjuan kecil dari kedua anaknya. Si ibu yang duduk di atas tikar piknik itu hanya tersenyum tanpa berminat melerai.
Kinan mengerjakan matanya yang sendu beberapa saat. Kemudian pandangan Kinan terarah pada patung air mancur yang tepat berada di depannya. Sebuah patung berbentuk perempuan kecil berdiri tegak menyangga guci dari tanah liat di atas kepala. Dulu di taman inilah dirinya dan Kian kerap bermain basah-basahan. Saat keluarganya masih utuh. Saat semuanya baik-baik saja. Senyumnya melebar mengenang waktu yang telah hilang.
Dulu Kinan adalah gadis kecil yang sangat pemberani. Saat-saat ayah selalu menggendong Kian, sementara dirinya berada dalam pelukan mama.
Yang akan berdiri paling depan jika Kian menangis ketika ada temannya yang menyakiti adiknya. Kinan yang begitu dekat dengan mama, namun sangat mengagumi sikap ayah. Setiap hari libur, tanpa rasa bosan ia dan keluarganya selalu pergi ke taman. Sekedar untuk duduk, atau bahkan sampai bermain kejar-kejaran mengitari kolam air mancur.
Kinan tersenyum lagi. Rambut sebahunya terurai diterpa angin sepoi. Seragam yang masih melekat dibalut dengan jaket kebesaran juga tudung jaket yang menutupi kepalanya. Kenangan itu tidak akan pernah bisa ia lupakan sampai kapan pun. Justru di saat-saat seperti ini, dalam kejatuhannya yang nyata tanpa ada yang melihat Kinan selalu mengenang semuanya untuk menguatkan diri. Meski tak jarang yang hadir malah luka-luka baru yang membuatnya hampir putus asa.
Namun, Kinan bisa apa selain berusaha bertahan dan melewatinya dengan baik. Saat itu Kinan manatap layar ponsel yang menyala, menampilkan panggilan dari Rafa. Tapi, Kinan sama sekali tak berminat mengangkatnya. Ia teringat satu pesan singkat yang masuk saat jam pelajaran pertama. Dan, sekarang Kinan bahkan sudah duduk di taman sejak lima jam yang lalu.
Gadis itu menghela napas pendek, kemudian meneguk kopi dalam kemasan botol yang tersisa setengah. Baru saja ia menempelkan ujung botol pada bibirnya, botol kopi itu sudah direbut paksa oleh seseorang yang tiba-tiba datang, dan duduk merapat padanya. Kinan menatap cowok di sebelahnya sambil mengedipkan mata beberapa kali dengan perasaan kesal juga terkejut yang bersamaan. Gadis itu memalingkan wajah dari Rafa yang menatapnya lurus pada manik mata.
"Kenapa telepon gue nggak diangkat?" Rafa hampir saja membentuk. Matanya belum melepaskan Kinan dari pandangannya.
Kinan membisu, bahkan enggan menatap Rafa di sebelahnya.
"Dan, udah berapa kali gue bilang? Jangan pernah minum kopi! Kalau sampai maagh lo kambuh gimana? Keras kepala banget, sih, jadi cewek."
Kinan masih diam, ia melirik ponselnya lagi. Waktu sudah semakin sore, bahkan keluarga kecil yang bahaga tadi telah berkemas untuk pulang. Rafa ikut mengarahkan matanya pada objek pandangan Kinan. Hanya sejenak kemudian kembali menjadikan Kinan satu-satunya objek di matanya.
"Lo kenapa, sih, Ki? Kalau ada masalah cerita sama gue." Rafa menyentuh satu bahu Kinan lembut.
"Gue..., nggak apa-apa."
Bahkan kini Kinan membalas pandangan Rafa secara terang-terangan. Hingga sepasang manik sehitam jelaga itu tampak jelas dalam pandangan Rafa. Ada banyak rahasia di dalam sana. Rafa terdiam sejenak, nelangsa menatap Kinan yang terlihat pucat.
"Jangan bohong kalau udah ketangkep basah. Siapa yang coba buat lo tipu di sini?" Rafa melembut.
Kinan bungkam. Lagi-lagi ia memalingkan pandangannya dari Rafa. Menatap sekeliling taman yang tidak begitu ramai.
"Sejak kapan lo jadi hobi madol gini? Predikat tukang tidur masih belum cukup? Masih pengen dapet predikat siswi badung?" Rafa memutar tubuhnya hingga sepenuhnya menghadap Kinan.
Hanya helaan napas panjang yang terdengar. Kinan malah menopang dagu dengan sebelah tangannya. Rafa ikut kesal sendiri, sejak jam pelajaran pertama usai Kinan keluar dari sekolah tanpa ada yang mengetahui. Cowok yang masih berseragam itu pula berdiri meraih tas milik Kinan.
"Kita pulang sekarang, lo pasti belum makan," ucapnya.
Kinan tidak begerak dari posisi membuat Rafa dengan suka rela menarik lengan Kinan untuk berdiri dan segera pergi dari taman. Hanya saja kali ini gadis itu sama sekali tidak menolak atau bahkan memberontak seperti saat Rafa memintanya untuk makan. Kinan bahkan berjalan mendahului Rafa. Melewati cowok itu dengan langkah pelan.
"Jangan kayak gini." Kinan menatap tangannya yang berada dalam gegaman Rafa. "Lo itu bikin gue tambah bingung," imbuh Kinan seraya dilepaskan tangannya dari Rafa lalu bergegas lebih dulu.
Rafa mengernyitkan dahi menatap punggung Kinan bingung. Tanpa berpikir lebih lama ia berjalan cepat menyusul, meski tidak tau apa yang barusan Kinan katakan. Kaki panjangnya kini sudah mengimbangi langkah Kinan yang lambat. Rafa meletakkan tangannya pada sebelah bahu Kinan, sehingga cewek tersebut berjalan merapat dengannya. Kontan saja hal itu membuat Kinan mendongakkan kepala demi memelototi Rafa.
"Ngapain sih, lo?"
Melihat reaksi Kinan, Rafa sedikit membungkuk untuk menyejajarkan wajahnya di dekat telinga Kinan.
"Gue suka sama lo, Kinan."
Kinan menghentikan langkahnya secara mendadak. Begitupun Rafa, cowok itu masih setengah membungkuk. Yang tadinya ia hanya melihat wajah Kinan dari samping, Kini Rafa bisa sepenuhnya melihat wajah Kinan karena cewek itu menoleh padanya. Keduanya saling diam, dahi Kinan berkerut heran. Sedangkan Rafa tersenyum manis.
"Tapi boong!" Rafa memamerkan jejeran giginya pada Kinan.
"Lo pikir gue b**o, ya?"
Cewek itu ikut tersenyum menatap Rafa yang masih saja merangkulnya. Namun, hanya berselang sedetik kemudian Kinan meraup wajah Rafa dengan kedua telapak tangannya lalu mendorongnya ke belakang sampai Rafa terjemah ke aspal.
"Sakit anjir!"
Kinan makin tersenyum lebar. "Bodo amat!" teriak Kinan berjalan cepat meninggalkan Rafa yang masih terduduk di aspal.
***
Pagi tadi, ia pikir akan menjadi hari Senin yang sempurna. Tanpa kata terlambat juga tertidur di kelas. Kian bangun lebih awal, bahkan telah lebih dulu duduk di meja makan sebelum Kinan menyiapkan sarapan. Meski atmosfer di antara kakak beradik itu selalu dingin, Kinan selalu menyiapkan apa yang Kian butuhkan. Bahkan Kinan, lah, yang selalu mencuci juga menyetrika seragam Kian.
Adiknya hampir tidak pernah memulai untuk mengajaknya berbicara lebih dulu, jika Kinan tidak menyita ponsel Kian atau melakukan hal yang membuat Kian kesal. Hal itu tak jarang membuat Kinan lelah sendiri, merasa sendiri, hidup sendiri, ia bahkan tidak mengenali di mana ia menapakkan kaki dan raga siapa yang ia diami.
Matanya melirik jam yang menggantung di dinding ruang tamu. Adzan isya' sudah lewat sejak dua jam yang lalu. Namun, Kian belum juga pulang. Telepon juga pesan-pesan Kinan tidak mendapatkan respon dari adiknya. Gadis yang sedari tadi duduk di sofa berwarna hitam itu berdiri. Membuka pintu rumah dan berjalan hingga ke halaman. Sambil menggigiti kuku tangan, sebelah tangan Kinan masih sibuk menghubungi Kian yang sama-sekali tidak memberinya kabar.
Kinan takut, mungkin saja asma Kian kambuh karena cuaca dingin. Tidak mendapatkan hasil, gadis itu berjongkok di depan pintu pagarnya. Memeluk diri karena malam itu angin yang berhembus pelan terasa sangat dingin. Kepalanya celingukan ke kanan dan kiri, menatap sekeliling yang sudah sepi.
"Angkat dong Kian, kamu kemana, sih?" ucap Kinan menatap ponsel yang menghitam.
Dalam kebingungannya Kinan tidak tahu harus mencari Kian ke mana. Memang Kian terlalu sering nongkrong di kafe bersama teman-temannya. Tapi, kafe yang ada di Jakarta tidak hanya satu atau dua. Begitu keluar dari gapura perumahan ada lima kafe yang tersebar di beberapa sisi jalan. Matanya semakin terlihat lelah menatap sekeliling jalanan yang sepi. Rumah-rumah di sekitarnya sudah sunyi.
"Ngapain jongkok di situ?" tanya Rafa yang tiba-tiba muncul di belakang Kinan.
Bahkan Kinan sampai terlonjak jatuh ke tanah sambil memegangi d**a. Ia tatap Rafa yang berdiri dengan wajah menyebalkan dari atas sampai bawah. Lantas menyadari sebuah kresek berlogo mini market yang ditenteng cowok tersebut.
"Kaget tau! Rese banget, sih."
Rafa terkekeh kecil mengulurkan tangan untuk membantu Kinan berdiri tapi di tangkis oleh Kinan. Ia berdiri sendiri, mengusap celana belakang yang mungkin saja kotor. Sedangkan Rafa sudah memasukkan kedua tangannya dalam saku jaket.
"Masuk sana, udah malam juga ngapain duduk di situ?"
"Gue mau cari Kian," balas Kinan.
Dahi Rafa mengernyit seketika.
"Emang belum balik?"
Kinan menggeleng.
"Coba ditelepon dulu, mungkin dia lagi ngerjain tugas di Rumah temennya."
"Udah, nggak diangkat. Gue w******p juga nggak dibalas." Kinan mulai khawatir.
"Yaudah lo masuk, tunggu aja paling sebentar lagi juga pulang," balas Rafa menenangkan.
"Sebentar lagi kapan Raf? Lo nggak lihat ini jam berapa? Udah jam sembilan lewat," ucap Kinan.
Tanpa menunggu balasan dari Rafa, Kinan kembali memasuki halaman rumahnya, mengunci pintu lalu menutup gerbang. Rafa masih diam di tempat sampai pada gadis itu melewatinya begitu saja. Ia menahan tangan Kinan.
"Ki?" panggil Rafa pelan.
"Apaan?"
"Gue temenin." Sambungnya sambil berjalan mendahului Kinan.
Menggandeng tangan Kinan yang dingin. Cowok itu tiba-tiba menghela napas berat. Kinan yang memperhatikannya pun merasa tidak enak pada Rafa. Tapi, kan, Rafa sendiri yang menawarkan diri untuk ikut mencari.
"Kalau lo capek balik, aja, gue nggak apa-apa sendirian."
"Gue emang capek. Capek banget malah, ngadepin elo yang keras kepala." Rafa menatap Kinan yang memakai celana panjang olahraga dan kaos oblong berwarna putih yang kebesaran.
Rambut sebahunya terlihat berantakan ditiup angin malam. Sedangkan hidungnya sudah mulai memerah tanda kedinginan.
Ia melepaskan genggaman tangannya pada Kinan, lalu melepaskan jaket dan menjatuhkannya tepat di wajah Kinan.
"Seenggaknya lo juga harus peduli sama kesehatan lo sendiri, ngerti?" tutur Rafa berjalan mendahului Kinan yang menatapnya dengan pandangan bodoh.
Kinan masih memperhatikan Rafa yang melangkah semakin jauh. Tangannya memegangi jaket milik Rafa. Entah kenapa dadanya selalu sakit saat bersama Rafa, namun jauh dalam hati Kinan merasa nyaman. Setidaknya masih ada satu orang yang peduli padanya. Yang selalu berusaha untuk membuat Kinan makan tepat waktu. Mencarinya saat menghilang. Yah, setidaknya masih ada yang peduli padanya.
Mendadak punggung yang sedari tadi menjadi objek pandangan Kinan, berbalik arah. Jarak antara Kinan dan Rafa berdiri sekitar dua meter. Dari jauh sana Kinan bisa melihat siluet ekepresi Rafa yang terlihat kesal. Gadis itu buru-buru berlari kecil sambil mengenakan jaket milik Rafa. Dalam remang lampu pinggir jalan yang menyinari keduanya. Sejujurnya, Rafa tidak pernah mengalihkan perhatiannya dari Kinan.
“Gue nggak tau apa yang bakal gue lakuin, kalau misalkan lo masang tampang kayak gitu lagi di pinggir jalan Ki,” ucap Rafa begitu Kinan berdiri terenggah-engah di depannya.
Di saat yang bersamaan pula, sebuah motor besar berwarna merah melintas. Melewati keduanya dengan kecepatan tinggi.
“Raf?” panggil Kinan dengan napas yang masih putus-putus.
“Kenapa?”
“Gendong gue balik, dong.”
“Dasar nggak tau diri!” balas Rafa menatap Kinan nggak percaya.
***
Kian menjatuhkan diri di atas kursi anyaman yang berada di teras. Dia mengeluarkan ponsel, lalu mengetikkan sesuatu pada kolom chat entah pada siapa. Senyum di bibirnya yang mengembang sejak tadi mendadak hilang seketika, ketika melihat kehadiran Kinan yang digendong Rafa tepat di depan gerbang rumahnya.
“Thanks ya, Raf? Kayaknya kaki gue bakalan copot kalao misalkan lo tadi nolak, hehe.”
Rafa hanya tersenyum sekilas. Matanya melirik Kian yang duduk di teras rumah menanti Kinan untuk membuka pintu.
“Lo..., nggak apa-apa,’kan?”
Sebagai balasannya, Kinan hanya terseyum tipis. Lalu meninggalkan Rafa yang masih masih mematung tanpa mengalihkan pandangan darinya.
“Masuk gih! Nanti Kak Andre nyariin,” ucap Kinan sebelum benar-benar memutar badan lurus ke depan.
Rafa menatap punggung kurus Kinan. Ada perasaan khawatir melihat gads itu masuk ke rumah bersama adiknya. Namun, Rafa juga tidak berhak untuk ikut campur. Apalagi sejauh ini Kinan masih menutup diri sepenuhnya di depan Rafa. Meski sejujurnya Rafa mulai muak dengan Kinan yang selalu saja bersikap seolah semuanya baik-baik saja di depannya. Tapi, hal terbaik yang bisa Rafa lakukan sampai saat ini adalah selalu berada di sisi Kinan. Meskipun gadis itu tak membutuhkannya.
Sedangkan dalam langkahnya Kinan mati-matian menekan kemarahan dalam dadanya agar tetap diam. Ia menarik napas panjang, berharap mengurangi sesak yang menghimpit dadanya sejak melihat Kian pulang berboncengan dengan entah siapa. Perasaan khawatir yang tadinya menyelimuti, kini digantikan dengan kekecewaan, kemarahan yang dengan baik Kinan pendam.
Gadis itu buru-buru membuka pintu yang terkunci tanpa sepatah kata. Bahkan Kian, pun, bungkam tanpa ingin memberikan penjelasan pada kakaknya.
“Aku angetin sayurnya, kamu makan dulu terus mandi,” ujar Kinan mendahlui langkah Kian untuk menuju ke dapur.
“Aku udah makan.”
Kinan masih mencoba untuk tenang, tangannya gesit menghangatkan sayur juga air untuk Kian mandi.
“Makan di luar sama makan di Rumah itu beda, seenggaknya kamu harus makan nasi.”
Kian yang sedari tadi duduk di sofa sambil memainkan ponsel, kini berdiri menuju ke dapur untuk mengambil air minum.
“Bawel banget, sih, Kak? Kalau laper, Kakak makan aja sendiri!” Ucap Kian ketus.
Kinan menghela napas berat. Tepat setelah Kian menyelesaikan ucapannya, Kinan membanting spantula yang berada di tangannya. Gadis itu segera mematikan kompor lalu menarik pundak Kian sehingga keduanya saling berhadapan.
“Bilang apa kamu barusan?” tanya Kinan masih dengan nada yang pelan.
Sedangkan Kian sama sekali tidak menyadari kemarahan Kinan, gadis kelas tiga SMP itu menghempaskan tangan Kinan dengan kasar.
“Kamu tau nggak sekarang ini jam berapa?! Aku, tuh nggak habis pikir ya sama kamu? Di telepon nggak diangkat, seenggaknya kamu kasih kabar, lagi di mana dan ngapain di sana, Kian!”
Kian bungkam, tangannya yng memegang gelas kaca itu semakin erat, tanpa mengalihkan pandangan dari Kinan. Ia tahu selalu seperti ini. Kinan akan memarahinya juga memerintahnya untuk ini dan itu. Kian muak dengan kakaknya.
“Tadi, kamu pulang sama siapa? Aku nggak suka ya, Kian kalau kamu sampai pacaran dan bergaul sama anak-anak nggak jelas.”
“Aku juga nggak suka sama Kakak yang selalu ngatur-ngatur hidupku!” balas Kian membanting gelas kaca ke lantai hingga pecah, bahkan mengenai kaki Kinan.
Akan tetapi, Kinan tidak bergeming dari tempatnya. Gadis itu menatap Kian tidak oercaya. Sebegitu bencinya, kah, Kian padanya?
“Aku, tuh pengen bebas Kak. Aku udah dewasa, nggak seharusnya dikekang, nggak boleh ini, nggak boleh itu. Aku capek!”
“Aku juga capek, Kian!”
“Nggak masalah kalau kamu benci sama aku, tapi kamu harus tetep sadar kalau itu nggak akan merubah status kita jadi orang asing. Seenggaknya kamu harus tau, kalau aku khawatir sama kamu.” ucap Kinan tenang.
Gadis itu berbalik, menyiapkan sayur juga nasi untuk makan malam Kian.
“Nggak ada uang jajan, kalau nasi ini masih utuh. Makan, abis itu mandi,”ucap Kinan.
Sebelum benar-benar meninggalkan Kian yang mematung di tempat, Kinan menyempatkan diri untuk membersihkan pecahan gelas yang sukses melukai kakinya. Setelah itu, barulah Kinan naik ke atas menuju ke kamarnya.
Sedangkan Kian masih berdiri di sana, menatap makanan yang sudah di siapkn oleh Kinan lalu menatap punggung Kinan yang semakin menjauh. Tas yang menggantung di salah satu pundaknya itu ikut ia lemparkan ke lantai.
***
Sesampainya di kamar, Kinan menyandarkan tubuh ke dinding, hingga perlahan merosot ketika kedua lututnya serasa lemas. Seolah perbincangan panas dengan Kian barusan membuat semua tenaganya terkuras. Berkali-kali dihirup oksigen secara rakus, napas Kinan bergetar bersamaan keringat dingin yang membasahi pelipis. Kinan tidak menangis, atau lebih tepatnya berusaha untuk tidak menangis.
Ditepuk kuat d**a sebelah kirinya, berharap mampu meredamkan lava yang siap meledak kapan saja.
Setelah beberapa menit terdiam, Kinan berdiri. Langkahnya gontai mendekati laci meja belajarnya untuk mencari kotak P3K. Seperti biasanya, Kinan duduk di depan jendela kamarnya yang terbuka lebar, menghirup udara malam dari balkon kamar sambil mengobati kakinya yang terluka karena pecahan kaca.
Perlahan perih itu terasa menjalar di telapak kaki. Meski tidak separah perih di dalam hati. Setetes demi setetes air mata Kinan luluh juga. Untuk malam ini, Kinan berharap bulan dan bintang mengerti kenapa ia harus menangis? Kinan harap gelapnya malam mampu memahami Kinan, kenapa hatinya bisa sesakit itu. Kemudian dengan begitu, Kinan memiliki alasan untuk meminta kekuatan pada semesta. Pada Tuhan, agar hatinya tetap kuat setegar batu karang. Dan esok, Kinan harap semuanya akan lebih baik dari hari ini.
Ketika sebuah lubang menganga yang dipenuhi kepedihan itu kembali terkoyak, tidak ada lagi yang mampu meredakan rasa sakitnya. Malam itu, Kinan meringkuk di balkon kamarnya setelah menyempatkan diri menengok Kian yang terlelap di kamar. Kinan memeluk sebuah buku bersampul abu-abu yang menjadi warna favoritnya. Matanya terpejam, namun kepalanya mengadah ke atas langit, merasakan hembusan angin malam yang bertiup pelan namun dinginnya amat menggiggilkan. Dadanya sesak, seperti dihimpit sebuah batu besar yang tidak bisa dihancurkan. Lukanya sudah terlalu dalam, tidak ada lagi yang bisa menyembuhkan atau sekedar mengetahui seberapa parah luka itu menjadi.
Kinan masih membisu, debaran-debaran yang membuat pacu jantungnya bekerja dua kali lebih cepat membuat napas Kinan bergetar sampai dadanya terasa sakit. Saat itu juga Kinan ingat, perutnya belum terisi makanan seharian ini. Kepalanya pusing, sesak di dadanya menjalarkan perih yang turut dirasakan perutnya. Tangisnya jatuh malam itu, bersamaan dengan hancurnya benteng pertahanan yang sudah berulang kali diciptakan oleh Kinan. Setiap malam, bersama gelap di dalam sepi, Kinan tumpahkan segala keluh kesahnya lewat air mata. Segala kehancuran, dan kekecewaan yang tidak bisa Kinan katakan melalui kalimat sederhana.
Kinan kecewa entah ia tujukan pada siapa. Entah itu kekecewaan pada dirinya sendiri, Kian atau pun ayahnya. Kinan ingin marah, menyampaikan semua keluh kesah yang sekian lama ia timbun dalam dirinya. Ketika rasa kepeduliannya tidak dihargai, Kinan kecewa. Bahkan yang dipedulikan sama sekali tidak bisa bersikap dengan baik padanya. Dan, justru hanya menambah luka tanpa disadari.
Kinan ingin lari dari hidupnya, tapi apa ia mampu menentang kekuatan takdir? Namun, Kinan juga sudah lelah untuk terus peduli tanpa ada yang peduli padanya. Berkorban tanpa dihargai, bahkan berusaha untuk selalu ada dan menjadi yang terbaik, namun tidak teranggap. Kerap kali Kinan bangkit dari rasa sakitnya yang tidak bertahan lama, lantas gadis itu harus kembali menekuni luka-luka yang sudah terlanjur rumit untuk sekedar dirajut secara abstrak.
Katanya Tuhan selalu mendengarkan stiap doa-doa hambanya. Tapi, kenapa harapan Kinan tidak pernah terjadi satu, pun sesuai keinginannya? Kinan tidak meminta banyak hal, ia cukup memahami dan mengerti sejak delapan tahun silam untuk hidup mandiri dan mengurus Kian sejak dini. Sejak mama hilang tanpa kepastian juga penjelasan dari ayah. Sampai detik ini, meski pun sejujurnya Kinan masih belum mengerti, Kinan selalu menerimanya. Yang Kinan minta hanya sebuah kepedulian ayah padanya juga Kian. Sebuah tanggung jawab yang seharusnya tidak Kinan tanggung sendirian. Namun, kenyataannya Tuhan begitu senang menguji Kinan.
Entah sampai kapan batas kemampuan Kinan bertahan. Sampai kebahagiaan yang ia cari akan didapatkan, atau kematian yang lebih dulu menghampiri.