Lima

1758 Words
Siang itu Kinan terpaksa menuruti keinginan Putri untuk ke kantin kelas sepuluh membeli bakmi yang terkenal. Meski sebenarnya Kinan malas, terlebih kakinya masih terasa sedikit sakit, namun Putri juga teman terbaik Kinan. Jadi, tidak ada salahnya jika kali ini ia menemani Putri. "Kenapa jalannya gitu? Dengkul lo masih sakit, 'kah?" Putri bertanya. Ia merangkul lengan kanan Kinan sambil mengamati langkahnya yang agak pincang. "Nggak apa-apa," balas Kinan singkat. Putri mencebik mendengar jawaban Kinan yang selalu saja seperti itu. Tapi, ia tak keberatan, selama ia masih melihat Kinan dalam keadaan baik-baik saja secara utuh. Di belakangnya Rafa berjalan mengikuti kedua gadis tersebut. Dengan gerakan cepat dan sangat tiba-tiba, Rafa menarik lengan kiri Kinan dan meletakkannya di pundak. Ia mengangkat tubuh ringan Kinan ala bridal dan buru-buru membawanya pergi melewati koridor kelas sepuluh yang mendadak ramai. Baik Putri mau pun Kinan sudah menjerit-jerit, bahkan kedua cewek itu sama-sama memukuli Rafa agar melepaskan Kinan. "Gila lo, Raf! Turunin gue sekarang!" maki Kinan tak mendapatkan gubrisan dari Rafa. Sedangkan Putri sudah pasrah, ia membiarkan Rafa membawa Kinan entah kemana. Toh, ia yakin Rafa tidak akan membunuh Kinan. "Turunin gue sekarang!" Kinan membentak. Ia bahkan menampar pipi Rafa sekuat tenaga, masa bodoh jika Rafa kesakitan pun Kinan tak peduli. Yang terpenting ia bisa turun. Sungguh saat ini Kinan benar-benar malu, karena hampir seluruh siswa yang berada di luar kelas menyaksikan kejadian tersebut. Dari samping ia pandangi wajah cowok yang begitu keras kepala itu dengan kekesalan. Sesampainyadi tempat yang di tuju, Rafa menurunkan Kinan tepat di atas ranjang UKS, cowok itu masih diam, wajahnya terlihat dingin tak berekspresi. Saat itu Kinan sadar ada yang berbeda dari Rafa. Mendadak tanpa sebab pula kemarahan Kinan yang hampir saja melontarkan serapahan di depan Rafa hilang. Kinan masih memandangi punggung Rafa yang sibuk berkutat entah dengan apa. Gadis itu perlahan merosot untuk turun karena kakinya tidak sampai, namun belum sempat kakinya menyentuh lantai suara Rafa sudah memperingati Kinan. "Diem di situ!" ucap Rafa dingin. Dan Kinan mematuhi instruksi tersebut. "Lo kenapa, deh, Raf?" akhirnya Kian bersuara. Bersamaan dengan Rafa yang kini sudah berbalik menatap Kinan, cowok itu tak kunjung bersuara juga. Rafa duduk di sebelah Kinan tanpa bersuara, meletakkan alkohol dan sejenisnya di dekatnya. Ia mengangkat kaki kiri Kinan dan melepaskan sepatu serta kaus kaki gadis itu perlahan. "Eh?! Rafa lo ngapain, sih? Lepasin!" Kinan meronta, berusaha menarik kakinya dari pangkuan Rafa. Namun, begitu kaus kaki Kinan terbuka, helaan napas berat terdengar jelas dari Rafa. Cowok itu bahkan memejamkan matanya kemudian memalingkan pandangan dari Kinan yang masih berusaha menarik kakinya agar di lepaskan oleh Rafa. "Bisa diem nggak?!" bentak Rafa membuat Kinan benar-benar diam. Ini adalah pertama kalinya Kinan melihat Rafa semarah itu padanya. Walau pun, sejujurnya Kinan tidak benar-benar tahu apa sebab kemarahan Rafa ini, tetapi ia menurut saja saat Rafa mengobati kakinya yang tersayat pecahan kaca. Sesekali Kinan meringis saat kapas yang sudah dibubuhi alkohol terasa perih mengenai lukanya. Dengan telaten, Rafa mengoleskan salep luka, lalu menutupnya dengan kain kasa dan plester. Ia menurunkan kaki Kinan pelan-pelan lalu beranjak untuk mengembalikan obat-obatan yang ia gunakan. Entah kenapa mendadak atmosfer di antara Kinan dan Rafa terasa dingin. Kinan tidak tahu harus berkata apa. Sedangkan Rafa sedang bergelut dengan kemarahan di dalam dirinya. Rafa marah pada dirinya sendiri. Kenapa dirinya nggak bisa menjadi seseorang yang dipercaya Kinan untuk berbagi rasa sakitnya. Rafa juga muak dengan Kinan. Yang selalu berkata bahwa dia baik-baik saja, padahal sebaliknya. Kinan tidak baik-baik saja, ia terluka sangat dalam. Sedangkan Rafa ingin menjadi salah satu orang yang Kinan butuhkan. "Sampai kapan lo mau kayak gini terus?" Akhirnya Rafa buka suara. Sejenak kebisuan kembali membebat keduanya dalam sunyi. Kedua pasang mata itu saling berpandang cukup lama. Mata sayu Kinan yang selalu terlihat letih, terdapat kantung mata yang menghitam di sana. "Lo itu cuma manusia biasa. Lo juga pantes buat ngerasain sakit, tapi sampai kapan lo mau sembunyiin itu semua? Lo nggak bisa hidup sendirian, ngerti?" ucap Rafa dingin. Dahi Kinan berkerut. "Lo kenapa, sih, Raf?" "Elo yang kenapa Kinan!"bentak Rafa. "Nggak selamanya lo bisa baik-baik, aja!" Tepat setelah membentak Kinan, Rafa pergi dari ruang UKS. Bahkan menutup pintu dengan kasar. Membuat beberapa siswa yang berada di sana tersentak kaget, termasuk Kinan. Ia menatap pintu yang tertutup rapat. Masih tidak mengerti dengan apa yang barusan dikatakan Rafa. Sementara dibawah pohon belimbing yang berada di dekat lapangan basket. Rafa mengacak rambutnya hingga berantakan. Ia nggak habis pikir dengan Kinan yang sangat keras kepala. Rafa hanya ingin Kinan memiliki teman untuk membagi keluh kesahnya, tapi Kinan selalu bersikap seolah dirinya bisa hidup sendiri. Dan Rafa tidak menyukai hal itu. Ia kembali teringat kejadian semalam. Ketika lampu utama ruang tamu dipadamkan, Rafa masih duduk di kursi teras, sampai kemudian ia melangkah pergi untuk pulang. Setelah Rafa mendengar semua pertengkaran Kinan dan adiknya. Rafa, ada di sana. Di dekat Kinan meski tidak terlihat, menjadi bayangan semu yang tahu segala sisi gelap dalam diri Kinan. Rafa melangkahkan kakinya untuk pulang, setelah cukup lama berdiam diri di sana, mendengarkan, dan menyaksikan apa yang baru saja terjadi. *** 00:45 Kinan masih terjaga seperti biasanya. Semangkuk sup ayam hangat telah berpindah ke perutnya. Perlahan ia menyesap air hangat yang ia bawa dari dapur. Entah kenapa Kinan selalu malas untuk makan, meski pun kelaparan, Kinan tidak akan makan sebelum merasakan sakit karena maag-nya kambuh. Di saat-saat seperti ini, sunyi dan dingin Kinan selalu mengadahkan kepala ke atas. Menatap langit dan membiarkan angannya melayang ke masa lalu. Memutar kembali kenangannya bersama keluarga yang masih utuh. Saat ayah dan mama pergi ke suatu tempat yang Kinan tidak diberi tahu di mana. Lalu kabar paling menakutkan Kinan dapatkan ketika usianya sepuluh tahun. Ayah kembali dengan wajah yang sangat kacau. Sisa-sisa air mata membasahi wajah penuh wibawanya. Ada guratan kehilangan mendalam di sana. Ayah memeluk Kinan dan Kian erat-erat. Dikecupnya puncak kepala Kian berkali-kali. Lalu dikatakan berita kepedihan itu untuk kedua anak perempuannya. Ibunya dikabarkan meninggal karena sebuah kecelakaan. Sejak saat itu pula, Kinan kehilangan pijakannya, kehilangan seseorang paling berharga dalam hidupnya. bahkan sampai detik ini Kinan selalu ketakutan untuk mendatangi makam ibunya. Takut, jika ini memang benar-benar kenyataan pahit yang harus ia lalui sendirian. Dibukanya buku bersampul abu-abu dalam pelukan. Tangan kanannya sudah memegang bolpen berwarna serupa, siap untuk menuangkan kecemasan dalam bentuk kata-kata. Takdir untuk Sebuah Daun Kering. Tidak ada kesempatan bagiku untuk pergi. Karena aku hanyalah sebuah daun kering yang jatuh ditiup angin. Tidak ada kesempatan bagiku untuk terbang kearah tujuanku. Karena aku hanyalah sebuah daun kering yang mati tanpa ada yang peduli. Kenangan dan masa lalu. Aku terikat dalam dua waktu yang menyesakkan palung terdalam jiwaku. Ketika kebahagiaan yang kudambakan lenyap mengikuti setiap tulisan takdir yang nyata. Aku kembali terjatuh! Seperti daun kering yang lepas dari tangkainya. Aku terombang-ambing bersama asa. Ribuan debu yang menjadi pelengkap luka. Dan terik matahari yang perlahan membakar serpihan hati terakhir yang kumiliki. Takdir ini telah tertulis jauh sebelum aku menjadi sekering daun yang malang. Dengan segenap rasa yang sarat akan luka. Kubisikkan pada bumi agar didengar oleh langit. Aku tersesat dari rumah! Kinanti Azraina. Matanya sudah sembab tapi air mata tidak bisa berhenti mengalir dari sana. Perlahan tangisnya dalam keheningan malam tidak bisa dibendung lebih lama lagi. Kinan terisak cukup kencang, kepalanya ditundukkan dalam-dalam membuat rambut hitam sebahunya menutupi wajahnya yang basah karena air mata. Masih belum cukup meredakan suara tangisnya, Kinan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Berusaha mengontrol emosinya sendiri untuk tidak lepas kendali. Tapi, kenyataannya hatinya sudah lelah untuk bertahan dengan diamnya. Tangis Kinan benar-benar pecah malam itu, disaksikan ribuan bintang dan bulan sabit, sosok yang selalu berusaha menjadi kuat itu tidak lagi bisa mengelak akan kehancurannya. Tidak ada lagi topeng yang dipakai Kinan malam itu. Bersama kegelapan malam, runtuhlah semua benteng yang dia bangun susah payah. Tanpa disadari Kinan, sepasang telinga mendengarkan tangisnya malam itu. Sepasang mata memperhatikannya dengan tajam di sebelah balkon kamar. Kali ini Rafa melepaskan fokus pandangannya dari Kinan. Cowok yang tadinya duduk bersila menghadap ke arah Kinan berada itu memutar tubuhnya hingga bersandar pada dinding. Sebelah kakinya terlipat di depan d**a, menopang kedua siku, sementara kesepuluh jarinya saling terpaut erat. Tatapan Rafa kosong kedepan, tapi pendengarannya tidak pernah lepas dari tangis gadis di sebelahnya. "Berisik!" ucap Rafa bersuara pelan. Samar-samar Kinan mendengarnya, hingga perlahan ditegakkan kepalanya yang terasa berat menatap ke sebelah kiri. Rafa disana, mematung tanpa menatapnya. Lambat-laun tangis Kinan mereda. Gadis itu sesenggukan sampai terbatuk-batuk. Diusapnya sisa-sisa air mata yang membasahi wajah dengan tangan sampai benar-benar tidak tersisa. Tapi, percuma karena mata bengkak Kinan tidak bisa membohongi siapa pun, jika gadis itu baru saja menangis hebat. "Masih nggak mau cerita ke gue?" tanya Rafa bersuara tanpa menatap Kinan yang masih bungkam. "Di dunia ini, lo nggak hidup sendirian." Kini sepasang mata Rafa menatap Kinan datar. Tatapan yang paling tidak bisa dimengerti oleh Kinan, namun kali ini juga Kinan tidak mengalihkan pandangannya dari Rafa. Keduanya malah saling menusuk dalam diam tepat di manik mata masing-masing. "Lo nggak perlu pakai topeng di depan gue. Gue nggak akan bilang ke siapa, pun, tentang apa yang gue liat." Alis Kinan terpaut sempurna menatap Rafa. Awalnya, Kinan pikir Rafa terganggu dengan suara tangisnya. Namun, kali ini lagi-lagi Rafa meminta penjelasan, apa yang salah dengan dirinya. Yang bahkan Kinan sendiri tidak benar-benar mengerti apa yang salah dengan perasaannya. "Gue lo anggap siapa, sih Ki? Orang lain?" Kinan menghela napas berat, ia muak dengan semuanya. Kepalanya seakan ingin pecah menahan segala pikiran yang berdesakan dan membuatnya pening. "Apa yang lo liat?" Rafa terang-terangan menatap Kinan yang kini juga melakukan hal serupa. Kesedihan lo Ucap Rafa dalam batin. Ia tidak ingin melukai Kinan, setelah banyaknya luka-luka yang Kinan simpan sendirian. "Emang lo siapa? Gue juga nggak kenal sama lo! Lo, itu, beda, Raf. Bukan Rafa yang gue kenal." balas Kinan dengan suara serak. Rafa menyipit, semakin dalam menatap manik mata hitam yang kuyu di depannya. Ia menghembuskan napas pelan, ada segaris senyum tanpa arti yang menghiasi bibirnya. Saat itu juga beberapa peristiwa jahat yang ia lakukan pada Kinan melintas dalam benak. "Gue nggak tau, kenapa lo mendadak marah, mendadak dingin dan jadi orang yang nggak gue kenal." kata Kinan dengan suaranya yang nyaris tidak terdengar. Getaran sisa tangisnya barusan masih jelas tercetak pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. Rafa jelas tau bahwa gadis itu belum benar-benar menuntaskan sesak di dadanya. "Semua ini gara-gara elo." sahut Rafa. Nada bicaranya dingin dan datar. Karena Kinan tidak juga kunjung mengerti maksudnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD